Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Sore harinya, matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di jalanan desa yang berdebu. Zavier berjalan di samping Abinya menuju sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari gerbang pesantren. Rumah itu terlihat cukup bagus untuk ukuran desa, bergaya minimalis dan tampak baru saja dibersihkan.
"Pak Narendra itu orang baik, Zavier. Dia punya keberanian yang jarang dimiliki orang kaya. Dia melepas segalanya demi ketenangan," ujar Kyai Luqman sambil berjalan tenang.
Zavier hanya mengangguk, pikirannya masih melayang ke mana-mana.
Saat mereka sampai di depan pagar kayu rumah tersebut, seorang pria paruh baya keluar menyambut dengan senyum lebar. Narendra. Penampilannya rapi namun sederhana.
"Assalamu’alaikum, Kyai," sapa Narendra sambil menjabat tangan Kyai Luqmanul dengan takzim, lalu menyalami Zavier.
"Wa’alaikumussalam, Pak Narendra. Ini putra saya, Zavier. Dia juga baru kembali dari Kota A, mungkin bisa jadi teman bicara untuk putri Bapak," kata Kyai Luqman memperkenalkan.
Zavier tersenyum sopan, mencoba bersikap layaknya seorang Gus yang santun.
"Oh, tentu. Mari masuk, Kyai. Istri saya sedang menyiapkan teh di dalam. Zaheera juga ada di kamarnya, mungkin sedang istirahat," ajak Narendra.
Mendengar nama itu, jantung Zavier berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Zaheera?
"Zaheera?" Zavier mengulang nama itu, suaranya hampir tak keluar.
"Iya, putri saya satu-satunya. Dia memang agak sulit beradaptasi di sini, maklum, dia anak kota sekali," Narendra terkekeh pelan sambil mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamu.
Zavier duduk dengan kaku. Matanya liar menatap sekeliling. Di atas meja di sudut ruangan, ia melihat sebuah bingkai foto. Di dalam foto itu, seorang gadis cantik mengenakan gaun sutra hitam sedang tertawa lebar di sebuah pesta.
Zavier merasa dunianya runtuh seketika. Gadis di foto itu adalah Zaheera Bareeka. Kekasihnya. Gadis yang telah ia miliki seutuhnya.
Tepat saat itu, pintu kamar di dekat ruang tamu terbuka. Seorang gadis keluar dengan wajah kesal, rambutnya acak-acakan, dan ia mengenakan kaos oversized yang masih memperlihatkan tato kecil di selangkangan bahunya—tato yang sangat dikenal Zavier.
"Dad, AC-nya mati lagi! Ini benar-benar pan—"
Kata-kata Zaheera terhenti. Matanya membulat sempurna. Ia menatap pria tua bersorban di sofa, lalu beralih ke pemuda di sampingnya. Pemuda yang mengenakan baju koko, sarung, dan peci hitam. Pemuda yang tampak begitu Berbeda.
"Zavi?" bisik Zaheera, suaranya bergetar hebat.
Zavier membeku. Ia tidak berani menatap mata Abinya. Ia tidak berani menatap mata Narendra. Di ruangan itu, di bawah tatapan penuh tanya dua orang tua yang menghormatinya, Zavier El-Shaarawy merasa seluruh rahasia gelapnya sedang dikuliti hidup-hidup.
Inilah awal dari bencana yang sesungguhnya. Topeng itu tidak retak; topeng itu hancur berkeping-keping tepat di depan kaki orang yang paling ia cintai dan paling ia takuti.
Ruang tamu itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya. Oksigen seolah tersedot habis, meninggalkan kehampaan yang menyesakkan di dada Zaheera Bareeka.
Di depannya, pemuda yang selama Berminggu-minggu ini menghantui mimpi-mimpinya. Sosok yang ia tangisi setiap malam karena kehilangan kabar, kini tegak berdiri dengan jubah kesucian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Zavier El-Shaarawy.
Kekasihnya yang liar di lantai dansa, pria yang bibirnya pernah bertaut mesra dengannya di bawah lampu club malam, kini mengenakan peci hitam dan baju koko yang memancarkan aura ketenangan palsu.
Zaheera melangkah satu tindak, bibirnya bergetar hendak memanggil nama panggilan kesayangan mereka. Namun, tepat sebelum suara itu keluar, mata Zavier bertemu dengan matanya. Ada kilatan ketakutan yang luar biasa di sana. Zavier memberikan gelengan kepala yang sangat tipis, hampir tak terlihat oleh orang lain, namun terbaca jelas oleh Zaheera. Sebuah isyarat bisu yang memohon: “Jangan sekarang. Kumohon.”
