Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Melihat kondisi Prediansyah, Zaki, dan apalagi Mas Alex yang tubuhnya gemetar hebat bahkan tercium bau pesing menyengat—tanda pasti kencing di celana karena terlalu takut—Santi hanya bisa menghela napas panjang. Gadis itu lalu bertukar pandang dengan kedua adik kembarnya, Deden dan Didin.
Tanpa perlu kata-kata, mereka saling mengangguk mantap. Seolah ada pemahaman batin: 'Kalian cowok-cowok kota yang lemah, biar kami yang hadapi!'
Dengan penuh keberanian yang luar biasa, Santi melangkah tegap keluar dari gubuk itu, diikuti persis oleh Deden dan Didin di belakangnya. Angin malam yang menderu kencang seolah tak mampu menerpa semangat mereka.
Mereka berdiri tegak di tengah teras, menatap lurus ke arah kegelapan yang dipenuhi ratusan mata merah menyala dan sosok-sosok mengerikan yang mengintai.
"Hei kalian semua!!" teriak Santi lantang, suaranya tak sedikit pun bergetar. "Maksud kedatangan kalian ke sini mau apa?! Apa yang kalian cari?!"
Suasana hening sejenak, hanya suara desisan angin yang terdengar.
"Apakah semua ini ada kaitannya dengan pemuda yang sedang berjuang mati-matian mempertahankan nyawanya di dalam sana?!" sambung Santi lagi, menantang dengan tatapan tajam. "Jawab!! Kalau cuma mau cari gara-gara, kami tidak takut!!"
Deden dan Didin pun ikut maju selangkah, siap mendukung kakaknya, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, demi melindungi rumah dan tamu mereka yang sedang sakit keras.
"Gerrr............ Gerrr............."
Hanya suara menderu itu yang terdengar, disertai angin kencang yang menerpa wajah Santi dan kedua adiknya, membuat dedaunan berhamburan beterbangan. Namun sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, kejadian aneh terjadi di dalam rumah.
Tiba-tiba... BRAAKK!!
Zaki yang tadi gemetar ketakutan, kini berubah total. Matanya membelalak liar, urat-urat lehernya menonjol, dan tubuhnya bergetar hebat seolah dirasuki setan. Dengan mata merah menyala, dia menerjang kearah pemuda yang terbaring lemah di ranjang dengan niat ingin mencelakai!
Untunglah refleks Prediansyah dan Alex sangat cepat!
"DOR!!"
Prediansyah langsung menepis keras tubuh Zaki, sementara Alex sigap menahan serangan itu.
"Zaki....... Apa apaan lu, sialan!!" teriak Prediansyah sambil mengunci pergerakan tubuh Zaki yang meronta-ronta dengan kekuatan luar biasa. Alex pun segera membantu menahan tubuh Zaki yang seolah punya kekuatan sepuluh orang dewasa.
Mendengar keributan besar, Santi dan si kembar yang tadi gagah di luar langsung berlari sekencang-kencangnya masuk kembali ke dalam rumah.
"ABANG........!!"
"MAS ALEK..........!!"
Wajah Santi pucat pasi melihat temannya yang kini sudah tak sadarkan diri dan berubah menjadi sosok mengerikan.
"Zaki kerasukan setan.......!!" teriak Santi panik, tangannya menutup mulut tak percaya melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Zaki semakin liar meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dengan kekuatan supranatural yang luar biasa. Namun sayang baginya, tubuhnya yang kecil dan kurus kalah telak dibandingkan Prediansyah dan Alex yang berbadan kekar dan kekar. Sekuat apa pun dia berjuang, genggaman keduanya bagaikan penjara besi yang tak mungkin dibuka.
Di tengah keributan itu, Deden dan Didin saling pandang. Walaupun jantung mereka berdegup kencang karena takut, tapi ide jahil langsung muncul di kepala mereka.
'Awas lu Zaki...!' batin mereka serentak.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, si kembar menyelinap keluar. Target mereka jelas: Kaos kaki Mas Alex!
Mereka mengambil kaos kaki Alex yang tergeletak di lantai—yang pasti baunya sudah menyengat dan bikin pusing tujuh keliling.
"Hahahaha... Pasti Zaki muntah! Paling banter setan di dalam badan dia pun bakal muak dan lari keluar karena nggak kuat nahan baunya!" tawa jahat Deden dan Didin dalam hati, siap menjalankan misi rahasia mereka.
Setelah berhasil merebut "senjata rahasia" itu, si kembar masuk kembali dengan senyuman jahat menyeringai di bibir.
"ABANG....!! MAS ALEK....!! PEGANG KERAS-KERAS MANG ZAKI....!!" teriak mereka serentak memberi kode.
Belum sempat Predi dan Alex bertanya apa maksudnya, SRETT!!
Deden dan Didin dengan sigap langsung menyumpal mulut Zaki dan menutupi rapat-rapat hidungnya menggunakan kaos kaki Alex yang pasti sudah sangat menyengat baunya!
