Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Pemotongan kue
Suara “SAH!” menggema di seluruh aula.
Tepuk tangan langsung pecah. Beberapa tamu berdiri, sebagian lainnya masih berbisik, belum sepenuhnya percaya dengan mahar yang baru saja disebutkan.
Namun di tengah semua itu, suasana di depan meja akad justru terasa lebih sunyi. Kakek Sanjaya yang duduk tidak jauh dari mereka, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Arsen.
Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Cium kening istrimu…”
Arsen terdiam sesaat. Tatapannya bergeser ke arah Nayra. Dan di saat yang sama, Nayra juga menatapnya. Untuk beberapa detik, dunia di sekitar mereka seperti kembali menghilang.
Hanya ada mereka berdua. Namun, Nayra perlahan menoleh ke samping. Matanya mencari satu sosok Raya. Gadis itu berdiri di dekat Alea. Wajahnya datar. Tidak ada senyuman, hanya diam dengan tatapan tajam.
Sementara di sampingnya, Alea justru tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat. Seolah memberi dorongan tanpa kata.
Nayra menatap keduanya beberapa detik. Lalu, perlahan ia mengangguk. Isyarat kecil, namun jelas. Arsen menarik napas pendek, lalu tanpa ragu lagi ia bergerak mendekat.
Tangannya sedikit terangkat, menahan jarak sejenak dan kemudian kening Nayra disentuh oleh bibirnya. Satu ciuman singkat, namun terasa jauh lebih berat dari yang terlihat.
Nayra memejamkan mata sesaat. Lalu perlahan ia menunduk. Tangannya terangkat, menggenggam tangan Arsen, dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
Di dalam hati Arsen, ada sesuatu yang mengganjal. "Sial! Kenapa jadi deg-degan begini sih, inikan hanya pernikahan kontrak. Harusnya biasa saja, tapi kenapa rasanya begini," batinnya.
Tatapannya sempat terdiam beberapa detik. Seolah mencoba memahami perasaan yang tiba-tiba muncul.
Sementara itu, di dalam hati Nayra justru bergejolak lebih dalam. "Ya Tuhan, maafkan aku. Aku harus menikah dengan orang ini. Aku mengkhianati suamiku, maafkan aku, Mas Angga," batinnya lirih.
Tanpa ia sadari, air matanya jatuh. Ia tidak mampu menahannya. Kakek Sanjaya yang melihat itu, perlahan tersenyum bijak.
Tangannya sedikit menepuk pundak Nayra. “Jangan menangis, Nayra…” Suaranya hangat, menenangkan. “Sekarang kamu pasti bahagia." Ia melirik ke arah Arsen sekilas. “Opa yakin… Arsen akan menjaga kamu dan anak-anak dengan baik.”
Nayra tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan, namun air matanya masih tersisa. Dan di balik semua kebahagiaan yang terlihat, ada sesuatu yang belum benar-benar selesai di dalam hatinya.
Suasana perlahan kembali hidup setelah prosesi akad selesai. Beberapa tamu mulai mendekat, mengucapkan selamat. Senyum dan doa mengalir dari berbagai arah. Namun acara belum benar-benar berakhir.
Prosesi berikutnya pun dimulai. Nayra dan Arsen dipandu untuk berdiri. Di depan mereka, kursi telah disiapkan. Kedua orang tua Arsen duduk lebih dulu, acara sungkeman. Suasana kembali berubah hening.
Arsen lebih dulu berlutut. Tubuhnya tegap, namun kali ini sedikit merendah. Kepalanya menunduk di hadapan orang tuanya. Nayra mengikuti di sampingnya. Perlahan ia menunduk, kedua tangannya terlipat di pangkuan.
Beberapa detik, tidak ada suara. Hanya napas yang tertahan. Lalu Arsen membungkuk lebih dalam, tangannya menyentuh lutut ibunya. Nayra mengikuti, menundukkan kepala hingga hampir menyentuh tangan orang tua Arsen. Getaran emosi mulai terasa.
Beberapa tamu bahkan mulai menyeka mata Ibu Arsen mengangkat tangan, menyentuh kepala mereka berdua. Usapan lembut, doa tanpa suara.
Ayah Arsen hanya mengangguk pelan, namun tatapannya terlihat lebih hangat dari sebelumnya. Namun saat giliran Nayra, ia terdiam sejenak. Tangannya sedikit gemetar.
Tidak ada orang tua kandung di hadapannya. Hanya kekosongan yang kembali terasa. Kakek Sanjaya perlahan melangkah maju. Tanpa banyak kata, ia duduk di kursi itu. Menggantikan posisi yang seharusnya.
Nayra menatapnya, matanya kembali berkaca-kaca. Lalu perlahan, ia bersimpuh. Kepalanya menunduk dalam. Tangannya meraih tangan Kakek Sanjaya, lalu menciumnya dengan penuh hormat.
