NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 29: Inventaris Tulang Belakang

​Kabin belakang Maybach ini didesain dengan tingkat kedap suara yang nyaris tidak masuk akal. Deru mesin, klakson kendaraan Jakarta yang saling mengutuk di jam tujuh pagi, hingga suara angin, semuanya diblokir oleh kaca setebal dua lapis.

​Di dalam sini, sangat sunyi sampai aku merasa bisa mendengar ritme detak jantungku sendiri yang sayangnya, sedang berdetak sedikit lebih cepat dari batas kewajaran rasional.

​Rayan duduk di sebelah kiriku, jarak kami dipisahkan oleh konsol tengah berlapis kayu walnut. Ia kembali ke mode standarnya: rahang tegas, postur tegap, mata menatap layar tablet membaca laporan pagi. Tidak ada lagi sisa kepanikan dari krisis bajak laut jam lima subuh tadi. Tiran ini sudah kembali bertahta.

​Di saat aku sedang sibuk menghitung sisa stasiun yang seharusnya kulewati jika aku naik KRL pagi ini, Rayan tiba-tiba menutup tabletnya. Ia mengetuk kaca partisi yang memisahkan kami dengan kursi pengemudi.

​Kaca itu turun. Daniel, yang sedang menyetir, dengan sigap menyerahkan sebuah kantong kertas cokelat berlogo artisan bakery ternama di kawasan Senopati ke belakang.

​Kaca partisi kembali naik. Rayan meletakkan kantong kertas itu tepat di atas pangkuanku.

​Aku menatap logo emas di kantong itu, lalu menatapnya dengan dahi berkerut.

​"Kamu melewatkan asupan natrium dan protein pagimu hari ini," kata Rayan datar, sama sekali tidak menoleh ke arahku. Matanya kembali menatap lurus ke jalan raya di depan. "Pihak Pertama berkewajiban memastikan fungsi kognitif Pihak Kedua tidak menurun akibat hipoglikemia saat jam kerja."

​Aku membuka kantong kertas itu. Di dalamnya terdapat sebuah croissant isi smoked salmon yang masih hangat dan cup tebal berisi kopi hitam Americano dari biji kopi yang aromanya langsung memukul mundur bau parfum mobil ini.

​Otakku secara otomatis menghitung margin harganya. Croissant tujuh puluh ribu, kopi lima puluh ribu. Total seratus dua puluh ribu rupiah untuk sebuah sarapan yang akan lenyap di lambungku dalam lima menit. Setara dengan uang makanku selama tiga hari.

​"Terima kasih atas intervensi gizi ini, Bapak CEO," balasku datar, tidak berniat menolak karena kelaparan di tengah kemacetan ibukota adalah sebuah inefisiensi biologis. Aku menggigit croissant itu perlahan.

​Sepuluh menit berlalu dalam keheningan saat mobil mewah ini mulai memasuki kawasan ruko Sudirman. Begitu mataku menangkap papan nama bank yang berjarak dua ratus meter dari gedung PT Bina Tirta, radar bahayaku langsung menyala.

​"Daniel, berhenti di depan minimarket itu. Kiri depan," perintahku tiba-tiba, mencondongkan tubuh ke depan.

​Mobil sedikit melambat, tapi Rayan langsung menyela. "Gedung kantormu masih dua blok lagi di depan. Kenapa turun di sini?"

​"Karena kalau manajerku, HRD-ku, atau staf admin dari divisi lain melihat Nara Kusuma babu logistik bergaji UMR turun dari mobil seharga satu gedung ruko, besok pagi surat pemecatanku sudah keluar," jawabku cepat, mulai merapikan kerah kemejaku yang sedikit kusut.

​Rayan mengerutkan keningnya, tidak menangkap logikaku. "Kenapa mereka harus memecatmu karena fasilitas kendaraan?"

​"Rayan, di dunia rakyat jelata, seorang staf rendahan yang tiba-tiba diantar pakai Maybach hanya punya dua probabilitas status di mata orang-orang: antara dia korupsi uang kantor, atau dia jadi simpanan pejabat," balasku telak, menatapnya dengan ekspresi serius. "Aku tidak mau berurusan dengan gosip murahan. Ini wilayah normalku, tolong hargai."

​Rayan terdiam. Ia tampak tidak suka dengan gagasan bahwa kehadirannya dianggap sebagai aib sosial di duniaku, tapi karena logikaku beralasan kuat, ia akhirnya menghela napas panjang.

​"Menepi, Daniel," perintah Rayan singkat.

​Mobil super mewah itu merapat dengan mulus ke trotoar depan minimarket. Aku langsung meraih tas kainku, memastikan tidak meninggalkan jejak remah croissant di jok kulit aslinya.

​Aku membuka pintu. Sebelum aku keluar, aku menoleh sekilas ke arahnya.

​"Terima kasih tumpangannya," kataku pelan.

