NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:933
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Udara pagi di Puncak dingin sampai ke tulang, kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus, membuat villa itu terlihat tenang tapi anehnya justru menekan dada.

Alexa berdiri di balkon kamar lantai dua dengan sweater tebal membungkus tubuhnya, tangannya mencengkeram pagar besi dingin sementara matanya menatap lembah yang tertutup kabut tanpa benar-benar melihat apa pun.

Sudah dua hari sejak ia dipisahkan dari Genesis, tapi rasanya seperti bertahun-tahun, seolah waktu sengaja melambat hanya untuk menyiksanya.

“Gen… kamu lagi apa sekarang?” bisiknya lirih, napasnya bergetar di udara dingin, bayangan wajah itu muncul begitu jelas di kepalanya.

Tatapan tajam, suara serak yang selalu memanggil namanya dengan cara yang bikin hatinya tenang, pelukan hangat yang dulu terasa biasa tapi sekarang terasa seperti sesuatu yang mustahil untuk dimiliki lagi. Ia menutup mata sebentar, mencoba menahan rasa sesak yang terus naik ke tenggorokan, tapi yang ada justru makin kuat.

Ketukan pintu memecah lamunannya. “Nona Alexa, sarapan sudah siap. Tuan dan Nyonya menunggu,” suara pelayan terdengar rapi dan terlatih, tanpa celah emosi.

Alexa membuka mata, menarik napas dalam, lalu menjawab pelan, “Aku turun.” Ia melangkah masuk ke kamar yang terlalu besar untuk dirinya, terlalu rapi, terlalu sempurna sampai terasa tidak manusiawi.

Semua ada, semua mahal, tapi tidak ada satu pun yang terasa hangat. Ia baru sadar sekarang, rumah bukan soal tempat, tapi soal siapa yang ada di dalamnya, dan orang itu tidak ada di sini.

Di ruang makan, kedua orang tuanya sudah duduk rapi seperti biasa, punggung tegak, ekspresi datar, dunia mereka terasa sangat berbeda dengan dunia yang baru saja ia tinggalkan.

“Duduk,” kata Nyonya Wijaya singkat tanpa menoleh.

Alexa menurut, duduk pelan dengan tangan saling menggenggam di pangkuan.

“Mulai hari ini kamu ikut jadwal yang sudah kami buat,” lanjut Tuan Wijaya dengan suara berat yang tidak memberi ruang untuk bantahan, “..pagi etika, siang bisnis, sore sosial. Tidak ada waktu untuk hal tidak penting.”

Alexa mengangkat wajah sedikit, menatap lurus meski matanya mulai berkaca-kaca. “Yang tidak penting itu… maksud Ayah Genesis?” tanyanya pelan tapi jelas.

“Ya,” jawabnya tanpa ragu, “dia bukan bagian hidupmu lagi.” Kalimat itu sederhana, tapi efeknya seperti pisau yang ditarik pelan di dada Alexa.

Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu palsu. “Kalau memang semudah itu dilupain, aku pasti sudah lupa dari kemarin,” gumamnya lirih.

Nyonya Wijaya meletakkan cangkir dengan sedikit keras, nada kesabarannya mulai habis. “Kamu harus belajar menerima. Kami lakukan ini demi kamu.” Alexa menatap mereka bergantian, napasnya mulai berat.

“Kalau ini demi aku, kenapa rasanya aku malah hilang?” tanyanya jujur, suaranya gemetar tapi tidak mundur.

Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang dingin. Percakapan ditutup sepihak. “Siang ini kamu bersiap, ada tamu penting,” ujar Tuan Wijaya. Alexa sudah tahu bahkan sebelum nama itu disebut. “Calon suamimu,” lanjutnya.

Jantungnya langsung berdegup kencang, telinganya berdenging, dan satu nama kembali menggema di kepalanya, Genta.

.

.

Siang datang terlalu cepat. Alexa sudah didandani, gaun putih melekat sempurna di tubuhnya, rambutnya ditata rapi, wajahnya dipoles hingga terlihat seperti versi terbaik dari seseorang yang bahkan tidak ia kenal. Ia duduk di ruang tamu dengan punggung tegak, tangan saling menggenggam, mencoba menahan gemetar. Suara mobil berhenti di luar, langkah kaki mendekat, dan saat pintu terbuka, napasnya langsung tertahan.

Pria itu masuk dengan langkah tenang, aura dewasa dan dingin melekat kuat, jas hitamnya rapi, wajahnya tegas, dan matanya… matanya itu yang membuat Alexa hampir kehilangan keseimbangan. Terlalu familiar. Terlalu dekat dengan sesuatu yang seharusnya sudah terkubur di masa lalu.

