Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Sisi Gelap agency.
"Bagus sekali, kau boleh kembali keruangan mu," ujar nya yang membuat Nala mengangguk lalu berdiri, dia membungkuk sekilas sebelum akhirnya pergi meninggalkan ketiga orang itu.
Setelah Nala benar-benar melangkah keluar dan pintu tertutup rapat, di belakang nya, dia menghembuskan nafas sedikit kasar karena merasa hari ini akan benar-benar panjang.
Dengan langkah berat dia kembali ke ruang kerja Creative Writing & Concept Division – Sub A siang itu terasa hidup dengan caranya sendiri. Tidak ramai, tapi dipenuhi dengan suara halus ketikan keyboard, dentingan cangkir, dan bisikan diskusi antar tim yang membentuk harmoni khas kantor kreatif.
Nala baru saja kembali dari ruang rapat utama, masih membawa map berisi lembar-lembar notulen dan catatan kasar hasil diskusi album baru SOLIX. Langkahnya ringan, tapi pikirannya masih bergema oleh suara Yoohan yang tegas dan nada santai Junho yang entah kenapa masih berputar di telinganya.
Dia menarik kursi di mejanya yang terletak tepat di sisi kiri Jeongin—rekan satu divisi yang juga sudah menjadi temannya selama tiga bulan terakhir. Jeongin sedang menatap layar komputernya, satu tangan sibuk men-scroll file konsep, sementara tangan satunya menggenggam iced americano yang esnya sudah setengah mencair.
Begitu Nala duduk, pria itu menoleh sekilas, senyum hangat muncul di wajahnya.
“Sudah selesai rapatnya? Kenapa keluar lebih lambat?” tanyanya pelan, dengan nada yang lebih akrab dari sekadar rekan kerja. Nala mengangguk, meletakkan map di meja.
“Sudah. Tapi rasanya seperti baru keluar dari ujian skripsi. Yoohan-ssi serius sekali kalau bicara soal komposisi. Dia meminta ku lembur,” ujar nya yang membuat Jeongin terkekeh.
“Itu sudah khas dia. Katanya, satu kata saja bisa mengubah emosi seluruh lagu,” kata Jeongin yang memang sudah paham dengan sifat Yoohan, Nala mengangguk setuju karena begitu lah yang dia rasakan.
“Dan aku percaya itu, tapi jujur, aku sempat tegang juga karena Junho-ssi dan Hoseung-ssi duduk di depan persis. Rasanya seperti dinilai langsung oleh juri musik dunia,” Ucap Nala sambil menghela napas.
Mendengar itu Jeongin tertawa kecil, nada suaranya ringan dan tulus.
“Kalau Junho-ssi menatapmu terlalu sering, mungkin karena dia kagum pada caramu mencatat cepat,” ujar nya yang membuat Nala langsung menoleh, sedikit terkejut.
“Menatapku? Kau lihat?” tanya Nala bingung karena dia benar-benar tidak memperhatikan sekitar.
Sejak masuk keruang rapat dia terlalu pokus memberikan yang terbaik, mendengar pertanyaan itu Jeongin menaikkan bahunya santai.
“Ya, aku kebetulan masuk ruang itu sebentar tadi, bawa file tambahan untuk tim. Rasanya... tatapan dia terlalu sering berpindah ke arahmu,” jawab nya yang membuat pipi Nala memanas spontan, meskipun ia mencoba menahan senyum gugupnya.
“Itu tidak mungkin, aku yakin dia hanya sedang berpikir,” gumam nya cepat, Jeongin tertawa lagi, kali ini lebih pelan.
“Atau sedang teralihkan. Kau tahu Junho-ssi tidak pernah seperduli itu pada staffnya selama ini,” Nada suaranya menggoda, tapi bukan dengan maksud buruk—lebih seperti teman yang menikmati momen kecil dalam rutinitas yang melelahkan.
“Sudahlah,” Nala akhirnya menyerah, menepuk ringan tumpukan kertas di depannya. “Daripada membahas hal tak penting, lebih baik bantu aku revisi struktur naratif lagu ‘Eclipse Memory’. Aku baru dapat arahan tambahan dari tim audio,” lanjut nya yang membuat Jeongin memutar kursinya sedikit, mendekat ke arah meja Nala.