​Rayan menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Fokus bekerja. Jangan buat masalah," jawabnya datar.

​Aku mengangguk, keluar dari mobil, dan menutup pintu. Aku berjalan menyusuri trotoar menuju kantorku, membaur dengan lautan pekerja Sudirman lainnya. Begitu punggungku berbalik, aku tidak repot-repot menoleh untuk melihat Maybach itu berlalu.

​Pukul 09:15 pagi.

​Aku berdiri mematung di depan meja Pak Hadi, manajer operasional logistik PT Bina Tirta.

​Di depanku, sebuah file map plastik dibanting dengan keras hingga menimbulkan suara tamparan pada meja kayu.

​"Nara! Kamu perhatikan nggak sih rekap faktur vendor untuk rute Bogor ini?" bentak Pak Hadi, wajahnya merah padam menahan kesal. Tunjuknya mengetuk sebuah baris di kertas cetak tersebut. "Ini tagihannya seharusnya empat juta lima ratus ribu! Kenapa kamu ketik empat juta?! Kurang, Nara! Lima ratus ribu selisihnya! Kalau saya nggak cek dua kali, uang perusahaan hilang setengah juta gara-gara kamu!"

​Aku menundukkan kepala. Postur tubuhku kubuat sesopan dan se-menyesal mungkin, sebuah postur yang sudah kuhafal di luar kepala.

​"Maaf, Pak. Saya salah input saat menyalin data dari resi manual ke sistem," jawabku dengan suara pelan dan konstan. "Saya akan merevisi invoice-nya sekarang dan langsung saya kirimkan ke tim finance."

​"Fokus, Nara! Makanya kalau pagi jangan ngelamun! Sudah, cepat perbaiki sebelum jam sepuluh!" omelnya, menyodorkan map itu ke dadaku.

​"Baik, Pak."

​Aku mengambil map itu, berbalik, dan berjalan kembali ke kubikelku. Begitu duduk di kursi kerjaku yang berdecit menyedihkan, aku meletakkan dokumen itu dan menatap layar monitorku yang menampilkan kotak-kotak Microsoft Excel.

​Sebuah tawa kecil yang sinis, hambar, dan sangat gelap nyaris lolos dari tenggorokanku.

​Ironi yang luar biasa memuakkan.

​Pukul lima pagi tadi, aku baru saja mengeksekusi manuver hukum asuransi maritim internasional, meretas jalur kepemilikan kargo, dan menyelamatkan aset Adristo Group senilai tiga triliun rupiah dari ancaman bajak laut bersenjata.

​Empat jam kemudian, aku dimarahi habis-habisan, ditunjuk-tunjuk wajahku oleh seorang manajer kelas menengah hanya karena salah mengetik angka senilai lima ratus ribu perak.

​Inilah realitanya. Di malam hari, aku adalah mitra strategis seorang miliarder yang memegang nasib konglomerasi di tangannya. Di siang hari, aku adalah pesuruh kantor yang posisinya bisa digantikan oleh siapa saja kapan saja. Dua dunia yang bertolak belakang ini berputar dalam satu poros hidupku, membuatku merasa seolah aku sedang mengidap kepribadian ganda yang sangat parah.

​Aku menarik napas panjang, menetralkan kepalaku, lalu mulai memperbaiki salah ketik tersebut. Di dunia nyata ini, selisih lima ratus ribu perak bisa memotong sepuluh persen gajiku. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

​Jam istirahat makan siang.

​Aku baru saja menyelesaikan suapan terakhir bekal nasi dan tumis kacang panjang yang kubawa, ketika layar ponselku menyala. Ada notifikasi WhatsApp yang masuk.

​Dito: Ra, kamu aman? Kemarin sore mukamu panik banget pas kabur dari kedai. Kalau memang di kantormu lagi toxic atau bosmu terlalu rese, bilang ya. Kebetulan di kantorku lagi buka loker buat data analis. Biar aku bantu masukin CV-mu.

​Aku menatap layar ponsel itu cukup lama.

​Tawaran Dito sangat tulus. Ia menawarkan jalan keluar yang rasional. Sebuah dunia normal di mana atasan mungkin menyebalkan, tapi setidaknya mereka tidak bertarung melawan sabotase paman sendiri dan ancaman kudeta dewan direksi. Dito adalah jangkar menuju kehidupan biasa yang selalu kuimpikan.

​Tapi saat memikirkan tawaran itu, memoriku berputar kembali pada tatapan dingin Rayan di dalam mobil semalam, lalu sorot matanya yang intens pagi tadi saat ia menahan pergelangan tanganku.

​Duniaku sudah tidak normal lagi. Aku punya rahasia satu miliar rupiah yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun. Jika aku membawa Dito, orang biasa yang tidak tahu apa-apa, masuk kembali ke dalam orbitku, aku hanya akan menariknya ke dalam masalah hukum keluarga Adristo. Rayan akan mengaudit latar belakangnya, mengintimidasinya, dan merusak kenyamanan pria itu.

