Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Di Bawah Palu Hakim
Selasa pagi yang mendung seolah mewakili suasana hati Rey yang kelabu. Mengenakan setelan jas hitam yang biasanya membuatnya tampak gagah dan berwibawa, kini ia justru terlihat seperti pria yang sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Matanya cekung karena kurang tidur, dan tangannya dingin saat ia menggenggam map berisi dokumen-dokumen pernikahan yang dulu ia anggap sebagai beban, tapi kini ia pertahankan dengan putus asa.
Langkah kakinya menggema di koridor Pengadilan Agama yang kaku dan dingin. Bau kertas tua dan aroma pembersih lantai yang tajam menusuk hidungnya. Di ujung lorong, di depan pintu ruang sidang, Rey melihatnya.
Tania.
Wanita itu duduk dengan tegak di kursi tunggu kayu. Ia mengenakan setelan blazer berwarna putih gading yang membuatnya tampak bersinar, kontras dengan Rey yang serba hitam. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipulas riasan natural yang segar. Tidak ada lagi sisa-sisa tangisan atau kesedihan di wajahnya. Yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan.
Di samping Tania, duduk Adrian. Pria itu tidak menyentuh Tania, tapi keberadaannya di sana, hanya berjarak beberapa senti dari istrinya, membuat darah Rey mendidih. Adrian sedang membisikkan sesuatu yang membuat Tania tersenyum kecil—senyum yang bahkan tidak pernah Rey lihat dalam satu tahun terakhir.
"Tania," suara Rey parau saat ia berhenti di depan mereka.
Tania mendongak. Tidak ada kebencian di matanya. Hanya ada kehampaan. Dan bagi Rey, kehampaan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
"Halo, Rey," jawab Tania singkat.
"Tania, tolong... apa kita benar-benar harus melakukan ini? Kita masih bisa bicara di luar. Aku sudah usir Bianca. Rumah itu kosong tanpa kamu," ucap Rey dengan nada memohon yang sama sekali tidak ia tutupi di depan Adrian.
Tania menghela napas panjang, menatap Rey dengan pandangan kasihan. "Rumah itu memang selalu kosong, Rey. Bahkan saat aku masih ada di sana. Bedanya, dulu cuma hatiku yang kosong, sekarang raga ku juga sudah keluar dari sana."
"Pihak penggugat dan tergugat atas nama Tania Putri dan Reynald Pratama, silakan masuk ke Ruang Sidang 3." Suara petugas pengadilan memecah ketegangan itu.
Di dalam ruangan yang hening dengan langit-langit tinggi, suasana terasa begitu menyesakkan. Rey duduk di kursi tergugat, sementara Tania duduk di kursi penggugat. Hakim ketua, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, mulai membacakan identitas dan berkas gugatan.
"Saudara Tergugat, apakah saudara sudah membaca isi gugatan dari istri saudara?" tanya Hakim Ketua.
Rey menelan ludah dengan susah payah. "Sudah, Yang Mulia. Tapi saya menolak semua poin di sana. Saya tidak ingin bercerai. Saya masih mencintai istri saya."
Tania yang duduk di samping pengacaranya, memejamkan mata sejenak mendengar kata "cinta" keluar dari mulut Rey. Kata itu sekarang terdengar seperti penghinaan di telinganya.
"Saudara Penggugat, apakah ada tanggapan terhadap pernyataan suami Anda?"
Tania berdiri. Suaranya jernih dan stabil, tidak bergetar sedikit pun. "Yang Mulia, cinta bukan hanya soal kata-kata di depan sidang. Gugatan saya bukan hanya soal perselingkuhan emosional yang dilakukan suami saya dengan wanita bernama Bianca, tapi soal pengabaian yang berkelanjutan."
Pengacara Tania kemudian menyerahkan sebuah berkas tebal ke hadapan hakim. "Yang Mulia, ini adalah bukti rekam medis klien kami. Selama dua tahun terakhir, klien kami menderita gangguan kecemasan dan insomnia akut akibat tekanan batin di dalam rumah tangga. Ada juga rekaman CCTV dari rumah mereka yang menunjukkan bagaimana Saudara Tergugat sering pulang dini hari dalam keadaan mabuk atau mengabaikan keberadaan istrinya berhari-hari."
Rey tertegun. Ia tidak menyangka Tania menyimpan semua itu. Ia tidak pernah tahu Tania harus pergi ke psikiater hanya untuk bisa tidur di malam hari.
"Aku tidak tahu kamu sesakit itu, Tan..." gumam Rey tanpa sadar.
