PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 Konsesi Darurat dan Kebenaran yang Membeku
Sementara Erika alias Rosalind sedang asyik "menikmati" fasilitas barunya di Paviliun Musim Semi—termasuk kasur bulu angsa yang empuknya tidak masuk akal dan martabak dimensi hasil perasan keringat digital Nana—suasana di ruang tamu utama kediaman Duke Wiraatmadja justru tampak seperti markas besar militer yang baru saja dijatuhi bom atom tanpa peringatan.
Pintu mahoni setinggi tiga meter yang dihias ukiran naga dan singa itu ditutup rapat, dikunci ganda dari dalam, dan dijaga oleh sepuluh ksatria elit berpakaian zirah lengkap. Mereka diperintahkan untuk tidak membiarkan bahkan seekor nyamuk atau embusan angin pun lewat. Perintahnya mutlak: siapa pun yang mendekat tanpa izin tertulis dari Duke akan dianggap sebagai pengintai musuh dan dieksekusi di tempat.
Di dalam ruangan, bau dupa penenang jenis *Sandalwood* yang paling mahal tercium sangat kuat, memenuhi setiap sudut langit-langit yang tinggi. Namun, asap dupa itu tetap saja tidak bisa menenangkan wajah-wajah pucat para petinggi keluarga Wiraatmadja. Atmosfer di sana begitu berat, seolah-olah gravitasi telah meningkat sepuluh kali lipat, memaksa semua orang untuk membungkuk di bawah beban rahasia yang mengerikan.
Duke Lyon, sang Jenderal Besar yang biasanya ditakuti musuh di medan perang dan disegani kaisar di meja perundingan, kini duduk lesu di kursi kebesarannya. Ia mengusap wajahnya yang mendadak tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam hitungan jam. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat nyata, sebuah tanda kelelahan mental yang belum pernah ia alami bahkan setelah melakukan kampanye militer selama enam bulan berturut-turut.
"Kalian... kalian juga mendengar 'siaran radio' batin itu, kan?" tanya Duke Lyon dengan suara serak, seolah-olah dia baru saja menelan segenggam pasir gurun. Suaranya bergetar, meruntuhkan citra pria baja yang selama ini ia bangun.
Duchess Elena meremas sapu tangan sutranya sampai kain mahal dengan sulaman benang emas itu robek sedikit di bagian pinggirnya. Air mata menggenang di matanya yang cantik namun terlihat sangat lelah.
"Iya, Sayang... aku mendengar semuanya. Suara hati putri bungsu kita. Suara itu begitu jernih, begitu... bar-bar. Tapi anehnya, setiap kali aku mencoba membicarakannya dengan kepala pelayan tadi di koridor, lidahku seperti membeku. Ada kekuatan gaib yang menahan kita untuk membocorkan rahasia ini kepada orang luar. Kita bisa saling bicara di sini, di antara sesama anggota keluarga yang mendengarnya, tapi kita tidak bisa memberitahu dunia bahwa Rosalind bisa bicara melalui pikirannya."
Elena menarik napas panjang yang gemetar. "Suara itu... dia menghujat kita seolah-olah kita adalah sampah masyarakat. Tapi yang paling menakutkan bukan hujatannya, melainkan fakta-fakta yang dia sampaikan. Dia tahu tentang racun di paru-paruku. Dia tahu aku sedang sekarat secara perlahan."
"Aku juga mendengarnya, Ayah," sela Xander. Wajah ksatria es yang biasanya tanpa ekspresi itu kini tampak retak, seperti porselen mahal yang jatuh ke lantai. "Dia menyebutku 'Sad Boy' dan 'Kanebo Kering'. Aku bahkan tidak tahu apa itu Kanebo, tapi entah kenapa dari nada suaranya, aku merasa sangat terhina sekaligus bodoh. Seolah-olah seluruh harga diriku sebagai komandan ksatria dihancurkan oleh istilah asing yang dia ciptakan."
Xander mengepalkan tinjunya di atas meja kayu ek. "Namun... yang membuat bulu kudukku merinding adalah keakuratannya. Dia tahu rencanaku untuk mencampakkan Lady Isabella demi menjaga reputasi klan. Padahal aku baru memikirkannya dalam hati tadi pagi saat sarapan! Belum ada satu kata pun yang keluar dari mulutku, bahkan belum sempat ku tulis dalam catatan harian. Bagaimana mungkin dia tahu isi kepalaku jika bukan karena kekuatan yang melampaui logika manusia?"
Evelyn, sang kakak kedua yang biasanya tampil elegan dan penuh percaya diri sebagai mawar pergaulan kelas atas, kini sudah tidak bisa lagi menahan isak tangisnya di bahu ibunya. Gaun sutranya kusut, dan riasannya sedikit luntur karena air mata yang terus mengalir.
