NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - Luka yang Tersembunyi

Cang Li berdiri tegak sambil menatap kepulan asap itu. Meskipun ia baru saja melepaskan tekniknya dengan penuh tenaga, ekspresinya tidak menunjukkan kemenangan. Sebaliknya, ada sedikit kekhawatiran di matanya.

“Senior Yan?” panggilnya. “Kau tidak apa-apa?”

Tidak ada jawaban.

Cang Li menyipitkan mata. Ia mengangkat pedangnya perlahan dan mencoba merasakan aliran energi di sekelilingnya. Nalurinya yang telah diasah selama latihan tahap kedua mulai bekerja. Sesuatu terasa aneh. Terlalu tenang.

Lalu, tiba-tiba—

Wush!

Sebuah bayangan melesat keluar dari balik asap dan menyerang dari sisi kiri.

Cang Li langsung menangkis, tetapi bayangan itu pecah menjadi pusaran angin sesaat setelah terkena pedangnya. Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, dua bayangan lain datang dari arah berbeda.

“Apa ini?” serunya sambil menahan serangan demi serangan.

Satu bayangan menyerang dari depan, satu lagi dari atas, lalu satu lagi dari belakang. Gerakan mereka cepat dan sulit dibedakan dari tubuh asli. Cang Li mencoba membaca aura masing-masing, tetapi semuanya terasa mirip.

Dari balik pusaran debu, suara Su Yan terdengar ringan namun penuh percaya diri.

“Jangan hanya mengandalkan mata atau kecepatan, Junior. Dalam pertarungan sungguhan, lawan tidak akan menyerangmu dengan cara yang jujur.”

Angin di sekitar halaman semakin kencang. Debu dan dedaunan membentuk lingkaran besar yang berputar mengelilingi mereka. Dalam pusaran itu, empat sosok Su Yan terlihat bergerak sekaligus.

“Swift Gale Phantom!”

Cang Li memutar tubuhnya dengan waspada. Ia mencoba menebas salah satu bayangan di depannya, tetapi tubuh itu pecah menjadi hembusan angin. Bayangan lain datang dari kanan, lalu dari belakang. Setiap kali ia menyerang, yang ia tebas hanyalah udara kosong.

“Ini buruk...” gumamnya pelan.

Ia menarik napas dalam dan memaksa dirinya tenang. Guru Ling pernah mengajarinya bahwa kepanikan adalah jalan tercepat menuju kekalahan. Cang Li menutup matanya sejenak, mencoba merasakan getaran energi di sekelilingnya.

Satu...

Dua...

Tiga...

Empat—

Tidak. Ada yang berbeda.

Tepat saat ia menyadari ada satu aliran energi yang sedikit lebih padat daripada yang lain, sensasi dingin tiba-tiba menyentuh lehernya.

Cang Li membuka mata dengan cepat.

Su Yan yang asli sudah berdiri tepat di belakangnya, dengan ujung pedang kayu menempel ringan di lehernya.

“Pertarungan selesai,” ucap Su Yan lembut.

Cang Li terdiam sesaat, lalu menurunkan pedangnya sambil menghela napas panjang. “Aku kalah.”

Su Yan mundur satu langkah, lalu tersenyum puas. “Tapi kau hampir berhasil menemukanku. Itu sudah jauh lebih baik daripada yang kubayangkan.”

Cang Li menatap empat bayangan angin yang perlahan memudar di sekeliling mereka. “Teknik itu merepotkan sekali. Bagaimana cara kerjanya?”

Su Yan memutar pedangnya santai sebelum menyimpannya di pinggang. “Aku menciptakan beberapa bayangan dari aliran angin dan jejak energiku sendiri. Saat lawan sibuk membedakan mana yang asli, aku menggunakan arus angin untuk bergerak diam-diam ke titik buta mereka.”

Cang Li mengangguk pelan. “Jadi bukan sekadar ilusi, tetapi juga jebakan untuk mengalihkan fokus lawan.”

“Benar,” jawab Su Yan sambil tersenyum bangga. “Kalau teknikmu seperti petir yang menerjang lurus, teknikku lebih cocok untuk membingungkan lawan sampai mereka salah langkah.”

Saat itulah Guru Ling melompat turun dari atap dan mendarat ringan di atas tanah. Tatapannya bergantian mengarah pada kedua muridnya.

“Pertarungan kalian jauh lebih baik daripada yang kuduga,” ujarnya. “Su Yan tetap unggul dalam pengalaman dan kendali energi, tetapi Cang Li telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam waktu singkat. Jika kalian terus berkembang seperti ini, nama kalian pasti akan terdengar di turnamen nanti.”

Su Yan langsung menoleh ke arah Cang Li dan mengangkat tangannya dengan semangat. “Kita harus membuat semua orang tercengang di arena nanti, Junior!”

Cang Li menatap senyum cerah itu dan tanpa sadar terdiam sesaat. Wajahnya terasa sedikit panas, meskipun ia sendiri tidak tahu harus menyebut perasaan itu apa. Ia hanya berdeham pelan dan memalingkan wajahnya.

