seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Siang itu, matahari bersinar cerah namun tak terasa menyengat berkat rimbunnya pepohonan di taman belakang Mansion Maheswara. Alan memutuskan untuk tidak masuk kantor. Baginya, melihat Dinda yang kini mulai terbiasa dengan rumah lamanya jauh lebih penting daripada tumpukan dokumen di Ryuga Corp.
Dari balkon lantai dua, Alan memperhatikan Dinda yang sedang menyiram tanaman anggrek kesayangan mendiang ibunya. Dika ada di sana, membantu mengangkat ember air, sesekali mereka berbincang pelan. Pemandangan itu hangat, namun Alan tahu kehadirannya akan merusak suasana.
Saat Alan melangkah turun dan menghampiri mereka, firasatnya terbukti. Dika langsung meletakkan embernya dengan kasar, menatap Alan dengan tatapan yang masih sedingin es.
"Aku masuk dulu, Kak. Gerah," ketus Dika tanpa melirik Alan sedikit pun. Ia melenggang pergi, meninggalkan kakak iparnya yang hanya bisa menghela napas panjang.
Alan mendekati Dinda, mengambil alih selang air dari tangannya dan mematikannya. "Duduklah sebentar, Mas ingin bicara serius soal pekerjaan."
Dinda menurut, ia duduk di bangku taman berwarna putih itu. Alan menatapnya dalam. "Soal Maheswara Group. Dika akan kuliah dan belajar memantau, tapi dia masih terlalu muda untuk memegang tanggung jawab penuh. Mas ingin kau yang menggantikannya mengurus operasional harian. Kau yang akan menjadi perpanjangan tanganku di sana. Apakah kau mau?"
Dinda tersentak, ia meremas jemarinya yang masih basah. "Mas... saya ini hanya lulusan SMA. Saya tidak punya gelar sarjana seperti orang-orang di kantor itu. Saya merasa tidak pantas memimpin perusahaan Ayah. Saya takut malah menghancurkannya."
Alan meraih tangan Dinda, menggenggamnya erat. "Pendidikan bisa dikejar, Dinda. Tapi kejujuran dan rasa memiliki terhadap perusahaan ini hanya kau yang punya. Mas sendiri yang akan mengajarimu setiap malam. Kita akan pindah ke kantor Maheswara setelah wisuda Dika. Kau setuju?"
Melihat keyakinan di mata Alan, Dinda akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Mas. Saya akan mencoba. Demi Ayah."
Keheningan yang manis merayap di antara mereka. Angin sepoi-sepoi memainkan anak rambut Dinda yang terlepas. Alan terpaku melihat betapa cantiknya istrinya di bawah cahaya matahari siang itu. Wajah yang dulu selalu nampak ketakutan, kini mulai memancarkan ketenangan.
Tanpa sadar, jarak di antara mereka terkikis. Alan mencondongkan tubuhnya, menatap bibir ranum Dinda yang sedikit terbuka. Ia tak bisa menahan diri lagi. Alan memiringkan kepalanya dan mulai melumat bibir Dinda dengan lembut namun penuh kerinduan.
"M-mas... jangan di sini," bisik Dinda di sela ciuman mereka, tangannya mencoba mendorong bahu Alan dengan lemah. "Banyak ART... satpam... mereka bisa lihat."
"Biarkan saja," gumam Alan parau, suaranya berat karena gairah. "Kau istriku yang sah. Tidak ada yang berani melarangku mencium istriku sendiri di rumahku."
Alan kembali melumat bibir Dinda, kali ini lebih dalam dan menuntut. Dinda yang awalnya tegang, perlahan mulai luluh. Lenguhan kecil yang merdu keluar dari bibirnya saat ia mulai membalas sentuhan Alan. Tangan Dinda yang gemetar kini merambat naik ke leher Alan, menarik pria itu semakin dekat.
Namun, momen intim itu pecah seketika oleh suara dehaman yang sangat keras dan dingin.
"Ehem!"
Sontak Dinda mendorong Alan hingga tautan mereka terlepas. Wajah Dinda merah padam karena malu, sementara Alan menoleh dengan tatapan kesal yang tak disembunyikan.
Dika berdiri di sana, bersandar di pilar teras dengan tangan bersedekap. Matanya menatap mereka dengan kemuakan yang nyata. Tidak ada rasa canggung di wajah remaja itu, yang ada hanya otoritas seorang adik yang merasa wilayahnya diganggu.
"Kak Dinda, ikut aku sekarang," ucap Dika dengan nada memerintah yang dingin. "Ada barang-barang Dita yang perlu Kakak lihat di kamar. Sekarang."
Dika sama sekali tidak menganggap keberadaan Alan. Ia hanya menatap kakaknya, menunggu Dinda bangkit dan meninggalkan suaminya di taman itu sendirian.
Dinda berdiri dengan kikuk, merapikan bajunya yang sedikit kusut. "Mas... saya permisi dulu. Dika memanggil."