"Ayah... Rosalind benar. Suara batinnya tidak berbohong," Evelyn berkata di sela isak tangisnya. "Aku memang... aku memang secara bodoh memberikan dokumen dengan cap tangan Ayah itu kepada Pangeran Cedric. Dia bilang itu hanya surat permohonan perlindungan untuk keluarga kecil yang tertindas di perbatasan... Dia bilang itu untuk kemanusiaan! Aku bodoh, Ayah! Aku sangat bodoh! Aku hampir mengirim Ayah dan seluruh keluarga kita ke tiang pemenggalan hanya karena aku terobsesi dengan janji manis pangeran bermuka dua itu!"
Duke Lyon menatap putrinya dengan tatapan tajam yang menyakitkan. Kemarahan berkilat di matanya, namun di bawah kemarahan itu ada rasa takut yang besar. "Evelyn, kau memberikan dokumen militer kepada pihak luar?! Kita harus membatalkan pertunangan sialan itu sekarang juga! Aku tidak peduli dengan konsekuensinya!"
"Tidak bisa, Ayah!" Evelyn menggeleng putus asa, wajahnya basah oleh air mata. "Dekrit kekaisaran sudah ditandatangani Kaisar tiga bulan lalu atas permintaanku sendiri yang memohon-mohon. Jika kita membatalkannya secara sepihak tanpa alasan yang kuat dan terbukti secara hukum, Kaisar akan menganggap keluarga Wiraatmadja menghina martabat kerajaan dan melanggar sumpah kesetiaan. Itu akan memberi alasan bagi Pangeran ke-3 dan faksi pendukungnya untuk membasmi kita lebih cepat dengan dalih pengkhianatan!"
Julian, sang sepupu laki-laki yang biasanya hobi tebar pesona dan menjadi pusat perhatian di setiap pesta dansa, kini berdiri dengan wajah frustrasi. Ia mengacak-acak rambut pirangnya yang biasanya tertata rapi hingga terlihat berantakan.
"Lalu bagaimana denganku?!" teriak Julian dengan suara tertahan. "Suara batinnya tadi... dia bilang aku dijebak oleh Baron Ricardo di Kedai Bulan Merah! Dia bilang Lady Clara tidak bersalah, bahwa dialah yang melindungi ku dari tuduhan pelecehan meskipun ayahnya, Baron Teddy Alaric, harus menanggung malu!"
Julian berhenti sejenak, napasnya memburu. Ia teringat kembali kata-kata pedas Rosalind yang bergema di kepalanya: 'Kau menghancurkan reputasi putri mereka hanya dalam satu malam karena jebakan temanmu sendiri! Kau memperlakukannya dengan buruk padahal dia menangis setiap malam... Kau tertipu mentah-mentah oleh Baron kelas rendah dan sekarang malah menjadi suami yang kejam.'
"Aku... aku telah memperlakukan Clara seperti sampah selama sebulan ini," gumam Julian, kakinya terasa lemas hingga ia jatuh terduduk di kursi. "Aku pikir dia wanita oportunis yang haus harta Duke, tapi ternyata akulah yang terlalu bodoh untuk melihat kebenaran. Aku telah menambah dosa dengan menyakiti wanita setulus dia."
Celine, kakak sepupu wanita yang dikenal karena kesombongannya di Academia, juga ikut gemetar. Tangannya memegang sandaran kursi dengan sangat erat.
"Dan aku... ramalan tentang kebakaran di Academia Saint cty itu. Pangeran mahkota dari kerajaan tetangga akan tewas dalam kunjungan kenegaraan, dan aku yang akan jadi kambing hitamnya karena aku sering bertengkar dengannya di kelas sejarah. Siapa yang akan percaya pada gadis sombong sepertiku jika pelakunya adalah si 'Protagonis Wanita' Lady Seraphina yang selalu terlihat seperti malaikat suci? Dia punya dukungan publik, sedangkan aku hanya punya musuh!"
Paman Baskara dan Bibi Ratna hanya bisa saling berpelukan di sofa pojok ruangan dengan wajah pucat pasi. Ketamakan mereka sebelumnya kini berubah menjadi teror yang nyata.
"Kontrak tambang emas itu... kita sudah menandatanganinya secara sah di depan notaris kekaisaran kemarin sore," bisik Paman Baskara dengan suara yang hampir hilang. "Kita memberikan leher kita sendiri ke pisau jagal Lady Seraphina. Jika tambang itu gagal atau diklaim oleh kerajaan musuh, keluarga kita harus mengganti rugi dengan seluruh aset yang kita miliki. Kita akan jatuh miskin dalam semalam."
