NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Berpandangan

​"Mata itu menatapku, tapi jiwanya entah berada di galaksi mana. Ada ruang hampa yang begitu luas di antara tatapan kami, sebuah ruang yang tak sanggup kuseberangi, sekuat apa pun aku mencoba melangkah." (Buku Harian Keyla, Halaman 5)

​Tiga hari berlalu sejak pengakuanku di meja kantin siang itu. Tiga hari pula aku hidup dalam siksaan debar jantung yang tak kunjung mereda. Setiap pagi, langkahku menuju kelas terasa lebih berat, namun di saat yang sama, ada antisipasi gila yang membuat darahku berdesir. Aku menantikan kehadirannya. Aku mencari sosoknya di antara lautan seragam abu-abu yang berlalu lalang.

​Namun, Rendi tetaplah Rendi. Ia adalah bayangan yang bergerak dalam keheningan, menjauh dari cahaya, menolak untuk disentuh.

​Pagi ini, jam pelajaran kosong karena guru Bahasa Indonesia sedang rapat di dinas pendidikan. Suasana kelas XII-IPA 1 riuh rendah. Suara dentuman meja yang dijadikan alat musik perkusi dadakan oleh anak laki-laki di belakang berpadu dengan jeritan tawa anak perempuan yang sedang bertukar cerita liburan. Di tengah kekacauan itu, Rendi tidak ada di tempatnya. Bangkunya di pojok belakang kosong.

​"Nyariin siapa, Neng? Pangeran es lo lagi ngilang tuh," goda Bella yang tiba-tiba sudah mencondongkan wajahnya ke arahku. Gadis itu menopang dagu, menatapku dengan senyum menggoda yang membuat pipiku seketika merona panas.

​"A-apaan sih, Bel. Nggak nyariin siapa-siapa kok. Cuma ngecek jadwal piket aja di mading belakang," elakku gugup, buru-buru mengalihkan pandangan ke buku catatanku yang kosong.

​Lidya yang duduk di depanku berbalik, memutar kursinya hingga berhadapan denganku. Tangannya memegang sebungkus makaroni pedas yang langsung ia jejalkan ke mulutnya. "Udah deh, Key, mata lo tuh gampang banget dibaca. Dari tadi lo nengok ke belakang melulu. Kalau lo emang nyariin dia, samperin aja. Palingan dia lagi nongkrong di tempat sepi. Perpustakaan kek, atap sekolah kek."

​"Jangan ngawur deh, Lid," tegur Siska pelan. Siska menutup buku catatannya dengan gerakan anggun yang terukur. Ia membetulkan letak kacamatanya, menatap Lidya dengan raut wajah sedikit tidak setuju, sebelum akhirnya menatapku. "Keyla itu cewek baik-baik. Masa cewek yang ngejar-ngejar cowok duluan? Apalagi cowok kayak Rendi. Nanti harga diri Keyla jatuh di mata cowok-cowok lain."

​Kata-kata Siska terdengar sangat logis, diucapkan dengan nada halus yang seolah membalut kepedulian yang sangat dalam. Tapi entah mengapa, di dasar hatiku, ada sedikit rasa tidak nyaman mendengar penekanannya pada frasa cowok kayak Rendi. Seolah-olah Rendi adalah makhluk dari kasta terendah yang haram untuk kudekati. Namun, aku menepis pikiran itu jauh-jauh. Siska adalah sahabatku, ia pasti hanya ingin melindungiku dari patah hati.

​"Bukan ngejar, Sis. Cuma liat doang masa nggak boleh? Namanya juga lagi kasmaran," bela Bella sambil mencomot makaroni Lidya tanpa izin, yang langsung dibalas dengan geplakan pelan di punggung tangannya oleh Lidya.

​"Aku emang mau ke perpustakaan kok," kataku tiba-tiba, membuat ketiga sahabatku terdiam dan menatapku bersamaan. Aku buru-buru mengangkat sebuah buku tebal bersampul biru yang kubawa dari rumah. "Mau ngembaliin buku referensi sejarah. Udah jatuh tempo hari ini."

​"Mau gue temenin?" tawar Lidya, wajahnya terlihat bersiap berdiri.

​"Nggak usah," tolakku sehalus mungkin sambil tersenyum. "Kalian di sini aja. Aku cuma sebentar kok. Nanti kelamaan kalau harus nungguin aku milih buku lain."

​Siska menatapku sedikit lebih lama. Di balik kacamata tebalnya, ada kilat mata yang sulit kuartikan sebelum ia kembali tersenyum simpul. "Hati-hati ya, Key. Jangan keluyuran."

