Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Dadakan
Arga dan orang tuanya hanya bisa menahan malu, merek shock menerima kenyataan ini. Daripada bertambah malu, mereka pun segera meninggalkan tempat tanpa pamit kepada yang punya acara.
Rombongan keluarga suami Sisi juga baru saja pamit undur diri.
Saat ini berlangsung acara yang ke dua kalinya di rumah Riri, yaitu acara pertunangan Riri dan Sultan. Dua kebahagiaan menyertai keluarga mereka di hari ini. Papa dan mama Riri tidak menyangka jika Sultan benar-benar orang kaya. Padahal sebenarnya mereka sudah menerima Sultan apa adanya demi kebahagiaan Riri. Namun nyatanya mereka mendapatkan bonus yang luar biasa. Bahkan keluarga mereka pun tidak ada apa-apa nya dibanding keluarga Sultan.
Saat ini Riri baru saja dipakaikan kaling dan cincin oleh ummi.
"Semoga kalian berjodoh sampai akhir hayat nanti ya."
"Aamiin, terima kasih bu."
"Panggil ummi, biar sama dengan Sultan."
"Eh iya, ummi."
mi pun memeluk calon menantunya itu.
Tidak hanya sampai di situ. Saat pembacaan do'a di akhir acara. Datang lagi sebuah mobil mewah. Dari dalam mobil mewah turun sosok sesepih yang perintahnya tidak boleh terbantahkan. Siapa lagi kalau bukan opa Teristan. Ternyata opa nekat mengejar mereka menggunakan jet pribadinya.
"Opa.... "
"Abi.... "
"Tuan Tristan... " Gumam papa Riri.
"Kalian ini selalu saja mengabaikan orang tua. Tidak ada acara pertunangan, langsung nikahkan saja mereka sekarang juga."
"Abi.... "
"Windi, penghulu masih belum pulang. Cepat nikahkan mereka. Masalah surat-surat nanti bisa menyusul."
"Tuan Tristan, anda masih ingat dengan saya?" Sapa papa Riri seraya mendekati opa dan menjabat tangannya.
"Kamu...anaknya Pak Sholeh."
"Iya, tuan. Saya Ardi."
"Ya ya tentu saja, dulu Sholeh adalah manager di hotel ku sebelum ia merintis dan membangun hotel sendiri. MasyaAllah ternyata kamu yang jadi besan anakku?"
"Iya, tuan. Saya juga tidak tahu kalau Sultan adalah cucu tuan. Saya mohon maaf."
"Tidak masalah. Sekarang cepat nikahkan mereka!"
"Ba-baik, tuan. Tapi apa tidak sebaiknya tanya kepada mereka berdua dulu."
"Tidak perlu. Mereka pasti setuju."
Riri sedikit shock menerima kenyataan ini. Ia harus menikah dadakan tanpa persiapan apa pun. Sedangkan Sultan sudah menduga keputusan opanya.
Abi Javier menuntun opa Tristan untuk duduk.
Sayang sekali Arga dan orang tuanya sudah pulang. Kalau saja mereka menyaksikan kenyataan ini, mungkin mereka akan lebih tertampar lagi.
Sultan dan Riri saling berpandangan. Antara siap dan tidak, Sultan pun langsung duduk di depan penghulu. Sedangkan Riri duduk di antara keluarganya. Ada ipar Sultan yang menjadi saksi mereka.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Ahmed Sultan Fahrezi dengan anak kandung saya Riyanti Aryani binti Ardi Sucipto dengan mas kawin.... "
Mereka lupa menyebutkan mas kawinnya karena ini dadakan. Pak Ardi masih menanyakannya kepada Sultan. Sultan pun membisikkannya kepada mertuanya.
"Monggo diulang."
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Ahmed Sultan Fahrezi bin Javier dengan anak kandung saya Riyanti Aryani binti Ardi Sucipto dengan mas kawin uang 1 milyar dibayar tunai."
Bukan hanya Riri dan keluarganya saja yang terkejut mendengar maskawin yang disebutkan, tamu undangan lebih terkejut lagi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Riyanti Aryani binti Ardi Sucipto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. "
"Sah... sah... "
"Alhamdulillah... "
Setelah membaca do'a, Riri pun langsung dituntun untuk mencium punggung tangan suaminya. Riri masih belum percaya dengan semua ini.