Zaheera terpaku. Otaknya berputar cepat. Jadi ini alasan kenapa Zavier menghilang? Ini alasan kenapa dia bilang tidak ada sinyal? Dia bukan sekadar "pulang kampung". Dia adalah putra dari Kyai Luqmanul Hakim, guru spiritual yang sangat dihormati oleh ayahnya sendiri. Kekasihnya adalah seorang Gus.
Di balik keterkejutannya, sebuah rasa lega yang hangat menjalar di sekujur tubuh Zaheera. Zavi-ku sehat, batinnya. Bahkan, dalam balutan pakaian santun seperti itu, Zavier tampak jauh lebih tampan. Garis rahangnya yang tegas terlihat lebih bersih, dan sorot matanya yang biasanya penuh gairah kini tampak lebih dalam, meski tersembunyi di balik ketegangan.
Ingin rasanya Zaheera berlari, menubruk dada bidang itu, memeluknya erat, dan menciumnya hingga kerinduan ini tuntas. Ia ingin menuntut penjelasan, ingin marah, tapi melihat Zavier ada di depannya sudah cukup untuk membuat pertahanannya runtuh.
Di sudut lain, Kyai Luqman masih asyik mengobrol dengan Narendra. Mereka membahas tentang rencana pembangunan perpustakaan pesantren yang baru. Suara berat Kyai yang berwibawa mengisi ruangan, tidak menyadari drama bisu yang sedang terjadi di antara dua anak muda itu.
Mommy Kayes, yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan camilan, mendadak berhenti di tengah jalan. Matanya yang jeli menatap Zavier lekat-lekat. Kayes meletakkan nampan di meja dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa terkejut yang sama.
"Zavier?" gumam Kayes pelan, cukup untuk didengar oleh Zaheera yang berdiri di dekatnya.
Kayes menoleh ke arah putrinya dengan tatapan bingung. "Zee, bukankah itu Zavier? Kekasihmu? Mommy pikir dia... dia bukan Muslim taat, atau setidaknya Mommy pikir dia Nonis (Non-Islam) karena perawakannya yang sangat Eropa itu."
Memang benar, wajah Zavier yang memiliki garis keturunan Arab-Eropa seringkali membuat orang salah sangka jika ia tidak mengenakan atribut pesantren.
Di Kota A, Zavier lebih sering terlihat seperti model majalah atau aktor film daripada seorang Gus.
"Masya Allah, Penampilannya sekarang..." Kayes menggeleng pelan, tidak percaya melihat pria yang dulu sering pulang pagi bersama anaknya kini duduk dengan takzim di samping seorang ulama besar.
Zaheera menggigit bibir bawahnya. Ia melirik ayahnya, Narendra. Untungnya, selama dua tahun mereka berpacaran, Narendra hampir selalu berada di luar negeri untuk urusan bisnis atau sibuk di kantor. Narendra hanya tahu nama 'Zavier' secara sekilas tapi tidak pernah benar-benar bertatap muka secara langsung dalam waktu lama. Itulah sebabnya Narendra sekarang tampak biasa saja, menganggap Zavier hanyalah putra santun dari gurunya.
"Aku akan menanyakannya nanti, Mom," bisik Zaheera pada ibunya, suaranya parau. "Mungkin... mungkin sesuatu terjadi padanya. Aku juga kaget melihatnya di sini."
"Zavier, kenapa melamun? Ayo diminum tehnya," tegur Kyai Luqman lembut, membuyarkan lamunan Zavier yang sedari tadi hanya menatap lantai.
"I-iya, Abi," jawab Zavier gugup. Ia meraih gelas tehnya, tangannya sedikit gemetar. Ia bisa merasakan tatapan Zaheera yang membakar kulitnya. Tatapan yang penuh dengan rindu, tuntutan, dan juga... kekecewaan.
Narendra tersenyum melihat Zavier. "Putra Anda sangat sopan, Kyai. Beruntung sekali Anda memiliki penerus seperti dia. Di Kota A, jarang ada anak muda yang mau kembali ke akar seperti Zavier."
Kyai Luqman mengelus jenggotnya yang mulai memutih. "Alhamdulillah, Pak Narendra. Zavier memang anak yang menjaga amanah. Selama di kota A, dia tetap istiqomah dengan hafalannya. Itu yang membuat saya tenang."
