NovelToon NovelToon
Pembalasan Wanita Mandul

Pembalasan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: WeGe

"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.

"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.

"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"

Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.

"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"

........

Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.

Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.

Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?

happy reading ya🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah Yang Sangat Kejam

Antara sadar dan tak sadar, Amira merasakan tubuhnya digagahi oleh seseorang. Pengaruh bius yang disuntikkan padanya membuat kesadaran dan pikirannya tak berfungsi dengan baik. Dalam pikirannya, setengah bermimpi, setengah nyata, Amira merasakan sentuhan-sentuhan yang membuat gairahnya melonjak. Tanpa sadar ia melenguh, menggeliat menikmati kegiatan panas itu.

"Siap ya, Dek. Ngangkang dikit pasti jos!" seru serak pria yang bersiap dengan pusaka kejantanannya.

Bodoh sekali Amira yang tak kunjung sadar. reflek ia pun membuka kakinya seolah bersiap seperti yang biasanya Beni lakukan padanya.

Satu, dua, tiga, puluhan, belasan, tubuhnya menggeliat menikmati. Namun dalam pikirannya pria yang sedang menikmati tubuhnya itu adalah Beni, suaminya.

Hingga baru setelah beberapa kali ia mendapatkan pelepasan, saat kesadarannya mulai terkumpul, ia baru berpikir. 'Ngangkang dikit dek, pasti jos,' Amira teringat ucapan pri yang masih menggoyang tubuhnya, menarik dan menusuk bagian intimnya. "Mas Beni tak pernah menggunakan istilah menjijikkan seperti itu," pikirnya.

Ritme tusukan pria itu semakin cepat, 'Semakin nikmat memang rasanya' pikirnya lagi tanpa sadar melenguh entah berapa kali pelepasan yang ia dapatkan. "Tapi milik Mas Beni tak sekeras dan senikmat ini, siapa dia?"

"Enghhhh!" tanpa sadar Amira justru melenguh semakin keras, seolah bebas dan tak peduli jika saja ada yang mendengar desahannya, saat pria itu melakukan remasan kuat pada dua gundukan di dadanya, seraya melepaskan cairan hangat di rongga intimnya.

Napas keduanya memburu seirama, Amira masih membiarkan tubuh pria itu rebah menindih di dadanya. Kepalanya masih pusing, matanya sejak tadi sulit ia buka.

"Sekali lagi, ya? Aku suka kalau kamu menggeliat dan mendesah," lirih suara serak yang semakin jelas di pikiran Amira, yang membuatnya semakin sadar bahwa itu bukan suaminya.

Amira masih tak bisa menguasai tubuhnya, ia sedang berusaha memproses ingatannya. "Apa ini mimpi? Apa yang terjadi padaku? Aku dimana? Dan siapa pria ini?"

"Ganti ya, dari belakang!"

"Siapa dia? Apa yang akan dilakukannya sekarang? Kenapa aku bisa melenguh, tapi mulutku sulit berbicara!" pekik Amira menahan lelah, saat pria itu membalik tubuhnya.

Dan lagi, seolah tenaga pria itu tak terbatas, ia kembali menggesek selangkangan dan intimnya Amira dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya. "Kau jarang disentuh suamimu ya, rasanya masih gadis saja!" gumam pria itu sambil terengah karena merasakan nikmat yang luar biasa.

Sudut matanya menggenang, Amira masih tak bisa mengendalikan tubuhnya, seolah seluruh otot dan tulangnya menghilang begitu saja. Kali ini ia tak lagi merasakan sensasi apapun. Sepenuhnya ia sudah sadar bahwa pusaka itu bukan milik suaminya, tubuh kekar itu juga bukan milik Beni.

"Maafkan aku, Mas! Tapi aku tak tahu apa yang terjadi!" pekiknya pilu.

...............

Sementara itu dirumahnya, Beni bersimpuh sedih, duduk dilantai, sedangkan kepalanya bersandar di pangkuan Loretta yang duduk di sofa.

Loretta mengelus pelan kepala putranya. "Ibu sudah curiga sejak lama, perempuan kampung itu ada main dengan pria lain. Jadi jangan benci ibu, yang kulakukan hari ini, hanya untuk melindungi mu, karena semua ibu sangat menyayangi anak-anaknya," ucapnya berbohong, menyembunyikan senyum liciknya.

Beni tak menyahut, dia sedang mengingat dan mengira dimana kira-kira tempat yang digunakan Amira itu. 'Ada meja billiard, ruangan sedikit gelap padahal pagi, apa itu tempat yang disana?' pikirnya.

Merasa yakin, Beni bangun tanpa bicara, membuat Loretta terkejut, menatap pada putranya itu. "Kenapa?" tanyanya.

"Mau keluar sebentar, cari angin." Beni masuk ke kamar sebentar mengambil jaket dan dompet, kemudian keluar menggeber motornya.

