Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Kepedesan
Di Sapporo
Rio berjalan bersisian dengan Aruna. Tempat pertama yang mereka tuju setelah berada di Sapporo adalah tempat jajanan. Karena belum siang dan masih boleh dikatakan pagi sekitar pukul sembilan waktu setempat, maka mereka pun hanya mencari tempat untuk minum kopi dan jajanan ringan sekedar teman kopi saja.
Masuk pesan dari kakek Brata.
(Sudah menghubungi istrimu, Rio)
Tanpa mikir lagi segera tangannya mengetik balasan.
(Sudah, Kek)
Tiba-tiba teringat balasan pesan dari Rayi.
(Hai laki yang ngakunya dewasa, percuma kaya, sia-sia jabatan CEO, apalagi pewaris, huh masih mending aku biar bocah tapi tahu diri. Jangan kepedean aku terlalu sibuk untuk menghasut orang.)
Kenapa dia kirim pesan begitu. Kayaknya dia marah. Bocil itu ngata-ngatain aku.
Aruna menatap Rio yang tampak terdiam."Rio ayo kita minum kopi dulu," ujarnya memecah sunyi.
Di Jakarta
Rayi dan Yuni berjalan menuju kantin. Mereka memesan soto serta air mineral, kemudian berjalan menuju ke kursi.
"Hai cewek ..." sapa Didit yang sebenarnya diam-diam melihat Rayi yang menggandeng Yuni menuju ke kantin. Makanya langsung mengikuti dari belakang.
"Hai Dit, mau makan juga?" Rayi dan Yuni masing-masing menarik kursi lalu duduk.
"Ya dong masa mau balapan kuda ..." Didit tertawa, "Oh ya kalian nggak lagi nunggui kawan lain, kan?"
Rayi saling pandang dengan Yuni."Nggak, kok ..." geleng Rayi.
"Kalau begitu boleh dong aku gabung ..."
"Oh boleh gratis ..." Rayi tersenyum.
Didit pun tertawa kecil, "Ah senyum Rayi ini sangat menggoda hatiku," bisik hatinya.
Dua soto dan dua botol air mineral sudah sampai di meja Rayi dan Yuni, tentu saja kini menjadi bagian meja Didit juga.
"Sotonya, Mbak ..." seru pelayan ramah.
"Oke terima kasih, ya," ujar Rayi.
"Sama-sama, Mbak," sahut si pelayan.
"Mbak aku sekalian boleh pesan soto yang sama dengan mereka," ujar Didit.
"Boleh, Mas, minumnya apa?" Pelayan itu berdiri menunggu.
"Samain saja," kemudian Didit mengeluarkan satu lembar ratusan ribu, "Mbak minta tolong sekalian bayarannya, ya," diberikannya uang ratusan satu lembar pada si pelayan. Di kantin peraturannya pesan dan bayar dulu baru pesanan diantar.
"Baik, Mas,"
"Tunggu, Mbak," ujar Didit membuat si pelayan yang siap melangkah jadi menahan kakinya.
"Kalian nggak pesan apalagi gitu?" Didit menatap pada Rayi.
Rayi menggeleng,"Cukup ini saja,"
Lalu Didit memandang Yuni.
"Cukup soto ini saja," jawab Yuni yang mengerti jika pandangan mata Didit untuk menanyakan apakah dirinya mau tambah atau mau pesan yang lainnya.
"Ya cukup soto saja satu dan air mineral," ujar Didit pada si pelayan.
"Baik ditunggu ya, Mas," angguk di pelayan segera berlalu.
"Wah kita makan duluan, nih ..." seru Yuni memandang Didit.
"Oh ya silahkan duluan ajah mumpung masih panas segar ..." ujar Didit.
"Oh ya kamu ini dulu, deh ..." Rayi mengulurkan botol yang berisi air mineral pada Didit.
"Oke terima kasih cantik ..." kerling Didit menerima botol mineral sambil mengerling pada Rayi.
Saat itulah masuk Lala dan kebetulan melihat adegan Didit menerima botol mineral dari Rayi. Seketika hatinya panas dadanya berdebar dan niatnya untuk makan sudah tak berselera, tapi tak langsung meninggalkan kantin, justru melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di kursi yang tak jauh dari tempat Didit dan Rayi.
Sepanjang Rayi, Yuni dan Didit menikmati sotonya, sepanjang itu juga mata Lala tak lepas dari interaksi mereka, terutama pada Didit yang begitu perhatian pada Rayi.
"Wah Rayi wajahmu lucu kalau kepedesan kayak kepiting direbus ..." ujar Didit.
Rayi yang memang sedang merasakan pedas di mulutnya hanya tersipu.
Didit berdiri meninggalkan kursinya menuju ke pemesanan makanan. Tak lama kemudian mendatangi meja dengan membawa segelas air putih di tangannya.
"Kalau kepedesan cobalah air sedikit panas ini supaya rasa pedas itu cepat hilang, sekalian biar di lambung agak enakan dikit," diulurkannya gelas berisi air setengah panas pada Rayi.
"Ya benar itu," angguk Yuni.
"Wah udah kepedesan diserang air panas ..." ujar Rayi agak keberatan.
"Tapi memang ini lawannya rasa pedasmu, memang nanti campuran pedas dan panas, tapi ini lebih efektif untuk sedikit mengurangi rasa pedas kita ..." bujuk Didit mendekatkan gelas ke tangan Rayi.
