Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusupan dan Persimpangan Jalan
Udara pagi di Samarinda membawa embun segar dan aroma bunga melati liar dari pekarangan rumah Pak Surya. Sinar matahari menembus celah pepohonan, menyinari lantai kayu yang berderit setiap kali seseorang melangkah. Di dapur, Rina sedang berbicara melalui telepon dengan Indah di Bandung, sementara suara wajan di atas kompor beradu dengan sendok. Profesor Dimas duduk di meja dengan mata fokus pada laptop, mengatur file-video baru yang mereka dapatkan dari pelabuhan. Pak Hadi berdiri di beranda, menatap sungai, memikirkan anaknya. Budi, yang semalam penuh adrenalin, kini duduk di pojok, memegang pensil, menggambar sketsa Joko dari memori Pak Hadi; garis-garis wajah yang tidak pernah ia kenal, tetapi ingin ia selamatkan. Perikus menyiapkan tas, mengecek pisau kecil, baterai, dan topeng.
Rina menutup telepon, wajahnya tegang. “Indah bilang mereka mulai memasuki gedung tua di Bandung. LPSK sudah mengamankan Karin, tapi masih ada pekerja lain yang hilang. Polisi setempat menolak masuk tanpa surat dari pimpinan. Mereka butuh tekanan publik lebih besar,” katanya. “Karin pingsan dua kali, tapi dia sempat mengatakan bahwa di lantai bawah tanah ada ruangan gelap dengan puluhan orang. Dia hanya ingat bau kimia dan suara mesin. Dia bilang pernah mendengar nama ‘Singh’.”
“Singh?” Profesor mengangkat kepalanya. “Nama India? Mungkin seorang ilmuwan asing. Aku akan cari data.” Ia mengetik cepat di laptop.
Pak Surya menghampiri mereka dengan seorang tamu baru, pria paruh baya berperawakan tinggi, mengenakan ikat kepala Dayak, kalung manik-manik, dengan tatto ukiran di lengan. “Ini Pak Anto,” kata Pak Surya. “Beliau seorang pemimpin adat Dayak. Dia kehilangan keponakannya dalam proyek PT. Nusa Biotek. Dia ingin membantu.”
Pak Anto menatap mereka dengan mata tajam namun hangat. “Saya mendengar apa yang kalian lakukan. Anak-anak kami di kampung hilang. Mereka dipekerjakan di pabrik, lalu tidak kembali. Kami mendengar cerita tentang B16. Kami tidak paham teknologi, tapi kami paham rasa sakit. Saya punya orang-orang yang bisa membantu kalian masuk pabrik. Kami punya mobil bak kayu, sering dipakai mengantar rotan. Kalian bisa masuk di antara rotan. Jika kalian bisa menyelamatkan mereka, kami akan ikut melawan.”
Tento menyambut tangan Pak Anto. “Terima kasih, Pak. Kami butuh bantuan siapa pun. Ini bukan hanya masalah kita, ini soal kemanusiaan,” katanya. Mereka merencanakan penyusupan kedua. Ide-nya: Mereka akan menyamar sebagai pengantar log kayu dan rotan. Dayak sering memasok kayu ke pabrik itu. Mereka akan memanfaatkan jadwal pagi, ketika pabrik menerima bahan baku untuk pengemasan. Di antara kayu dan rotan, mereka akan bersembunyi. Begitu di dalam, mereka akan mencari laboratorium bawah tanah dan membebaskan tahanan, termasuk Joko, jika ada.
Persiapan berlangsung cepat. Mereka menggulung rotan yang akan menutupi tubuh mereka. Budi memakai kostum baru: kaos lengan panjang, celana cargo, dan topi pak tani. Ia bercanda, “Aku lihat diriku di kaca, kelihatannya seperti pemandu wisata hutan yang tersesat.” Mereka tertawa, melepaskan ketegangan. Sebelum berangkat, Pak Surya memimpin doa singkat dalam bahasa Dayak, memohon perlindungan. Aroma dupa dan rempah mengisi udara.
Rina berpisah dengan mereka, naik mobil ke bandara bersama dua aktivis lain. Mereka berpelukan. “Jaga diri,” kata Rina. “Kirim kabar kalau Joko ditemukan.” Mereka mengangguk. Pesawat Rina lepas landas, membawa serta harapan. Mereka menatap pesawat hingga hanya menjadi titik kecil di langit biru.
Rombongan penyusup berangkat di pagi hari dengan dua truk bak kayu. Sopirnya adalah kawan Pak Anto, berjanggut tipis, bernama Lano. Lano sering mengantar kayu ke pabrik dan mengenal satpam. Ia memiliki bukti resmi muatan. Mereka menyelipkan diri di antara tumpukan rotan dan balok, tubuh tertutup kain goni untuk kamuflase. Bau kayu segar menusuk hidung, bercampur dengan aroma minyak kayu putih dan peluh. Angin pagi masuk melalui celah-celah papan, membawa debu jalanan. Jantung mereka berdebar, telinga mereka mendengarkan suara mesin dan suara orang dari luar.
