Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Berduaan Dengan Renata
Arsen terkesiap. Ia terkejut saat tiba-tiba Renata menjatuhkan diri ke pelukannya. Hal semacam ini tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia dan Renata memang teman dekat.
Saat kecil, bebas saling berdekatan dan menyentuh satu sama lain. Tetapi ketika dewasa, ada batasan yang juga etika yang tidak bisa seenaknya dilanggar.
Renata terisak pelan. Bahunya tampak bergetar. Sesekali tangannya mengusap pipinya.
Tangan Arsen yang berada di belakang punggung Renata, bergerak ragu. Hendak memberikan sentuhan. Tetapi ia sadar, ada batas yang tak bisa ia lewati begitu saja.
“Renata, jangan begini.”
Mendengar itu, Renata segera menarik diri. Ia mengusap wajahnya yang basah. Kemudian berkata dengan suara serak, “Maaf, Arsen. Aku terbawa suasana.”
“Lain kali, jika ayahmu melakukan kekerasab lagi, segera hubungi aku, akan kukirim anak buahku untuk membantumu.”
Renata menatap Arsen, sedikit kecewa dengan ucapan pria itu. Harapan Renata sangat besar bahwa Arsen sendiri yang datang. Tetapi pria itu malah memerintahkan orangnya.
Meski begitu, Renata tidak boleh menunjukkan kekecewaannya di depan Arsen. Maka dari itu ia harus tetap berterima kasih.
“Terima kasih, Arsen.”
Arsen meraih sapu tangan yang terselip di saku jasnya kemudian menyodorkannya pada Renata. “Bersihkan wajahmu, sebentar lagi kita akan ada rapat.”
“Baiklah.”
Menahan kesal, Renata menerima sapu tangan itu lalu mengusap jejak air mata di wajahnya. Meski ia gagal menarik simpati Arsen, tetapi ia telah berhasil mengabadikan momen ketika ia dan Arsen sedang berpelukan.
Di sisi lain, Yvone dan Sui telah sampai di rumah kedua orang tua Rose. Taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi.
Gerbang tersebut dihiasi ukiran rumit berbentuk sulur-sulur daun dan bunga, seakan menjadi penanda bahwa tempat yang akan ia masuki bukanlah kediaman biasa.
Tanpa diperintah, Sui melakukan pembayaran. Lalu keduanya pun turun dari taksi, dan segera menekan bel. Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang berpadu dengan hembusan angin sore.
“Nona Rose?” Penjaga segera membuka pintu gerbang itu ketika tahu siapa yang datang. “Silakan masuk, Nona.”
Yvone mengangguk, ia lantas masuk. Begitu ia melangkah lebih jauh, pandangannya seketika disuguhkan oleh sebuah bangunan megah bergaya Eropa yang berdiri anggun di hadapannya.
Bangunan itu tampak kokoh dengan dinding berwarna krem pucat yang berpadu harmonis dengan pilar-pilar tinggi menjulang di bagian depan. Setiap pilar dihiasi detail ukiran klasik yang halus, memperlihatkan sentuhan arsitektur yang kaya akan nilai seni.
Jendela-jendela besar berbingkai putih tersusun simetris, dilengkapi kaca bening yang memantulkan cahaya matahari, menciptakan kilauan lembut yang memanjakan mata. Tirai-tirai panjang di balik jendela tampak tergerai rapi, menambah kesan elegan sekaligus misterius.
Di bagian tengah bangunan, terdapat balkon luas dengan pagar besi berornamen lengkung yang tampak begitu artistik. Pintu utama yang terbuat dari kayu mahoni berdiri kokoh, dihiasi ukiran klasik serta gagang pintu berwarna keemasan yang berkilau.
‘Rumah ini sangat besar,’ batin Yvone. Lebih besar dari rumahnya sendiri. Bahkan lebih dari rumah keluarga Reinhart.
Sebuah lampu gantung besar tampak menggantung di atas teras, meskipun belum menyala, kehadirannya sudah cukup memberikan kesan kemewahan yang mencolok.
Halaman depan bangunan itu tidak kalah memukau. Taman tertata rapi dengan hamparan rumput hijau yang dipangkas sempurna, dihiasi deretan bunga berwarna-warni yang bermekaran.
Di tengah taman, berdiri sebuah air mancur marmer putih dengan patung bergaya klasik yang memancarkan air jernih, menciptakan suara gemericik yang menenangkan suasana.
