NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Pengakuan Tak Terduga Jordan

Nana terlihat mengecil di balik selimut. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Tangannya gemetar, berusaha menopang tubuhnya yang setengah bangkit.

“Bu… tolong,” suara Nana lirih, nyaris tak terdengar. “Saya nggak pernah bermaksud—”

“Diam!” bentak wanita itu. “Jangan pura-pura jadi korban! Kamu tahu Dimas anak seperti apa. Masa depannya cerah. Keluarganya terhormat. Dan kamu datang—dengan kondisi seperti ini—lalu merasa pantas?”

Jordan mengepalkan tangan.

Ia melangkah maju. “Bu.”

Suara itu cukup tegas untuk membuat beberapa kepala menoleh. Wanita itu menoleh perlahan, tatapannya tajam dan penuh tantangan.

“Saya dokter yang menangani pasien ini,” lanjut Jordan, menjaga nadanya tetap profesional meski darahnya mendidih. “Saya minta Ibu keluar!"

Wanita itu mendengus. “Oh, jadi kamu dokternya?” Ia menatap Jordan dari ujung kepala sampai kaki. “Bagus. Sekalian saja kamu jelaskan ke pasienmu ini, bahwa dia nggak pantas berada di hidup anak saya.”

“Bu,” Jordan melangkah lebih dekat, berdiri di antara wanita itu dan ranjang Nana. “Perkataan Ibu barusan melukai kondisi mental pasien. Saya tidak akan tinggal diam."

Nana menunduk. Air matanya jatuh satu-satu ke seprai. Ia tidak menangis tersedu—hanya diam, seperti seseorang yang sudah terlalu sering disakiti sampai tak tahu lagi bagaimana cara melawan.

“Melukai?” wanita itu tertawa sinis. “Dia yang melukai keluarga kami. Anak saya berubah sejak mengenal dia. Membangkang. Melawan. Bahkan berani menikahi perempuan yang jelas-jelas—”

“Cukup!” suara Jordan meninggi tanpa bisa dicegah.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Jordan menarik napas, menurunkan kembali nadanya. “Ibu tidak berhak menentukan nilai seseorang berdasarkan kondisinya. Dan Ibu sama sekali tidak berhak memaki pasien saya.”

Wanita itu menatapnya dengan mata menyala. “Kamu membelanya?”

"Ya, saya membelanya karena saya mencintai Nana!"

Mata Bu Clara menyipit.

Sesaat—hanya sesaat—raut terkejut melintas di wajahnya. Namun itu cepat tergantikan oleh senyum miring yang dingin, senyum orang yang merasa sedang memegang kendali.

“Oh?” katanya pelan, nyaris mengejek. Tatapannya beralih ke Nana, menelusuri tubuh lemah yang terbaring di ranjang rumah sakit. “Hm, jadi kamu sudah punya pengganti Dimas? Baguslah, ini memudahkan Dimas untuk melupakan wanita tidak berguna sepertimu!"

Nana mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, basah, tapi tatapannya kosong—seperti sudah terlalu lelah untuk bereaksi.

Disaat Nana hancur, ini adalah kesempatan Bu Clara mendekat satu langkah, cukup dekat hingga Nana bisa mencium aroma parfum mahal yang menusuk hidungnya.

“Dengar baik-baik,” katanya dingin. “Ini peringatan. Jangan pernah—aku ulangi—jangan pernah menghubungi Dimas lagi. Jangan cari dia. Jangan kirim pesan. Jangan muncul di hidupnya.”

Nana menelan ludah. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang menekan dari dalam.

“Karena sebentar lagi,” lanjut Bu Clara dengan senyum tipis penuh kemenangan, “Dimas akan menikah dengan anak orang kaya. Wanita yang jelas-jelas berdiri jauh lebih tinggi dari kamu. Dari segi keluarga, status, masa depan—semuanya.” Senyum itu melebar. Kejam.

“Anakku dan kamu,” katanya sambil menunjuk Nana, “bahkan tidak pernah cocok sejak awal.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan.

Nana akhirnya menangis. Bukan isak keras, tapi air mata yang jatuh deras tanpa suara. Bahunya bergetar, tubuhnya meringkuk semakin kecil di balik selimut, seolah ingin menghilang dari dunia yang terasa terlalu kejam.

Bu Clara menatap pemandangan itu dengan puas, lalu berbalik ke arah Jordan. “Terima kasih sudah memperjelas posisi kalian,” ujarnya dingin. “Sekarang saya tahu semuanya.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar ruangan dengan langkah mantap.

Sepatu hak tingginya berdetak di lorong, meninggalkan kesunyian yang menyakitkan.

Pintu menutup.

Jordan berdiri kaku di tempatnya.

Dadanya naik turun. Kata-katanya barusan—yang meluncur tanpa rencana, tanpa logika—baru benar-benar terasa berat sekarang. Ia menoleh ke arah Nana, melihat bahu kecil itu terguncang oleh tangis yang tertahan.

Rasa bersalah menghantamnya telak.

Ia ingin bicara. Ingin menjelaskan. Ingin meminta maaf karena telah menyeret Nana ke situasi yang lebih rumit.

Tapi ia menahan diri. Ia tahu—sekarang bukan waktunya. Nana butuh ruang. Butuh napas.

Jordan hanya berdiri, menunggu. Menjadi saksi dalam diam.

Beberapa detik berlalu. Atau menit. Waktu terasa tidak bergerak.

Lalu perlahan, Nana mengusap wajahnya sendiri. Tangannya gemetar, tapi ia memaksa dirinya tenang. Ia menarik napas dalam, sekali… dua kali… sampai isaknya mereda.

Ia mengangkat wajahnya.

Matanya masih basah, tapi ada sesuatu yang berubah di sana. Bukan lagi kehancuran murni—melainkan kelelahan yang pasrah.

“Dok,” suaranya serak.

Jordan tersentak. “Nana… aku—”

“Terima kasih.”

Satu kalimat itu membuat Jordan terdiam.

“Apa?” alisnya berkerut. “Nana, aku minta maaf. Aku tidak seharusnya mengatakan itu. Aku cuma—”

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!