Truk berhenti di pos penjagaan. Satpam mendekat, mengintip muatan. “Apa ini?” tanya satpam, dengan suara dalam. “Rotan dan log, Pak. Kiriman dari Pak Anto. Ada pesanan cepat,” jawab Lano dengan tenang, menyerahkan surat jalan. Satpam memeriksa, memanggil seseorang dengan radio, kemudian mengangguk. “Masuk. Cepat bongkar di area penyortiran,” katanya. Truk bergerak lagi, melewati pintu besi besar, masuk ke area pabrik. Suara mesin besar terdengar, getaran terasa di kaki.
Truk berhenti di area penyortiran. Lano mematikan mesin. Para pekerja mulai menurunkan rotan. Ketika pekerja menjauh, Dayat memberi sinyal. Satu per satu, Mereka merayap keluar, menyusup ke bawah truk. Bau oli menusuk hidung. Mereka berlari ke arah bangunan beton dengan tulisan “LAB. KIMIA TINGKAT”. Mereka tahu di situlah laboratorium. Kode pintu dari Brigadir Ilham berfungsi. Mereka masuk ke ruangan kosong. Bau klorin dan bahan kimia menusuk. Ada tangga turun ke bawah tanah. Lampu remang-remang menerangi lorong. Suara mesin dan bip elektronik semakin jelas. Mereka turun pelan, menahan napas, mendengar suara siksaan yang halus.
Di bawah, ruangan lebih dingin. Dinding dari beton dan kaca tebal. Mereka mengintip dari balik jendela. Di satu ruangan, mereka melihat deretan ranjang dengan tubuh terbaring, kabel tersambung ke kepala. Cairan ungu mengalir melalui selang ke lengan. Dokter-dokter dengan jas lab putih dan masker berjalan, memegang clipboard. Di salah satu meja, seorang pria kurus duduk, wajahnya tertutup rambut panjang. Baju seragam narapidana. Pak Hadi menahan napas. “Joko!” bisiknya. Air mata mengalir tanpa suara. Ia menempelkan tangan ke kaca, seolah ingin menyentuh wajah anaknya yang pucat.
Mereka harus membuka pintu. Budi mengambil alat hacking yang lain, memasukkan ke panel. Tiba-tiba, alarm kecil berbunyi di headset mereka. Maya mengirim pesan: “Ada deteksi gerakan. Waktu kalian sedikit. Kode A872 membuka kunci. Cepat!” Budi mengetik kode. Pintu terbuka, bunyi klik. Mereka berlari masuk. Perikus menolong Joko, yang hampir tidak sadar. Matanya setengah terbuka. “Ayah...” bisiknya. Pak Hadi menangis, menekan pipi anaknya. “Iya, Nak. Ayah di sini,” bisiknya. Mereka membuka belenggu, melepas kabel, menutupi luka. Joko lemah, tapi tersenyum sedikit. “Mereka... menyuntik... tiga kali... jangan biarkan...” kata Joko pelan, sebelum pingsan. Mereka memanggulnya.
Sementara itu, Budi dan Tento memotret dokumen dan tabel data di meja: daftar nama, jumlah dosis, tanggal pengiriman. Mereka menemukan nama “Dr. Anand Singh” sebagai kepala lab. Mereka juga melihat surat kontrak yang ditandatangani oleh “Widya Puspitasari” dan “Anand Singh.” Ini bukti baru. Mereka mengambil foto, memasukkan ke tas. Suara langkah kaki mendekat. Lampu emergency berkedip. “Ada penyusup!” suara petugas terdengar dari radio. Sirene berbunyi. Mereka harus keluar.
Mereka membawa Joko, menuruni lorong lain, mencari jalan keluar. Mereka menemukan lift servis. Kode tidak diperlukan. Mereka naik ke atas. Pintu terbuka ke ruang penyimpanan alat. Dari jendela kecil, mereka melihat lapangan belakang pabrik. Hanya ada satu petugas di sana, merokok. Dayat memberi isyarat. Mereka membuka jendela perlahan, melempar batu kecil ke arah lain untuk mengalihkan perhatian petugas. Petugas menoleh ke suara, berjalan menjauh. Mereka melompat keluar, satu per satu. Kaki mereka mendarat di rumput basah. Bau tanah dan pupuk menyeruak. Mereka menyeberang lapangan, berlari ke arah pagar hutan.
Hutan di belakang pabrik lebat. Pohon-pohon tinggi dengan akar udara menggantung. Cahaya matahari sulit masuk. Suara monyet dan burung terdengar. Mereka merayap melewati semak berduri, menanggung berat Joko. Tubuh mereka penuh goresan. Kemeja mereka basah oleh keringat. Mereka mendengar suara anjing dari pabrik, tetapi suara itu jauh. Mereka terus berjalan, menahan napas setiap kali suara ranting patah. Pak Anto dan dua orang Dayak menunggu di hutan, membawa tandu bambu. Mereka membawa Joko, menggantikan Pak Hadi, yang hampir pingsan karena emosi.
