Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
...~•Happy Reading•~...
Laras memandang Rafael dengan berbagai rasa di dada saat mendengar nada suara Rafael lebih pelan. "Kau menolak berpacaran denganku?"
Rafael memicingkan mata dan menatap lurus ke mata Laras. "Pikirkan lagi, berikan waktu untuk merenungi yang terjadi sebelumnya. Apa pacaran itu bukan sesuatu yang berarti bagimu?"
"Jangan merespon pendapat seseorang dengan cara instan, seakan itu sudah benar dan baik buatmu. Pikirkan juga pihak lain yang akan menjalin hubungan denganmu."
"Kau belum menjawab. Kau menolakku?" Laras terus mendesak, seakan tidak mendengar yang dikatakan Rafael.
"Laras, jawaban itu sangat mudah. Cuma iya atau tidak. Tapi sebelumnya, saya mau tanya. Apa kau sudah mengenal saya?" Pertanyaan Rafael membuat Laras merapatkan gigi dan bibir. Dia langsung menginjak pedal gas mobil dan langsung menjalankan mobil di atas kecepatan rata-rata.
Walau kaget, Rafael tahu cara menghentikan Laras. "Kalau kau ditahan polisi, saya tidak akan menggantikanmu. Tanggung jawab sendiri." Bentak Rafael keras dan tegas. Dia yakin, saat emosi Laras meningkat, nada pelan tidak akan berguna.
Benar saja, Laras memperlambat jalan mobil, tapi wajahnya tetap sekeras batu. Rafael tidak berkata atau bereaksi apa pun, agar tidak mengganggu konsentrasi Laras yang sedang emosi sambil membawa mobil.
Dia berdoa dalam hati, semoga mereka bisa tiba di rumah dengan selamat dan orang tua Laras sudah tidur. Agar tidak melihat kondisi mereka.
Ketika tiba di rumah, Rafael turun untuk mendorong pagar. Laras memasukan mobil ke halaman, tanpa perhitungan dan hampir menambrak mobil Papanya yang sedang parkir.
Rafael hanya bisa menggelengkan kepala melihat Laras menutup pintu mobil dengan kuat, hingga menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan orang rumah.
Setelah mengunci pagar, Rafael berserah melihat lampu ruangan nonton masih menyala. "Selamat malam, Pak, Bu. Kami pulang." Ucap Rafael saat masuk rumah dan melihat orang tua Laras duduk di ruangan nonton.
"Malam. Ganti baju, lalu istirahat." Ucap Pak Yafeth sambil menggerakan tangan sebagai isyarat, agar Rafael masuk kamar dan tidak usah mengatakan apa pun. Rafael mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke kamar Juano.
"Pa, apa terjadi sesuatu dengan mereka? Wajah mereka tidak seperti orang pulang party." Bu Ester sangat heran melihat Laras masuk rumah dengan wajah kaku dan tidak menyapa mereka. Padahal lampu ruangan nonton masih menyala.
"Tidak usah pikirkan dan jangan dibahas. Mungkin terjadi sesuatu di kantor, karna bertemu Jarem." Ucap Pak Yafeth untuk meredam, walau ragu dengan yang dikatakan sebab wajah Rafael juga tidak cerah.
"Kalau begitu, mari kita tidur. Yang penting mereka sudah pulang dengan selamat." Bu Ester segera berdiri. Pak Yafeth mengangguk lalu mematikan televisi dan lampu.
Sedangkan Rafael yang sudah berada di kamar Juano, segera mengganti pakaian dan langsung membuka karpet. Dia sudah tidak kuat dan kehabisan tenaga untuk naik ke lantai atas.
'Apa yang akan terjadi besok, terjadilah.' Rafael membatin sambil menghembuskan nafas kuat untuk melegakan dada, agar bisa tidur.
Ketika tidak bisa tidur, dia bangun duduk dan berdoa. Hatinya sangat berat memikirkan tekad Laras yang tidak bisa diredam dengan berbagai kata baik. Rafael bisa merasakan, apa yang dia katakan kepada Laras hanya lewat seperti angin.
Rafael menghormati orang tua Laras, sehingga tidak bisa sembarang merespon keinginan Laras. 'Ya, Tuhan, tolong berikan hati yang tenang bagi Laras. Agar dia bisa menimbang keinginannya dan memilih sesuai tuntunan-Mu.'