"Hem kayaknya Didit perhatian banget apa hubungan mereka, ya ..." batin Lala dengan dada semakin berdebar saat melihat tangan Rayi menerima gelas dari tangan Didit, tapi Didit masih tak melepaskan tangannya dari gelas yang kini sudah dipegang Rayi. Hal itu semakin membuat Lala cemburu.
"Agak panas biar kubantu pegang ..." ujar Didit.
Rayi yang merasakan hawa panas di tangannya tak menolak. Otomatis tangannya dan tangan Didit yang memegang satu gelas tertuju ke mulutnya.
"Panas banget nggak, sih?" Rayi menahan tangannya yang memegang gelas di deoan bibirnya.
Didit tersenyum menatap Rayi, "Panas banget nggak, tapi sedikit panaslah, ayo ..." ujarnya dengan telaten membujuk Rayi.
Rayi pun walau agak cemas khawatir gelas yang terasa agak panas di tangannya itu berisi memang berisi air panas, bisa terbakar dong mulutnya.
"Tahan dikit ya," bujuk Didit sambil mendorong gelas ke bibir Rayi.
Rayi pun setengah terpejam mulai meneguk air pada gelas yang menempel di bibirnya.
Agak terkejut saat merasakan.air yang terasa setengah panas menyentuh lidahnya yang terasa pedas. Ada sensasi sedikit menyiksa memang, tapi segera dia menelan di mulutnya. Kedua matanya sedikit mengembun.
"Huwa ..." Rayi membuka mulutnya dan beberapa kali mengambil napas dan langsung menghembuskannya lagi. Caranya itu membuat Didit menahan senyum.
"Nah sekali lagi tapi tahan layaknya kita berkumur-kumur ..." ujar Didit seakan membujuk anak kecil.
Rayi menurut.Kembali meneguk air dari gelas. Mulutnya kembali diserang air setengah panas, membuat perpaduan panas dan pedas seperti tadi menyerang seputar mulutnya.
"Tahan ..." ujar Didit menatap Rayi menahan senyum melihat kedua pipi gadis itu agak melembung lucu.
Yuni pun senyum-senyum melihat Rayi uang tampaknya sangat tersiksa menahan air setengah panas itu di dalam mulutnya.
"Aduh nggak kuat serangan di mulut ..." seru Rayi sesaat setelah menelan air di mulutnya, habis kalau tak ditelan pasti Didit kena sembur.
Yuni tertawa, "Aku selalu begitu kalau kepedesan, tapi cepat hilang pedesnya,"
"Wah panas mulutku tadi," seru Rayi reflek tangannya melepas gelas yang masih dipegang Didit.
"Nah mungkin airnya sudah nggak sepanas tadi, cobalah sekali lagi sebagai penutup," bujuk Didit.
Rayi mengambil gelas dari tangan Didit, "Udah aku ajah," serunya menarik gelas dari tangan Didit.
"Satu kali teguk," ya nggak sepanas tadi," ujarnya setelah menelan menelan air yang tak sepanas sebelumnya. Lalu mengulang sekali lagi, kemudian meletakkan gelas yang isinya sisa separuh ke meja.
Sebenarnya Lala ingin tertawa melihat bagaimana Rayi menahan pedas di mulutnya dan kelabakan diserang air setengah panas. Tapi ada perasaan lain yang mengalahkannya. Rasa apa lagi kalau bukan rasa cemburu melihat Didit yang over perhatian pada gadis itu.
"Pasti mereka ada apa-apanya, hem pantas Didit cuek padaku, bahkan menghindar!"
Hai Lala kamu yang salah telah mengkhianatinya, kenapa kamu yang merasa tersakiti?
Ada suara bergema di dirinya yang mengingatkan siapa yang telah terlebih dulu berulah.
Tapi Lala tak perduli menurutnya hubungannya dengan Hendi tanpa dasar cinta, tapi hanya mengikuti arahan orang tuanya. Demi kerjasama orang tua masing-masing.
"Bagaimana?" Didit tersenyum.
"Ya lumayan pedesnya sedikit menghilang .." ujar Rayi yang terlalu banyak memasukkan sambel cabe pada mangkok sotonya.
"Kamu nggak suka pedes?"
"Suka, cuma kali ini pedesnya kebangetan ..." keluh Rayi tersenyum.
Saat mereka bertiga meninggalkan kantin, tentu saja Lala mengikutinya diam-diam dan karena banyak mahasiswa serta mahasiswi yang mondar mandir membuat tingkahnya yang seperti orang tengah mengintai tak begitu ketara.
Begitu juga dengan Didit tak menyadari jika Lala yang masih ingin menjadi pacarnya itu terus mengikutinya.
"Sori aku ada keperluan ..." tanpa menunggu segera Yuni meninggalkan Didit dan Rayi.
"Kita duduk di sana yuk," ajak Didit menunjuk sebuah bangku yang dijawab anggukan kepala oleh Rayi.
Mereka duduk bersisian. Jika Rayi bersikap biasa saja, tapi tampaknya Didit tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Pemuda itu tatapannya tak lepas dari Rayi.
Lala yang mengawasi diam-diam mengambil foto mereka.
suka banget alurnya