Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Desa Candipuro sumber virus zombie
Empat hari telah berlalu, reina dan yang lainnya telah berhasil membunuh zombie zombie di empat desa dan menyelamatkan warga yang tersisa.
Tubuh mereka menjadi semakin kuat dan energi mereka semakin meningkat, karena pertarungan yang telah mereka lalui dalam beberapa hari membuat mereka berkembang semakin pesat.
Reina semakin mudah mengolah energinya untuk membentuk berbagai macam senjata tanpa merasa cepat lelah karena menguras energi fisik.
Kemampuan energi sarah membentuk senjata busur sesuai kepribadiannya yang lugas dan tegas lurus.
Karena sifat tempramennya dio, kekuatan energinya membentuk sebuah kapak dan mampu membentuk ukuran sesuai keinginan.
Sedangkan dandi dengan daya tahan tubuh yang kuat energi utamanya berupa perisai pelindung. Namun menyerang musuh dengan senjata berupa tombak yang mampu menghancurkan apapun.
Karena konflik keluarganya yang selalu menginginkan kematian santo membuat dirinya menjadi tahan banting tak bisa mati. Senjata yang dimiliki berupa pedang energi dan mampu menyesuaikan ukurannya. Apapun yang ditebas akan hancur seketika.
Karena andri memiliki wawasan yang luas dan bijaksana, energinya mampu memberi ilmu pengetahuan, mampu melihat lokasi musuh, kekuatan musuh serta mampu membaca simbol dewa kuno. Senjatanya berupa belati energi dikedua tangannya
Sedangkan prisma dengan sifat penakut namun berani, energinya membentuk tank perisai yang mampu melindungi kelompoknya sebagai kekuatan utamanya. Sedangkan untuk menyerang prisma hanya mampu menggunakan paku kecil-kecil yang keluar dari kedua telapak tangannya namun akan meledakkan apapun yang terkena serangannya.
Tanpa mereka sadari ada monster yang telah menanti mereka, bahkan kekuatannya melebihi perkiraan mereka.
"rasanya tubuhku semakin ringan saja." ucap dandi sambil melompat sangat tinggi.
"semakin banyak bertarung semakin meningkat pula baik kekuatan fisik maupun energi spiritual yang kita miliki." ucap reina sambil bersantai dibawah pohon mangga yang tumbuh subur didepan rumah salah satu warga.
Mereka telah sampai didesa candipuro beberapa jam yang lalu. Seperti di desa sebelumnya, saat siang hari sangat sepi dan mereka memutuskan untuk berlatih. Dan menelusuri setiap ujung desa untuk mencari informasi dan warga yang selamat.
"desa candipuro ini lumayan cukup besar." ucap andri yang baru datang setelah mengelilingi desa bersama prisma.
"terlebih lagi tidak ada satupun warga yang selamat, kami telah mencari sampai ditengah perkebunan. Tidak ada respon sama sekali." sambung prisma sambil memetik buah mangga.
Dio tidak percaya bahwa tidak ada seorang pun yang selamat, "mungkin ada rumah yang terlewat. Tidak mungkin tidak ada yang selamat."
"dio benar, pasti ada yang selamat." sambung Reina.
"hahaha, kalian semua sangat naif." ucap Sarah yang datang setelah menyusun rencana bersama sistem yang dia miliki.
"apa maksudmu sarah.?" tanya andri yang berdiri menghampiri sarah dengan perasaan sedikit marah.
"santai saja, jangan marah dulu dong!".
"lagi pula desa ini sumber dari masalah di beberapa desa wajar saja jika tidak ada yang selamat. Kalian pikir apa? Desa yang terdampak hanya segelintir orang yang selamat." sambung sarah sembari duduk didekat reina.
Semua terdiam menyadari perkataan sarah memang ada benarnya, meskipun masih berharap jika ada warga yang masih hidup.
"reina lebih baik kamu berhati-hati, karena malam ini saya atau kamu akan mati." bisik sarah ditelinga reina.
Mata reina dan santo sedikit melotot karena terkejut atas peringatan sarah.
Setelah mendengar ancaman sarah, "saya ingin mencari seseorang, siapa tahu masih ada yang selamat." ucap reina sambil meninggalkan mereka.
Sarah hanya tersenyum licik karena rencananya berhasil. Santo hanya melirik kearah sarah dan memutuskan mengikuti reina.
"suasana hati reina pasti buruk sekarang, lebih baik saya ikuti saja." batin santo sambil melihat reina yang telah berjalan menjauhi mereka.
"ketua dio, saya akan menyusul reina. Siapa tahu nanti dia membutuhkan bantuan." ucap santo.
"ya kamu benar, kalau dia bertemu musuh sendirian juga bisa fatal. Kita tidak boleh kehilangan salah satu anggota." ucap dio sambil terus menatap punggung reina yang hampir tak terlihat lagi.
Entah mengapa perasaan dio semakin meluluh, ataukah karena selama beberapa hari mereka selalu bersama?. Bahkan dio sangat sulit untuk memperjelas apa yang tengah ia rasakan.
***
"nona reina anda menemukan sesuatu?." tanya santo yang tiba-tiba telah berada dibelakang reina.
"aahhh." teriak reina terkejut sambil memberi pukulan kepada santo.
Nyaris saja reina membunuh santo, "kamu! mengagetkanku saja." ucap reina dengan sebal.
