Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Alam
"At least. Aku tidak terkenal paling bodoh di keluarga, cetasss!"
Seru Nayla dengan suara yang penuh semangat, matanya menyipit sambil melirik Nathan yang sedang menggaruk kepala dengan ekspresi sedikit cemberut. Tak bisa dipungkiri, di antara saudara-saudara mereka, Nathan memang selalu berada di peringkat terakhir dalam bidang akademik, seringkali harus mengulang materi dan terkadang bahkan tidak mengerti soal yang sudah dijelaskan berkali-kali. Namun meskipun demikian, wajahnya tetap terpampang senyum jahil saat akan memberikan balasan.
"At least aku tidak di bilang paling hitam di antara yang lain, cetasss!"
Nathan menjawab dengan nada yang sama kerasnya, bahu nya mendadak membengkak saat menunjukkan kulitnya yang lebih putih dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Nayla langsung mengangkat bahu dengan cuek, selama ini ia memang sering menjadi bahan candaan karena warna kulitnya yang sedikit lebih gelap dibandingkan kakak dan adiknya.
"At least aku kalau tidur enggak ngorok, cetasss!"
Suara baru menyela perseteruan mereka, Nagara berdiri dengan pose gagah sambil melirik ke arah Nick yang tiba-tiba menjadi tidak nyaman. Nick yang biasanya percaya diri kini hanya bisa mengoceh dan menutup mulutnya dengan tangan, memang benar, ngorok nya seringkali mengganggu istirahat saudara-saudaranya bahkan sampai harus menggunakan earplug setiap malam.
"At least aku tidak di panggil perjaka tua, cetasss!"
Nick segera membalas dengan nada yang penuh dendam, membuat Nagara langsung memerah wajahnya dan mengerutkan kening. Istilah "perjaka tua" memang selalu menyakitkan baginya, mengingat ia sudah memasuki usia tiga puluhan tapi belum pernah memiliki pacar dan seringkali di anggap terlalu serius sehingga tidak menarik perhatian lawan jenis. Wajahnya semakin masam, matanya menyala dengan amarah.
"Tuh tuh tuh, seru nih adu argumennya. Bolehkah saya ikut berpartisipasi?"
Suara yang hangat dan tenang membuat semua orang menoleh ke arah pintu. Alam berdiri di sana dengan senyum lembut, jasnya sedikit kusut seolah ia baru saja tiba dari perjalanan jauh. Kakinya melangkah perlahan mendekati mereka, setiap langkahnya membawa aura kedekatan yang sudah lama tidak terasa.
"Mas Alam!"
Nayra tidak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya seperti terbakar dengan rasa rindu yang luar biasa, ia berlari cepat menghampiri Alam dan dengan segera memeluk tubuhnya dengan erat. Pipi nya menempel pada dada Alam yang hangat, tangannya mengunci erat di belakang pinggang pria tersebut. Sudah beberapa minggu lamanya Alam tidak muncul karena sibuk mencari pekerjaan, dan untuk Nayra, pria ini bukan hanya orang yang dihormati tapi juga seperti kakak kandung yang selalu melindunginya.
"Baru juga satu bulan enggak ketemu, tapi kamu kayak sudah rindu setahun aja"
Alam tertawa lembut sambil mendekap gadis itu dengan lembut. Telapak tangannya besar menyentuh punggung Nayra dengan penuh kasih sayang, mengingat betul bagaimana ia telah melihat Nayra tumbuh dari kecil hingga sekarang, selalu diperlakukan berbeda oleh saudara-saudaranya sendiri.
"Mas Alam, kami dengar mas sudah dapat pekerjaan ya? Selamat ya!"
Nick berbicara sambil menoleh ke arah Alam, wajahnya terpampang senyum tulus. Ia sudah melihat betul bagaimana Alam berjuang mencari nafkah untuk keluarganya sendiri, sehingga kabar keberhasilan Alam sungguh membuat hati mereka semua terasa lega.
"Ciee, dapat kerjaan langsung traktir makan-makan dong! Jangan bilang tidak punya uang ya mas!"
