NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Pemberontakan PKI

Arjo mengangkat wajah, memandang gurunya dengan tatapan yang berbeda.

Ia tidak menyangka. Selama lima tahun ini, Kang Guru Harjo selalu tampak seperti ... guru. Tegas, disiplin, penuh aturan. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Arjo bahwa di balik beskap rapi dan blangkon itu tersimpan cerita sepahit ini.

Arjo mengedarkan pandangannya ke sekeliling padepokan. Semuanya tampak damai. Tenang. Seperti tempat latihan biasa untuk para calon pengawal kadipaten.

Tapi sekarang Arjo mulai melihat dengan mata yang berbeda.

"Jadi padepokan ini sebenarnya ...?" Suaranya pelan, nyaris berbisik.

Kang Guru Harjo mengangguk.

"Tempat perlindungan." Ia berbicara sama pelannya. "Untuk para pelarian dari kejaran pemerintah kolonial. Terutama sekarang, setelah pemberontakan tahun lalu gagal."

Arjo menelan ludah. "Pemberontakan PKI?"

"Jangan sebut nama itu terlalu keras." Kang Guru Harjo menyapu pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Di sini, di mana pun, jangan pernah menyebut nama itu terang-terangan. Padepokan ini harus terlihat seperti awalnya—tempat melatih prajurit kadipaten. Tidak lebih. Kalau sampai pemerintah kolonial curiga ..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Arjo paham. Kalau pemerintah kolonial curiga, semua orang di sini akan berakhir di Digoel, atau mungkin … lebih buruk dari itu.

"Kau tidak melihat padepokan ini semakin ramai dengan anak-anak?"

Arjo mengerutkan dahi, mengingat-ingat.

Memang benar. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah murid muda di padepokan meningkat drastis. Anak-anak yang datang entah dari mana. Wajah-wajah baru yang tidak ia kenali.

"Kami menampung mereka." Kang Guru Harjo melanjutkan, suaranya berat. "Anak-anak dari para korban. Yang orangtuanya dibawa ke Digoel, atau dieksekusi langsung di tempat tanpa pengadilan. Yang ibunya meninggal karena tidak sanggup menanggung beban sendirian."

Mata Arjo berkaca-kaca. ‘Anak-anak yatim piatu. Korban dari perang yang tidak mereka mengerti.’

"Kami memberi mereka makan. Tempat tinggal. Pendidikan." Kang Guru Harjo memandang ke arah barak-barak di kejauhan. "Setidaknya mereka tidak harus menjadi pengemis di jalanan atau mati kelaparan di selokan. Atau yang lebih buruk, menjadi korban perdagangan orang, menjadi budak. Meski penjualan budak sudah dilarang sekarang, tapi tetap saja, di lapangan, kasus seperti itu akan lain cerita."

Hening sejenak.

Arjo teringat dirinya sendiri—dulu. Di usia belia dia sudah menjadi tukang kuda di kadipaten. Bocah kecil tanpa orang tua yang sudah harus bekerja keras untuk mengisi perut.

"Guru."

"Hm?"

"Pemberontakan itu," Arjo berbicara hati-hati, "sebenarnya apa yang terjadi? Saya hanya dengar bisik-bisik, tidak pernah tahu lengkapnya. Seperti kata Guru, di sini dilarang membicarakan komunis."

Kang Guru Harjo terdiam lama, seolah menimbang apakah informasi ini aman untuk dibagikan.

"Kau perlu tahu." Ia akhirnya mengangguk. "Supaya kau mengerti kenapa kita harus sangat berhati-hati sekarang."

Arjo mendengarkan dengan seksama.

"November 1926, pemberontakan pecah di mana-mana, Batavia, Banten, dan berbagai tempat di tanah Jawa. PKI yang beranggotakan para buruh, petani, dan berbagai lapisan masyarakat yang sudah tidak tahan dengan pemerintah kolonial, bersama-sama bangkit untuk menggulingkan kekuasaan Belanda. Mereka menyerang pos-pos polisi, membakar rumah asisten residen di Batavia, memotong kabel telegraf supaya Belanda tidak bisa berkomunikasi. Itu hanya sebagian aksi, masih banyak lagi, pejabat belanda dan bangunan-bangunan penting menjadi sasaran. Kau sudah di sini waktu itu, aman, tenang, di luar sana, kacau."

Arjo membayangkan kekacauan itu dalam kepalanya.

"Di Priangan, para pekerja kereta api mogok besar-besaran. Kau tahu artinya? Kereta api adalah urat nadi Hindia Belanda. Tanpa kereta, hasil bumi tidak bisa diangkut ke pelabuhan. Tanpa kereta, tentara tidak bisa dipindahkan dengan cepat. Ekonomi lumpuh."

"Lalu?" Arjo tampak semakin tertarik.