Alan hanya bisa mengepalkan tangan, menatap punggung Dinda yang berjalan menjauh mengikuti adiknya. Ia sadar, meski ia sudah memiliki raga Dinda secara sah, hati dan perlindungan Dika adalah benteng terakhir yang masih sangat sulit ia tembus.
**
Dika menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya dengan gerakan cepat seolah ingin memutus segala akses bagi Alan untuk masuk ke ruang pribadi mereka. Begitu berbalik, ia langsung merengkuh Dinda dalam pelukan erat—pelukan seorang adik yang merasa dunianya sedang terancam.
"Kak, katakan sejujurnya padaku," bisik Dika, suaranya parau dan bergetar di bahu Dinda. "Apakah Kakak tertekan dengan semua ini? Apa pria itu memaksamu?"
Dinda terdiam, tangannya mengusap punggung Dika yang masih nampak tegang.
"Kalau Kakak merasa tersiksa hidup di sini, di bawah bayang-bayang Ryuga, ayo kita pergi sekarang," lanjut Dika, ia melepaskan pelukannya dan menatap mata Dinda dengan sorot putus asa. "Kita kembalikan kunci rumah ini, kita tinggalkan perusahaan itu. Kita kembali hidup sederhana seperti dulu di kontrakan. Aku akan kerja apa saja, Kak. Aku bisa jadi kuli, jadi tukang parkir, asal Kakak tidak harus menjual diri dan senyummu pada bajingan itu!"
Seketika, Dinda menepis tangan Dika dengan lembut namun tegas. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dika. Jangan bicara seperti itu lagi."
"Kenapa, Kak? Kenapa Kakak berubah?!"
"Karena Maheswara Group sudah kembali ke tangan kita!" suara Dinda sedikit meninggi, matanya berkilat penuh tekad yang dipaksakan. "Jika kita menyerah sekarang, maka pengorbanan Ayah, Ibu, bahkan kepergian Dita akan sia-sia. Kita akan kehilangan semuanya untuk kedua kalinya. Kakak tidak tertekan, Dika. Kakak merasa jauh lebih baik sekarang... memiliki rumah ini kembali, melihatmu punya masa depan."
Dinda memaksakan sebuah senyum, padahal di dalam hatinya, luka itu masih menganga. Setiap kali Alan menyentuhnya, memorinya terlempar kembali ke malam kelam di apartemen itu—saat ia menangis memohon namun tak didengar. Rasa takut itu masih ada, dingin dan tajam, namun ia membungkusnya rapat-rapat agar Dika tidak bisa melihatnya.
"Kakak bohong," desis Dika, matanya menyipit curiga.
"Kakak tidak bohong. Kakak hanya ingin kamu dewasa," sahut Dinda cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Dika, Mas Alan baru saja bicara padaku. Dia ingin aku mulai bekerja di kantor Maheswara Group. Dia ingin aku mengawasi operasional di sana karena kamu harus fokus kuliah."
Dika tertegun, amarahnya sedikit mereda digantikan oleh rasa terkejut. "Kakak mau kerja di sana? Tapi Kakak kan..."
"Iya, Kakak tahu Kakak hanya lulusan SMA. Tapi Mas Alan berjanji akan mengajari Kakak secara pribadi. Dia ingin kita benar-benar siap saat tiba waktunya kamu mengambil alih secara penuh," Dinda memegang kedua bahu adiknya. "Dika, tolong terima ini. Belajarlah yang serius. Jangan biarkan kebencianmu menghalangi kecerdasanmu. Semakin cepat kamu pintar, semakin cepat kamu bisa memimpin perusahaan, dan semakin cepat pula kita bisa mandiri tanpa bantuan siapa pun."
Dika menunduk, menatap lantai marmer kamar itu. Ia sadar, kakaknya sedang menaruh beban berat di pundaknya sendiri agar Dika bisa melangkah maju.
"Jadi Kakak mau jadi tamengku di kantor itu?" tanya Dika lirih.
"Kakak akan jadi rekanmu. Kita akan bangkitkan lagi apa yang sudah dihancurkan orang-orang sepuluh tahun lalu," bisik Dinda. "Janji pada Kakak, Sabtu besok saat wisuda, kamu harus datang dengan bangga. Tunjukkan pada dunia, terutama pada keluarga Ryuga, bahwa putra Mahesa tidak pernah kalah."
Dika terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Kak. Aku akan datang. Aku akan kuliah. Tapi aku tetap akan mengawasi pria itu. Kalau dia berani membuatmu menangis lagi, aku tidak akan peduli pada perusahaan atau rumah ini. Aku akan menghancurkan semuanya bersama dia."
Dinda hanya bisa menghela napas lega, meski ia tahu, badai yang sesungguhnya mungkin baru saja akan dimulai saat ia menginjakkan kaki di kantor peninggalan ayahnya esok hari.
***
Bersambung...