NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. PENGHIANATAN DI TENGAH BADAI

Cahaya lampu senter yang menyapu jendela pondok perburuan itu bukan lagi sebuah ancaman yang jauh, itu adalah tatapan predator yang telah menemukan mangsanya. Di dalam pondok yang remang-remang, Alexei Dragunov berdiri dengan tenang, namun aura mematikan memancar dari tubuhnya. Ia mengokang senapan serbu AK-12 miliknya dengan gerakan yang begitu halus, hampir tanpa suara.

​"Alana, tetap di belakangku," perintah Alexei, suaranya rendah dan penuh otoritas. Ia menatap pintu kayu tua yang mulai berderit di bawah tekanan angin badai dan langkah kaki di luar. "Ivan memastikan pondok ini memiliki dinding baja di balik kayu ini. Mereka tidak akan bisa menembusnya dengan mudah. Tapi kita harus bergerak cepat."

​Alana tidak menjawab. Ia berdiri di sudut perapian, menggenggam paspor palsu bertuliskan "Elena Volskaya Junior" dan kontrak penjualan dirinya. Kertas-kertas itu terasa seperti api yang membakar telapak tangannya. Setiap kata dalam kontrak itu, setiap tanda tangan ayahnya, Wira Naratama, adalah pengkhianatan yang membekukan darahnya lebih cepat daripada salju Siberia.

​"Di bawah meja... ada pintu palka rahasia menuju terowongan pelarian. Aku akan menahan mereka, kau masuk duluan," Alexei melanjutkan, matanya masih terpaku pada pintu depan. Ia tidak melihat ekspresi Alana yang penuh dengan kengerian dan kebencian yang baru.

​BOOM!

​Sebuah ledakan granat menghantam pintu depan, menghancurkan kayu ek tua itu menjadi serpihan yang beterbangan. Asap hitam dan salju dingin menyeruak masuk. Di ambang pintu yang hancur, siluet-siluet pasukan elit Naratama Corp muncul, lengkap dengan kacamata night vision yang bersinar hijau dalam kegelapan.

​Alexei segera melepaskan tembakan rentetan, menjatuhkan dua orang penyerang di barisan depan. Suara tembakan otomatis memekakkan telinga di ruangan sempit itu, beradu dengan suara teriakan dan erangan.

​"Alana! Sekarang!" teriak Alexei, suaranya hampir hilang di tengah kebisingan pertempuran. Ia terpaksa berlindung di balik meja ek yang tebal saat tim elit Wira mulai membalas tembakan.

​Alana menatap ruang rahasia di lantai kayu. Itu adalah jalan menuju keselamatan, jalan menuju perlindungan Alexei. Tapi perlindungan macam apa yang diberikan oleh pria yang telah membelinya? Pria yang menganggapnya sebagai "aset" berharga sejak ia masih kecil? Pria yang mungkin telah mengatur seluruh penderitaan ibunya agar ia bisa memiliki Alana?

​"Tidak," bisik Alana. "Aku tidak akan menjadi barang daganganmu lagi."

​Alana melihat ke arah perapian. Di sampingnya terdapat sebuah jendela kecil yang terkunci dari dalam. Kaca jendela itu buram oleh embun dan salju, namun di baliknya terdapat kegelapan hutan pinus yang luas. Kebebasan.

​Alana meraih tas kecil perlengkapan darurat yang sempat Alexei siapkan, tas yang berisi peta topografi menuju Svyatoy Nikolay. Ia menyelipkan paspor palsu dan kontrak penjualan itu ke dalam jubah sutranya. Dengan segenap kekuatannya, Alana menghantamkan gagang pistol Glock-nya ke kaca jendela.

​PRAK!

​Kaca itu pecah, mengirimkan serpihan kristal ke udara. Alexei tersentak mendengar suara itu. Ia menoleh cepat dan matanya membelalak saat melihat Alana sedang mencoba memanjat jendela kecil itu.

​"Alana! Apa yang kau lakukan?! Masuk ke palka(ruang rahasia)!" Alexei berteriak, suaranya dipenuhi ketakutan yang belum pernah Alana dengar sebelumnya. Ia mencoba bangkit dari persembunyiannya untuk mengejar Alana, namun rentetan peluru dari tim Naratama memaksanya kembali berlindung.

​"Aku lebih baik mati membeku daripada hidup di bawah kendalimu, Alexei!" Alana menatap Alexei untuk terakhir kalinya. Di bawah cahaya api perapian yang temaram dan kilatan tembakan, Alana melihat tatapan Alexei yang runtuh, tatapan seorang Tsar(Pe**nguasa) yang baru saja kehilangan tahtanya, atau mungkin, tatapan seorang pria yang baru saja kehilangan hatinya.