​Aku mengangguk dan melangkah keluar dari kelas. Suasana koridor cukup lengang karena sebagian besar siswa berada di dalam kelas masing-masing. Langkahku menggema pelan di lantai keramik yang dingin. Tanganku mendekap erat buku sejarah di dadaku, mencoba menenangkan debar jantungku yang kembali menggila. Lidya benar, ada kemungkinan besar Rendi berada di perpustakaan. Dan pikiran bahwa aku mungkin akan melihatnya tanpa gangguan siswa lain membuat perutku terasa seperti diaduk-aduk oleh ribuan kupu-kupu.

​Perpustakaan sekolah kami terletak di ujung lorong lantai dua. Pintunya terbuat dari kayu jati tua yang tebal, kedap suara, mengisolasi ruangan itu dari hiruk-pikuk dunia luar. Begitu aku mendorong pintu itu, aroma khas kertas tua, debu tipis, dan pengharum ruangan beraroma lavender langsung menyergap indra penciumanku.

​Suasana di dalam sangat sepi. Hanya ada Bu Ratna, pustakawati paruh baya yang sedang asyik merajut di balik meja sirkulasi, dan beberapa siswa berkacamata tebal yang tenggelam di balik tumpukan ensiklopedia di meja baca depan.

​Aku menyerahkan bukuku pada Bu Ratna, mendapat anggukan singkat darinya, lalu mulai melangkah memasuki area rak buku. Rak-rak di perpustakaan ini menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit, menciptakan lorong-lorong sempit yang sedikit remang karena cahaya lampu neon terhalang oleh deretan buku.

​Tujuanku adalah rak nomor 8: Sastra dan Fiksi. Aku melangkah perlahan, menyusuri deretan rak dengan langkah sepelan mungkin agar suara sepatuku tidak memecah kesunyian. Udara di sini terasa lebih dingin, seolah AC sentral bekerja dua kali lipat lebih kuat. Atau mungkin, dingin itu berasal dari antisipasi di hatiku.

​Saat aku berbelok memasuki lorong rak nomor 8, langkahku mendadak terhenti. Napasku tercekat di tenggorokan, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekikku tiba-tiba.

​Di ujung lorong sempit itu, duduk bersandar pada dinding kayu rak, adalah dia.

​Rendi.

​Ia duduk berselonjor di lantai, kepalanya bersandar lelah pada sisi rak. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, namun matanya terpejam rapat. Sinar matahari pagi yang menerobos dari celah jendela kecil di atas rak menyorot separuh wajahnya, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan hidungnya yang lurus.

​Aku mematung di ujung lorong, tak mampu bergerak maju maupun mundur. Duniaku seakan berhenti berputar.

​Untuk pertama kalinya, aku bisa menatap wajahnya dalam jarak sedekat ini tanpa harus takut ketahuan. Dalam tidurnya, wajah yang biasanya sekeras batu karang itu terlihat sedikit melunak. Bulu matanya yang panjang dan lentik menciptakan bayangan samar di pipinya. Tapi bahkan dalam keadaan terpejam pun, ada kerutan halus di keningnya. Gurat kelelahan yang begitu pekat merajai wajahnya yang pucat.

​Aku memperhatikan detailnya dengan hati yang terasa diremas pedih. Kemeja putihnya sudah menguning di bagian kerah, lengannya digulung asal-asalan hingga siku. Sepatu kets hitam yang ia kenakan sudah sangat usang, solnya terlihat menipis dan kanvasnya memudar. Betapa kerasnya hidup yang harus ia jalani? Beban apa yang membebani bahu pemuda berusia delapan belas tahun ini hingga ia terlihat seperti seseorang yang telah hidup ratusan tahun dan menanggung segala dosa dunia?

​Tanpa sadar, aku melangkah maju satu tindak. Entah dorongan gila dari mana, tanganku perlahan terangkat, jari-jariku bergetar di udara, ingin sekali merapikan anak rambut yang jatuh menutupi dahinya. Aku ingin membangunkannya dengan lembut, menanyakan apakah ia sudah makan, atau sekadar memberitahunya bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat.

​"Di saat gadis lain mendambakan bunga dan cokelat, aku hanya mendambakan satu hal: diizinkan untuk menghapus peluh di wajahmu yang terlelap." (Buku Harian Keyla, Halaman 6)

​Srek. Buku yang kupegang tak sengaja bergesekan dengan ujung rak kayu di sebelahku. Suaranya sangat pelan, namun di dalam kesunyian perpustakaan, suara itu terdengar seperti ledakan meriam.

