NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Malam turun dengan tenang, menyelimuti rumah besar itu dalam keheningan yang sempurna. Hanya sesekali terdengar suara angin yang menyusup pelan melalui celah jendela. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan cahaya redup di beberapa sudut lorong.

Semua orang telah terlelap. Namun tidak bagi Cameron. Langkahnya terdengar pelan saat ia berjalan menyusuri lorong menuju satu kamar yang sejak siang, pikirannya selalu tertuju kepada penghuninya.

Di depan pintu kamar itu, ia berhenti. Tangannya terangkat, tetapi tidak langsung mengetuk. Ada jeda singkat, seolah ia sedang memastikan bahwa apa yang akan ia lakukan malam ini memang harus dilakukan.

Akhirnya, ia mengetuk pelan. “Giana? Kau sudah tidur?” bisiknya, takut terdengar.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Giana berdiri di sana dengan pakaian tidur sederhana. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya langsung menunjukkan keterkejutan saat melihat Cameron berdiri di depan kamarnya pada jam seperti ini.

“Tuan? Untuk apa datang ke kamar saya malam-malam seperti ini?” tanyanya lirih.

Cameron tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sejenak sebelum berkata singkat, “Aku perlu bicara.” Nada suaranya terdengar berbeda, lebih berat dan serius.

Giana terdiam sesaat, lalu membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Masuklah, tapi jangan berisik. Cayden baru saja tertidur.”

Suasana di dalam kamar terasa hangat namun sunyi. Cayden terlelap di tempat tidurnya, napasnya teratur, wajah kecilnya tampak damai tanpa mengetahui apa pun yang akan terjadi malam itu.

Cameron berdiri beberapa langkah dari Giana. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung berbicara, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat.

“Atas apa yang terjadi belakangan ini, aku ingin meminta maaf padamu dengan tulus, aku tidak ingin kau salah paham lebih jauh,” ucapnya akhirnya dengan suara rendah.

Giana menatapnya, menunggu.

Cameron menarik napas pelan, lalu berkata, “Giana. Sebenarnya, Cayden memang bukan anakku.”

“A-apa? Kau bicara apa, Tuan?” tanyanya tak mendengar.

Cameron tidak mengalihkan pandangannya. “Cayden bukanlah anakku, tetapi putra dari kakak perempuanku.”

Keheningan langsung memenuhi ruangan. Giana mencoba mencerna kata-kata itu, tetapi semakin ia memikirkannya, semakin sulit semuanya terasa masuk akal.

“Tu-tunggu dulu. Jadi, Cayden bukan anak Tuan, tetapi kakak Tuan? Tapi, Tuan mengakuinya sebagai anak Tuan?” ulangnya pelan.

Cameron mengangguk. “Aku tidak ingin memberitahumu sebelumnya, karena ini merupakan rahasia besar dan aku sudah berjanji pada kakakku bahwa aku akan menjaga Cayden dan bersikap seolah-olah aku adalah ayahnya.”

Giana perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Cayden. Bayi kecil itu masih tertidur pulas, sama sekali tidak mengetahui bahwa keberadaannya menyimpan rahasia sebesar itu.

Perasaan di dalam dada Giana mendadak bergejolak.

Terkejut, tidak percaya, dan entah kenapa, merasa marah.

“Jadi, maksud Tuan. Ibunya Cayden tidak ingin mengakuinya?” tanyanya lirih. “Mengapa dia melakukan hal itu? Apakah dia tidak menyayangi anaknya sendiri?”

Cameron tidak langsung menjawab, tetapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban yang cukup jelas bagi Giana.

Giana menatap Cayden lebih lama. Tatapannya berubah menjadi lebih dalam, lebih emosional. Tangannya tanpa sadar mengerat di sisi tubuhnya.

“Dia tega,” bisiknya pelan. “Dia benar-benar tega karena tidak mengakui Cayden.”