Kakek Sanjaya menghela napas pelan. Tangannya mengusap kepala Nayra. “Mulai hari ini, kamu tidak sendiri lagi, Nayra,” ucapnya pelan.
Nayra memejamkan mata, air matanya jatuh lagi. Namun kali ini, lebih tenang. Acara dilanjutkan dengan prosesi lainnya.
Penyerahan mahar secara simbolis. Cincin pernikahan disematkan. Dokumentasi keluarga dilakukan. Lampu kamera berkedip-kedip, mengabadikan setiap momen.
Nayra berdiri di samping Arsen, mencoba tersenyum meski hatinya belum sepenuhnya tenang. Raya berdiri tidak jauh, memegang tangan Alea. Kali ini, wajah Raya tidak lagi sepenuhnya datar. Ada sedikit kelembutan di matanya, seolah mulai menerima.
Waktu berjalan tanpa terasa, beberapa jam kemudian, suasana berubah menjadi lebih santai. Acara makan bersama keluarga besar dimulai. Meja panjang telah disiapkan, berbagai hidangan tersaji rapi. Aroma makanan memenuhi ruangan.
Nayra duduk di salah satu kursi, di sampingnya, Arsen. Di depan mereka, keluarga besar berkumpul. Percakapan mulai terdengar di mana-mana. Tawa kecil sesekali muncul. Berbeda jauh dari suasana tegang sebelumnya.
Alea tampak paling menikmati suasana. Matanya berbinar melihat berbagai makanan di hadapannya. Tangannya bergerak cepat, mencoba satu per satu. Sesekali ia tersenyum puas. Raya makan lebih pelan. Namun kali ini, wajahnya jauh lebih tenang.
Di sisi lain, Ibu Ambar masih duduk diam. Tatapannya sesekali mengarah ke Nayra. Belum sepenuhnya menerima.
"Jangan pernah berharap kamu bisa bahagia setelah menikah dengan Arsen. Dasar wanita tidak tahu diri," gumamnya pelan.
Sementara itu, Arsen duduk tenang di samping Nayra. Namun sesekali, tatapannya mencuri pandang ke arah wanita itu. Diam-diam, tanpa disadari.
Dan setiap kali itu terjadi, perasaan aneh itu kembali muncul. "Kenapa setiap kali melihat wajah Nayra, hati ini merasa tenang," batinnya.
Suasana hangat makan bersama masih berlangsung ketika suara MC kembali terdengar, mengambil alih perhatian seluruh tamu.
Acara berikutnya dimulai. Pemotongan kue pernikahan. Semua mata perlahan tertuju ke tengah aula, ke arah kue tinggi bertingkat yang sejak tadi menjadi pusat perhatian.
Putih, megah dan elegan. Begitu mendengar itu, Alea langsung menoleh cepat ke arah Raya. Matanya berbinar.
“Kak… aku mau kue itu,” bisiknya penuh semangat.
Raya langsung menghela napas pelan. “Alea… berisik. Bisa diam dulu bisa nggak?” bisiknya balik, mencoba menahan.
Namun jelas, Alea tidak bisa menahan dirinya. Ia langsung berbalik, berjalan cepat kecil menuju Kakek Sanjaya.
Tangannya menarik lengan pria tua itu pelan. “Eyang… Alea mau kue itu,” bisiknya manja.
Kakek Sanjaya tersenyum lembut. Tangannya mengusap kepala Alea dengan penuh kasih.
“Iya, sayang… nanti ya,” ucapnya tenang.
Namun dari kejauhan sepasang mata memperhatikan Ibu Ambar. Tatapannya langsung mengarah tajam ke Alea. Matanya melotot, dingin, menusuk, tanpa suara, namun cukup membuat Alea membeku.
Wajah cerianya langsung berubah. Ia mundur sedikit, lalu tanpa sadar bersembunyi di balik lengan Kakek Sanjaya sambil memegang erat.
Kakek Sanjaya menyadari itu, tatapannya perlahan beralih. Menatap lurus ke arah Ibu Ambar dan seketika Ibu Ambar langsung membuang muka. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Di sisi lain, Arsen dan Nayra telah berdiri. Dipandu menuju meja kue, langkah mereka pelan berdampingan. Seluruh tamu memperhatikan, kamera mulai bersiap.
Mereka berhenti di depan kue. Pisau telah disiapkan. Arsen melirik sekilas ke arah Nayra. Nayra membalas dengan tatapan singkat.
Arsen meraih pisau itu, tangannya stabil. Namun saat Nayra ikut memegang jari mereka bersentuhan. Dan tanpa sadar tangan mereka saling menggenggam.
Bukan sekadar memegang pisau. Namun lebih dari itu. Tidak ada yang berbicara. Namun ada getaran halus yang terasa.
“Silakan dipotong…” suara MC terdengar lembut.
Dan perlahan mereka menurunkan pisau bersama. Memotong lapisan pertama kue itu. Tepuk tangan kembali terdengar.
semangat, lanjut thoor😄👍