Zavier merasa ingin muntah mendengar kata "istiqomah". Setiap kata pujian dari ayahnya terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Ia melirik Zaheera lagi. Gadis itu kini duduk di sofa seberang, menyilangkan kakinya yang jenjang—sebuah kebiasaan kota yang belum hilang dan menatapnya dengan senyum miring yang sangat Zavier kenali. Senyum yang berkata: “Oh, jadi ini sandiwaramu?”
"Oh ya, Zaheera," panggil Narendra pada putrinya. "Nanti kalau kamu bosan, kamu bisa minta bantuan Zavier untuk berkeliling desa atau ke perpustakaan pesantren. Kalian seumuran, pasti lebih cepat akrab. Zavier juga baru kembali dari kota A, jadi mungkin kalian punya banyak topik pembicaraan."
Zaheera tersenyum manis, senyum yang membuat bulu kuduk Zavier meremang. "Tentu, Dad. Aku rasa ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan pada... Gus Zavier."
Zaheera sengaja menekankan kata 'Gus'. Zavier hanya bisa menunduk lebih dalam, memutar-mutar gelas teh di tangannya.
Satu jam kemudian, Kyai Luqman dan Zavier berpamitan. Saat berjalan menuju pagar, Zaheera menyelinap keluar lewat pintu samping, mencegat Zavier saat Kyai Luqman sedang sibuk bersalaman terakhir kali dengan Narendra di teras depan.
Di balik bayangan pohon mangga yang rimbun di samping rumah, Zaheera menarik lengan baju koko Zavier dengan kuat.
"Zavi," desis Zaheera.
Zavier menoleh cepat, wajahnya pucat pasi. "Ra, jangan sekarang. Tolong. Abi bisa lihat."
"Kenapa? Kenapa kamu bohong, Zavi? Kamu bilang kamu cuma anak kampung biasa, tapi ternyata kamu anak pemilik pesantren ini?" Zaheera mendekat, aroma parfum mahalnya menabrak aroma minyak wangi kayu cendana milik Zavier. "Dan apa-apaan penampilan ini? Kamu mau jadi suci sekarang?"
Zavier menghela napas berat, matanya memancarkan kepedihan yang nyata. "Ini duniaku yang sebenarnya, Zee. kota A itu cuma pelarian. Aku minta maaf karena nggak jujur sama kamu."
Zaheera menatap mata Zavier, mencari sisa-sisa cinta yang dulu selalu ia temukan. Dan di sana, di balik ketakutan itu, ia melihatnya. Kerinduan yang sama besarnya. Tanpa peduli pada risiko, Zaheera meraih tangan Zavier, menggenggamnya erat.
"Aku merindukanmu sampai rasanya mau mati, Zavi. Aku nggak peduli kamu anak siapa. Aku cuma mau kekasihku kembali."
Zavier membalas genggaman tangan itu sejenak, sebuah kontak fisik yang terasa seperti sengatan listrik di tengah lingkungan yang suci ini. "Aku juga merindukanmu, Ra. Setiap detik. Tapi di sini... aku bukan Zavi-mu yang dulu. Aku Gus Zavier. Satu kesalahan kecil dariku bisa menghancurkan jantung Abiku."
"Zavier! Ayo pulang!" suara Kyai Luqman memanggil dari gerbang.
Zavier melepaskan tangan Zaheera dengan terburu-buru. "Aku akan menemui mu malam ini. Di belakang perpustakaan lama. Jam sebelas malam. Jangan terlambat."
Zavier berlari kecil menyusul ayahnya, meninggalkan Zaheera yang berdiri di kegelapan dengan jantung berdebar kencang. Ia tahu, pertemuan malam ini tidak akan sederhana. Ada banyak rahasia yang harus dibuka, dan ada banyak dosa yang harus dipertanggungjawabkan di antara mereka berdua.
Zaheera kembali masuk ke rumah, mendapati ibunya sedang menatapnya dengan penuh selidik.
"Zee, Mommy nggak tahu apa yang kalian rencanakan, tapi hati-hati," bisik Kayes saat Zaheera melewatinya. "Ayahmu sangat menghormati Kyai itu. Jangan sampai hijrah ayahmu hancur karena masa lalu kalian."
Zaheera hanya diam. Baginya, hijrah ayahnya adalah beban, tapi keberadaan Zavier di sini adalah sebuah takdir yang ia syukuri sekaligus ia takuti. Di desa yang "panas" dan membosankan ini, sebuah api terlarang baru saja dinyalakan kembali.
Malam itu, langit di atas desa terasa begitu pekat, seolah ikut menyembunyikan rahasia besar yang baru saja terkuak.
