Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Yang Sangat Penting
Beberapa minggu kemudian semua persiapan selesai tiket sudah di tangan dan Kampus sudah menerima Kirana.
Sebetulnya bukan tes masuk Universitas yang membuat Kirana gugup tapi seseorang yang sudah hampir beberapa bulan ini menghilang.
Akhirnya Kirana tiba di Amerika Serikat l, langit Washington, D.C. sore itu berwarna keemasan, berbeda jauh dari apa yang selama ini Kirana bayangkan.
Angin musim semi menyambutnya dengan dingin yang halus namun tidak menusuk. Saat ini Kirana berdiri beberapa saat di depan apartemen barunya Potomac Crest Residences gedung tinggi modern yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Kuliah di George Washington University itu tidak pernah ada dalam rencana hidupnya, semuanya berubah sejak hari itu. Semenjak Damar menghilang tanpa kabar.
Di dalam sebuah kafe kecil tak jauh dari apartemen, Kirana duduk berhadapan dengan seseorang. Seorang wanita dengan tatapan tajam dan sikap dingin koneksi Papahnya, atau mungkin lebih tepat disebut sumber informasi.
Kirana menatap perempuan itu, siap mendengarkan informas yang akan disampaikannya.
“Terima kasih,” ucap Kirana pelan. “Kamu benar-benar membantu.” kata Kirana lagi.
Wanita itu hanya tersenyum tipis, lalu menyilangkan tangan.
“Aku tidak bekerja dengan ucapan terima kasih, Kirana kamu tahu itu.”
Kirana menghela napas, lalu mengangguk kecil.
“Iya, aku tahu tapi tetap saja aku ingin berterimakasih.”
Wanita itu mengambil sebuah map tipis dari tasnya, lalu mendorongnya ke arah Kirana.
“Ini semua yang kamu minta.”
Kirana membuka map itu perlahan, di dalamnya ada beberapa lembar berkas foto, catatan, jadwal, Semua tentang Damar.
“Dia tinggal di Potomac Crest Residences,” ucap wanita itu datar. “Unit 1bedroom, lantai 12.”
Kirana diam mendengarkannya dengan serius matanya membaca cepat.
“Rutinitasnya cukup konsisten,” lanjut perempuan itu, “Setiap Rabu dan Sabtu, jam enam sore jogging.”
Kirana menelan ludah pelan masih membaca kertas yang ada di tangannya.
“Di sekitar Tidal Basin jalur yang sama hampir tidak pernah berubah.” Kata Perempuan itu menekankan kalimatnya.
Kirana mengangguk perlahan, seolah menyimpan informasi itu dalam kepalanya.
“Ada informasi lain ” kata Kirana masih penasaran ingin tau semuanya walau laporannya sudah tertulis dengan jelas.
“Hampir setiap minggu, sekitar jam sebelas siang dia ke perpustakaan kota, tidak lama, biasanya hanya satu atau dua jam.”
“Sahabat atau teman dekat?” Tanya Kirana menekankan kalimatnya.
Wanita itu mengangkat bahu sedikit tersenyum. Wanita itu menatap Kirana sejenak, lalu berkata, “Tidak ada pacar tidak ada hubungan dia hidup sendiri,”
“Sendiri?” ulang Kirana pelan.
“Kuliah, olahraga, membaca rutinitasnya hanya itu,"
Kirana menutup map itu perlahan terlihat puas.
“Bagaimana?” tanya wanita itu. “Sudah cukup informasinya?” Kirana terdiam beberapa detik lalu dia mengangguk.
“Ya, aku rasa sudah cukup.” Jawab Kirana terlihat puas.
Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke kursi masih menatap Kirana.
“Bagaimana Mbak Kirana suka sama apartemennya?” tanyanya perempuan itu Kirana menatapnya.
”Ya, aku suka anda sudah mengurusnya dengan baik,"
Wanita itu tersenyum kecil masih menatap Kirana.
“Lantai delapan studio unit tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman.”
Kirana tertawa kecil, ada kelegaan di wajahnya.
“Kamu benar-benar profesional,” katanya pelan.
“Ya aku profesional,” jawab wanita itu dingin.
Kirana menatapnya, kali ini lebih dalam.
“Aku benar-benar berterima kasih.”
Wanita itu menggeleng, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya.
“Tidak perlu, mbak Kirana sudah membayar cukup banyak.”
Kalimat itu membuat Kirana mengernyit dia menatap wanita itu dengan ekspresi yang berubah.
“Jadi selama ini,” ucapnya pelan, “kamu tidak pernah menganggapku teman?”
Wanita itu terdiam sebentar lalu tersenyum tipis, tapi tanpa kehangatan.
“Untuk orang BIN seperti saya, punya teman itu suatu kemewahan.”
Kirana menatapnya lama, tidak marah, tidak tersinggung, hanya memahami maksud perkataannya Kirana tersenyum kemudian.
“Kalau begitu,” katanya lembut, “anggap saja aku adalah kemewahan itu.”
Wanita itu terkekeh pelan.
“Bisa jadi.” Mereka terdiam sesaat.
Lalu Kirana mengambil map itu, menggenggamnya erat seolah itu bukan sekadar kertas melainkan jalan menuju seseorang yang belum selesai dari hidupnya.
"Oya siapa nama mu?" tanya Kirana menatap wanita itu serius.
"Panggil Aku Marty mbak Kirana,"
Tanpa banyak kata lagi, Kirana berdiri wanita itu tetap duduk, memperhatikannya.
“Jangan sampai kamu menyesal mau berteman dengan ku,” ucap wanita itu tiba-tiba.
Kirana berhenti sejenak lalu menoleh tatapannya tenang.
"Kenapa?"
"Aku tau banyak hal tentang anda,"
“Kalau ini tentang aku,” kata Kirana pelan, “aku sudah siap sejak awal.”
Marty tidak menjawab hanya menatap Kirana pergi.
Kirana pun melangkah keluar dari kafe, membawa berkas tentang Damar di tangannya.