NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Rumah itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya pagi itu. Arga sudah berangkat sejak pukul tujuh, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang masih menggantung tipis di udara ruang tamu. 

Samira duduk di kursi dekat jendela, dengan punggung yang tegak, tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Ia tidak memegang tongkat. Tidak berpura-pura meraba. Tidak menunduk seperti biasanya.

Larissa menyadarinya dari dapur. Ia berhenti mencuci piring ketika melihat Samira berdiri dan berjalan menuju ruang tengah dengan langkah pasti. Tanpa keraguan, ataupun salah arah seperti yang biasa dilakukannya.

Jantung Larissa berdegup kencang kala menyadari satu hal yang diingatnya dengan jelas. 

“Larissa,” panggil Samira datar. “Kemarilah. Aku ingin bicara denganmu berdua saja,” katanya dengan nada memerintah. 

Larissa mengeringkan tangannya dengan serbet, lalu melangkah pelan, dan duduk berhadapan dengan Samira. Tenggorokannya terasa kering sementara kepalanya memikirkan hal yang hendak dibicarakan Samira dengannya. 

“A-ada apa, Bu? A-apakah Anda membutuhkan sesuatu?” tanyanya dengan gugup namun tetap berusaha terdengar biasa.

Samira tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Larissa selama beberapa saat. Tatapannya lurus, tajam, dan sepenuhnya sadar.

Larissa membeku di tempatnya sambil memainkan jemarinya sesekali. Untuk pertama kalinya ia merasa takut saat menghadapi Samira. 

“Ke-kenapa Ibu menatap saya seperti itu?” tanyanya lagi dengan suara bergetar lantaran Samira hanya terus menatapnya alih-alih membuka suara. 

Samira tersenyum tipis. “Karena untuk pertama kalinya … aku ingin kau tahu bahwa aku melihatmu.”

Larissa menelan ludah. “Ma-maksud Ibu?”

Samira berdiri. Ia melangkah ke arah Larissa, kemudian berhenti tepat satu langkah di depannya. Tatapannya tertuju langsung pada perempuan itu. 

“Aku sudah bisa melihat lagi, Larissa.” Samira tersenyum tipis saat mendapati raut keterkejutan dari Larissa. 

Kalimat itu jatuh seperti palu yang menghantam kepala Larissa dengan keras. Untuk beberapa detik, ia tertegun, berusaha mencerna kalimat Samira dengan baik. 

Larissa berdiri secara refleks saat akhirnya berhasil menyadari kenyataannya. Langkah kakinya sampai bergeser kasar ke belakang. “Tidak … tidak mungkin. I-ini pasti hanya kebohongan, bukan? Se-sejak kapan … sejak kapan kau bisa … tidak. Tidak mungkin.”

Samira mengangkat tangannya, lalu menunjuk tepat ke arah wajah Larissa. “Kau punya tahi lalat kecil di bawah mata kiri. Rambutmu mulai rontok di bagian pelipis karena stres. Dan sejak tadi kau memegang ujung bajumu setiap kali kau gugup.”

Larissa terhuyung mundur. “I-itu tidak mungkin,” gumamnya. “Dokter bilang—”

“Dokterku tidak pernah bilang aku tidak bisa sembuh,” potong Samira dingin. “Hanya Arga yang mengatakan itu padaku. Dan kau … memilih percaya padanya.”

Larissa tertawa kecil, tawa yang terdengar histeris. “Ini tidak lucu, Bu Samira. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Jadi, kau sudah membohongi kami?”

Samira mencondongkan tubuhnya, tatapannya menyorot Larissa tajam. “Aku? Keterlaluan? Aku membohongi kalian? Justru kalian-lah yang selama ini sudah membohongiku selama 4 tahun terakhir. Kalian yang selama ini sudah keterlaluan kepadaku.”

Larissa terdiam, lisannya mendadak kelu untuk menyangkal. ”Ja-jadi … itu artinya. Kau .. kau tahu—” 

“Ya, kenapa? Kau pada akhirnya takut?” tanya Samira, tersenyum penuh arti.

“Aku … aku harus memberitahu Arga,” kata Larissa akhirnya, suaranya meninggi karena panik. “Aku akan bilang semuanya. Bahwa kau sudah berbohong. Bahwa kau—”

“Kau yakin?” Samira memotong dengan tenang. Ia berjalan semakin mendekat ke arah Larissa, mempersempit jarak diantara mereka. 

Kemudian, Samira mengambil map tipis dari meja dan melemparkannya secara kasar ke pangkuan Larissa.

“Buka map itu dan bacalah,” titahnya tegas. 

Dengan tangan yang gemetar, Larissa membuka map yang berisi salinan dokumen, rekaman percakapan hingga laporan transfer uang. Dan satu foto Alya bersama Arga, tujuh tahun lalu.

Wajah Larissa memucat seketika.

“Kau dan Arga sudah merencanakan ini sejak awal,” ujar Samira tiba-tiba. “Menikahiku untuk hartaku. Memberiku obat agar aku lemah. Menggelapkan aset. Mengadopsi anak kalian sendiri atas namaku.”

Larissa menjatuhkan map itu. Tubuhnya luruh ke lantai.