"Cium cium cium.... "
Sultan pun dengan lembut mengecup kening istrinya untuk yang pertama kalinya.
"Ya Allah, sesingkat ini sudah jadi istri orang." Batin Riri.
Setelah itu keduanya sungkeman kepada orang tua mereka.
"Dia ngasih mahar kayak beli kacang goreng." Ujar orang-orang.
"Iya wah, untung saja Riri tidak jadi dengan Arga. Dia dapat yang lebih segalanya dari Arga. Riri beruntung sekali ya." Sahut yang lainnya.
Untung saja orang yang menjadi suami Riri adalah orang yang ia cintai. Meski jalinan hubungan mereka belum cukup lama, namun Riri bisa melihat tanggung jawab pada diri kekasihnya yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Adik-adik Sultan dan beberapa sanak saudaranya yang ikut memberikan selamat kepada mereka.
Selanjutnya orang tua membicarakan rencana ke depan. Karena besok adalah resepsi pernikahan Sisi, jadi Sultan dan keluarganya pasti akan hadir. Mereka tidak merencanakan resepsi Riri juga akan disamakan dengan Sisi. Sebenarnya busa saja mereka melakukannya secara mendadak, namun ummi meminta kepada orang tua Riri agar resepsi Riri dan Sultan diadakan di Surabaya saja. Mereka pun mengiyakannya. Resepsi mereka akan digelar satu minggu lagi. Saat ini untuk sementara Sultan ikut balik ke hotel bersama keluarganya. Jadi sementara ia akan berpisah dulu dengan istrinya. Hal ini Sultan dilakukan agar Riri bisa leluasa untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya dulu. Apa lagi pernikahan ini sangat mendadak. Sultan ingin Riri mempersiapkan diri.
"Sayang, sampai ketemu besok."
"Hem... " Jawab Riri seraya mengangguk.
"Kenapa kok malu-malu gitu?"
"Apaan sih, bang. Malu diliat keluargamu tuh."
Sultan terkekeh.
"Ya sudah, aku pergi dulu."
Sultan memberikan rangan kanannya untuk Riri cium. Riri pun mencium punggung tangan suaminya.
"Oh iya, uangnya yang satu milyar sudah saya transfer." Bisik Sultan.
"Terima kasih, bang."
"Sama-sama. Persiapkan dirimu dengan baik."
Riri hanya bisa menelan salivanya sendiri. Ia bukan tidak mengerti dengan apa maksud suaminya.
Riri dan keluarganya mengantar rombongan Sultan sampai ke depan rumah.
Setelah kepergian mereka, kedua orang tua Riri masih mempertanyakan keada Riri. Mereka tidak percaya jika Riri tidak tahu kebenaran tentang Sultan.
"Ri, kamu benar-benar tidak kenal dengan CEO kamu sendiri?" Tanya papa
Riri menggelengkan kepala.
"Ya Allah, kalian ini lucu sekali." Sahut mama.
Sultan dan keluarganya baru saja sampai di hotel. Mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Namun Sultan masih berbincang dengan abi dan umminya. Ia mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah mendukungnya sampai sejauh ini.
"Opamu yang yang lebih berperan dalam hal ini, bang."
"Sudah abang duga, ummi. Nanti abang mau temui opa."
"Iya, sekarang opamu pasti sedang tidur."
Sementara itu, Riri dibantu saudaranya sedang membuka hantaran yang dibawa oleh keluarga Sultan. Baju-baju, tas, dan sepatu branded. Riri ingat betul perkataan Sultan yang mampu memberinya hantaran asalkan bukan yang harga jutaan, tapi ini berbanding terbalik dengan perkataannya. Ahmed yang terkesan sederhana dan santai itu ternyata menyimpan rahasia besar.
"Kak Riri, suaminya punya saudara cowok nggak? Mau dong jadi iparnya. " Ujar Nadin.
"Haha... kamu ini, bisa saja din."
"Ish, habis ngiler banget lihat seserahannya kak Riri. Pasti kak Riri nanti bakal hidup tenang. Secara suami Kak Riri Sultan."
"Iya, namanya Sultan, haha... "
"Hehe... nama dan keadaannya sesuai, kak. MasyaAllah. "
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kesempatan mumpung ada hadiah dari opa 🤭🤭