Santo hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya. "maaf reina, ku pikir suasana hatimu lagi buruk. Jadi.." ucap santo penuh keraguan.
"hahahaha, kamu takut saya nekat mencari zombie sendirian dan takut terbunuh?."
"bukan itu, saya mendengar ucapan nona sarah."
Deg..!!
Jantung reina tiba-tiba berdetak, "kamu dengar?."
"ya, bahkan sangat jelas."
Meskipun yang lainnya tidak mendengar namun Santo dapat mendengarnya dengan sangat jelas karena di dalam tim anggota hanya santo yang memiliki indera pendengaran yang sangat tajam.
Reina sempat terdiam sejenak, bagaimana cara menanggapi hal ini. "bagaimanapun juga, cepat atau lambat kami memang akan saling membunuh." ucap reina dan memutar tubuhnya dan melanjutkan penelusurannya.
"jika hal itu terjadi, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi mu." ucap santo tegas.
Reina terhenti, tidak terasa air matanya perlahan terjatuh. "dikehidupanku sebelumnya saya tidak dekat denganmu, tapi disaat - saat terakhir dalam hidupku kamulah yang berlari menghampiri dengan wajah khawatir." batin reina.
Reina memutuskan untuk benar-benar mempercayai santo, "santo, dikehidupanku sebelumnya saya mati dibunuh sarah. Saya bersyukur dewa masih memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki masa depan ku."
"apa? Anda benar-benar pernah mati.?" tanya santo yang tidak percaya.
"iya, ini rahasia kita berdua. Saya percaya denganmu."
Mata santo berbinar, karena ini pertama kalinya dia benar-benar mendengar seseorang mengucapkan kata "percaya" kepadanya.
Karena selama ini santo tidak pernah benar-benar mendapatkan kepercayaan dari siapapun bahkan keluarga sekalipun.
*****
Malam hari pun tiba, mereka mulai pergi ketengah hutan yang dicurigai sebagai tempat persembunyian para zombie. Disana juga sangat dekat dengan hulu sungai.
Meskipun mereka telah mencari keberadaan monster yang dicurigai sebagai dalang semuanya, mereka sama sekali tidak menemukan apapun. Tidak ada jejak sama sekali bahkan zombie pun tidak ada.
Sesampainya ditengah hutan, kabut tebal mulai menyelimuti hutan yang sunyi.
Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, akar mereka menjalar seperti ular di tanah basah. Cahaya bulan hanya menembus sedikit celah dedaunan, membuat suasana semakin mencekam.
Di tengah hutan itu, reina dan yang lainnya berdiri siaga dalam lingkaran. Meskipun lelah dan penuh luka dari pertarungan sebelumnya, tapi mata mereka masih menyala penuh tekad.
Tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari segala arah.
Puluhan zombie keluar dari balik pepohonan. Tubuh mereka busuk, mata merah menyala, mulut terbuka mengeluarkan geraman lapar. Mereka berlari di antara batang pohon, menerjang tanpa rasa takut.
“Jangan biarkan mereka mengepung!” teriak Dio.
Kapak besar energi spiritual berkilat menebas dua zombie sekaligus.
Reina melompat ke akar pohon dan menusuk kepala lawan dari atas dengan senjata seperti paku namun seukuran dengan belati. Reina menyebutnya paku mutasi yang bergerigi.
Dio mengayunkan kapak besar dari energi spiritual miliknya, menghancurkan tubuh zombie hingga terpental ke semak-semak.
Sarah membentuk busur dan anak panah dari kekuatannya dan memanah dari balik batu besar, setiap anak panah menancap tepat di dahi musuh.
Santo bergerak cepat di antara bayangan pepohonan, menggorok lawan satu demi satu.
Dandi menabrakkan perisainya ke kerumunan zombie, membuat mereka tersungkur.
Prisma mengangkat kedua tangannya, dan melepaskan cahaya biru dipenuhi energi paku yang meledakkan tiga zombie sekaligus.
Suara benturan serangan bercampur raungan memenuhi hutan. Burung-burung malam beterbangan ketakutan.
Setelah pertarungan sengit, puluhan zombie akhirnya tumbang berserakan di tanah berlumpur.
Namun suasana mendadak hening.
Angin dingin berhembus, daun-daun berguguran.
Dari balik pepohonan besar, muncul lima sosok mengerikan.
Yang pertama bertubuh raksasa dengan kulit hitam seperti kayu terbakar.
Yang kedua bergerak merayap di batang pohon dengan cakar panjang.
Yang ketiga mengenakan zirah karat dan membawa pedang patah raksasa.
Yang keempat tubuhnya kurus namun matanya menyala ungu.
Dan yang kelima berjalan perlahan memakai jubah gelap, aura kematian menyelimuti sekitarnya.
Tanah bergetar setiap mereka melangkah.
“Itu mereka...” bisik Prisma dengan wajah tegang.
Zombie berjubah mengangkat tangannya. Dari tanah, akar-akar pohon bergerak seperti hidup.
“Kalian masuk ke wilayah kematian,” katanya dengan suara serak.
"bisa bicara!." mereka semua terkejut.
Reina maju selangkah, mengangkat pedang energinya.
“Kalau begitu, kami akan menebas kematian itu di sini!”
Kelima zombie hebat meraung bersamaan.
Mereka mengambil posisi dan bersiap untuk bertarung dengan kelima zombie itu di tengah hutan gelap, pertarungan besar pun segera dimulai.