"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pertemuan dengan Sang Pencipta
"Nata, lihat pintunya... Itu kode enkripsi tingkat tinggi yang hanya digunakan di laboratorium pusat kakek dulu. Dia benar-benar ada di dalam."
Suara Airine bergetar, bukan lagi karena dingin yang menggigit kulitnya, tapi karena kengerian yang nyata saat jemarinya menyentuh panel logam dingin di pintu baja raksasa di ujung gua. Sinar senter Arnold menyapu permukaan pintu, memperlihatkan lambang kobra perak yang melilit sebilah pedang—simbol Proyek Cobra yang seharusnya sudah dimusnahkan lima tahun lalu.
Arnold menggeser posisi senjatanya, matanya terus memantau kegelapan di belakang mereka. "Satya, pasang peledak termit. Kita tidak punya waktu untuk menebak password ulang tahun atau hari kematian palsunya."
"Jangan, Arnold!" cegah Airine cepat. "Pintu ini dilengkapi dengan sensor gas syaraf. Jika kamu meledakkannya secara paksa, seluruh lorong ini akan dipenuhi gas sarin dalam hitungan detik. Biarkan aku mencoba. Kakek selalu menggunakan pola DNA sequencing sebagai basis kodenya."
Arnold menatap istrinya yang masih dibalut selimut termal perak. "Kamu yakin? Jika salah, kita semua akan mati konyol di lorong bawah tanah ini."
"Aku dokter bedah, Arnold. Aku tidak pernah salah dalam memotong jaringan, dan aku tidak akan salah dalam memotong kode kakekku sendiri," Airine menekan serangkaian angka yang mewakili struktur protein langka yang pernah ia diskusikan dengan kakeknya saat ia masih kecil.
KLIK. DSSSSHHHT...
Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desis hidrolik yang berat. Udara dingin yang berbau antiseptik dan bahan kimia menyembur keluar, membuat Airine kembali bersin. Namun, pemandangan di balik pintu itu membuat napasnya tertahan.
Sebuah laboratorium futuristik yang sangat luas membentang di bawah tanah pulau tersebut. Ratusan tabung kaca raksasa berisi cairan hijau neon berjejer rapi, dan di dalamnya... ada tubuh-tubuh manusia yang tampak seperti sedang tidur.
"Ya Tuhan... Arnold, lihat mereka," bisik Airine, langkahnya gontai memasuki ruangan. "Mereka bukan hanya subjek uji coba... mereka adalah orang-orang yang dilaporkan hilang tahun lalu."
"Jangan mendekat ke tabung itu, Airine!" Arnold menarik tangan Airine, menahannya di belakang punggungnya yang tegap. "Satya, amankan sektor kiri! Tim Dua, ambil posisi di balkon atas!"
"Selamat datang, Airine. Dan selamat datang juga, Komandan Arnold Dexter. Aku sudah menyiapkan teh hangat untuk alergi dingin cucuku tercinta."
Suara itu tenang, berwibawa, dan sangat familiar. Dari balik kegelapan di ujung laboratorium, seorang pria tua muncul dengan kursi roda elektrik. Ia mengenakan jas lab putih bersih, rambutnya yang memutih tertata rapi, dan matanya yang tajam tampak berkilat di balik kacamata minusnya.
"Kakek...?" Airine membeku. Tas medisnya hampir jatuh dari genggamannya. "Bagaimana bisa... aku sendiri yang mengkafanimu, Kek! Aku yang melihat jantungmu berhenti!"
Edward Jane tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dulu terasa hangat namun kini tampak seperti seringai iblis bagi Airine. "Pelajaran pertama dalam farmakologi, Airine: Jantung hanyalah pompa elektrik. Jika kamu tahu cara mematikan arusnya sementara, kamu bisa menipu maut. Aku butuh kematian palsu itu agar dunia berhenti mengejarku dan membiarkanku menyelesaikan mahakaryaku."
"Mahakarya?!" Arnold melangkah maju, moncong senjatanya membidik tepat ke arah dahi Edward Jane. "Membunuh ayahku dengan racun eksperimental itu kau sebut mahakarya? Kau adalah monster, Edward!"