“Ma-maaf, maafkan aku. Aku tidak punya pilihan,” isaknya. “Arga memaksaku. Dia bilang ini satu-satunya cara agar Alya punya masa depan yang baik.”

Samira berjongkok, menatap Larissa yang jatuh terduduk dengan serius. “Dan kau percaya pada pria yang membuat anakmu takut?”

Larissa terisak keras seraya memegangi dadanya yang terasa sesak tiba-tiba.

“Kalau kau berani membuka mulut pada Arga tentang penglihatanku,” lanjut Samira dingin, “Aku akan menyerahkan semua ini ke polisi. Dan Alya akan tetap menjadi anak angkatku secara hukum.”

Larissa mendongak tajam. “Tidak! Kau tidak bisa melakukan itu kepadaku. Alya adalah putriku!”

“Secara hubungan darah memang iya, tapi secara hukum?” Samira tersenyum tipis. “Aku sangat berhak untuk mengakuinya sebagai putriku.”

Bahu Larissa bergetar hebat. “Tolong … jangan ambil putriku, hanya dia satu-satunya yang kumiliki.”

“Kalau begitu.” Samira berdiri perlahan, “Bantulah aku, Larissa. Lakukan sesuatu untukku.”

“Apa? Kau ingin aku melakukan apa? Apapun akan kulakukan selama kau tidak mengambil Alya dariku,” ucap Larissa terdengar putus asa.

Samira tersenyum senang, “Kau harus membantuku untuk menghancurkan Arga.”

Larissa menggeleng lemah. “Tapi, aku tidak yakin bisa melakukannya. Pria itu, maksudku Arga. Dia bisa melakukan apa saja agar bisa mencapai tujuannya.”

Samira mencondongkan tubuhnya. “Kau tidak memiliki pilihan lain, Larissa. Aku tahu semua ketakutanmu. Aku tahu bagaimana Arga mengendalikanmu. Aku tahu bagaimana ia membuatmu bergantung. Tapi aku juga tahu satu hal kau ingin hidup bebas bersama anakmu.”

Larissa menutup wajahnya dan tangisnya pecah lagi.

“Baiklah, apa yang harus aku lakukan?” tanya Larissa pada akhirnya, ia menyeka air matanya.

Samira duduk kembali di kursinya. “Kau akan menjadi mataku dan telingaku. Kau akan memberitahuku semua yang Arga sembunyikan. Kau akan membantuku membuatnya jatuh tanpa menyadari bahwa kaulah yang menjatuhkannya.”

Larissa terdiam lama. “Dan bagaimana dengan Alya? Kau akan membiarkanku hidup bersama dengan putriku setelah aku membantumu, kan?” tanyanya pelan, meminta kepastian. 

“Tentu saja, kau akan hidup bahagia bersama Alya,” jawab Samira tegas. “Tanpa Arga. Itu janjiku.”

Larissa kemudian mengangguk perlahan. “Baiklah, aku setuju dan aku harap kau akan menepati janjimu padaku.”

Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan itu.

Samira mengulurkan tangannya. “Mulai hari ini, kita memiliki satu tujuan yang sama, Larissa.”

Larissa menatap uluran tangan Samira selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambut tangan itu dengan tangan yang gemetar. 

Ia mengangkat pandanganya dan menatap Samira dengan mata yang sembab. “Aku memiliki satu permintaan lagi. Anggap saja sebagai rencana cadangan jika sesuatu hal yang buruk terjadi kepadaku,” katanya tiba-tiba.

Samira mengernyit. “Kenapa kau berkata seperti itu? Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi jika kau tetap mengikuti perintahku, Larissa. 

Namun, perempuan itu menggeleng kuat. “Kau tidak tahu pria seperti apa yang kau hadapi. Dia bahkan bisa melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Aku hanya ingin meminta satu hal saja darimu.” 

Meski merasa aneh, Samira tetap mengangguk. “Baiklah, katakan apa permintaanmu?” 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang hanya kebahagiaan yg akan menghampirimu Samira 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
omooo.. sejak kapan ray?
HK: Sejak ...
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
karepmu
HK: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Astiana 💕
baru 20 bab masa dah tamat, cerpen kah🙏
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
cinta semu
jgn bilang kayak film India ,,setelah musuh ny mati ,,,polisi ny datang 🤣🤣
HK: Kak 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
cinta semu
q lebih suka cepat tamat .. daripada lama sampai bab ny banyak tamat kagak malah di gantung iya ...🤣🤣yg penting kn happy. ending 💪
HK: Betul 🤭🤭🤭
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lanjut dong 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga berjodoh dengan Rayhan 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kisah Wanita hebat 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karmamu 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa mereka akan mati bersama..?
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Good job Samira 👍🏻
Siti Siti Saadah
pertarungan yg cukup tegang samira punya dokter reyhan kenapa ngga bantu cari cara melawan arga
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg akan tertipu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar orang gila 😏
Rosmayanti 80
dikit se x update nya trs LM pula update 🙏😄🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
dikit ihh
HK: Ngejar target Nyak 🤣
total 1 replies
Siti Siti Saadah
arga ternyata sungguh terlalu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jahat sekali kamu Arga 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!