Perasaan yang selama ini ia pendam tiba-tiba muncul kembali. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kembali terasa nyata, mengoyak dirinya secara perlahan.

“Mengapa ada orang yang membuang anaknya seperti itu?” lanjutnya lirih, suaranya mulai dipenuhi emosi. “Sementara, ada orang lain yang begitu menginginkan anak. Namun—”

Giana terhenti, tak sanggup berkata-kata lagi. Napasnya terasa tercekat sementara matanya mulai berkaca-kaca.

“Mengapa dia melakukannya, Tuan? Jika dia tidak menginginkannya, kenapa—”

“Cukup, Giana. Kau tidak memiliki hak untuk menghakimi keputusan ibunya Cayden, kau tidak tahu hal apa saja yang sudah dialaminya. Aku memberitahumu bukan agar kau bisa mempertanyakan keputusannya.”

Ruangan kembali hening. Giana terdiam dengan sesak yang kian menekan dadanya.

“Maaf,” bisik Giana lirih.

Setelah beberapa saat, Cameron kembali bersuara. “Maaf jika aku sudah berkata kasar. Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi,” katanya pelan. “Tapi akan aku pastikan Cayden tidak akan pernah kekurangan sesuatu apapun, termasuk kasih sayang.”

Giana mengangkat wajahnya perlahan.

“Itu alasan kenapa aku membawamu ke sini,” lanjut Cameron. “Aku butuh seseorang yang bisa merawatnya dengan baik. Dan aku melihat itu ada padamu.”

Tatapan mereka bertemu, menciptakan keheningan yang terasa lebih dalam dari sebelumnya.

“Ada satu hal lagi,” katanya, nadanya kembali serius. “Ini harus tetap menjadi rahasia, hanya antara kau dan aku saja, Giana. Aku yakin kau bisa menjaga rahasia ini.”

Giana mengernyit, ia tidak mengatakan apapun tetapi kerutan di keningnya seolah bertanya-tanya.

“Tidak ada yang boleh tahu tentang ini,” lanjut Cameron. “Termasuk ibuku, Regina, orang lain atau siapa pun itu. Tidak boleh ada yang tahu bahwa Cayden adalah putra kakakku.”

Ia menatap Giana dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Bagi semua orang, Cayden adalah anakmu. Kau sudah menganggapnya sebagai anakmu sendiri, kan?”

Kalimat itu membuat Giana terdiam sepenuhnya. “Ten-tentu saja, aku menyayanginya.”

“Kalau begitu, bertindaklah seperti ibunya Cayden. Aku ingin kau tetap mengakuinya sebagai anakmu,” ulang Cameron dengan tenang. “Apapun yang terjadi.”

Giana menggeleng pelan, kebingungan. “Ta-tapi, itu … apakah tidak masalah? Apakah tidak apa-apa jika Cayden menganggapku sebagai ibunya?”

Cameron terdiam sesaat. Ia belum memikirkan hal itu. Namun, seolah tidak ingin memberi ruang untuk penolakan Giana, ia berkata dengan tegas. “Yang jelas untuk sekarang, Cayden adalah putramu. Dan kau tenang saja, aku akan memastikan kau tidak dirugikan,” katanya. “Aku akan memberimu bayaran yang bahkan lebih dari itu.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang lebih dalam, “Jika kau bisa menjaga Cayden sampai usianya tiga tahun, aku akan memberikan apapun yang kau butuhkan.”

Janji itu menggantung di udara, terlihat besar, menggiurkan, tetapi juga menyesakkan. Giana menatap Cameron, lalu beralih pada Cayden, kemudian kembali lagi padanya. Pikirannya kacau, perasaannya tidak menentu.

Ia sadar, ini bukan lagi sekadar pekerjaan, tetapi pilihan.

Pilihan yang akan mengubah segalanya. “Baiklah,” sahutnya kemudian. “Aku akan melakukannya demi Cayden.”

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
mawar hitam
km yg sialan 😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!