"Hahaha, kalah lu setan!" batin mereka menang.
NAMUN... NAAS!
Bukannya muntah atau lemas, Zaki justru makin mengamuk luar biasa! Matanya makin merah menyala, tubuhnya bergetar hebat, dan kekuatannya bertambah berkali-kali lipat seolah-olah setan di dalamnya pun emosi kena "serangan kimia" itu.
"GERRRRRR!!!!"
Kekuatan Prediansyah dan Alex pun akhirnya tak kuasa menahannya. Dengan lincah dan gesit bagaikan monyet, Zaki berhasil melepaskan diri! Dia melompat ke sana kemari, memanjat tiang, melompat ke atap, dan bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Kini giliran mereka semua yang merasakan ketakutan yang luar biasa. Situasi benar-benar sudah di luar kendali!
"WUSSSSSSS..............!"
Dengan kecepatan kilat, Zaki meluncur ke arah Alex. WAP!
Cakarannya yang tajam mendarat tepat di dada dan lengan Alex, mengoyakkan baju dan mencakar kulitnya.
"AAAAAAHHHHHHHHH!!!!"
Alex meringis kesakitan, darah segar mulai menetes dari lukanya. Tubuhnya yang kekar tak berdaya menahan serangan mendadak itu.
Belum sempat Alex bangkit, Zaki sudah berpindah target. Dengan lompatan tinggi, dia menendang keras tubuh si kembar Deden dan Didin hingga terpental jauh menabrak dinding!
"UUUAAAAAA!!"
Tanpa memberi jeda, makhluk di dalam tubuh Zaki itu langsung melesat dan menerkam Prediansyah. JEDERR!
Prediansyah yang tak siap menahan beban dan kekuatan liar itu langsung terhempas, napasnya tercekat, tak mampu bergerak lagi.
Satu per satu mereka tumbang tak berdaya. Alex, Predi, Deden, Didin... semua kalah telak.
Kini yang tersisa hanya berdiri di sana dengan wajah pucat dan tubuh gemetar: Santi, dan kedua adik bungsunya yang masih berusia 7 dan 9 tahun.
Mereka bertiga sendirian menghadapi raksasa kecil yang sudah berubah menjadi monster mengerikan!
Zaki yang kerasukan siluman monyet menatap tajam ke arah Santi yang gemetar ketakutan. Mulutnya melengkung membentuk senyuman mengerikan, siap menerjang dan mengoyak jantung gadis itu.
"GRRRRRRR!!"
Namun, tiba-tiba...
"BUGHHHHHH...................!"
Sebelum sempat bergerak, tubuh mungil Zaki terpental keras bagaikan disambar petir! DERR!! Tubuhnya menghantam dinding dengan dahsyat hingga seluruh piring, gelas, dan perabotan dapur berantakan berjatuhan berserakan.
Siluman monyet yang ada di dalam tubuh Zaki sontak ketakutan setengah mati. Ia menatap nanar ke arah sumber kekuatan itu.
Prediansyah!
Wajah pemuda itu berubah total. Matanya memancarkan cahaya tajam yang dingin dan mematikan, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri—termasuk Santi dan adik-adiknya yang terpana tak percaya.
Dengan suara berat dan berwibawa yang menggema di seluruh ruangan, Prediansyah mengancam:
"Sebaiknya kalian bangsa siluman enyah dari hadapanku sekarang juga! Sebelum ku bakar habis kalian Zikir Sir.
Seusai mendengar ancaman mengerikan itu, tubuh Zaki lemas seketika. Sosok bayangan hitam berbentuk monyet melesat keluar dari mulutnya dengan teriakan ketakutan, lalu lenyap entah ke mana.
"Byurrr..."
Zaki langsung ambruk dan pingsan tak sadarkan diri di lantai.
Begitu siluman itu pergi, aura mengerikan di sekitar Prediansyah pun perlahan menghilang. Wajahnya kembali normal, matanya yang tadi tajam dan dingin kini terlihat lemas, hingga akhirnya tubuh tegap itu ikut ambruk dan pingsan juga.
"Bang Predi!!" teriak Santi panik.
Gadis itu berlari menghampiri, namun jantungnya masih berdegup kencang bukan main. Saat melihat Prediansyah tadi bicara dan mengancam menggunakan kalimat "Zikir Sir" dengan sorot mata yang begitu wibawa dan asing namun penuh kekuatan, Santi yakin seyakin-yakinnya...
Bukan Prediansyah sendiri yang bicara. Tapi siapa ya?
Roh leluhur dari keluarga pemuda itu mungkin, sementara waktu masuk dan menumpang di tubuh Prediansyah untuk menyelamatkan mereka semua dan melindungi pemuda yang masih terbaring lemah.
Air mata Santi mengalir deras, campur aduk antara rasa takut, lega, dan haru menyaksikan keajaiban malam itu.
Bersambung.