“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai bereaksi
..Keris pusaka Cokrodinoto.”
Suara Bayu menghilang ditelan deru pendingin udara kafe, tetapi dua kata terakhir itu menggantung di udara, dingin dan tajam seperti bilah keris itu sendiri. Ayunda tidak menjawab. Ia hanya memasukkan saputangan sutra dan kunci kartu itu ke dalam tasnya, gerakannya kaku dan terukur. Perjanjian iblis telah dimeteraikan.
Perjalanan menuju apartemen Radya terasa seperti melayang dalam ruang hampa. Logikanya yang dulu menjadi kompas hidupnya kini tak lebih dari gema jauh yang terus berbisik bahwa ia sudah gila. Namun, suara lain, suara yang lebih purba dan membara, suara cemburu dan rasa terhina, berteriak jauh lebih keras, menenggelamkan semua keraguan.
Wanita cantik itu memarkir mobilnya di lantai basemen khusus staf, jauh dari lobi utama yang gemerlapan. Kunci kartu dari Bayu terasa seperti sepotong es di telapak tangannya yang berkeringat. Lift servis berbau disinfektan dan kesunyian, membawanya naik dalam kotak logam yang terasa seperti peti mati. Setiap lantai yang terlewati, jantungnya berdebar semakin kencang, bukan karena takut tertangkap, melainkan karena antisipasi yang mengerikan.
Ting.
.
Pintu lift terbuka di koridor servis yang remang-remang. Hanya ada satu pintu di ujung sana, pintu belakang menuju unit penthouse Radya. Ia menempelkan kartu itu. Bunyi klik pelan dari kunci elektronik terdengar seperti ledakan di tengah keheningan. Pintu terbuka tanpa suara.
Ayunda melangkah masuk. Udara di dalam apartemen langsung menyergapnya, dingin, bersih, dengan aroma samar parfum oud dan kopi yang menjadi ciri khas Radya. Ini adalah teritorinya. Tempat di mana ia seharusnya berada. Bayangan Raras yang mungkin pernah berdiri di sini membuatnya muak.
Ia bergerak cepat. Tujuannya adalah kamar tidur utama. Ruangan itu luas dan minimalis, didominasi warna abu-abu dan hitam. Tempat tidurnya berukuran super besar, selimutnya masih sedikit berantakan, menandakan Radya pergi terburu-buru pagi tadi. Ayunda merasakan gelombang posesif yang aneh.
Tangannya gemetar saat mengeluarkan bungkusan kain mori dari dalam tas. Ia membukanya dengan hati-hati. Serbuk berwarna kelabu pucat, sehalus debu, terbaring di dalamnya. Baunya aneh, tidak busuk, tetapi hampa, seolah menyedot semua aroma lain di sekitarnya.
“Setiap kali ia melihat targetmu, otaknya akan mengirim sinyal bahaya dan muak. Ia akan melihat perempuan itu seperti melihat bangkai busuk.”
Bisikan Mbah Jagaraga terngiang kembali di telinganya. Dengan jari telunjuk dan ibu jari, ia mengambil sejumput serbuk itu. Rasanya dingin dan gatal di kulitnya. Ia berjongkok, tangannya menyelinap ke bawah ranjang yang megah itu, menaburkan serbuk kebencian itu di empat penjuru kerangka tempat tidur. Lalu, sejumput lagi di sudut-sudut ruangan, tersembunyi di balik tirai tebal dan di bawah meja kerja Radya.
Bungkusan itu kini kosong. Ia telah menanam racunnya. Ia melipat kembali kain mori itu, memasukkannya ke dalam tas, dan menghapus jejaknya sebersih mungkin. Tidak ada yang berubah secara fisik. Apartemen itu tetap sunyi, dingin, dan mewah. Tetapi Ayunda bisa merasakannya. Ada energi baru di udara. Energi kotor yang kini patuh pada perintahnya.
Ayunda tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus ia rasakan dalam beberapa minggu. Malam ini, Radya akan pulang ke nerakanya. Dan besok, ia akan berlari mencari surga di pelukannya.
***
Radya membanting pintu mobilnya, rasa lelah menjalari setiap sendi tulangnya. Rapat dewan direksi tadi menguras habis energi dan kesabarannya. Ia hanya ingin mandi air panas dan terlelap tanpa memikirkan angka-angka, proyeksi, dan wajah-wajah penjilat di ruang rapat.
Saat ia membuka pintu apartemennya, langkahnya terhenti. Sesuatu terasa aneh. Udara di dalam terasa lebih berat, lebih pengap dari biasanya. Ia memeriksa panel pendingin udara, suhunya normal. Mungkin hanya perasaannya saja. Kelelahan bisa mempermainkan indra.
Pria berwajah tegas melempar tas kerjanya ke sofa dan langsung menuju kamar tidur. Pikirannya kosong. Ia hanya fokus pada satu tujuan, tempat tidur.
Namun, saat ia merebahkan diri, bukannya rasa lega yang ia dapat, melainkan perasaan gelisah yang tak bisa dijelaskan. Ia bangkit, memandang sekeliling kamarnya. Semuanya tampak sama. Tidak ada yang berubah. Tapi kenapa ia merasa seperti ada penyusup di ruang pribadinya?