Yvone terdiam sejenak, matanya menyusuri setiap sudut bangunan tersebut dengan rasa takjub yang sulit disembunyikan. Di kehidupannya yang sebelumnya, ia juga memiliki kehidupan yang serba mewah. Tetapi, ia tidak menyangka bahwa Rose juga memiliki segalanya bahkan lebih dari dirinya.
‘Ternyata Rose adalah anak orang kaya,’ batin Yvone. ‘Tapi kenapa dia begitu bodoh? Sampai-sampai tidak pegang uang sepeser pun.’
Melihat Yvone yang diam saja, Sui segera menyenggol lengan wanita itu. “Nyonya, kenapa diam saja? Jangan bilang Nyonya juga lupa dengan wajah orang tua Nyonya sendiri,” bisik Sui.
Yvone hanya melirik sekilas ke arah Sui. Tampak kesal, karena lagi-lagi yang dikatakan oleh Sui benar. Bukannya lupa, tetapi ia memang tidak tahu siapa orang tua Rose.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul, jatuh tepat di wajah Yvone. Ia seperti kembali ke masalah lalu. Sebuah bayangan samar-samar muncul. Bayangan tentang masa kecil Rose yang hidup bahagia dengan kedua orang tuanya.
Rose merupakan anak tunggal dari keluarga, Maddison. Tetapi, setelah menikah dengan Arsen Reinhart, namanya berubah menjadi Rose Reinhart.
Wush…!
Ingatan itu menghilang. Yvone kembali ke masa kini. Ia melihat bayangan Rose yang asli berdiri tak jauh darinya, sedang tersenyum kepadanya.
“Kau…”
Sui mengikuti arah pandangan Yvone. “Siapa, Nyonya?” tanya wanita itu.
Yvone berdeham, kemudian segera kembali fokus pada Sui. “Ayo kita masuk.”
Seorang pelayan muncul, menyambut kedatangan Nona Muda mereka. “Nona Rose, Anda datang? Mari silakan,” ucap pelayan.
“Apa Mom dan Dad ada?”
Panggilan itu membuat Sui sontak menatap Yvone. Sementara pelayan tampak keheranan dengan cara bicara Rose yang terkesan lebih kasar.
“Tuan dan Nyonya sedang bersantai di teras belakang, mari silakan masuk.”
Yvona dan Sui mengekor di belakang pelayan, memasuki rumah. Lagi-lagi Yvone tidak bisa menahan pandangannya dari bangunan rumah. Sangat anggun dan megah.
Beberapa pelayan membungkuk ketika melihat keberadaan Yvone. Ia merasa seperti kembali ke kehidupannya, yang penuh dengan hormat dan juga kekuasaan.
‘Ah aku jadi merindukan kehidupanku.’
“Tuan, Nyonya. Nona Rose datang,” ucap pelayan yang membuat Yvone tersadar bahwa dirinya telah sampai di tempat yang mereka tuju.
Yvone melihat wajah yang asing, namun saat teringat dengan bayangan tadi, seketika Yvone mulai mengenali mereka sebagai orang tua Rose. Maka dari itu, ia harus bersikap layaknya Rose.
“Mom, Dad, aku datang.”
Merlin dan Mattheo seketika saling bertukar pandang. Sama halnya dengan Sui, mereka pun terkejut dengan panggilan yang dilontarkan oleh Yvone.
Menyadari itu, Sui segera mendekat, “Nyonya, sejak kapan Anda memanggil kedua orang tua Anda begitu?”
“Apa aku salah?”
“Mama dan Papa, biasanya Anda memanggil begitu,” bisik Sui.
Yvone merutuk dalam hati. Bisa-bisanya ia membawa kebiasaan di dunianya ke kehidupan Rose. Menyadari kesalahannya, Yvone segera meralat panggilannya.
“Papa, Mama, aku datang,” ralat Rose.
Merlin dan Mattheo mengulas senyum, kemudian mendekati Yvone. Secara bergantian memberikan pelukan. “Sayang, kenapa tidak memberi kabar kalau ingin datang? Kau bisa menelpon kami dulu?” tanya Merlin sembari mengusap surai panjang Rose.
Yvone terdiam, sejak masuk ke tubuh Rose, ia sama sekali belum memegang ponsel. Ia melirik ke arah Sui, berharap mendapat pencerahan.
“Maaf, Nyonya Merlin, Nyonya Rose sepertinya lupa.”
Merlin mengulas senyum. “Begitu, oh ya di mana Arsen, kenapa kau tidak datang dengannya?” tanya Merlin yang seketika dijawab oleh Yvone.
“Dia sedang sibuk berduaan dengan Renata.”
“Apa?”