​Tubuh Rendi menegang. Matanya terbuka dalam sekejap. Bukan mata orang yang baru bangun tidur dan linglung, melainkan mata seekor serigala yang waspada akan bahaya.

​Dan pandangan kami pun bertabrakan.

​Waktu seakan berhenti. Paru-paruku lupa bagaimana caranya menarik napas.

​Lima detik. Kami hanya saling menatap selama lima detik, tapi bagiku itu terasa seperti lima abad.

​Mata hitamnya mengunciku. Aku mencari-cari sedikit saja kehangatan, setitik saja kelembutan, atau setidaknya rasa terkejut karena kehadiranku. Namun, harapanku hancur berkeping-keping.

​Tatapan itu begitu dingin. Membekukan. Ada sebuah jurang pemisah yang tak kasatmata namun sangat terasa di antara kami. Matanya menatapku, tepat ke dalam retinaku, tapi aku tahu jiwanya entah berada di galaksi mana. Ia melihatku, tapi ia tak menganggapku ada. Di kedalaman pupil matanya, ada peringatan tak bersuara: Jangan dekati aku.

​Jantungku berdebar sangat kencang hingga terasa sakit menyentuh tulang rusuk. Perutku melilit, antara rasa takut akan tatapannya dan rasa sedih yang seketika membanjiri dadaku.

​Rendi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak tersenyum, tidak juga mengerutkan kening marah. Ekspresinya benar-benar kosong. Ia hanya mengalihkan pandangannya dariku dengan gerakan yang sangat lambat namun begitu merendahkan, seolah melihatku adalah hal yang paling tidak penting di dunia ini.

​Dengan gerakan kasar, ia menutup buku di pangkuannya. Ia bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di celana abu-abunya, lalu melangkah ke arahku.

​Lututku lemas. Ia berjalan lurus ke arahku karena itu satu-satunya jalan keluar dari lorong sempit ini. Jarak kami semakin menipis. Aroma sabun murahan bercampur peluh samar menguar dari tubuhnya saat ia berada selangkah di depanku.

​Aku menahan napasku, berharap ia akan berhenti, menyapaku, atau sekadar mengeluh karena aku menghalangi jalannya.

​Namun ia hanya memiringkan tubuhnya, melewatinya begitu saja tanpa melirikku sedikit pun, seolah aku adalah patung manekin yang tak bernyawa. Bahunya bahu sempat menyenggol bahuku pelan. Hawa dingin dari tubuhnya menembus seragamku.

​Ia berjalan pergi, meninggalkan lorong perpustakaan, meninggalkanku yang berdiri membeku dengan hati yang seolah baru saja diremukkan oleh batu raksasa.

​Aku memutar tubuhku, menatap punggung lebar yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kayu perpustakaan.

​Sakit. Ternyata diabaikan oleh orang yang diam-diam kita cintai rasanya jauh lebih menyakitkan daripada ditolak dengan kata-kata. Kata-kata bisa dilawan, tapi kebisuan? Kebisuan adalah dinding baja yang tak punya celah untuk ditembus.

​Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos, menetes satu per satu jatuh ke lantai kayu perpustakaan yang berdebu. Aku meremas ujung seragamku tepat di atas dada kiriku. Sesak sekali. Aku terisak dalam diam, menutup mulutku rapat-rapat agar suara tangisku tidak memecah keheningan perpustakaan. Mengapa aku menangisi seseorang yang bahkan tak mengenalku? Mengapa aku meratapi tatapan matanya yang seolah menolak eksistensiku di dunia ini?

​"Aku mengira aku cukup kuat untuk mencintaimu dari kejauhan, Rendi. Namun saat kau menatapku seolah aku adalah ruang kosong, aku sadar... cintaku padamu adalah sebuah bunuh diri yang berjalan lambat." (Buku Harian Keyla, Halaman 7)

​Aku berdiri di sana entah berapa lama, mencoba mengumpulkan kepingan harga diri dan kewarasanku yang berserakan. Setelah memastikan air mataku sudah kering dan mataku tidak terlalu merah, aku buru-buru mengambil sembarang buku dari rak, lalu bergegas keluar menuju meja sirkulasi. Aku meminjam buku itu tanpa membaca judulnya sama sekali.

​Langkahku gontai saat kembali menyusuri koridor. Dunia di sekelilingku seolah kehilangan warnanya, berganti dengan bayangan abu-abu yang suram. Pikiranku terus mengulang-ulang kejadian lima detik tadi. Tatapan matanya, kemejanya yang lusuh, dan dinginnya saat bahu kami bersentuhan.