​Aku tidak bisa melakukan itu pada Dito. Teman SMP-ku itu terlalu baik untuk dijadikan variabel tambahan dalam kontrak pernikahan gila ini.

​Aku mengetik balasan dengan cepat, menggunakan nada riang palsu yang kubuat senatural mungkin.

​Nara: Aman kok, To! Kemarin emang beneran ada data kargo yang nyaris expired makanya panik. Thanks banget tawarannya, tapi aku masih nyaman di sini kok. Nanti kalau butuh, pasti aku kontak kamu duluan. Sukses KPR-nya ya!

​Aku menekan tombol kirim, lalu mengarsipkan obrolan itu. Aku mengunci ponselku dan meletakkannya kembali ke dalam laci.

​Menjaga jarak adalah satu-satunya cara melindunginya. Garis batas itu harus diperjelas.

​Pukul 19:00 malam.

​Aku kembali melangkah keluar dari lift menuju penthouse. Kali ini, udara di dalam unit lantai empat puluh ini terasa netral. Rayan belum pulang dari kantor, mungkin masih mengurus sisa-sisa administrasi pembatalan kontrak dengan perusahaan cangkang Paman Haris.

​Aku berjalan menyusuri lorong panjang menuju Sayap Timur, berniat langsung mandi dan melanjutkan merekap sisa data Bina Tirta yang kubawa pulang.

​Begitu membuka pintu kamarku, langkahku terhenti mendadak.

​Aku menatap kosong ke arah sudut ruangan, tepat di area meja kerjaku.

​Ada yang salah dengan komposisi visual ruanganku. Kursi plastik keras berlapis busa tipis yang biasa kupakai untuk duduk berjam-jam menatap laptop kursi menyedihkan yang selalu membuat tulang ekorku mati rasa sudah tidak ada.

​Sebagai gantinya, berdiri gagah sebuah kursi kantor ergonomis berwarna abu-abu gelap dengan desain futuristik. Jaring penyangga punggungnya terlihat kokoh, rangkanya terbuat dari baja ringan, dan bentuknya secara spesifik dirancang untuk mengikuti lekuk tulang belakang manusia.

​Bahkan dengan gaji UMR-ku yang tidak seberapa, aku tahu merek kursi itu. Itu adalah kursi Herman Miller Aeron. Kursi sultan yang harganya menembus puluhan juta rupiah, setara dengan harga sepeda motor matic baru.

​Aku berjalan mendekat perlahan, nyaris takut benda itu akan menghilang jika disentuh.

​Tepat di tengah dudukan jaring yang mahal itu, menempel secarik kertas post-it berwarna kuning terang.

​Aku mengambil kertas itu. Di atasnya, tertera tulisan tangan menggunakan tinta pulpen fountain yang sangat rapi, tebal, dan berkelas.

​"Tulang belakang Pihak Kedua adalah aset vital yang menopang keberhasilan logistik perusahaan. Inventaris ini bertujuan meminimalisir risiko cedera kerja. Tidak perlu dikembalikan.

- CEO"

​Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali.

​Bibirku bergetar pelan, dan sebuah tawa renyah yang tidak bisa kutahan akhirnya pecah. Aku tertawa di tengah kamar yang sunyi itu, sambil memegang secarik kertas kuning tersebut.

​Rayan Adristo benar-benar brengsek yang sangat cerdas.

​Dia tahu persis bagaimana cara kerjaku. Kalau ia memberikan ini sebagai "hadiah" atau "tanda terima kasih", aku pasti akan langsung membuangnya keluar jendela karena merasa ia merendahkan harga diriku dengan uangnya.

​Tapi ia membungkusnya dengan label inventaris perusahaan, aset vital, dan manajemen risiko. Ia menggunakan bahasa birokrasi paling kaku dan rasional untuk menyembunyikan fakta bahwa ia peduli padaku. Ia memastikan aku tidak punya alasan logis untuk menolak pemberiannya.

​Aku duduk secara perlahan di atas kursi Herman Miller itu. Sandarannya seketika menyesuaikan diri dengan lekuk punggungku, memberikan kenyamanan yang luar biasa empuk dan menyangga sempurna. Sensasinya seperti dipeluk oleh awan dari arah belakang.

​Aku bersandar penuh, menatap kertas post-it di tanganku dengan senyum tipis yang tak kunjung luntur.

​"Alasan diterima, Pak CEO," gumamku pelan pada ruangan yang kosong.

​Aku meletakkan kertas kuning itu di sudut meja kerjaku, tepat di bawah pinggiran layar monitor, membiarkannya tertempel di sana. Malam ini, aku menyadari bahwa lapisan beton kewarasanku mulai menunjukkan keretakan serius. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa panik akan hal itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!