​Alana melompat keluar dari jendela, jatuh tersungkur di atas tumpukan salju yang dalam. Angin badai Siberia langsung menghantamnya dengan keganasan yang primitif. Suhu di luar jauh di bawah nol derajat, dan salju turun begitu lebat hingga pandangan Alana terbatas hanya beberapa meter di depannya.

​Ia tidak peduli. Ia terus merangkak, lalu berlari menembus hutan pinus yang rapat. Di belakangnya, suara tembakan di pondok semakin menjauh, namun ia tahu pengejaran akan segera dimulai. Wira menginginkan "kunci"-nya, dan Alexei menginginkan "aset"-nya.

​Alana berlari dengan satu tujuan, utara. Menuju koordinat Svyatoy Nikolay. Peta di dalam tasnya adalah satu-satunya panduannya. Ia tidak memiliki rompi taktis, tidak memiliki sepatu bot salju yang memadai, dan hanya memiliki satu pistol dengan satu magasin peluru.

​Setelah berjalan selama hampir satu jam menembus badai yang semakin gila, Alana mulai merasakan kakinya mati rasa. Napasnya pendek-pendek, dan pandangannya mulai kabur karena kelelahan dan hipotermia yang mulai menyerang. Di tengah belantara putih ini, Alana merasa seperti semut yang siap dilumat oleh alam.

​Ia ambruk di bawah sebuah pohon pinus besar, mencoba mencari sedikit perlindungan dari angin. Ia meraba buku harian Elena di balik pakaiannya. Ia membuka lembaran acak, mencari kekuatan di tengah keputusasaan.

​...Jangan biarkan mereka melihat ketakutanmu, Alana kecilku. Kekuatan seorang Volskaya bukan pada pelurunya, tapi pada tekadnya untuk tetap berjalan meski dunia runtuh di bawah kakinya.

​Alana tersenyum pahit. "Aku berjalan, Ma. Aku berjalan keluar dari neraka."

​Tiba-tiba, suara deru baling-baling helikopter terdengar di atas kepalanya. Cahaya lampu sorot yang kuat menyapu hutan, menembus kerapatan pepohonan. Alana segera mematikan senter kecilnya dan merapatkan tubuhnya ke pohon.

​"Alana! Menyerahlah! Kau tidak akan bertahan di luar sana!" suara Wira Naratama menggema melalui pengeras suara helikopter, terdengar sangat dekat. "Alexei Dragunov telah jatuh. Tidak ada lagi yang bisa melindungimu selain ayahmu!"

​Alexei jatuh? Alana merasakan sedikit desiran aneh di dadanya. Apakah pria itu benar-benar mati melindunginya? Ataukah itu hanya taktik Wira untuk membuatnya menyerah?

​Tiba-tiba, Alana mendengar suara langkah kaki yang berat di atas salju di belakangnya. Suara itu bukan dari tim Naratama yang berisik, suara itu sangat halus, sangat terlatih. Alana perlahan meraih pistolnya, tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena dingin yang ekstrem.

​Sosok itu muncul dari balik kegelapan. Mantel wol hitamnya tertutup salju, dan bahu kirinya tampak kaku karena luka tembak yang ia balut dengan asal. Mata biru tajam itu menatapnya di bawah cahaya bulan yang pucat di antara awan badai.

​Alexei Dragunov tidak mati.

​Ia berdiri di sana, terengah-engah, namun senjatanya tidak terarah pada Alana. Ia menjatuhkan senapannya ke salju, lalu mengulurkan tangannya yang bersarung tangan hitam pada Alana.

​"Kau melarikan diri dariku, Alana," ucap Alexei, suaranya serak namun penuh intensitas yang aneh. "Tapi kau harus tahu... di dunia ini, hanya ada dua pria yang akan mengejarmu hingga ke ujung dunia. Pria yang menjualmu, dan pria yang membelimu untuk menjagamu tetap hidup."

​Lampu sorot helikopter Wira semakin dekat, menyapu area tempat mereka berdiri. Alexei maju satu langkah, menatap Alana dengan tatapan yang memohon, sesuatu yang belum pernah Alana lihat sebelumnya.

​"Aku tahu kau sudah membaca kontrak itu. Aku tahu kau membenciku. Tapi badai ini akan membunuhmu dalam satu jam jika kau tidak ikut denganku," Alexei berseru di tengah deru helikopter yang semakin keras. "Gereja tua itu... Svyatoy Nikolay... aku tahu itu tujuanmu. Ikut denganku sekarang, dan aku berjanji... aku akan membawamu ke sana, dan setelah itu, kau bebas memilih takdirmu sendiri."

​Alana menatap tangan Alexei yang terulur, lalu menatap langit malam di mana helikopter ayahnya berputar-putar seperti burung pemangsa. Di tengah badai salju Siberia yang mematikan ini, ​Ia tidak tahu apakah Alexei adalah penyelamatnya yang terakhir, ataukah sipir penjara yang paling cerdik yang baru saja menawarkan kunci menuju sel yang lebih indah.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!