“Alexa,” sapanya tenang, “akhirnya kita bertemu lagi.”

Kata “lagi” membuat jantung Alexa bergetar hebat. Ia berdiri perlahan, menatap pria itu tanpa berkedip.

“Genta…” ucapnya tanpa sadar. Pria itu tersenyum tipis, seperti menganggap itu hal wajar. “Sepertinya kamu masih ingat,” katanya ringan.

Alexa hampir tertawa kalau saja dadanya tidak terasa sesak. Ia ingat, tapi bukan sebagai Alexa. Ia ingat sebagai Naura, wanita yang pernah mencintai seorang pria bernama Genta dan kehilangan dia karena kematian. Tapi sekarang pria itu berdiri di depannya, hidup, nyata, dan menjadi calon suaminya dalam tubuh orang lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Genta sambil melangkah mendekat.

Alexa refleks mundur satu langkah. “Maaf… aku belum terbiasa,” katanya cepat.

Genta berhenti, menatapnya dengan sedikit heran. “Terbiasa dengan aku?” tanyanya.

Alexa menggeleng pelan. “Dengan semua ini,” jawabnya jujur. “Dengan hidup ini.”

Genta mengamati wajahnya lebih lama, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. “Kamu berubah,” katanya akhirnya.

Alexa tersenyum tipis. “Kamu juga,” balasnya, meski dalam hatinya ia justru berpikir sebaliknya. Kamu tidak berubah sama sekali.

“Aku dengar kamu sempat menghilang,” lanjut Genta santai sambil duduk. “Apa yang kamu cari?”

Alexa diam sebentar, lalu menjawab pelan, “Aku cuma ingin hidup.”

Genta mengangkat alis. “Hidup?”

Alexa mengangguk, matanya mulai hidup untuk pertama kalinya sejak pagi. “Hidup tanpa diatur, tanpa dipilihkan, tanpa dipaksa menikah,” ucapnya jujur.

Kata terakhir itu membuat suasana berubah sedikit lebih tegang, tapi Genta tidak terlihat tersinggung.

“Ini bukan hal baru, Alexa. Kita sudah tahu soal ini sejak lama,” jawabnya tenang.

Alexa menatapnya lurus. “Kamu bisa nerima?” tanyanya.

“Ini tanggung jawab,” jawab Genta singkat.

Alexa tertawa kecil, pahit. “Atau paksaan yang kamu biasakan?” balasnya.

Genta tidak langsung menjawab, hanya menatapnya lebih dalam. “Apa ada orang lain?” tanyanya tiba-tiba.

Alexa membeku, lalu perlahan menunduk, tapi kali ini ia tidak menyangkal. “Iya,” jawabnya pelan.

“Apa dia sangat penting?” tanya Genta lagi.

Alexa tersenyum kecil, kali ini hangat meski air matanya mulai menggenang. “Dia segalanya,” jawabnya jujur tanpa ragu.

Jawaban itu menggantung di udara, berat tapi jelas. Genta menghela napas pelan, tidak marah, tidak juga tersenyum, hanya menerima informasi itu seperti bagian dari fakta.

“Berarti kamu benar-benar berubah,” gumamnya. Alexa mengangkat wajah, menatapnya dengan mata yang lebih hidup.

“Bukan berubah,” katanya pelan, “aku baru mulai jadi manusia.”

Kalimat itu membuat Genta diam cukup lama. Ia tidak membantah, tidak juga menertawakan. Untuk pertama kalinya, ia terlihat benar-benar berpikir.

.

.

Di sisi lain, jauh dari villa itu, Genesis berjalan menembus dinginnya malam Puncak dengan jaket tipis dan napas yang berat. Tangannya menggenggam secarik kertas berisi alamat yang ia cari mati-matian. Matanya tajam, langkahnya tidak ragu meski tubuhnya lelah.

“Gue dateng, Lex,” gumamnya pelan, suaranya serak tapi penuh tekad. “Kali ini gue nggak bakal kehilangan lo lagi.”

Langkahnya semakin cepat, hatinya terbakar oleh satu tujuan yang sama. Ia tidak peduli sejauh apa jaraknya, tidak peduli seberapa besar tembok yang harus ia hadapi. Yang ia tahu hanya satu, Alexa ada di sana, dan ia akan mengambilnya kembali apa pun yang terjadi.

Di villa itu, Alexa masih berdiri di hadapan Genta dengan hati yang terbelah, sementara di luar sana, Genesis sedang mendekat tanpa ia sadari. Dua dunia yang berbeda mulai bergerak menuju satu titik yang sama, dan ketika semuanya bertabrakan nanti, tidak ada yang akan kembali seperti sebelumnya.

____

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!