NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase

“Terima kasih, Xavero.”

“Sudah berapa kali Anda mengucapkan terima kasih kepada saya?”

Nathan menatap Xavero dalam-dalam. “Kamu tidak tahu, Xavero, seberapa berharganya Naura bagi keluarga kami. Sedikit saja kamu terlambat menolongnya, aku tidak tahu akan seperti apa kehancuran di keluarga kami,” jelasnya.

Xavero terdiam sejenak, menatap Nathan dengan tenang.

“Setiap orang pasti punya seseorang yang berharga,” ucapnya pelan. “Dan malam ini… saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Nathan memperhatikannya lebih dalam.

“Apa pun alasanmu, faktanya kamu yang menyelamatkan dia,” balas Nathan tegas.

Xavero menggeleng kecil.

“Kalau bukan saya, mungkin akan ada orang lain yang berhenti.”

Nathan tersenyum tipis, tapi kali ini ada makna berbeda di baliknya.

“Tidak semua orang punya keberanian seperti itu.”

Nathan menarik napas pelan, lalu kembali fokus pada Xavero.

“Saya tidak suka berhutang,” ucapnya. “Dan saya juga tidak akan membiarkan kebaikan seperti ini lewat begitu saja.”

Xavero menghela napas pelan.

“Saya tidak menolong untuk imbalan,” jawabnya jujur.

Nathan mengangguk.

“Saya tahu.”

Ia mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah—

“Tapi bukan berarti saya akan diam saja.”

Tatapan mereka kembali bertemu.

“Kamu kerja di mana?” tanya Nathan.

“Perusahaan biasa,” jawab Xavero.

Nathan merogoh sesuatu dari dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Xavero. “Ambil ini.”

Xavero tidak langsung menerimanya. Ia menatap Nathan, seolah meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kalau ada apa-apa, atau kamu butuh sesuatu, hubungi saya,” jelas Nathan. “Ambillah.”

Xavero masih terdiam sejenak. Pandangannya turun ke kartu di tangannya, lalu kembali menatap Nathan.

“Baiklah.”

Ia akhirnya menerima kartu itu dan menyimpannya ke dalam jaket. “Saya izin pamit.”

Nathan mengangguk pelan. “Baiklah. Semoga ini bukan pertemuan terakhir kita.”

Xavero hanya membalas dengan anggukan singkat, lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan taman rumah sakit.

Sementara itu, Nathan tetap duduk di tempatnya, menatap punggung Xavero yang perlahan menjauh dari pandangan.

Ia kemudian merogoh ponsel dari sakunya.

“Kumpulkan data lengkap tentang Xavero. Saya ingin laporannya secepatnya,” perintahnya singkat.

Tanpa menunggu balasan, Nathan mematikan ponselnya.

°°

Krek. Pintu terbuka perlahan.

Naura yang sedang bersandar di tumpukan bantal langsung menoleh ke arah pintu. Wajahnya yang masih terlihat pucat perlahan membentuk senyum tipis saat melihat kakaknya masuk.

“Kakak dari mana?” tanyanya lembut.

“Dari luar, Dek. Bagaimana keadaan kamu?” balas Nathan sambil berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang dengan hati-hati.

“Masih sedikit pusing, Kak. Tapi kata dokter itu wajar,” jelas Naura pelan.

Nathan mengangguk-angguk, menatap adiknya dengan penuh perhatian. “Syukurlah kamu baik-baik saja. Nanti Kakak bingung harus bilang apa ke Daddy…”

Naura tersenyum tipis, lalu memegang tangan kakaknya.

“Maaf ya, Kak… sudah bikin semua orang khawatir,” ucapnya pelan.

Nathan langsung menggeleng, genggamannya sedikit menguat.

“Jangan minta maaf. Yang penting kamu selamat.”

Naura menunduk sedikit, jemarinya memainkan punggung tangan Nathan dengan pelan.

“Tapi… ini bukan kecelakaan biasa,” lanjutnya lirih.

Nathan terdiam.

Naura mengangkat pandangannya perlahan, matanya masih lemah tapi kini lebih serius.

“Aku ingat… sebelum mobil itu kehilangan kendali,” ucapnya pelan, berusaha mengingat, “remnya seperti… tidak berfungsi.”

Nathan langsung menatapnya tajam.

“Kamu yakin?”

Naura mengangguk pelan.

“Aku sudah menginjaknya berkali-kali… tapi mobilnya tetap melaju.”

Hening.

Suasana ruangan mendadak berubah.

Naura menggigit bibirnya pelan.

Nathan meraih tubuh adiknya dan menariknya ke dalam dekapan hangat.

“Sekarang kamu aman, Nau… maafkan Kakak yang tidak becus menjaga kamu,” ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah.

Naura langsung menggeleng pelan. “Aku yang harus minta maaf, Kak… seandainya aku tidak keras kepala, ini tidak akan terjadi,” balasnya lirih.