Sebelum Rafael mengaminkan doa dan harapannya, pintu kamar dibuka dengan sekali sentakan. "Keluar. Aku mau bicara." Ucap Laras yang berdiri di depan pintu. Dia tidak menyadari Rafael sedang berdoa, walau melihatnya duduk sambil menutup mata.
"Masih ada hari esok. Tidur." Ucap Rafael dengan bibir merapat, sebab khawatir membangunkan Juano.
"Kau bisa tidur dalam keadaan ini?"
"Saya sedang berusaha tidur dengan melakukan ini." Rafael menggerakan tangan, sebagai isyarat berdoa.
"Aku mau bicara." Laras tetap bersikeras.
"Mau bicara apa dengan emosimu seperti lava panas? Berdoa lalu tidur." Rafael menarik selimut menutupi kaki, seakan mau tidur.
"Awas banting pintu bikin Juan bangun. Besok tidak ada pembicaraan." Ancam Rafael yang melihat gerakan Laras menarik pegangan pintu dan hendak membanting. Hal itu makin membuat Laras marah saat kembali ke kamarnya. Dia berpikir, orang tuanya sudah tidur, jadi bisa bicara berdua dengan Rafael di ruangan nonton.
Setelah Laras keluar, Rafael melihat Juano bergerak. Dia mengira Juano terbangun oleh percakapannya dengan Laras. Dia naik ke atas tempat tidur, lalu tidur di sampingnya. Dia menepuk punggung Juano seakan kepada anak balita.
Juano memeluk Rafa dalam keadaan mata tertutup. "Kau belum tidur?" Rafael jadi berhenti menepuk punggungnya.
"Sudah, Kak. Tadi kaget dengar suara yang jauh."
"Kalau begitu, tidur lagi. Suaranya cuma lewat."
Juano jadi merapatkan badannya. "Kak Rafa tidur di sini aja. Badan Kak Rafa sangat hangat." Ucap Juano di dada Rafael, membuatnya kaget. "Makanya, kalau mau tidur, suhu AC dinaikan. Tidur." Rafael menarik selimut dan tidur di samping Juano.
~••
Ke esokan pagi ; Bu Ester kaget saat membuka pintu kamar Juano dan melihat Rafael dan Juano sedang tidur berpelukan. "Ayo, bangun, sudah pagi." Bu Ester mematikan AC lalu menarik selimut yang membungkus tubuh dua pria berbeda usia yang masih tidur nyenyak.
Bu Ester segera membuka jendela, agar udara pagi bisa masuk ke kamar. "Tadi malam kalian berdua bermain sampe jam berapa?" Tanya Bu Ester sambil memukul kaki Juano, karena mengira Juano mengajak Rafael bermain game setelah pulang pesta.
"Auuu... Juan lagi mimpi tidur sama Kak Rafa." Juano protes sambil menendang.
"Mimpi? Buka matamu lalu lihat siapa yang tidur seperti pohon di sampingmu."
"Bu, sedikit lagi. Masih ngantuk." Ucapan Rafael membuat Bu Ester terkejut. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rafael sebelumnya. Rafael yang belum bangun sempurna, mengira Ibunya membangunkan.
"Iya, Mama. Sedikit lagi." Juano kembali memeluk Rafael. Namun Rafael jadi terkejut mendengar sebutan Mama. Dia langsung duduk dan mengusap wajahnya.
"Maaf, Bu. Subuh baru bisa tidur..." Rafael merasa tidak enak.
"Kalau begitu, bangun sarapan dulu, baru tidur lagi. Mumpung hari libur." Bu Ester melipat selimut, agar mereka bisa bangun, lalu keluar kamar.
"Juan, bangun. Kenapa ikutan tidur?" Rafael mendorong badan Juano yang masih mau berbaring.
"Tadi sudah bangun. Tapi Juan bangunin Kak Rafa gak bangun, jadi tidur lagi."
"Kalau begitu, bangun. Kita keluar." Ajak Rafael sambil duduk di tepi tempat tidur.
Juano bangun dan memeluk leher Rafael yang mau berdiri. "Kau sudah besar begini, masih mau dipanggul? Seperti sekarung beras."
"Gak papa, yang penting dipanggul Kak Rafa." Juano bersikap baik dan manja, sebab dia dengar pertengkaran kakaknya dengan Rafael.
Walau tidak tahu penyebabnya, Juano takut Rafael akan pergi dari rumah, karena kakaknya. Sebab dia baru pernah dengar suara Rafael yang keras dan tegas. Tidak seperti padanya yang pelan dan hangat.
...~•••~...
...~•○♡○•~...