Nathan langsung menambahkan dengan nada yang ceria, membuat semua orang tertawa. Namun senyumnya segera hilang saat melihat ekspresi Nagara yang mulai menjadi serius.
"Mas Alam..."
Nagara berjalan pelan mendekati Alam yang masih berdiri di ambang pintu. Langkahnya terasa berat, seolah membawa segala beban yang telah ia pikul selama ini. Matanya yang biasanya tegas kini terlihat lembut bahkan sedikit berkaca-kaca.
"Iya mas?"
Alam menanggapi dengan tatapan yang penuh perhatian, sudah bisa merasakan bahwa ada hal penting yang akan disampaikan. Nayra juga segera melepaskan pelukannya dari Alam, tubuhnya sedikit menggigil karena merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi.
"Terimakasih... selama ini sudah menjaga adik bungsu kami."
Kata-kata Nagara keluar dengan pelan tapi jelas, tangannya mengelus puncak kepala Nayra dengan lembut. Sentuhan itu penuh kasih sayang, sesuatu yang jarang Nayra rasakan dari kakaknya yang paling tua ini. Nayra gegas melepaskan pelukannya dari tubuh Alam dan menatap mimik wajah sang kakak "Kami semua tahu, tanpa bantuan mu dan keluarga mu, Nayra tidak akan bisa hidup dengan baik seperti sekarang."
"Sama-sama mas. Aku sudah dengar dari ibu... kalau kalian akhirnya bisa memahami Nayra dan tidak menyalahkan dia perihal kematian nyonya muda."
Alam tersenyum lembut, tapi matanya sudah mulai berair. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa leganya melihat bahwa akhirnya Nayra mendapatkan tempat yang layak di hati keluarga nya sendiri.
"Benar mas, kami semua selama ini salah besar. Tidak seharusnya kami menyalahkan Nayra, mama meninggal karena takdir, bukan karena melahirkan Nayra."
Nayla, saudari kembar Nayra, berbicara dengan suara yang penuh kesedihan tapi juga keyakinan. Matanya menatap Nayra dengan rasa cinta yang baru saja ia sadari selama ini hilang. "Kita terlalu buta karena rasa sakit dan kehilangan, hingga terlupa bahwa Nayra juga sama seperti kami yang kehilangan sosok ibu"
"Mas, kami memiliki banyak hutang budi terhadap mas dan keluarga mas. Kalian selalu ada untuk Nayra saat kami sendiri menjauhinya."
Nick berbicara dengan suara yang lembut, tubuhnya sudah berada di dekat Alam. Ia menurunkan pandangan, merasa malu dengan perilaku mereka selama ini yang begitu kejam terhadap adik bungsu mereka sendiri.
"Jangan bilang begitu mas. Keluarga kalian juga sudah banyak membantu keluarga kami di masa lalu. Ini hanya balasan kecil dari apa yang kalian berikan."
Alam tersenyum hangat, mencoba untuk membuat suasana menjadi lebih ringan. Tapi hatinya juga terasa hangat karena melihat bagaimana keluarga Nayra akhirnya bisa menerima dia dengan tulus.
"Setelah ini aku janji, akan menganggap bi Surti dan pak Tarjo seperti orang tua kami sendiri. Selain itu, mas Alam dan mas Awan tidak perlu sungkan ya, anggap lah kami semua seperti saudara kalian yang sebenarnya."
Nagara mengucapkan janji nya dengan suara yang kuat dan tegas, matanya menatap Alam dengan penuh komitmen. Ia sudah memutuskan bahwa ini adalah cara terbaik untuk membayar semua hutang budi yang mereka miliki.
"Kak... kakak serius?"
Nayra bertanya dengan suara yang bergetar, matanya sudah penuh dengan air mata yang siap mengalir. Ia tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan datang, saat semua kakaknya akhirnya menerima dirinya dan bahkan mau menerima keluarga orang yang telah merawatnya selama ini.
