NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan yang terbakar

Suasana di dalam ndalem mendadak sunyi senyap. Ghibran mencengkeram pinggiran meja kayu jati hingga buku-buku jarinya memutih. Aira di sampingnya sudah lemas, air mata membasahi pipinya mendengar tuduhan "pernikahan sedarah" yang dilontarkan Umi Intan. Kalimat itu adalah racun yang paling mematikan bagi siapa pun yang hidup di lingkungan pesantren. Di dunia yang sangat menjunjung tinggi nasab dan silsilah, tuduhan itu setara dengan hukuman mati bagi martabat mereka.

"Satu ibu... tapi beda ayah?" suara Aira bergetar hebat, nyaris tidak keluar. "Kak, ini... ini tidak mungkin. Kita sudah melakukan dosa besar jika itu benar. Semua sujud dan doa kita selama ini... apa artinya jika kita berdiri di atas kubangan maksiat?"

Umi Intan tersenyum penuh kemenangan, sebuah lengkungan bibir yang tampak sangat kontras dengan tasbih yang masih melingkar di jemarinya. Ia menyodorkan selembar map hitam dan sebuah pena ke arah Ghibran.

"Tanda tangani, Ghibran. Serahkan seluruh aset unit bisnis pesantren ini ke yayasan yang aku kelola, dan aku akan menutup rapat rahasia menjijikkan ini. Kalian bisa pergi jauh dari sini, hidup sebagai orang asing di negeri orang, asalkan kalian tidak pernah kembali dan tidak pernah mengklaim nama Al-Husayn lagi. Ini demi kebaikan kalian, demi masa depan kalian yang sudah telanjur cacat."

Ghibran menatap pena itu dengan tatapan kosong selama beberapa detik. Namun, perlahan-lahan, ia mendongak. Sesuatu di dalam tatapan Ghibran berubah—dari keterkejutan menjadi sebuah ketenangan yang sangat dingin dan mematikan. Ia tidak mengambil pena itu. Sebaliknya, ia tertawa rendah, sebuah tawa sarkas yang membuat senyum Umi Intan perlahan-lahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi.

"Umi benar-benar menganggapku bodoh, ya?" ujar Ghibran datar. Suaranya kini stabil, tidak ada lagi jejak keraguan di sana.

"Apa maksudmu? Kamu ingin seluruh dunia tahu bahwa kamu menikahi adikmu sendiri?" tanya Umi Intan, suaranya sedikit melengking karena mulai merasa tidak nyaman.

Ghibran merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop putih kecil yang tersegel rapi dengan logo laboratorium forensik nasional. "Ini adalah hasil tes DNA asli yang aku lakukan secara diam-diam sebulan sebelum Azlan meninggal. Aku sudah lama curiga dengan desas-desus yang Umi sebar di kalangan asatidz senior untuk menjatuhkan kredibilitasku sebagai ahli waris tunggal."

Ghibran membuka amplop itu dengan perlahan, menciptakan suara sobekan kertas yang terasa begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ia meletakkan lembaran kertas tersebut di meja, tepat di depan mata Umi Intan yang kini membelalak.

"Hasilnya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat," lanjut Ghibran. "Aku adalah putra kandung dari Habib Fauzan Al-Husayn dan almarhumah Syarifah Fatimah. Aku memiliki garis keturunan murni keluarga Al-Husayn. Dan soal Aira..." Ghibran menoleh ke arah Aira, memberikan tatapan yang begitu dalam dan menenangkan, seolah ingin menghapus seluruh beban di pundak istrinya.

"Aira adalah putri kandung dari Ayah Amir. Dia tidak memiliki setetes pun darah Syarifah Fatimah dalam tubuhnya. Kebohongan Umi tentang 'satu ibu' adalah dongeng paling busuk yang pernah aku dengar. Umi hanya ingin kami merasa berdosa agar kami mudah dikendalikan, bukan?"

Aira tertegun, napasnya yang tadi sesak kini mulai terasa lapang. "Jadi... aku bukan anak Bunda Aminah? Dan aku benar-benar bukan adikmu, Kak?"

"Sama sekali bukan, Aira. Kamu adalah istriku yang sah. Titik." tegas Ghibran.

Tepat saat itu, pintu depan ndalem didorong terbuka dengan kasar. Bunda Aminah masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya yang biasanya tampak anggun kini terlihat kalut dan penuh amarah. Di belakangnya, Zivanna mengekor dengan wajah yang sembab, tangannya terus meremas ujung gamisnya yang kusut.

"Aminah! Kenapa kamu kemari?" seru Umi Intan kaget.

