NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 006

Bel pulang sekolah berbunyi, disambut sorak sorai riuh dari seluruh penjuru kelas. Bagi Ziva, suara itu adalah lonceng kebebasan—meskipun kebebasannya kali ini terhambat oleh mandat keramat dari sang kakak Martabak Bebek.

Di parkiran, Aksa sedang menyarungkan sarung tangannya. Gerakannya tenang, namun matanya sesekali melirik ke arah gerbang sekolah.

"Woi, Aks! Ke basecamp nggak?" seru Kenan yang sudah siap memacu motor sport merahnya.

"Gue ada urusan!" sahut Aksa singkat. Ia memakai helm full-face hitamnya, menenggelamkan wajah tampannya di balik kaca gelap.

"Urusan apaan? Tumben lo nggak langsung cabut bareng kita," Vino menimpali sambil memutar kunci motornya.

"Urusan penting," jawab Aksa dingin, lalu melesat pergi meninggalkan teman-temannya yang melongo. "Penting" bagi Aksa biasanya berarti sesuatu yang serius, bukan sekadar nongkrong.

Sementara itu, di sisi lain sekolah, Reygan berjalan berdampingan dengan Liana. Reygan tampak gelisah, sesekali ia menoleh ke arah kerumunan murid, mencari sosok gadis dengan rambut tergerai yang sejak tadi pagi mengacuhkan eksistensinya.

"Rey? Kamu nggak apa-apa?" Tanya Liana lembut. Ia merasa ada yang berbeda dari Reygan hari ini.

"Ah... nggak, Lia. Cuma kepikiran soal Ziva tadi di kelas Matematika. Dia... aneh banget, kan?"

Liana menunduk, meremas tali tasnya. "Kak Ziva baik hari ini. Dia kasih tahu soal tali sepatu aku, terus nggak marah pas aku tumpahin minuman. Mungkin dia benar-benar mau berubah."

Reygan hanya mendengus pelan. Ia tidak tahu apakah ia harus senang atau justru merasa kehilangan "penggemar nomor satu" yang selama ini menjadi beban sekaligus pengakuan bagi egonya.

Zura—dalam raga Ziva—akhirnya sampai di depan gerobak "Martabak Spesial Bang Jono", yang letaknya di pinggir jalan, tak jauh dari sekolah. Ia sengaja meminta Pak Jajang, supirnya, untuk menunggu di ujung jalan agar ia tidak terlihat terlalu mencolok.

"Bang, martabak telurnya satu. Telur bebek empat, ya. Jangan pakai daun bawang banyak-banyak, kakak saya rewel kalau kebanyakan sayur," ucap Ziva sambil menyeka keringat tipis di pelipisnya.

Bang Jono menatap Ziva dari ujung rambut sampai kaki. Meski seragamnya elit, cara gadis itu berdiri yang sedikit membungkuk lelah dan cara bicaranya yang luwes membuatnya tak terlihat seperti anak orang kaya yang sombong.

"Siap, Dek! Tumben anak sekolah sini beli sendiri, biasanya disuruh supirnya," sahut Bang Jono sambil mulai memecahkan telur bebek.

"Lagi pengen jalan aja, Bang. Ngilangin pegel habis duduk terus," jawab Ziva santai. Ia bersandar di tiang listrik samping gerobak, persis seperti yang ia rencanakan tadi pagi: menganggap tiang listrik adalah teman sejati.

Tiba-tiba, suara deru motor yang sangat ia kenal berhenti tepat di depan gerobak martabak. Sebuah motor sport hitam legam dengan pengendara yang auranya bisa membuat aspal mendadak beku.

Pengendara itu membuka helmnya. Aksa!

Ziva (Zura) mematung. "Gusti...Ini orang beneran hobby muncul tiba-tiba atau emang dia stalker?" batinnya kesal.

Aksa turun dari motor, berjalan menuju gerobak tanpa melirik Ziva, namun posisinya berdiri sangat dekat dengan gadis itu. 

"Bang, kayak biasa satu," ucap Aksa.

"Eh, Den Aksa! Siap, Den. Biasa ya, telur bebek juga?"

Aksa mengangguk. Ia kemudian menoleh ke samping, menatap Ziva yang sedang pura-pura sibuk melihat semut berbaris di tanah. 

"Ngapain di sini?" tanya Aksa datar.

Ziva mendongak, menatap mata tajam itu. "Lagi beli martabak, Aks. Masa iya lagi beli tiket konser di gerobak martabak?"

Aksa terdiam. Biasanya, cewek-cewek akan gugup atau mencoba terlihat cantik di depannya. Tapi Ziva? Gadis ini terlihat sangat ingin segera pulang dan tidur. "Suka martabak bebek juga?"

"Kakak gue yang suka! Gue sih cuma kurir gratisan," jawab Ziva jujur.

"Lo pinter Matematika," ucap Aksa tiba-tiba, mengganti topik seolah-olah percakapan tadi tidak penting.

Ziva mengangkat bahu. "Cuma kebetulan lewat di otak aja rumusnya."

Suasana mendadak hening di antara mereka, hanya terdengar suara sutil yang beradu dengan wajan martabak. Aksa tidak pergi, ia tetap berdiri di sana, mengawasi Ziva yang kini malah asyik menguap lebar tanpa ditutupi tangan. "Aksa, lo nggak capek ya jadi keren terus?" tanya Ziva tiba-tiba karena merasa bosan dengan keheningan itu.