"Yey! Setelah ini kita punya orang tua lagi! Bisa jadi bi Surti akan memasak makanan kesukaanku setiap hari!"
Nayla menjerit dengan senang hati, bahkan melompat-lompat dengan gembira. Rasa bahagia yang luar biasa memenuhi dirinya, seolah beban besar yang telah ia pikul selama ini tiba-tiba hilang.
"Iya dong! Mentang-mentang dari kecil kamu dirawat bi Surti, masa kamu aja yang mau dianggap anak oleh Bi Surti, kami kan juga mau dong! Kan kita juga butuh kasih sayang dari ibu yang hangat seperti bi Surti."
Nathan menyela dengan nada yang sedikit kesal tapi penuh harap. Wajahnya terpampang senyum ceria, sudah tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan keputusan kakaknya yang paling tua ini.
"Iya benar, kita juga ingin punya ibu seperti bi Surti yang selalu sabar dan penuh kasih. Bisa jadi pak Tarjo akan mengajari kita cara memperbaiki mobil atau hal lain yang menarik."
Nagara tertawa lembut, sudah bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka akan menjadi lebih baik ke depannya. Semua rasa dendam dan kesalahpahaman yang telah ada selama bertahun-tahun akhirnya menemukan titik terang.
"Kak Naga... terimakasih ya."
Nayra berkata dengan tersenyum lembut, air mata sudah mulai mengalir di pipinya. Ia merasa sangat beruntung bisa memiliki saudara-saudara yang akhirnya bisa melihat kebaikan dalam dirinya.
"Setelah ini, mas Alam dan mas Awan tinggal di sini saja ya. Bu Surti dan pak Tarjo juga berhenti jadi art, cukup duduk dan bantu kami mengawasi art yang lain saja. Seharusnya mereka diperlakukan sebagai keluarga, bukan sebagai pekerja."
Nick menambahkan dengan suara yang penuh semangat. Ia sudah membayangkan bagaimana rumah mereka akan menjadi lebih ramai dan penuh dengan cinta ke depannya.
"Wah, sepertinya ibu dan bapak akan menolak mas. Kalian tahu sendiri kan, mereka orangnya tidak suka mengganggu orang lain dan selalu ingin bekerja dengan tangan mereka sendiri."
Alam mengangguk dengan senyum yang sedikit khawatir. Ia tahu betul sifat orang tuanya yang tidak mau menyusahkan orang lain, bahkan jika itu adalah keluarga yang sangat mereka sayangi.
"Lagian mereka kan sudah tinggal di sini kak, jadi tidak ada masalah kan?"
Nayra berkata dengan wajah yang penuh harapan. Ia sangat ingin agar keluarga Alam bisa tinggal bersama mereka, sehingga ia bisa lebih sering bertemu dengan orang-orang yang telah merawatnya selama ini.
"Tapi kan sebagai art dan supir. Kedepannya kita mau mereka tinggal di sini sebagai orang tua kita, mereka layak mendapatkan tempat yang lebih baik dari itu."
Nagara menjelaskan dengan suara yang tegas. Ia tidak ingin orang tuanya yang sudah tiada melihat keluarga mereka memperlakukan orang yang baik dengan salah.
"Aku yakin bibi pasti akan menolak. Bagaimana kalau biarkan mereka tinggal di rumah belakang? Mereka tetap dekat dengan kita, jadi mereka bisa mantau kita kapan saja, dan juga memiliki privasi mereka sendiri."
Nick mengajukan usulan yang masuk akal, membuat semua orang berpikir serius. Rumah belakang memang sudah kosong semenjak nenek dan kakek mereka meninggal, jadi tempat itu sangat cocok untuk dihuni.
"Benar juga! Rumah di belakang kan kosong semenjak nenek dan kakek meninggal. Sudah lama tidak ada yang tinggal di sana."
Nathan mengangguk dengan cepat, sudah bisa membayangkan bagaimana rumah belakang itu akan menjadi tempat yang nyaman untuk keluarga Alam.