Zavier melangkah gontai mengikuti ayahnya menuju mobil. Setiap langkahnya terasa berat, seolah kakinya terikat rantai besi yang menyeretnya kembali ke realita. Di dalam mobil, keheningan menyergap. Hanya suara mesin tua yang menderu rendah, membelah jalanan desa yang hanya diterangi lampu-lampu jalan yang temaram.
Kyai Luqman melirik putranya lewat spion tengah. Beliau tersenyum tipis, melihat Zavier yang terus menunduk, meremas jemarinya di atas paha.
"Kamu kenapa, Zav? Kok sepertinya gelisah sekali sejak tadi di rumah Pak Narendra?" tanya Kyai Luqman lembut. "Apa kamu merasa tidak nyaman karena mereka orang kota? Ingat, Nak, kita harus memuliakan tamu, apalagi Pak Narendra itu niat hijrahnya sangat kuat."
Zavier tersentak, jantungnya berpacu hebat. "M-maaf, Abi. Zavier hanya... sedikit pusing. Mungkin karena cuaca di sini lebih panas dibanding Kota A," bohongnya. Suaranya terdengar asing, serak oleh ketakutan yang tertahan.
Ingin mati. Kata itu terus berputar di kepala Zavier. Bagaimana mungkin dunia sesempit ini? Dari jutaan orang di Jakarta, kenapa harus keluarga Zaheera yang pindah ke desa ini? Kenapa harus ayahnya yang menjadi pembimbing spiritual mereka?
Zavier melirik pakaiannya sendiri. Baju koko ini terasa mencekik lehernya. Ia merasa seperti badut. Di Kota A, ia terbiasa mengenakan kemeja sutra hitam dengan kancing atas terbuka, atau jaket kulit yang aromanya campuran antara parfum mahal dan asap club. Sekarang, ia harus berpura-pura menjadi sosok Gus yang anggun, sementara ingatannya dipenuhi oleh memori saat ia dan Zaheera mabuk cinta di atas ranjang penthouse-nya.
Sesampainya di pesantren, Zavier langsung pamit menuju kamarnya. Ia tidak sanggup berlama-lama menatap wajah teduh Abinya atau senyum bangga Umi Hannah. Begitu pintu terkunci, Zavier melemparkan pecinya ke sembarang arah. Ia merosot di balik pintu, napasnya memburu.
"Sial! Sial! Sial!" umpatnya tertahan.
Ia teringat tatapan Zaheera tadi. Tatapan itu bukan sekadar rindu, tapi sebuah tuntutan. Zaheera Bareeka yang ia kenal adalah gadis yang tidak pernah mau kalah. Dia adalah api, dan Zavier adalah bensinnya. Dan sekarang, api itu telah berpindah ke samping pesantrennya.
Zavier berjalan menuju cermin. Ia menatap pantulan dirinya. Ia mencoba membenarkan kerah kokonya, mencoba berpose seperti Azlan yang selalu tampak tenang dan berwibawa. Tapi ia gagal. Sorot matanya terlalu liar, terlalu penuh dengan jejak-jejak kehidupan malam yang tak bisa dihapus hanya dengan dua minggu salat berjamaah.
"Aku bukan Mas Azlan, Abi..." bisiknya pada cermin. "Aku tidak bisa jadi Gus seperti dia."
Azlan adalah sosok yang sejak kecil memang sudah wakaf untuk pesantren. Azlan mencintai kitab-kitabnya. Sedangkan Zavier? Ia mencintai kebebasan, ia mencintai deru mesin mobil sport-nya, dan ia mencintai bagaimana Zaheera mendesah menyebut namanya di tengah malam.
Zavier melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Ia harus bersiap. Ia tahu menemui Zaheera adalah tindakan bunuh diri secara sosial dan agama di tempat ini, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Zaheera bicara sembarangan pada orang tuanya jika ia tidak segera menenangkan gadis itu.
Pukul sebelas malam tepat. Pesantren Al-Iman sudah sunyi. Suara tadarus di masjid mulai meredup, hanya menyisakan beberapa santri yang terkantuk-kantuk menjaga gerbang. Zavier menyelinap keluar lewat jendela kamarnya, melompati pagar belakang ndalem dengan tangkas—keahlian yang ia pelajari saat sering bolos Di High school Kota A.
Perpustakaan lama itu terletak di ujung kompleks, sebuah bangunan kayu jati tua yang jarang didatangi saat malam. Baunya khas: debu, kertas lama, dan kelembapan.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