"Lalu Januari tahun ini, pemberontakan menyebar ke Sumatera Barat. Lebih besar. Belanda membalas dengan kekuatan penuh. Tentara didatangkan dari mana-mana. Meriam. Senapan mesin." Kang Guru Harjo menggeleng. "Pemberontakan yang sudah direncanakan berbulan-bulan, yang melibatkan ribuan orang, hancur dalam hitungan minggu."

Arjo mengangkat alis. "Kenapa bisa sehancur itu?"

"Banyak alasan. Pertama, Belanda sudah tahu rencana pemberontakan jauh sebelumnya. Ada pengkhianat. Ada mata-mata yang menyusup. Orang pribumi yang mengkhianati bangsanya sendiri. Kedua, koordinasi PKI antar daerah buruk, para pemimpin banyak yang dibuang ke luar negeri, seperti Tan Malaka. Jadi, setiap daerah memberontak sendiri-sendiri, ada yang memberontak November, ada yang Januari, tidak serentak. Ketiga, persenjataan tidak sebanding. Persenjataan Belanda lebih modern."

Arjo mengangguk-anggukkan kepala.

"Setelah itu, Belanda murka." Suara Kang Guru Harjo mengeras. "Ribuan orang ditangkap. Tidak perlu bukti kuat, cukup dicurigai saja, langsung dijebloskan ke penjara. Para pemimpin yang tertangkap diinterogasi dengan cara-cara yang... tidak manusiawi. Yang tidak mau bicara, disiksa sampai mati. Yang bicara, tetap dihukum berat. Penjara di tanah saja sampai penuh."

"Dan akhirnya dibuang ke Digoel?"

"Ya. Digoel menjadi tempat pembuangan. Ribuan orang dikirim ke sana—ke ujung timur Hindia Belanda, ke hutan belantara Papua yang tidak pernah terjamah." Kang Guru Harjo berbicara dengan nada pahit. "Mereka bilang itu 'pengasingan'. Tapi semua orang tahu—itu hukuman mati yang diperlambat. Malaria. Kelaparan. Dimakan buaya. Keputusasaan. Sedikit demi sedikit, para tahanan itu akan mati."

Hening lagi. Arjo menunduk, ia tak tahu di luar sana sekacau itu.

"Sekarang," Kang Guru Harjo memandang Arjo serius, "Belanda sedang gencar-gencarnya memburu siapapun yang dicurigai terlibat. Bukan hanya yang ikut memberontak, tapi juga keluarga mereka. Teman-teman mereka. Siapapun yang pernah terlihat bersama mereka yang menjadi anggota PKI."

"Jadi kalau saya berbicara terlalu kritis tentang pemerintah kolonial di depan pejabat Belanda..."

"Kau akan langsung dicurigai sebagai komunis." Kang Guru Harjo mengangguk tegas. "Dan kalau sudah dicurigai, tidak ada pengadilan yang adil. Tidak ada pembelaan. Kau akan ditangkap, diinterogasi, dan kalau tidak beruntung, dibuang ke Digoel atau ditembak di tempat."

Arjo menelan ludah.

"Itulah kenapa," Kang Guru Harjo menghela napas panjang, "kita tidak bisa terang-terangan melawan sekarang. Pemberontakan tahun lalu sudah membuktikan, perlawanan frontal hanya akan membawa kehancuran. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah bertahan. Bersembunyi. Melindungi yang bisa dilindungi."

"Seperti anak-anak itu." Arjo menoleh ke arah barak.

"Seperti anak-anak itu." Kang Guru Harjo mengangguk. "Dan seperti para pelarian yang bersembunyi di sini. Kami para sesepuh di padepokan ini; aku, Nyi Seger, Ki Among Telik, yang lainnya, kami punya... perjanjian dengan Ndoro Gusti Bupati."

"Perjanjian?" Mata Arjo membulat.

"Saling menguntungkan. Timbal balik. Ndoro Gusti Bupati membiayai kehidupan di sini. Memberi perlindungan dari kejaran Belanda dengan kamuflase padepokan untuk melatih pengawal kadipaten, menyediakan tempat yang aman untuk para pelarian dan anak-anak yatim."

Arjo mengangguk. "Dan sebagai gantinya?"

"Kami melindungi beliau. Melatih pengawal-pengawal setia. Menyediakan jaringan mata-mata. Memberi informasi tentang ancaman-ancaman yang mengintai. Dan tentu saja, menyiapkan bayangan yang bisa menggantikan beliau saat dibutuhkan."

Arjo mengerutkan dahi, mencoba mencerna semua ini.

‘Jadi bukan hubungan tuan dan hamba. Lebih seperti... kemitraan. Kerja sama.’

1
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
Muhammad Arifin
arjo welas asih....pantes Soedarsono suka...
Wiya Tun: betul,selalu ingat teman²nya
total 1 replies
Rahayu Wilujeng
wah..... harusnya pelajarannya lebih lengkap lagi, termasuk memberi respon pada semua istrinya, kan pasti beda2 responnya😄
Wiya Tun: mboten nopo² ndoro,Kula seneng, maturnuwun 🙏👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!