Ruangan itu mendadak hening. Hanya suara detak jam dinding besar dan desisan dupa yang terdengar. Penyesalan yang mendalam dan rasa ngeri yang mencekam menyelimuti mereka semua. Mereka merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap yang mereka buat sendiri, dan satu-satunya orang yang memegang kunci keluar adalah gadis yang selama ini mereka biarkan membusuk di paviliun kumuh.
Duke Lyon berdiri perlahan, kakinya terasa berat. Ia menatap setiap wajah anggota keluarganya. "Dengarkan aku. Jika apa yang dikatakan batin Rosalind adalah masa depan yang akan terjadi, maka kita saat ini sedang berdiri di atas jurang kematian. Tapi... suara itu juga adalah kesempatan. Dia tidak tahu kita bisa mendengarnya. Dia menganggap kita bodoh, dan mungkin kita memang bodoh selama ini."
Lyon menarik napas dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya. "Kita akan mengikuti permainannya. Kita akan berakting. Berikan dia martabat yang seharusnya dia miliki sejak dulu. Bersihkan namanya. Hancurkan siapa pun yang pernah menyentuhnya. Dan yang paling penting... awasi setiap gerak-gerik orang-orang yang dia sebutkan dalam batinnya."
Xander mendongak. "Jadi, kita akan menyelidiki asisten Hans dan Lady Seraphina?"
"Bukan sekadar menyelidiki, Xander," desis Duke Lyon dengan nada dingin yang mematikan. "Kita akan memasang jaring. Jika mereka benar-benar pengkhianat seperti yang dikatakan Rosalind, aku sendiri yang akan memastikan mereka memohon untuk mati. Tapi sebelum itu... kita harus memastikan Rosalind tetap senang. Karena jika batinnya berhenti 'berbicara', kita akan kehilangan mata dan telinga kita di masa depan."
"Tapi Ayah," Evelyn menyela, "bagaimana jika dia mulai bernyanyi 'Tarik Mang' lagi? Otakku rasanya mau meledak setiap kali dia melakukan itu."
Duke Lyon memejamkan mata sejenak, membayangkan teriakan batin yang memekakkan telinga itu. "Tahan. Telan saja. Anggap itu adalah suara terompet perang. Lebih baik telinga kita sakit karena lagu dangdut tidak jelas itu daripada leher kita terputus karena pisau algojo."
Elena mengangguk lemah. "Kita harus berubah. Demi Rosalind... dan demi kelangsungan hidup kita semua."
Di luar ruangan, sepuluh ksatria elit tetap berjaga dalam diam, tidak menyadari bahwa di dalam sana, sebuah keluarga besar baru saja memutuskan untuk menjadi sekelompok aktor terbaik di kekaisaran demi menyenangkan seorang gadis yang batinnya lebih tajam daripada belati.
Sementara itu, jauh di Paviliun Musim Semi, Erika menggeliat di kasurnya yang empuk. Ia baru saja menyelesaikan satu suapan besar martabak manis imajiner yang diproses sistem Nana.
[(Rosalind]
[Hah... kenyang bener. Dunia ini aslinya lumayan asyik kalau kita punya akses 'cheat'. Nana, besok pagi aku mau bangun agak siang. Jangan ada yang berani bangunin aku, atau aku bakal konser album dangdut kompilasi 20 jam non-stop di kepala mereka. Penasaran deh, besok si Duke Lyon bakal bawain aku hadiah apa lagi. Mungkin emas batangan buat ganjal pintu?"]
Suara batin itu bergetar, merambat melalui dinding-dinding batu kediaman Duke, dan mendarat tepat di pusat kesadaran Duke Lyon yang baru saja melangkah keluar dari ruang tamu. Lyon hampir tersandung jubahnya sendiri.
*Emas batangan buat ganjal pintu?!* batin Lyon dengan perasaan campur aduk antara ingin marah dan ingin menangis. Ia segera menoleh ke asistennya. "Siapkan satu peti emas batangan murni besok pagi. Kirim ke Paviliun Musim Semi sebelum matahari terbit!"
Para ksatria pengawal saling pandang, bingung dengan perintah mendadak sang Duke yang biasanya sangat hemat dalam urusan keuangan pribadi. Mereka tidak tahu, bahwa di rumah ini, batin seorang gadis kini adalah hukum tertinggi yang harus dipatuhi jika ingin tetap waras dan hidup.
Drama keluarga Wiraatmadja yang penuh dengan ketakutan, akting, dan lagu-lagu tak terduga, baru saja memasuki babak yang paling krusial.