NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Samudra Biru di Dalam Retakan

​Malam turun di Puncak Pedang Patah seperti selimut beludru yang ditenun dari benang-benang es. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan kelabu, enggan menyaksikan kerasnya kehidupan di pelataran luar sekte.

​Di dalam gubuk jeraminya yang berderit ditiup angin, Shen Yuan duduk bersila. Gubuk ini sangat rapuh, pintunya hanya ditutup oleh palang kayu berjamur, namun bagi Shen Yuan, ruangan berukuran tiga kali tiga tombak ini adalah kuil sucinya. Tempat di mana sang pelayan melepaskan topengnya dan sang monster membuka matanya.

​Ia merogoh saku dalam jubahnya dan mengeluarkan kotak kayu cendana kecil. Saat tutupnya dibuka, pendar cahaya biru yang pekat langsung menerangi sudut-sudut gubuk yang gelap.

​Dua keping Batu Roh Tingkat Menengah.

​Ukurannya hanya sebesar telur puyuh, namun beratnya di telapak tangan terasa seperti menggenggam sebongkah besi padat. Bagi praktisi Lapisan Kelima biasa, satu keping sudah cukup untuk menembus batas ke Lapisan Keenam jika diserap dengan hati-hati selama sebulan penuh. Energi di dalamnya terlalu murni dan buas; menyerapnya terlalu cepat sama saja dengan menelan bara api.

​Namun, Shen Yuan tidak punya waktu satu bulan, dan ia tidak memiliki tubuh yang "biasa".

​"Batu Roh Tingkat Rendah penuh dengan kotoran duniawi, membuat kultivator harus membuang sembilan persepuluh dari energinya," gumam Shen Yuan perlahan, memutar salah satu kristal biru itu di antara jari-jarinya. "Tapi ini... ini adalah esensi murni bumi yang telah terkompresi selama ratusan tahun."

​Tanpa keraguan sedikit pun, Shen Yuan meletakkan satu keping di telapak tangan kanannya dan satu keping lagi di tangan kirinya. Ia memejamkan mata. Napasnya mulai melambat, selaras dengan detak jantungnya yang terdengar berdegup konstan.

​Kitab Penelan Surga, buka.

​Seketika, pusaran hisap yang tak kasat mata meledak dari kedua telapak tangannya.

​Jika kultivator ortodoks mengibaratkan penyerapan Qi seperti meminum air dari cangkir dengan elegan, maka metode Shen Yuan adalah menghancurkan bendungan dan membiarkan air bah menenggelamkan tubuhnya.

​Wussshhh!

​Kedua Batu Roh Tingkat Menengah itu bergetar hebat. Cahaya biru pekat meluap keluar, berubah menjadi untaian kabut tebal yang melesat masuk melalui pori-pori telapak tangannya.

​Sakit. Itu adalah sensasi pertama yang menghantam kesadaran Shen Yuan.

​Meridian di kedua lengannya, yang sebelumnya telah ditempa hingga sekeras baja saat melatih Tinju Runtuh Gunung, kini menggelembung seolah dipompa paksa. Energi biru itu terlalu padat. Ia mengalir menderu seperti sungai yang mengamuk, menabrak dinding-dinding meridiannya dengan kekuatan destruktif.

​Shen Yuan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya, langsung menguap menjadi asap tipis begitu menyentuh kulitnya yang memanas.

​"Masuk!" geram Shen Yuan di dalam benaknya.

​Gelombang energi biru itu akhirnya bermuara di Dantian-nya. Di sana, Benih Hitam yang selama ini rakus, tiba-tiba berputar dengan kecepatan yang gila-gilaan. Retakan kecil di permukaan benih itu bersinar keemasan, menyambut banjir energi murni dengan kegembiraan yang buas.

