Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Flashback On
Nada dering ponsel Enzo memecah kesunyian ruang rawat yang hanya diterangi cahaya lampu temaram. Pria itu yang sebelumnya duduk bersandar di ranjang perlahan mengambil ponselnya dari meja kecil di samping tempat tidur. Tatapannya masih dingin, meskipun luka yang dibalut perban di tubuhnya belum benar-benar pulih.
“Bos, situasinya semakin gawat. Jendra dan anak buahnya mencoba menyerang markas kita,” ucap Joe dari sambungan telepon dengan nada tergesa. Suara bising di belakangnya terdengar samar, seperti keributan dan orang-orang yang sedang bersiap menghadapi sesuatu.
Mata Enzo langsung menyipit tajam. Sorotnya berubah gelap dalam sekejap.
“Sial… dia benar-benar memanfaatkan situasi,” umpat Enzo pelan namun sarat kemarahan. Rahangnya mengeras. Jendra rupanya tidak menunggu lebih lama. Pria itu jelas memanfaatkan kondisi Enzo yang sedang terluka dan dirawat di rumah sakit.
Beberapa detik Enzo terdiam, memikirkan situasi yang sedang terjadi. Otaknya bekerja cepat menyusun kemungkinan terburuk.
Jika markas mereka benar-benar diserang saat ini, maka orang-orangnya yang berjaga tidak akan cukup kuat menahan serangan dalam waktu lama.
“Tunggu aku di markas,” ucap Enzo akhirnya dengan suara tegas yang tidak memberi ruang untuk bantahan. “Aku akan kesana sekarang.”
“Bos, tapi kondisi anda—”
Belum sempat Joe menyelesaikan kalimatnya, Enzo sudah mematikan panggilan itu. Tidak ada waktu untuk berdebat. Tidak ada waktu untuk menunggu.
Enzo menurunkan ponselnya perlahan, lalu menatap perban yang membalut perutnya. Luka itu masih terasa berdenyut, namun rasa sakit itu sama sekali tidak mampu menahan langkahnya.
Dengan gerakan pelan namun pasti, Enzo menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Kakinya turun dari ranjang rumah sakit. Saat telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin, wajahnya sedikit menegang, tetapi dia tidak mengeluh sedikit pun.
Pria itu berdiri tegap.
Seolah dia bukan pasien yang baru saja lolos dari kematian.
Enzo berjalan menuju kursi di sudut ruangan tempat pakaiannya dilipat rapi. Satu per satu ia mengambil pakaian itu, lalu memakainya kembali. Kemeja hitam, jas, ia kenakan perlahan, menahan sedikit rasa nyeri ketika kain menyentuh luka di tubuhnya.
Namun raut wajahnya tetap datar.
Ia memasang kancing kemejanya dengan tenang, lalu mengenakan jaketnya. Setelah itu, Enzo mengambil jam tangannya dan memakainya di pergelangan tangan.
Kini penampilannya kembali seperti biasanya, rapi, dingin, dan berwibawa. Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria ini baru saja terbaring sebagai pasien beberapa jam lalu.
Enzo berjalan menuju pintu kamar rawat. Sebelum keluar, ia sempat berhenti sejenak. Matanya melirik ke arah ranjang tempat ia sebelumnya terbaring.
Bayangan wajah Evelyn sekilas terlintas di pikirannya, dokter yang menyelamatkan nyawanya. Namun hanya sebentar. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting.
Tanpa ragu lagi, Enzo membuka pintu kamar dan keluar ke lorong rumah sakit. Langkahnya tegap dan penuh keyakinan. Tidak ada tanda-tanda bahwa tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.
Beberapa dokter dan perawat yang berjalan di lorong bahkan tidak menyadari bahwa pria yang lewat di depan mereka adalah seorang pasien rawat inap.
Mereka hanya mengira Enzo adalah pengunjung atau seseorang yang sedang menuju keluar gedung.
Dengan tenang, Enzo berjalan melewati koridor panjang rumah sakit. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan langkahnya yang cepat namun terukur.
Sesekali ia menahan napas ketika luka di tubuhnya terasa kembali berdenyut, tetapi pria itu tidak memperlambat langkahnya.
Di dalam kepalanya memikirkan kemungkinan besar yang akan terjadi. Jika Jendra berani menyerang wilayahnya malam ini, maka pria itu harus siap menerima konsekuensinya.
Tatapan Enzo berubah semakin dingin.
Beberapa menit kemudian, ia sudah mencapai pintu keluar rumah sakit. Tanpa menoleh sedikit pun, Enzo melangkah keluar dari gedung itu.
Siang menyambutnya dengan udara yang panas.
Di parkiran rumah sakit, mobil hitam milik anak buahnya sudah menunggu, Joe rupanya benar-benar bergerak cepat mengatur semuanya.
Enzo membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Mesin mobil menyala tak lama kemudian, lalu kendaraan itu melaju meninggalkan halaman rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang pasien baru saja kabur dari rumah sakit.
Dan tidak ada yang tahu…
Bahwa malam ini, seseorang akan membayar mahal atas keberaniannya menantang Enzo Bucelli.
Flashback Off.
Evelyn masih berdiri di depan meja perawat ketika rekaman kamera pengawas diputar ulang di layar monitor. Cahaya dari layar itu memantul di wajahnya yang tampak lelah setelah berjaga hampir semalaman. Matanya menatap tajam setiap gerakan yang terekam di video tersebut.
