Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: HARTA DAN JANJI PEMBALASAN
Lei Hao benar-benar kehilangan akal sehatnya. Kakaknya yang ia banggakan-banggakan, yang dianggap sebagai pilar harapan sekte, tewas hanya dalam waktu kurang dari seperempat jam melawan Raymond!
Perbedaan kekuatan itu terlalu jauh! Seperti langit dan bumi!
"Tidak... tidak... jangan bunuh aku!" Lei Hao merangkak mundur, air mata dan ingus bercampur keluar. Wajahnya yang dulu sombong dan angkuh kini berubah menjadi wajah pengecut yang menyedihkan. "Aku salah! Aku minta maaf! Aku tidak akan mengganggumu lagi! Aku akan memberimu semua harta karunku! Bunga ini ambillah! Semuanya ambillah!"
Raymond berjalan mendekat perlahan. Setiap langkahnya membuat jantung Lei Hao berdegup kencang seolah mau copot.
"Dulu, saat kau dan teman-temanmu menghinaku, mendorongku, dan mengancam akan memotong tanganku... kau tidak berpikir akan ada hari Lei Hao benar-benar kehilangan akal sehatnya. Kakaknya yang ia banggakan-banggakan, yang dianggap sebagai pilar harapan sekte, tewas hanya dalam waktu kurang dari seperempat jam melawan Raymond! Perbedaan kekuatan itu terlalu jauh, seperti langit dan bumi.
"Tidak... tidak... jangan bunuh aku!" Lei Hao merangkak mundur, air mata dan ingus bercampur keluar. Wajahnya yang dulu sombong dan angkuh kini berubah menjadi wajah pengecut yang menyedihkan. "Aku salah! Aku minta maaf! Aku tidak akan mengganggumu lagi! Aku akan memberimu semua harta karunku! Bunga ini ambillah! Semuanya ambillah!"
Raymond berjalan mendekat perlahan. Setiap langkahnya membuat jantung Lei Hao berdegup kencang seolah mau copot.
"Dulu, saat kau dan teman-temanmu menghinaku, mendorongku, dan mengancam akan memotong tanganku... kau tidak berpikir akan ada hari seperti ini kan?" suara Raymond dingin, memecah keheningan yang mencekam.
"Aku... aku hanya bercanda! Itu semua salah paham!" teriak Lei Hao histeris.
"Orang yang sudah menginjak orang lain tidak bisa meminta maaf hanya dengan kata-kata," Raymond mengangkat pedangnya. Cahaya hitam di ujung senjata itu berdenyut siap melenyapkan nyawa.
"TUNGGU!!" Lei Hao berteriak sekuat tenaga, matanya memutar cepat mencari jalan keluar. "Kau tidak boleh membunuhku! Ayahku adalah Penatua Utama di Sekte Pedang Biru! Kalau aku mati, ayahku akan mengirimkan pembunuh bayaran dan pasukan besar untuk memburumu sampai ke ujung dunia! Kau dan teman-temanmu di Akademi tidak akan aman!!"
Itu adalah ancaman terakhirnya. Ia berharap nama besar ayahnya bisa membuat Raymond takut.
Raymond berhenti sejenak. Lalu... ia tertawa. Tawa yang rendah dan penuh penghinaan.
"Ancaman? Kau pikir aku peduli dengan sekte sampah sepertimu? Kalau ayahmu mau datang, silakan. Aku akan membunuhnya juga saat kita bertemu nanti."
Raymond mengayunkan pedangnya.
"TI-DAK-!!"
SRET!
Kepala Lei Hao terlempar tinggi ke udara. Darah memancur seperti air mancur membasahi rumput hijau. Tubuh tanpa kepala itu ambruk ke tanah, diam selamanya.
Hening total.
Para murid Sekte Pedang Biru yang masih hidup melihat pemandangan itu, mereka gemetar hebat, tak berani bergerak sedikitpun. Mereka menunggu nasib mereka sendiri.
Raymond mengibaskan darah di ujung pedangnya, lalu menyarungkan kembali senjata itu ke pinggang. Ia tidak menoleh lagi ke arah mayat-mayat itu.
"Kalian boleh pergi," kata Raymond pelan. "Kembali ke sekte kalian dan sampaikan pesan ini. Siapa pun yang mencoba menghalangi jalanku atau mengganggu orang-orang di sekitarku... akhir mereka akan sama seperti pemimpin kalian."
"Te... terima kasih! Terima kasih Tuan!"
Para murid itu langsung bangkit dan lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan, menghilang dalam sekejap mata. Mereka tidak akan pernah melupakan hari ini dan wajah iblis bernama Raymond itu.
Setelah semua musuh pergi, Raymond akhirnya berjalan menuju ke tengah gua. Di sana, Bunga Api Surga masih berdiri tegak, memancarkan cahaya yang indah dan hangat.
"Cantik sekali... kualitasnya sempurna, melebihi perkiraanku," suara Zhuo Yi terdengar takjub. "Dengan ini, kita bisa membuat Pil Naga Api yang bisa meningkatkan kualitas darah naga di tubuhmu. Selain itu, Harimau Roh Api tadi... meskipun sudah mati, Inti Rohnya masih utuh!"
Raymond mendekati tubuh sang harimau raksasa yang sudah tidak bergerak. Ia meletakkan tangannya di dahi binatang itu.
"Terima kasih atas kekuatannya," bisiknya.
TRING!
Sebuah bola api merah raksasa seukuran kepala manusia keluar dari tubuh harimau itu. Bola itu berputar-putar dan terbang masuk ke dalam cincin penyimpanan Raymond. Itu adalah Inti Roh Level Raja, harta yang sangat berharga.
Raymond dengan hati-hati mencabut Bunga Api Surga beserta akarnya, lalu menyimpannya dengan aman.
"Oke, misi selesai. Sekarang waktunya kembali dan mulai meramu," kata Raymond tersenyum puas.