Saat Nathan hendak kembali berbicara, ponselnya berdering. Ia merogoh ponsel itu dengan gerakan tenang namun tegang.

“Nau, Kakak keluar dulu sebentar,” ucap Nathan sambil perlahan melepaskan pelukannya.

Naura mengangguk pelan.

Nathan kemudian keluar dari ruangan dan segera mengangkat telepon.

“Bagaimana?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Ini bukan kecelakaan biasa, Tuan. Rem mobil Nona Naura disabotase,” jawab suara di seberang.

Nathan mengepalkan tangannya, pikirannya langsung menguatkan kecurigaan yang sejak awal sudah muncul.

“Apakah kamu sudah menemukan siapa dalang di balik kecelakaan adik saya ini?” tanyanya tegas.

“Sudah, Tuan. Dia adalah pesaing bisnis Anda. Datanya sudah saya kirim ke email Anda.”

“Tangani dia,” ucap Nathan dingin. “Saya yakin kamu paham apa yang harus dilakukan.”

“Siap, Tuan.”

“Jangan beri dia kesempatan untuk kembali.”

°°

Di salah satu mall terbesar di Eldoria City, Arga dan Liora berjalan berdampingan dengan langkah tenang. Tangan mereka saling menggenggam mesra, seolah dunia hanya milik berdua.

Di belakang mereka, dua pengawal mengikuti dengan tangan penuh kantong belanjaan dari berbagai butik ternama.

Liora tersenyum puas. Ini, hidup yang selalu ia inginkan.

“Kamu ingin apalagi, sayang?” suara Arga terdengar lembut di sampingnya.

Liora menoleh, tanpa ragu menjawab,

“Aku mau tas yang limited edition.”

Arga tersenyum kecil, tanpa sedikit pun keberatan.

“Baiklah, kita ke toko tas sekarang.”

Ia langsung menggenggam tangan Liora lebih erat, lalu mengarahkannya berjalan.

Liora menatapnya sekilas.

“Belanjaanku sudah banyak, apa kamu tidak keberatan?”

Arga menggeleng pelan.

“Tidak. Saya punya banyak uang, jadi hal seperti ini tidak akan merugikan saya.”

Kalimat itu membuat sudut bibir Liora terangkat.

Mereka pun masuk ke butik tas mewah yang ada di lantai atas.

Begitu pintu terbuka, seorang pelayan langsung menyambut dengan sopan.

“Selamat datang, Tuan Arga.”

Arga hanya mengangguk ringan.

“Tunjukkan koleksi limited edition kalian.”

“Baik, Tuan. Silakan lewat sini.”

Liora berjalan pelan di belakang Arga, matanya menyapu ruangan elegan itu. Lampu hangat, kaca-kaca besar, dan deretan tas yang hanya bisa dimiliki segelintir orang.

Beberapa menit kemudian, sebuah etalase khusus dibuka.

Sebuah tas berwarna hitam elegan dengan aksen emas ditampilkan di dalamnya.

Mata Liora langsung tertuju.

“Itu…” gumamnya pelan.

Arga melirik ke arah yang sama.

“Ambil itu,” ucapnya tanpa ragu.

Pelayan sedikit terkejut.

“Maaf, Tuan, itu koleksi terbatas—hanya satu di kota ini.”

Arga menatapnya datar.

“Justru itu kenapa saya minta.”

Suasana sedikit hening.

Liora tersenyum kecil, menikmati perhatian itu.

“Kalau tidak bisa?” tanya Liora pelan, seolah menguji.

Arga menoleh padanya, lalu menjawab santai,

“Tidak ada kata tidak bisa.”

Pelayan itu langsung menunduk.

“Baik, Tuan. Akan segera kami proses.”

Liora tertawa kecil, lalu mendekat ke Arga.

“Kamu selalu membuat semuanya terlalu mudah.”

Arga menatapnya, lebih dalam kali ini.

“Bukan semuanya… hanya yang kamu inginkan.”

Liora terdiam sesaat.

Tapi kemudian ia tersenyum lagi, lebih puas dari sebelumnya.

Di belakang mereka, pengawal mulai membawa tambahan belanjaan.

Dan di tengah butik mewah itu, Arga tetap berdiri di samping Liora—

seolah dunia memang dibuat untuk memenuhi keinginan perempuan itu.

Tanpa mereka sadari, Radit—sahabat Xavero—berada tidak jauh dari tempat itu. Ia mendengar seluruh percakapan yang terjadi dengan jelas.

Senyum miring perlahan terbit di wajahnya.

“Liora Mahendra…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Kalian semua akan menerima akibatnya…”

Senyumnya perlahan menghilang, digantikan sorot mata yang jauh lebih tajam dan dingin.

“Kalau Xavero tidak bergerak, gue sendiri yang akan mengakhiri.”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!