Di layar terlihat sosok pria tinggi yang berjalan keluar dari ruang rawat dengan langkah tenang, mengenakan pakaian lengkap seolah dia bukan pasien yang baru saja menjalani perawatan serius.
Evelyn menghela napas panjang.
“Jadi dia sudah keluar?” tanya Evelyn sambil menatap layar monitor di hadapannya tanpa berkedip.
Salah satu perawat yang berdiri di sampingnya mengangguk pelan.
“Iya, dok,” jawabnya.
Di layar, pria itu pasien misterius yang semalam nyaris kehilangan nyawanya, terlihat berjalan melewati lorong rumah sakit dengan santai. Tidak ada tanda-tanda panik, tidak ada tanda-tanda orang yang sedang kabur.
Justru terlihat seperti seseorang yang memang berniat pergi sejak awal.
Perawat lain yang ikut menyaksikan rekaman itu mengernyitkan dahi. “Terus kita harus bagaimana, dok?” tanya salah satu dari mereka dengan ragu.
Evelyn akhirnya memalingkan wajahnya dari layar monitor. Dia menegakkan tubuhnya, lalu melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesal yang tidak ia sembunyikan sedikit pun.
“Biarkan saja,” ucapnya dingin.
Para perawat saling melirik.
Evelyn mendengus pelan, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Dia memang tidak waras.”
Bagaimana tidak? Pria itu datang ke rumah sakit dalam kondisi hampir sekarat, penuh luka, bahkan kehilangan cukup banyak darah. Mereka sudah bekerja keras menyelamatkan nyawanya sepanjang malam.
Dan tak lama setelah sadar… Pria itu malah kabur begitu saja. Tanpa izin dokter, tanpa proses administrasi. Tanpa memikirkan lukanya yang jelas belum pulih sepenuhnya.
Evelyn benar-benar tidak habis pikir.
Perawat di sampingnya terlihat masih gelisah. Ia menggigit bibirnya sejenak sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Tapi… dia belum membayar administrasi rumah sakit, dok.”
Ucapan itu membuat Evelyn terdiam beberapa detik. Alisnya perlahan bertaut.
“Belum bayar?” ulangnya dengan nada tidak percaya.
Perawat itu mengangguk cepat. “Iya, dok. Data administrasinya baru selesai di proses"
Evelyn menutup matanya sejenak. Kesabarannya benar-benar sedang diuji hari ini.
“Luar biasa,” gumamnya pelan dengan nada kesal. Dia mengusap keningnya sebentar, mencoba menahan emosi yang mulai naik.
Seorang pasien misterius masuk kedalam mobilnya dalam keadaan terluka parah, dan di rawat semalaman. Lalu kabur begitu saja tanpa kata-kata.
Dan sekarang tagihan rumah sakitnya juga menggantung.
Perawat-perawat yang berdiri di sana terlihat menunggu keputusan Evelyn. Sebagai dokter yang menangani langsung pasien itu, tanggung jawabnya kini secara tidak langsung ikut terseret.
Evelyn berdecak kesal. Dia menurunkan tangannya dari dada, lalu menghela napas panjang. “Biar aku yang bayar,” putusnya akhirnya.
Semua perawat langsung terkejut.
“Hah? Dokter yang bayar?” salah satu dari mereka refleks bertanya.
Evelyn memutar matanya jengkel. “Memangnya kalian punya solusi lain?” balasnya cepat.
Perawat-perawat itu langsung terdiam.
Evelyn mengambil tasnya yang tergeletak di meja, lalu memasukkan beberapa berkas ke dalamnya. Gerakannya sedikit kasar karena masih kesal.
“Anggap saja aku sedang apes hari ini,” lanjutnya sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
Salah satu perawat masih terlihat tidak enak hati. “Tapi dok… jumlahnya pasti tidak sedikit.”
Evelyn berhenti sejenak. Ia tahu itu. Biaya ruang rawat, obat-obatan, tindakan medis, ditambah penanganan darurat semalam, semuanya jelas bukan angka kecil.
Namun entah kenapa, Evelyn tidak tega membiarkan tagihan itu menjadi masalah bagi rumah sakit.
Lagipula…Dialah yang memutuskan membawa pria itu ke rumah sakit semalam tanpa banyak prosedur karena kondisinya kritis.
Evelyn menghela napas pelan.
“Sudahlah. Kalau suatu hari dia kembali dan mau mengganti, ya syukurlah. Kalau tidak…” dia mengangkat bahu santai. “Anggap saja aku sedang beramal.” lanjutnya.
Perawat-perawat di sana hanya bisa saling pandang.
Sementara itu Evelyn mengambil langkah menuju pintu ruangan. Namun sebelum benar-benar keluar, dia berhenti sejenak.
Bayangan wajah pria itu tiba-tiba muncul lagi di pikirannya. Tatapan matanya yang tajam. Sikapnya yang tenang meski tubuhnya penuh luka. Dan caranya pergi begitu saja tanpa penjelasan.
Evelyn mendengus pelan. “Pria aneh,” gumamnya kesal.
Lalu tanpa memikirkan hal itu lebih jauh, dia melangkah pergi menuju bagian administrasi rumah sakit untuk menyelesaikan tagihan seorang pasien misterius yang bahkan tidak ia ketahui asal usulnya.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