​Saat aku membuka pintu kelas XII-IPA 1, suasana masih seramai tadi. Aku menunduk, berjalan cepat menuju bungkuku. Namun sesampainya di meja, aku mendapati sahabat-sahabatku tengah menatapku dengan raut wajah berbeda-beda.

​"Lama banget lo ke perpus, Key? Katanya cuma balikin buku," tegur Bella. Ia berhenti mengunyah permen karetnya saat melihat wajahku. "Eh, lo sakit, Key? Kok pucet banget muka lo?"

​Lidya langsung meletakkan ponselnya, menatapku dengan mata memicing tajam. Ia mengamati gerak-gerikku yang kaku saat aku meletakkan buku perpustakaan di atas meja dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Lo abis nangis, Key?" tanyanya to the point, suaranya mengandung nada protektif yang langsung membuat tenggorokanku kembali tercekat.

​"Nggak," dustaku pelan, memaksakan seulas senyum kaku. "Tadi... ada debu masuk ke mata pas nyari buku di rak atas. Udah dikucek-kucek malah perih."

​"Bohong lo jelek banget, sumpah," desis Lidya. Pandangan Lidya menyapu ruangan kelas, dan berhenti tepat di pojok belakang. Bangku Rendi masih kosong. Rahang Lidya mengeras seketika. "Lo ketemu Rendi di perpus? Dia ngapain lo? Dia ngomong kasar? Biar gue samperin tuh kulkas berjalan sekarang juga!"

​"Enggak, Lid! Tolong, jangan," aku panik, menahan lengan Lidya yang sudah bersiap bangkit dari kursinya. "Dia nggak ngapa-ngapain aku. Dia... dia nggak ngomong apa-apa."

​"Terus kenapa lo mewek gini, astaga?!" Lidya tampak gemas sekaligus frustrasi.

​"Sudah, Lidya, jangan dipaksa. Keyla butuh waktu," suara Siska yang tenang dan mengayomi menengahi kami.

​Siska menarik tanganku lembut, membimbingku untuk duduk di kursiku. Ia menyentuh punggung tanganku, mengelusnya dengan ibu jarinya. "Keyla, lihat aku," ucapnya lembut.

​Aku mengangkat wajahku, menatap kacamata tebal Siska yang memantulkan cahaya neon kelas.

​"Ini baru awalnya, Key," bisik Siska, suaranya sangat lirih hingga hanya bisa didengar olehku. "Cinta itu nggak seharusnya bikin kamu nangis di hari-hari pertama. Kalau cowok itu memang baik buat kamu, dia nggak akan bikin kamu ngerasa se-rendah ini. Kamu cantik, pinter, banyak yang suka sama kamu. Kenapa harus merendahkan harga diri untuk cowok miskin yang nggak tau cara menghargai cewek?"

​Kata-kata Siska menusuk, langsung mengarah ke ulu hatiku. Rasanya sangat beralasan, sangat masuk akal, dan sangat menyakitkan. Siska mengucapkan itu seolah ia sangat mengkhawatirkanku, namun ada getar aneh dalam suaranya yang tak bisa kupahami saat itu. Seolah... ia menikmati melihat keraguanku.

​"Bener kata Siska, Key," tambah Bella yang berdiri di sampingku, mengusap bahuku. "Mending lo lupain aja si Rendi. Buat apa ngejar cowok yang kelakuannya kayak kanebo kering gitu. Sakit hati doang ujung-ujungnya."

​Aku diam tak berkutik. Tanganku meremas buku perpustakaan yang baru saja kupinjam. Aku tak membantah ucapan Siska maupun Bella, karena separuh otak rasionalku membenarkan mereka. Harusnya aku berhenti. Harusnya aku berbalik arah dan mencari kebahagiaan yang mudah diraih.

​Namun separuh hatiku yang lain telah tersandera di lorong nomor 8. Tertinggal bersama debu yang menari di udara, bersama keheningan tatapannya yang membekukan jiwa.

​Aku menundukkan kepala, membiarkan rambut panjangku menutupi sisi wajahku, menyembunyikan genangan air mata baru yang kembali mengancam akan tumpah. Di dalam kebisuan kelasku yang bising, aku mengambil buku harianku diam-diam. Dengan tangan bergetar, kutuliskan sebuah janji baru di halaman kosongnya.

​"Mereka bilang aku gila karena mengejar bayangan yang menolak terang. Tapi biarlah. Jika tatapan lima detik itu adalah awal dari nerakaku, maka aku akan dengan senang hati terbakar di dalamnya." (Buku Harian Keyla, Halaman 8)

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!