“Aku akan berusaha,” jawabnya singkat.

Su Yan tertawa kecil. “Jawabanmu selalu terlalu serius.”

Hari mulai bergeser menuju sore. Sinar matahari yang tadinya terang kini mulai condong ke barat, menerobos sela-sela pepohonan di sekitar rumah Guru Ling. Setelah beberapa saat berbincang, Su Yan pun mengambil pedangnya dan bersiap pulang ke desa.

“Aku pulang dulu, Guru. Sampai besok,” ucapnya sambil membungkuk hormat.

“Jangan terlambat besok,” jawab Ling singkat.

Su Yan lalu menoleh ke arah Cang Li dan melambaikan tangannya dengan ceria. “Sampai jumpa besok, Junior Li! Jangan diam-diam berlatih terlalu keras malam ini. Aku tidak mau kau tumbang sebelum badai datang.”

Cang Li hanya mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan.”

Su Yan tersenyum lebar sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah keluar hutan. Sosoknya perlahan menghilang di balik pepohonan dan cahaya senja.

Setelah keheningan kembali turun, Cang Li berdiri di halaman sambil menatap ke arah jalan yang baru saja dilalui Su Yan. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda di dadanya setelah percakapan dan pertarungan hari ini.

Ia lalu menoleh ke arah Guru Ling.

“Guru,” panggilnya pelan, “Senior Su Yan pasti tumbuh di keluarga yang hangat, ya? Dia selalu terlihat ceria, berani, dan tidak pernah kehilangan semangat.”

Guru Ling tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah jalan setapak itu dengan sorot mata yang sulit dibaca.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata, “Jangan terlalu cepat menilai kehidupan seseorang hanya dari senyumnya, Cang Li.”

Cang Li mengerutkan kening. “Maksud Guru?”

Ling menghela napas pelan, lalu berjalan menuju teras rumah. “Su Yan memang sering tersenyum, sering bercanda, dan selalu terlihat seolah tidak pernah memiliki beban. Namun kenyataannya, dia sudah lama hidup sendirian.”

Cang Li sedikit tertegun.

Ling melanjutkan, “Dia tidak memiliki keluarga yang menunggunya di rumah. Tidak ada ayah, tidak ada ibu, dan tidak ada saudara. Rumah yang ia datangi setiap malam hanya berisi kesunyian.”

Cang Li menatap Ling dengan ekspresi berubah. Ia teringat bagaimana Su Yan berjalan pulang seorang diri setiap sore, lalu kembali lagi ke rumah ini keesokan harinya dengan wajah yang sama cerahnya. Selama ini, ia tidak pernah memikirkan hal itu.

“Dia... tinggal sendiri?” tanya Cang Li pelan.

Ling mengangguk. “Sudah cukup lama.”

“Lalu kenapa dia masih bisa tersenyum seperti itu?”

Pertanyaan itu membuat Ling terdiam sesaat. Tatapannya menjadi sedikit lebih dalam, seolah ia sedang mengingat sesuatu yang jauh.

“Karena ada orang-orang yang memilih tersenyum bukan karena hidup mereka mudah,” ucap Ling perlahan, “melainkan karena jika mereka berhenti tersenyum, mereka takut akan tenggelam dalam kesepian mereka sendiri.”

Kata-kata itu membuat Cang Li terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa di balik keceriaan Su Yan, mungkin ada luka yang selama ini tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun. Ia teringat pada dirinya sendiri yang menutupi rasa sakit dengan diam, dan kini ia mulai memahami bahwa setiap orang ternyata punya cara berbeda untuk menyembunyikan luka.

Ling menepuk bahu Cang Li dengan ringan.

“Jangan terlalu lama memikirkan hal itu sekarang. Tiga hari lagi, badai besar akan datang ke puncak gunung. Itu berarti tahap latihan terakhirmu sudah dekat.”

Cang Li mengangkat kepala. “Heavenly Lightning Tempering...”

“Ya,” jawab Ling. “Latihan itu akan menentukan apakah tubuhmu cukup kuat untuk menahan petir alami, atau justru hancur sebelum turnamen dimulai. Setelah hari ini, tidak ada lagi ruang untuk bermalas-malasan.”

Cang Li mengangguk pelan, tetapi kali ini tatapannya jauh lebih mantap daripada sebelumnya. Ia menoleh ke langit yang mulai gelap, lalu mengepalkan tangannya.

Ia tahu, badai yang akan datang bukan sekadar ujian kekuatan. Itu akan menjadi gerbang yang menentukan apakah ia benar-benar pantas melangkah lebih jauh menuju panggung besar yang menantinya.

Dan tanpa ia sadari, pertemuannya dengan Su Yan bukan hanya memperkuat latihannya, tetapi juga mulai membuka sisi lain dari dunia yang selama ini belum pernah benar-benar ia pahami.

Di kejauhan, awan hitam mulai berkumpul perlahan di balik pegunungan.

Badai besar itu... semakin dekat.

End Chapter 31

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!