Jalan keluar dari hutan membawa mereka ke sungai kecil. Perahu kecil sudah menunggu, didayung oleh seorang anak muda Dayak. Mereka naik, menyeberang ke sisi lain, di mana mobil pickup sudah menunggu. Mereka memasuki bak mobil, menutupi diri dengan terpal. Mobil melaju. Aroma karet ban terbakar, debu jalan, dan minyak solar memenuhi hidung. Mereka tidak berani berbicara hingga suara sirene pabrik hilang. Mereka akhirnya tiba di rumah Pak Surya sebelum tengah hari.
Di rumah, suasana campur aduk. Rina masih di pesawat; Profesor memeluk Joko, memeriksa kondisinya. Joko dibaringkan di kasur, diberi air. Matanya perlahan terbuka. “Ayah,” katanya dengan suara lemah. Pak Hadi menahan tangis. “Aku di sini, Nak. Kamu selamat,” ucapnya. Joko menangis, tubuhnya gemetaran. Ia menceritakan sedikit: “Mereka memaksa kami minum obat. Mereka bilang kami akan jadi kuat. Aku melihat Widya menangis suatu malam, berdebat dengan seorang pria asing. Dia berkata ini salah, tapi pria itu menamparnya. Kami dikirim ke pabrik karena terlalu banyak korban di pulau. Mereka ingin jauh dari sorotan. Aku tidak kuat. Aku pikir aku akan mati.” Air mata jatuh. Mereka memeluknya, berjanji akan merawatnya.
Profesor menghubungi jurnalis. “Kami punya Joko. Kami punya dokumentasi. Kami punya kontrak Singh dan Widya,” katanya, suara antusias. Mas Jati di seberang berkata, “Ini gila. Aku akan menulis artikel baru dan koordinasi dengan redaksi. Kita juga harus menyiapkan konferensi pers. Widya harus bertanggung jawab. Singh harus diungkap. Kalian aman?” Profesor mengangguk. “Untuk saat ini.”
Maya mengirim pesan: “Aku menemukan email antara Singh dan investor dari luar negeri. Mereka berniat menjual B16 ke pihak asing. Aku akan meretas server mereka malam ini. Siap untuk berita yang lebih besar.” Mereka terdiam sejenak, merenungkan betapa jauh perjalanan ini. Mereka mulai dengan soto dan teori konspirasi, kini menghadapi jaringan internasional.
Di Bandung, Indah mengabari bahwa aksi damai berubah menjadi bentrok ketika polisi mencoba membubarkan massa, tetapi mahasiswa bertahan. Mereka menahan teriakan, melantunkan lagu-lagu perjuangan. LPSK berhasil membawa beberapa pekerja keluar dari gedung. Karin dirawat di rumah sakit, diberi terapi. Ia mulai berbicara lebih banyak: tentang laboratorium di Bandung, tentang ruangan dingin, tentang Singh yang berbicara dalam bahasa asing, tentang Widya yang sesekali datang dengan mata merah. Karin mengatakan, “Widya tampak tertekan, tapi dia tetap menjalankan tugas. Aku mendengar dia berbicara di telepon, mengatakan dia tidak punya pilihan. Dia menyebut ada ancaman ke keluarganya.” Mereka mencerna. Mungkin Widya tak sepenuhnya jahat, mungkin ada alasan tersendiri.
Hari itu, mereka memutuskan untuk beristirahat. Tubuh mereka lelah, pikiran mereka penuh. Mereka makan malam sederhana: ikan bakar dengan sambal terasi, sayur bening, dan nasi hangat. Pak Hadi makan pelan, sesekali menatap Joko yang tidur. Budi menceritakan bagaimana dia memaksa dirinya tidak muntah saat bergelantungan di bak kayu. Perikus meletakkan kepalanya di meja, tertawa lemah. “Ada satu saat ketika aku ingin berhenti. Tapi kita tidak bisa. Karena kami tahu, setiap detik kita menunda, seseorang menderita,” katanya. “Bahasanya begitu.”
Malam itu, mereka duduk di teras, menatap bintang. Suara jangkrik menjadi musik latar. Sungai berkilauan di bawah cahaya rembulan. Mereka berbicara tentang masa depan. “Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Budi. “Apakah kita akan kembali ke kehidupan normal? Apakah kita bisa menikmati soto ayam tanpa memikirkan B16?”
Tento menatap langit. “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi aku tahu satu hal: kita tidak akan sama lagi. Kita belajar bahwa setiap suara kecil bisa membuat perbedaan. Mungkin setelah ini, kita akan menulis buku tentang pengalaman kita. Atau menampilkan reog di depan istana. Atau membuat film komedi tentang kita. Tapi untuk sekarang, kita harus menyelesaikan misi ini.”
Diakhir malam itu mereka memandang air sungai yang mengalir, membawa cerita mereka ke hilir. Mereka tahu besok akan ada tantangan baru: peluncuran artikel internasional, reaksi pemerintah, serangan balik perusahaan, dan mungkin penangkapan. Namun, mereka merasa kuat karena mereka bersama. Mereka tertidur dengan harapan dan rasa syukur, sementara bintang-bintang terus bersinar di atas Kalimantan dan Bandung, menyaksikan perjuangan sekelompok orang biasa yang berani menghadapi raksasa.