“Baik, partner. Tapi kau yang bertanggung jawab kalau aku nanti jadi terlalu kagum pada tulisanmu. Aku dengar kau ada di sini karena Junho-ssi sendiri yang memilih mu,” ujar nya sembari kembali duduk dengan tenang si kursinya.
“Lucu,” balas Nala datar, meski sudut bibirnya menahan senyum.
"Ouh ya Nala siang nanti kita makan bersama lagi," ujar nya meminta persetujuan dan Nala hanya mengangguk.
Mereka bekerja beriringan—dua kepala yang tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Di layar, baris-baris lirik dan konsep naratif muncul perlahan, dibentuk dengan diskusi kecil dan tawa ringan di sela-sela keseriusan.
Sesekali Jeongin mencuri pandang; bukan pandangan yang mengandung makna tersembunyi, tapi lebih pada kekaguman sederhana terhadap seseorang yang begitu fokus pada hal yang ia cintai.
☾ ── ❖ ── ☾
Ketika sore mulai menua, Nala merenggangkan tangannya. Bahunya terasa kaku, tubuhnya pegal karena terlalu lama duduk. Sejak siang tadi, ia hanya sempat pergi sebentar untuk makan, lalu kembali ke kursinya dan tenggelam dalam pekerjaan tanpa benar-benar beranjak lagi.
Ia melirik jam di ponselnya, dan baru saat itu tersadar bahwa hari ini belum benar-benar berakhir.
“Ah, malam ini aku harus ke studio empat di lantai di bawah. Yoohan-ssi memintaku datang untuk mendengar demo dari rapper line. Katanya... evaluation session untuk membuka proyek baru ini,” ujarnya.
Jeongin yang sedang merapikan berkas langsung menoleh cepat.
“Studio 4? Itu studio Junho dan kadang jadi tempat para member SOLIX berkumpul untuk latihan, kan?” tanyanya.
Nala mengangguk polos. Sejujurnya, ia sendiri tidak begitu tahu.
“Ya... mungkin. Aku belum benar-benar hafal semuanya. Kantor ini terlalu luas,” jawabnya ringan.
Jeongin hanya tersenyum samar, seolah menyembunyikan sesuatu di balik ekspresinya yang tenang.
“Tidak apa-apa. Hanya... pastikan kau tidak menatap terlalu lama kalau mereka sedang bekerja,” katanya setengah bercanda. “Aku takut kau malah jatuh cinta. Kau tahu, dulu ada staf senior yang mengurus koreografi. Dia akhirnya berhenti karena jatuh cinta pada Hoseung-ssi.”
Nala justru menanggapi cerita itu dengan serius.
“Diberhentikan?” tanyanya cepat.
“Berhenti sendiri,” jawab Jeongin sambil menggeleng pelan. “Dia jatuh cinta pada Hoseung-ssi, dan jelas kalau atasan tahu hal itu, situasinya akan jadi sulit. Kecuali... kalau memang Hoseung-ssi juga menyukainya. Kalau begitu, biasanya satu agensi akan berusaha melindungi privasi mereka.”
Penjelasan itu membuat Nala mengernyit bingung.
“Memang agensi tidak melarang mereka pacaran?” tanyanya lagi.
Jeongin menggeleng cepat, lalu tersenyum tipis.
“Tentu saja tidak. Agensi juga tahu kalau artis mereka manusia. Kau ingat NDA yang kita tanda tangani sebelum kontrak itu? Salah satunya mencakup hal ini. Saat ada artis yang berkencan atau bahkan menikah, kita harus menutup mata dan telinga dari dunia luar. Hanya kita yang tahu.”
Nala terdiam. Ada sedikit keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Jadi... kita sengaja menutupi hubungan artis dari dunia luar?” tanyanya perlahan, Jeongin mengangguk mantap.
“Tentu saja. Media tidak boleh tahu—demi menjaga hati para penggemar. Kau tahu Lee Yoona?” tanyanya.
Nala mengangguk pelan. Siapa yang tidak mengenal wanita itu? Idol solo yang sangat terkenal, dan kebetulan juga berada di bawah naungan LYNX Entertainment.
“Dia sudah menikah dan punya dua anak.”