​Benih itu mulai menelan energi biru tersebut. Proses pemurnian terjadi secara brutal. Qi biru dari batu roh digiling, dihancurkan, dan dipadatkan kembali menjadi tetesan-tetesan Qi berwarna emas gelap yang jauh lebih berat dan menindas. Tetesan emas itu kemudian jatuh ke dalam lautan Dantian Shen Yuan, mengisi ruang kosong yang menahannya di Puncak Lapisan Kelima.

​Satu jam berlalu. Pakaian rami Shen Yuan basah kuyup oleh keringat.

​Kedua batu roh di tangannya mulai kehilangan sedikit kilaunya, namun energi yang masuk masih sangat deras. Di dalam Dantian-nya, lautan energi emas gelap telah mencapai batas maksimum. Dinding pembatas Lapisan Keenam—sebuah selaput tak kasat mata yang menahan perluasan Dantian—kini terlihat jelas di mata batinnya.

​Bagi orang seperti Lin Feng sang jenius, menembus selaput ini dibantu oleh puluhan pil pelembut meridian dan perlindungan dari para tetua. Selaput itu akan meleleh dengan perlahan dan aman.

​Bagi Shen Yuan, selaput itu harus dihancurkan dengan kekuatan mutlak.

​"Jika dindingnya tidak mau mundur, maka aku yang akan merobohkannya!"

​Shen Yuan menarik napas panjang. Alih-alih membiarkan Benih Hitam menelan sisa energi perlahan-lahan, ia membalikkan putaran benih tersebut. Energi emas gelap yang sudah terkumpul di lautan Dantian-nya didorong balik, bergabung dengan gelombang energi biru yang baru masuk, menciptakan sebuah gelombang kejut raksasa dari dalam perutnya.

​BUMMM!

​Sebuah ledakan tak bersuara bergema di dalam tubuhnya.

​Tubuh Shen Yuan tersentak hebat ke atas, terangkat setengah inci dari ranjang jeraminya sebelum jatuh kembali. Dinding pembatas Lapisan Keenam itu hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh yang dihantam godam raksasa.

​Rasa sakit yang menyiksa seketika lenyap, digantikan oleh ruang hampa yang luar biasa melegakan. Dantian-nya meluas dua kali lipat. Lautan Qi emas gelap yang tadinya bergejolak ganas kini menjadi tenang, mengalir lambat namun dengan kepekatan yang menakutkan.

​Lapisan Keenam Kondensasi Qi.

​Shen Yuan membuka kelopak matanya. Dalam kegelapan gubuk itu, sepasang matanya memancarkan kilatan cahaya emas redup yang memudar dalam sekejap.

​Ia menunduk menatap kedua tangannya. Batu roh di tangan kirinya telah berubah menjadi serbuk abu-abu dan hancur tertiup napasnya. Ia telah menelan habis satu setengah keping batu roh tingkat menengah hanya untuk mendobrak satu lapisan.

​Kitab Penelan Surga memang memberinya kekuatan tempur yang tak tertandingi dan Qi yang sangat padat, namun harga yang harus dibayar adalah kebutuhan energinya yang bagaikan jurang tak berdasar. Seorang kultivator biasa mungkin bisa mencapai Lapisan Ketujuh dengan jumlah batu roh yang sama.

​"Fondasi yang kuat membutuhkan material bangunan yang mahal," gumam Shen Yuan, tidak merasa menyesal sedikit pun. Ia mengepalkan tangannya. Bunyi gemeretak tulangnya terdengar renyah dan penuh tenaga. "Dibandingkan dengan Lapisan Kelima, kualitas dan kapasitas Qi-ku sekarang meningkat dua kali lipat. Jika aku menggunakan Tinju Runtuh Gunung sekarang, tulang tanganku tidak akan retak, dan aku bisa memukul empat kali sebelum kehabisan tenaga."

​Ini adalah peningkatan yang mengerikan. Empat pukulan yang mampu meruntuhkan Batu Besi Hitam dari dalam. Bahkan seorang kultivator Lapisan Ketujuh pun harus berpikir dua kali sebelum berani menerima pukulan itu secara langsung.