"Itu masalahnya, Rey," sahut Tania, menoleh ke arahnya dengan air mata yang mulai menggenang tapi tidak jatuh. "Kamu tidak pernah tahu karena kamu tidak pernah mau tahu. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri, dengan masa lalumu, sampai kamu lupa kalau istrimu sedang sekarat di sebelahmu."
Sidang pun berlanjut dengan agenda mediasi yang gagal total. Rey mencoba memberikan pembelaan, ia menceritakan bagaimana ia sudah berusaha memberikan materi yang cukup, rumah yang mewah, dan fasilitas tanpa batas.
Hakim Ketua mengetukkan palunya sekali, menghentikan bicara Rey. "Saudara Tergugat, pernikahan bukan soal penyediaan logistik semata. Hak seorang istri adalah mendapatkan kasih sayang dan ketenangan lahir batin. Jika saudara menyediakan rumah mewah tapi menjadikannya penjara emosional bagi istri saudara, maka saudara telah gagal dalam memenuhi kewajiban saudara."
Kalimat hakim itu seperti petir yang menyambar Rey. Rey terduduk lemas di kursinya.
"Yang Mulia," lanjut Tania dengan nada yang lebih lirih tapi juga menusuk. "Saya tidak menuntut harta sepeser pun. Saya tidak butuh rumah itu, saya tidak butuh mobil itu. Saya hanya ingin nama saya dihapus dari dokumen pernikahannya. Saya ingin kembali menjadi diri saya sendiri, sebelum saya kehilangan seluruh jiwa saya karena mencintai pria yang tidak pernah melihat saya."
Rey menatap punggung Tania yang bergetar. Ia ingin berlari, memeluknya, dan menjanjikan dunia. Tapi ia sadar, kehadirannya justru adalah racun bagi Tania.
Setelah dua jam persidangan yang melelahkan, sidang ditunda untuk pembuktian lebih lanjut minggu depan. Saat mereka keluar dari ruang sidang, suasana koridor terasa lebih berat dari sebelumnya.
Rey mencegat Tania di dekat pintu keluar. Adrian sudah menunggu di mobil, memberi ruang bagi mereka untuk bicara terakhir kali.
"Tania, beri aku satu kesempatan lagi. Satu bulan. Tolong, aku akan berubah. Aku akan ikut konseling, aku akan lakukan apa pun yang kamu mau," ucap Rey, suaranya pecah. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang CEO.
Tania menatap Rey lama. Ia melihat air mata di mata suaminya, air mata yang dulu sangat ingin ia lihat sebagai tanda penyesalan, tapi sekarang air mata itu hanya terasa seperti pengingat akan waktu yang sudah habis.
"Rey, kamu ingat lagu yang sering aku putar di mobil?" tanya Tania pelan.
Rey mengangguk cepat. "Iya, aku ingat. Aku dengar sekarang, setiap hari di rumah."
"Liriknya bilang, sampai hilang baru kau mengerti artinya menghargai," Tania tersenyum getir. "Kamu mengerti sekarang bukan karena kamu cinta aku, Rey. Kamu mengerti karena kamu kesepian. Kamu kehilangan pelayan setiamu, kamu kehilangan orang yang selalu membersihkan kekacauanmu. Itu bukan cinta. Itu ketergantungan."
"Nggak, Tan! Aku beneran sayang sama kamu!"
"Kalau kamu sayang aku, lepaskan aku," bisik Tania. "Biarin aku bahagia, meski bukan sama kamu. Itu adalah bentuk cinta terakhir yang bisa kamu kasih buat aku."
Tania berbalik dan berjalan menuju parkiran. Ia masuk ke dalam mobil Adrian. Dari dalam mobil, ia melihat Rey berdiri di depan gedung pengadilan yang kaku itu, tampak sangat kecil dan tak berdaya.
Adrian meraih tangan Tania, meremasnya lembut. "Kamu hebat hari ini, Tan."
Tania menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, menutup matanya. Untuk pertama kalinya, rasa sesak di dadanya berkurang drastis. Ia tahu perjalanan hukumnya belum selesai, tapi di dalam hatinya, ia sudah benar-benar bercerai dari masa lalunya yang kelam.
Sementara itu, Rey masih berdiri di tempat yang sama sampai hujan mulai turun membasahi setelan jas mahalnya. Ia membiarkan dirinya basah kuyup, menatap aspal yang kini beruap.
Ia baru saja kehilangan segalanya. Bukan hartanya, bukan jabatannya, tapi satu-satunya hati yang pernah tulus mencintainya tanpa syarat. Dan ironisnya, ia baru menyadari betapa berharganya hati itu justru saat palu hakim sudah hampir diketukkan untuk memisahkan mereka selamanya.