Kalimat itu membuat Nala terdiam cukup lama. Matanya bahkan membulat tanpa sadar.
“Sungguh...? Tapi dia bahkan tidak pernah tersandung rumor apa pun,” ujar Nala tak percaya, namun Jeongin terkekeh pelan.
“Berarti agensi berhasil membungkusnya dengan baik. Kau tahu dia sempat hiatus beberapa kali, kan? Pernah dengar kabar dia cedera dan sebagainya?” tanya nya lagi, Nala mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia tidak begitu mengikuti detailnya.
“Begitulah kebohongan dimainkan untuk menjaga perasaan para penggemar... dan kestabilan karier,” lanjut Jeongin santai.
Nala terdiam sejenak.
Ia pernah, tanpa sengaja, mendengar bahwa Jihwan juga sudah memiliki kekasih—seorang model. Namun karena sekarang ia menjadi bagian dari LYNX Entertainment, ia harus tetap diam, seolah tidak pernah tahu apa pun.
Sejujurnya, hati kecilnya sebagai seorang LUNARIS sempat terasa sedikit terluka saat mengetahui fakta itu. Namun kini, di tempat ini, ia bukan lagi Nala sang fangirl melainkan bagian dari mereka—orang-orang di balik layar yang harus berjalan di garis yang telah disediakan untuknya.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba Eunsook memanggilnya dari meja kerja di seberang ruangan.
“Nala-ssi.”
Nala segera bergegas menghampiri. Ia duduk di dekat Eunsook yang sudah fokus menjelaskan beberapa hal di layar laptop. Dengan serius ia menyimak, sesekali mengangguk dan memberikan pendapatnya dengan hati-hati.
☾ ── ❖ ── ☾
Malam mulai naik ke permukaan. Langit cerah Seoul kini berubah menjadi hitam jernih, dengan bintang-bintang berkilau menyebar di angkasa. Hampir semua karyawan LYNX Entertainment sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, kecuali beberapa lantai di gedung itu yang lampunya masih menyala terang.
Termasuk ruang divisi Creative Writing & Concept.
Di sana tinggal Nala dan beberapa karyawan lain yang masih fokus mengetik. Kacamata Nala sudah turun sedikit dari posisi semula, tetapi tidak benar-benar jatuh karena tersangga hidungnya yang mancung. Penampilannya sudah sedikit berantakan—beberapa helai rambut terlepas dari ikatannya.
Sesekali dahinya berkerut karena berpikir terlalu keras.
Hingga setelah cukup lama, ruang itu terasa semakin hening—seolah kesunyian membelenggu di sekelilingnya. Nala akhirnya menambahkan satu titik terakhir pada kalimatnya.
Begitu titik itu selesai, kepalanya langsung tumbang di atas lipatan tangannya di meja, mencoba meredakan lelah mental yang ia tahan sejak tadi demi menyelesaikan konsep pertama yang diminta Yoohan siang tadi.
“Ya Allah... jika tahu akan semelelahkan ini, aku lebih baik jadi penulis biasa di Indonesia,” ujarnya lirih, seolah menyesali kontrak yang baru ia tanda tangani tiga bulan lalu.
Cukup lama Nala diam.
Hingga akhirnya ia melirik ponselnya—menunjukkan pukul 19.45.
Masih ada waktu lima belas menit sebelum ia harus pergi menemui Yoohan dan yang lainnya. Sejujurnya, ia ingin langsung pulang, mandi, lalu tidur panjang. Namun hidupnya sekarang tidak lagi sesederhana itu.
Dengan lesu Nala menyimpan hasil kerjanya, lalu merapikan laptop dan buku catatannya. Setelah itu ia berjalan menuju toilet, sekadar membersihkan wajahnya yang terasa lengket dan lelah.
Ia juga sempat beristirahat sejenak sebelum akhirnya pergi ke lantai bawah.
Tepatnya Studio 4 milik Junho.
Langkahnya tenang dan teratur. Nala sedikit membungkuk setiap kali berpapasan dengan senior yang beberapa di antaranya belum pulang.
Tiga bulan bekerja di sana cukup untuk membuatnya mulai beradaptasi dengan budaya dan bahasa setempat, walaupun terkadang ia masih merasakan culture shock untuk beberapa hal.