​Sisa setengah keping batu roh di tangan kanannya ia simpan kembali ke dalam kotak cendana. Di dunia kultivasi, menghabiskan seluruh peluru sebelum maju ke medan perang adalah kebodohan. Sisa batu ini akan menjadi kartu as-nya untuk memulihkan energi secara instan di saat kritis.

​Fajar menyingsing, membawa serta cuaca yang sedikit lebih hangat. Salju di atap-atap pelataran mulai mencair, meneteskan air yang berirama seperti detak jam yang menghitung mundur menuju turnamen besar.

​Shen Yuan melangkah keluar dari gubuknya. Pakaian raminya sudah kering dan bersih, dicuci dengan aliran Qi selama ia bermeditasi sisa malam itu. Tidak ada aura arogan atau lonjakan energi yang membocorkan status barunya. Benih Hitam menutupi Lapisan Keenamnya dengan sempurna, memalsukan fluktuasinya kembali ke Lapisan Ketiga yang menyedihkan.

​"Pagi, Kayu Mati."

​Sapaan kasar namun akrab itu datang dari Li Mu yang sedang memikul dua ember air dari arah sumur. Napas pemuda berwajah kuda itu terengah-engah, wajahnya merah menahan dingin pagi.

​Shen Yuan mengambil sapu lidinya dari sudut dinding. "Pagi, Mu. Embermu terlihat lebih berat hari ini."

​Li Mu meletakkan embernya dengan bunyi bantingan pelan, mengusap keringat di dahinya. "Bukan embernya yang berat, nasib kita yang makin berat. Kau belum dengar? Sejak Tuan Muda Lin Feng menembus Lapisan Keenam, keluarga Lin di pelataran luar semakin semena-mena. Mereka memonopoli area latihan air terjun untuk persiapan Ujian Evaluasi."

​Li Mu mendekat, merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan cemas. "Yuan, aku serius. Kau harus sangat berhati-hati. Seminggu terakhir ini, Lin Hai sering terlihat mengawasi pelataran kita. Aku rasa dia belum melupakan kejadian 'sapu terbang' itu. Dengan Lin Feng yang sekarang menjadi anak emas sekte, membunuh satu atau dua pelayan bisa ditutupi dengan mudah."

​Shen Yuan mulai mengayunkan sapunya ke atas halaman berbatu. Srak... srak... Setiap ayunannya sangat presisi. Daun-daun pinus yang gugur terkumpul rapi tanpa ada debu yang beterbangan. Kendalinya atas tenaga fisik kini telah mencapai tahap kesempurnaan; ia bisa memegang bunga tanpa merusak kelopaknya, dan bisa menghancurkan batu tanpa merusak sarung tangannya.

​"Biarkan saja mereka mengawasi, Mu," jawab Shen Yuan tenang, matanya menatap gundukan daun kering di ujung sapunya. "Orang yang sibuk mengawasi tanah, biasanya tidak sadar saat langit sedang runtuh menimpa kepala mereka."

​Li Mu mengerutkan dahi, tidak memahami filosofi aneh sahabatnya itu. "Kau dan kata-kata puitismu. Pokoknya, jangan buat masalah. Tiga bulan lagi Ujian Evaluasi. Asalkan kita bisa bertahan di Lapisan Ketiga dan lulus ujian dasar, kita tidak akan diusir dari sekte."

​Shen Yuan hanya mengangguk pelan, menyembunyikan senyum tipis di balik topi bambunya.

​Li Mu tidak tahu, dan dunia belum tahu. Tiga bulan lagi, Shen Yuan tidak berniat sekadar 'bertahan' untuk lulus ujian dasar. Ia telah selesai bersembunyi di balik cangkang. Ujian Evaluasi Sekte Luar nanti bukanlah ujian kelulusan baginya, melainkan panggung eksekusi yang telah ia siapkan dengan sangat matang untuk menghancurkan kebanggaan keluarga Lin hingga ke akarnya.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!