Di jalan, emosi Beni semakin menggebu-gebu. "Dasar perempuan murahan! Awas saja kalau ketemu, habis kamu!" maki Beni semakin mempercepat laju motornya.

Sebuah bar yang pagi itu tentu saja tutup, menjadi tujuan Beni. Ia melompati pagar yang digembok, kemudian menggedor-gedor rolling door yang terkunci rapat.

Tak lama kemudian datanglah dari samping bangunan, seorang satpam berlari menghampiri Beni dengan pentungannya. "Siapa kamu, Heh?!"

"Buka tempat ini! Cepat!" balas Beni membentak tanpa bertanya dulu. Pikirannya sudah dipenuhi rasa marah pada istrinya.

"Tempat ini tutup, akan buka lagi nanti jam 7 malam! Ada kepentingan apa kamu?!" seru seorang satpam.

"Istriku di dalam, dia berzina dengan pria lain! Cepat buka tempat ini!" Beni masih berteriak-teriak sambil terus menggedor rolling door itu.

Beni tak habis akal, dia berlari ke samping bangunan, tempat dimana satpam tadi muncul. Lalu ia melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Beni bergegas masuk. Satpam itu tentu saja mengejar Beni, namun langkah Beni yang didorong oleh rasa marah, membuatnya tak terkejar oleh petugas satpam.

Brak!

Suara pintu yang didobrak keras oleh Beni di sebuah ruangan.

Tampak beberapa orang menoleh ke arah Beni yang berdiri terengah-engah, dengan sorot mata tajam kemerahan, melotot melihat ke segala arah,mencari-cari wajah yang ia inginkan.

Tap... Tap... Tap... langkah petugas satpam yang berlari mengejar Beni. "Maaf, Pak!" serunya mengangguk pada beberapa orang di dalam ruangan itu, kemudian berbalik segera dan mendorong tubuh Beni agar keluar.

Salah satu pria yang mengenakan jas serba hitam bangkit, kemudian berjalan menghampiri Beni. "Siapa dia, bagimana dia bisa menerobos masuk?" tanyanya tertuju pada satpam.

"Dimana wanita murahan itu?!" Bukannya bertanya baik-baik, Beni justru menggertak seolah sangat yakin ada Amira di tempat itu.

Tentu saja beberapa orang yang ada di ruangan itu meradang. "Hei Bung, jaga bicaramu!" seru salah satu pria yang duduk sambil melotot menatap Beni.

Pria berjas serba hitam meraih kerah baju Beni dan mencengkeramnya kuat-kuat. "Kau mencari siapa, Bung. Dan harus kau ingat, tak ada wanita murahan di sini jaga sopan santun mu!" katanya seperti seseorang yang sedang menahan marah.

Beni sedang tak waras, sesuai hati dan kepalanya hanya dipenuhi nama Amira dan ingin menghajarnya. "Jangan bodohi aku, aku tahu kalian menyembunyikan seorang wanita di tempat ini, aku hanya ingin menghajarnya sebentar setelah itu ku kembalikan padamu lagi," kata Beni.

Dua pria lainnya pun beranjak dari tempat duduk mereka, kemudian menghampiri Beni dengan wajah yang tak kalah marah, "Kau mabuk terlalu pagi, Bung."

Lalu dengan cepat, tiga pria itu mengangkat tubuh Beni dan melemparkannya keluar. "Pergilah, jangan merusak mood kami sepagi ini!" seru pria berdasi.

Beni yang jatuh terjengkang karena dilempar tiga pia itu, berusaha bangkit untuk melawan, "Biarkan aku bertemu Amira dulu!" serunya, tapi terlambat. Pintu sudah dikunci dari dalam. Menggedor pintu pun tak berguna, Beni ditinggalkan sendiri di luar.

Gerimis pun datang, menjadi teman Beni yang kembali tertunduk dibalut rasa marah, benci, tak percaya dan kecewa karena setahu dia, Amira menghianati dirinya.

"Beni, ayo pulang, Nak, ngapain kamu malah di situ?" Loretta tiba-tiba menghampirinya.

Beni menoleh kaget, tak menyangka ibunya bisa menemukannya di bar itu juga. "Ibu?"

"Satpam itu kenalan ibu, dia menelponku tadi." Loretta segera menjawab seolah ia tahu isi pikiran putranya. "Lupakan wanita kampung itu, dia tak pantas untukmu. Sekarang persiapkan dirimu, besok kau harus terlihat tampan karena keluarga Melani akan datang."

...----------------...

Bersambung ya🤗

1
Luzi
semangat💪💪💪💪
WeGe: terimakasih 🙏
total 1 replies
@RearthaZ
lanjutin terus ya kak
@RearthaZ: iya, kak, terima kasih, selamat berkarya juga kak, aku minta maaf ya kesannya boom like, tapi beneran karya kakak bagus kok, meskipun saat ku baca sekilas bukan masuk ke genre ku, tapi karya kakak bagus kok
total 8 replies
@RearthaZ
aku mampir ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!