Bunda Aminah tidak memedulikan Umi Intan. Ia langsung menghampiri Ghibran dan mencoba merebut kertas hasil tes DNA tersebut. "Berikan padaku! Itu pasti palsu! Kamu menyuap dokter itu, kan?"

"Kebenaran tidak bisa disuap, Bunda," sahut Ghibran dingin. "Kenapa Bunda begitu takut? Apa Bunda takut karena rahasia tentang Zivanna akan ikut terbongkar?"

Aira berdiri, memberanikan diri menatap wanita yang selama ini ia anggap ibu kandungnya. "Bunda... kenapa Bunda setega itu? Kenapa Bunda membuang anak kandung Bunda sendiri dan mengambilku?"

Bunda Aminah tertawa histeris, tawa yang terdengar sangat pahit. "Karena Zivanna itu lemah! Dia lahir prematur, dia sakit-sakitan, dia tidak akan bisa memberikan martabat bagiku di depan keluarga besar Amir! Aku butuh anak yang sempurna, Aira! Anak yang bisa membuatku terlihat hebat sebagai seorang ibu dari desainer atau dokter sukses!"

Zivanna menangis tersedu-sedu mendengar pengakuan ibunya sendiri. "Jadi itu alasannya, Bun? Karena aku sakit, Bunda menyerahkanku ke panti asuhan dan mengambil Mbak Aira yang saat itu baru lahir dari istri pertama Ayah Amir?"

Konfrontasi itu menyingkap tabir gelap. Bunda Aminah, karena ambisinya yang gila akan status, telah menukar bayinya sendiri. Zivanna adalah anak kandungnya yang malang, yang kemudian ia ambil kembali hanya sebagai "asisten" tanpa pernah diakui sebagai anak. Sementara Aira, ia hanyalah alat bagi Aminah untuk mempertahankan posisinya di keluarga besar Ayah Amir.

"Kalian semua tidak tahu apa-apa!" teriak Bunda Aminah. "Aku melakukan ini agar kita semua kaya! Agar kita dihormati!"

"Dengan cara membunuh Azlan?" tanya Ghibran dengan nada yang sangat tajam.

Bunda Aminah terdiam seketika. Matanya bergerak gelisah. "Aku tidak membunuhnya... racun itu hanya untuk membuatnya lemah agar dia tidak bisa bicara soal silsilah ini pada Baba!"

"Tapi nyatanya dia meninggal, Bunda. Dan itu adalah tanggung jawabmu," ujar Ghibran. Ia kemudian menoleh ke arah Azka yang berdiri di ambang pintu bersama beberapa petugas keamanan pesantren. "Bawa mereka. Berikan semua bukti ini ke polisi. Termasuk bukti penggelapan dana pesantren yang dilakukan Bunda Aminah dan Umi Intan selama lima tahun terakhir."

Setelah keributan itu mereda dan petugas membawa Bunda Aminah serta Umi Intan menjauh, suasana ndalem kembali sunyi, namun kali ini sunyi yang melegakan. Habib Fauzan tampak terduduk lemas di kursinya, ia terlihat jauh lebih tua dari sebelumnya, menyadari betapa banyak ular yang ia pelihara di dalam rumahnya sendiri.

Ghibran mengajak Aira kembali ke kamar mereka. Begitu pintu tertutup, Aira langsung terduduk di tepi tempat tidur. Seluruh tenaganya seolah terkuras habis.

"Kak..." panggil Aira lirih.

Ghibran duduk di sampingnya, lalu tanpa ragu, ia meraih tangan Aira dan menggenggamnya erat. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Tidak ada lagi bayang-bayang Azlan yang membuat mereka merasa berdosa.

"Maafkan aku, Aira. Seharusnya aku memberitahumu lebih awal soal tes DNA itu," bisik Ghibran.

Aira menggeleng pelan. "Aku yang seharusnya berterima kasih. Kakak menyelamatkanku dari Ibumu... maksudku, dari wanita itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika bukan Kakak yang menikahiku."

Ghibran menatap wajah Aira yang masih sembab. Dengan lembut, ia menghapus sisa air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu membuat Aira sedikit terperanjat, namun ia tidak menghindar. Rasa gugup yang manis mulai merayapi hatinya. Ia baru menyadari betapa tampannya suaminya ini saat sedang bersikap lembut.

"Mulai sekarang, tidak ada lagi yang bisa menyentuhmu," janji Ghibran. "Kita akan memulai semuanya dari awal. Tanpa bayang-bayang masa lalu."

Aira tersenyum kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ghibran yang kokoh. Namun, saat suasana mulai menghangat, ponsel Ghibran yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah notifikasi email masuk.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!