"Benar juga, di rumah belakang ada lima kamar lho. Mas Awan dan mas Alam bisa tinggal di sana tanpa takut privasi mereka terganggu. Bahkan bisa saja kita renovasi sedikit agar lebih nyaman."
Nagara tersenyum puas, merasa bahwa usulan ini adalah solusi terbaik untuk semua pihak. Ia sudah tidak sabar untuk membicarakan hal ini dengan bi Surti dan pak Tarjo.
"Ya udah, kita bahas soal itu nanti saat ibu dan bapak sudah tidak sibuk ya. Sekarang bolehkah saya pinjam Nayra sebentar? Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin saya tanyakan padanya."
Alam berkata dengan ekspresi yang tiba-tiba menjadi serius bahkan sedikit tidak enak. Matanya menatap Nayra dengan rasa khawatir yang jelas terlihat.
"Tanya di sini aja mas, kami juga sudah saling terbuka kok. Tidak perlu rahasia lagi kan?"
Nayla berkata dengan nada yang santai, membuat Nayra dan Alam saling tatap dengan ekspresi yang sedikit canggung. Nayra merasa jantung nya berdebar kencang, tidak tahu apa yang akan ditanyakan oleh Alam.
"Ela, biar bagaimanapun kita juga harus menghargai privasi Nayra. Nayra itu sudah dewasa dan punya hak untuk memiliki rahasia sendiri jika dia mau."
Nagara menasehati saudari kembar nya dengan lembut, tangannya mengelus rambut Nayla dengan penuh kasih sayang. Ia sudah belajar bahwa setiap orang memiliki batasan yang harus dihormati, termasuk adik bungsu mereka sendiri.
"Terimakasih... karena akhirnya kalian sudah mau menyayangi Nayra dengan tulus."
Alam berkata dengan suara yang parau, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa leganya setelah bertahun-tahun melihat Nayra hidup dalam kesendirian dan penderitaan karena sikap keluarga nya sendiri. "Aku lega melihat Nayra akhirnya dihargai dan dicintai oleh kalian, sesuatu yang sudah seharusnya dia dapatkan dari awal."
Alam menutup mata sebentar, mencoba untuk menahan air mata yang ingin mengalir. Ingatan tentang masa lalu mulai muncul di benaknya, bagaimana Nayra yang masih kecil ditinggalkan oleh Lukas dan keempat anaknya saat mereka pergi liburan ke luar negeri, sementara Nayra hanya bisa ikut bi Surti liburan ke pulau Jawa untuk bertemu dengan Alam dan Awan yang saat itu baru beranjak remaja.
Ia masih ingat betul bagaimana wajah Nayra yang kecil penuh dengan harapan setiap kali mereka bertemu, bagaimana ia selalu membawa makanan khas yang dibuat oleh ibunya untuk dibagikan ke dirinya kakak nya dan teman-teman di kampungnya, dan bagaimana ia selalu ingin bermain bersama Alam dan Awan seperti saudara kandung. Padahal saat itu, Nayra sudah dianggap sebagai pembawa sial oleh keluarga nya sendiri, di tuduh sebagai pembunuh ibunya hanya karena ibunya meninggal saat melahirkan dia.
Padahal semua itu bukan kesalahan Nayra. Semua adalah takdir yang tidak bisa diubah. Tapi anehnya, Lukas Kennedy dan keempat anaknya justru memilih untuk menyalahkan seorang anak kecil yang tidak bersalah sama sekali, menjauhinya dan memperlakukannya seperti orang asing di dalam rumah sendiri.
"Mas... kenapa mas bengong? Tidak apa-apa mas, tanya saja ya. Ayok kita duduk dulu aja."
Nayra mendekati Alam dengan lembut, tangannya menyentuh lengan nya dengan penuh perhatian. Ia bisa merasakan bahwa Alam sedang berada dalam emosi yang kuat, dan ingin membantu nya merasa lebih baik. Alam mengangguk perlahan, mengusap matanya yang sudah berembun dengan air mata sebelum mengikuti Nayra untuk duduk bersama.