Aksa menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan random itu. "Maksud lo?"

"Ya itu... muka datar terus, irit ngomong, motor harus keren. Capek tahu jaga imej. Mending kayak gue, mager, apa adanya, yang penting kenyang dan bisa tidur nyenyak," ucap Ziva sambil menerima bungkusan martabaknya dari Bang Jono. "Ini Bang, uangnya. Ambil aja kembaliannya buat beli kopi."

"Terimakasih banyak Dek." Jawab Mang Jono.

Ziva menoleh pada Aksa. "Gue duluan ya, tiang lis—eh, Aksa. Keburu martabaknya dingin, nanti kakak gue makin sableng."

Ziva melenggang pergi dengan langkah diseret, meninggalkan Aksa yang masih berdiri memegang botol minumnya yang baru dibeli di minimarket sebelah. Aksa menatap punggung Ziva sampai gadis itu masuk ke mobil sedan hitam di ujung jalan. "Mager, ya?" bisik Aksa pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa martabak bebek sore ini akan terasa berbeda dari biasanya.

Di dalam mobil, Ziva langsung menyandarkan kepalanya. "Pak Jajang, buruan pulang. Saya mau hibernasi total sebelum martabak ini dimakan monster di rumah."

Mobil melaju membelah kemacetan sore kota yang mulai menjemukan. Di kursi belakang, Ziva—atau Zura—menatap bungkusan martabak di pangkuannya. Aroma gurih telur bebek dan daging cincang meresap memenuhi kabin mobil, seolah mengejek rasa kantuknya yang sudah berada di level akut.

"Pak Jajang, kalau saya ketiduran sampai rumah, tolong jangan bangunin pakai klakson ya," gumam Ziva dengan mata yang sudah tinggal lima watt.

"Siap, Non." Tapi kalau Den Abian yang bangunin pakai terompet, Bapak nggak tanggung jawab ya," sahut Pak Jajang sambil terkekeh pelan dari balik kemudi.

Ziva hanya mendengus, lalu benar-benar memejamkan mata.

Di sisi lain jalan, Aksa masih berdiri di samping motornya. Ia tidak langsung pergi setelah menerima martabaknya. Ia justru merogoh saku jaket, mengambil ponsel, dan mendapati grup chat Black Eagle sudah meledak dengan notifikasi.

[Kenan]: "Woi, gue tadi liat motor Aksa di pinggir jalan deket gerobak martabak. Ngapain dia di sana?"

[Vino]: "Palingan beli makan. Aksa kan manusia juga, butuh asupan selain es batu."

[Bram]: "Tapi masalahnya, di sampingnya ada cewek yang mirip Ziva! Gue nggak salah liat kan?"

Aksa menatap layar itu datar. Ia tidak membalas. Alih-alih mengklarifikasi, ia malah teringat ucapan Ziva tadi.

"Lo nggak capek ya jadi keren terus?"

Arka menyentuh dagunya pelan. Selama ini, semua orang menganggap citra dinginnya sebagai sesuatu yang menakutkan atau mempesona. Hanya gadis "mager" itu yang menyebutnya "capek". Arka kembali memakai helmnya, menyalakan mesin motor yang menderu rendah, lalu melesat pergi. Namun kali ini, ia tidak menuju basecamp, melainkan pulang ke rumahnya yang besar namun sepi.

15 menit kemudian akhirnya. 

Sampai juga di kediaman Winata, Ziva turun dari mobil dengan langkah gontai. Kepalanya terasa berat, tapi aroma martabak ini harus segera sampai ke tangan sang pemesan sebelum berubah jadi amukan.

Begitu pintu utama terbuka, sebuah bantal sofa melayang tepat ke arah wajahnya. HUP! Dengan refleks sisa-sisa jiwa Zura yang dulu sering menangkap kucing jatuh, Ziva menangkap bantal itu dengan satu tangan.

"Mana martabak gue?!" Teriak seorang cowok yang sedang rebahan di sofa panjang dengan kaki di atas meja.

Abian Winata. Sang kakak yang ketampanannya sering kali tertutup oleh kelakuannya yang ajaib. Ia mengenakan kaos oblong dan celana pendek, jauh dari kesan direktur muda yang disegani di kantor.

"Nih, martabak bebek telur empat. Puas lo, Bang?" Ziva melempar bungkusan itu tepat ke perut Abian.

Abian bangkit duduk, matanya berbinar. "Gitu dong! Ini baru adik gue. Tapi bentar." Abian menyipitkan mata, menatap wajah Ziva lekat-lekat. 

"Muka lo...kok bersih? Mana semen yang biasanya lo templokin di pipi?"

Ziva menghempaskan dirinya ke sofa tunggal, menyandarkan kepala ke belakang. "Lagi libur. Capek dandan! "

"Baguslah, Abian membuka bungkus martabak dan mulai makan dengan lahap. "Lo kelihatan lebih mirip manusia begini daripada mirip ondel-ondel."

Ziva hanya bergumam tidak jelas. Matanya sudah tertutup rapat.

Abian baru saja hendak melahap potongan martabak ketiga ketika suara dengkur halus Ziva terdengar makin ritmis. Ia menghentikan kunyahannya, menatap adiknya dengan dahi berkerut.

"Beneran tidur nih bocah? Biasanya kan jam segini lagi sibuk maki-maki kurir paket atau lagi asyik nge-spam chat si Rey-Rey itu," gumam Abian.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!