Edward Jane menatap Arnold tanpa rasa takut sedikit pun. "Ayahmu adalah pahlawan, Arnold. Dia memberikan nyawanya agar aku bisa memahami bagaimana Cobra-9 berinteraksi dengan sistem saraf pusat. Berkat dia, sekarang aku bisa menciptakan manusia yang tidak mengenal rasa takut, tidak mengenal rasa sakit, dan sepenuhnya patuh pada perintah."
"Kau gila, Kek!" teriak Airine, air matanya tumpah lagi. "Ini bukan pengobatan! Ini perbudakan!"
"Kau masih terlalu muda untuk mengerti, Airine," Edward menekan sebuah tombol di kursi rodanya. "Dunia ini kacau. Manusia butuh kendali. Dan kau... kau adalah kepingan terakhir. Genetikmu memiliki antibodi alami terhadap efek samping Cobra-9. Aku butuh sumsum tulang belakangmu untuk menstabilkan formula terakhir."
"Hanya melewati mayatku, Pak Tua!" Arnold mengokang senjatanya.
"Arnold, jangan!" Airine tiba-tiba memegang lengan Arnold. "Lihat di belakangnya... itu bukan hanya tabung. Itu tangki gas yang terhubung ke sistem ventilasi seluruh pulau. Jika kamu menembaknya sekarang, pulau ini akan meledak dan semua orang di sini akan mati."
Edward Jane tertawa kecil. "Cucuku memang jenius. Dia selalu melihat gambaran besarnya."
"Apa maumu, Edward?" tanya Arnold, suaranya sangat rendah dan penuh ancaman.
"Sederhana. Serahkan Airine padaku selama dua puluh empat jam. Setelah aku mengambil sampel yang kubutuhkan, kalian berdua boleh pergi. Aku akan memberikan penawar racun untuk semua orang yang sudah terinfeksi di luar sana. Jika tidak... aku akan melepaskan gas ini ke udara, dan kota tempat kalian tinggal akan menjadi kota mati dalam semalam."
Airine menatap Arnold yang tampak sangat tersiksa oleh pilihan itu. Ia bisa melihat otot rahang Arnold mengeras. Ia tahu suaminya tidak akan pernah menyerahkannya, tapi ia juga tahu Arnold tidak bisa membiarkan ribuan orang mati.
"Arnold," bisik Airine, menarik ujung rompi taktis suaminya.
"Jangan pernah berpikir untuk setuju, Airine. Aku tidak akan membiarkanmu jadi bahan percobaan pria gila ini," desis Arnold tanpa menoleh.
"Arnold, dengarkan aku," Airine mendekat, suaranya sangat pelan. "Aku punya penawar yang kubuat di laboratorium kemarin. Jika aku bisa mendekat ke tangki pusat itu, aku bisa menetralkan gasnya dari dalam. Tapi aku butuh kamu untuk mengalihkan perhatiannya."
Arnold melirik Airine sekilas. "Terlalu berisiko. Jika dia tahu, dia akan membunuhmu seketika."
"Percayalah padaku, Nata," Airine menggunakan nama penyamaran Arnold, mencoba mengingatkannya pada ikatan mereka. "Seperti aku mempercayaimu saat bom itu hampir meledak."
Arnold memejamkan mata sejenak, lalu menatap Edward Jane kembali. "Baik, Edward. Kita bicara. Tapi biarkan Airine memeriksa tabung-tabung itu dulu. Sebagai dokter, dia ingin melihat hasil 'mahakaryamu' sebelum dia setuju."
Edward Jane menyeringai puas. "Silakan, Dokter Airine. Masuklah ke dalam sejarah yang aku bangun."
Airine mulai melangkah maju perlahan, melewati barisan tabung manusia. Tangannya meraba saku pakaian taktisnya, menggenggam botol kecil berisi cairan biru yang menjadi satu-satunya harapan mereka untuk mengakhiri kegilaan sang kakek. Di belakangnya, Arnold tetap membidikkan senjatanya, siap untuk meledakkan kepala siapa pun yang berani menyentuh istrinya.
...****************...