“Sialan,” gumamnya, memijat pelipisnya.
“Aku benar-benar butuh istirahat.”
Ia memaksakan diri untuk tidur. Kegelapan datang dengan cepat, tetapi bukan kegelapan yang damai. Malam itu, Radya terseret ke dalam labirin mimpi yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Ia berada di ruang kerjanya, berdiri di depan jendela kaca raksasa. Di bawah sana, Jakarta bukanlah kota yang gemerlapan, melainkan lautan lumpur hitam yang bergolak. Angka-angka di layar komputernya meleleh, berubah menjadi barisan kecoak yang merayap keluar dari monitor, memenuhi mejanya. Logikanya, senjatanya yang paling ampuh, lumpuh total. Ia dilanda kepanikan yang luar biasa.
Tiba-tiba, Ayunda muncul di sisinya. Wajahnya bersinar lembut, tangannya terulur padanya.
“Nggak apa-apa, Dya. Aku di sini,” bisiknya, suaranya seperti melodi yang menenangkan badai di kepalanya. Saat ia menyentuh Ayunda, barisan kecoak itu mundur, lumpur di bawah sana surut. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ini adalah zona amannya. Surganya.
Namun, saat ia hendak memeluk Ayunda, pintu ruangannya terbuka. Raras berdiri di sana, mengenakan seragam OB-nya yang lusuh. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti yang ia lihat di rekaman CCTV. Senyum polos yang kini terlihat mengerikan.
Dan kemudian, Radya menciumnya. Bau busuk yang menyengat. Bau bangkai yang membusuk di bawah terik matahari, begitu pekat hingga membuatnya mual. Bau itu datang dari Raras. Wajah perempuan itu tidak berubah, tetap polos dan biasa saja, tetapi setiap inci dari keberadaannya kini memancarkan aura kematian dan pembusukan.
Radya berteriak.
Ia terbangun dengan napas terengah-engah, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Bau busuk dari mimpinya masih terasa begitu nyata, menempel di lubang hidungnya. Ia melompat dari tempat tidur, menyalakan semua lampu, matanya liar memindai setiap sudut kamarnya. Kosong. Hanya ada dia seorang.
Tapi emosi dari mimpi itu tidak mau pergi. Rasa aman yang ia rasakan saat bersama Ayunda kini menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak, seperti orang kehausan yang butuh air. Sebaliknya, bayangan Raras dan bau busuk itu memicu gelombang amarah dan jijik yang irasional.
“Perempuan sialan,” desisnya, tangannya terkepal erat.
Logikanya menjerit bahwa ini hanya mimpi buruk, buah dari stres dan kelelahan. Tapi perasaannya berkata lain. Perasaannya mengatakan bahwa Raras adalah sumber dari semua kekacauan ini. Perempuan itu adalah parasit, pembawa sial, bangkai busuk yang menyamar dalam wujud manusia.
Ia meraih ponselnya, jarinya sudah melayang di atas nomor Ayunda. Ia harus mendengar suara Ayunda. Ia harus memastikan zona amannya masih ada.
Tapi sebuah pikiran lain menyela, mengganggu seperti dengungan nyamuk di telinga. Pikiran tentang Raras. Kenapa perempuan itu muncul di mimpinya? Kenapa ia harus terikat pada perempuan menjijikkan itu? Ikatan pernikahan kontrak, dekret weton dari Eyang… semua itu terasa seperti rantai gaib yang mengikatnya pada sumber kebusukan.
Rasa marah yang baru, lebih dingin dan lebih tajam, menggantikan kepanikannya. Ia tidak bisa lari ke Ayunda sebelum memutus rantai ini. Ia tidak bisa merasa tenang sebelum melenyapkan sumber iritasi ini dari kepalanya. Ia harus menghadapinya. Ia harus melampiaskan semua kemuakan dan kemarahan ini pada sumbernya.
Dengan gerakan kasar, Radya menyambar kunci mobilnya dari atas nakas. Pikirannya sudah bulat. Ia tidak akan kembali tidur. Ia tidak akan menelepon Ayunda.
Ia akan pulang. Pulang ke rumah Cokrodinoto.
Jalanan Jakarta yang lengang di dini hari menjadi saksi bisu kemarahannya. Lampu-lampu kota yang berkelip kabur di matanya yang menyipit. Pikirannya hanya dipenuhi satu gambaran: wajah Raras. Wajah yang harus ia hancurkan dengan kata-kata.
Radya membanting pintu gerbang utama kediaman Cokrodinoto, langkahnya cepat dan berat menuju bangunan utama. Ia tidak peduli jika membangunkan seluruh isi rumah. Amarahnya butuh wadah, dan ia sudah menemukan wadah yang sempurna.
Pintu utama tidak dikunci. Ia mendorongnya dengan kasar. Ruang tengah yang luas dan gelap menyambutnya. Hanya ada satu sumber cahaya, berasal dari arah dapur. Samar-samar, ia melihat siluet seseorang di sana.
Raras.
Ia sedang berdiri di depan konter dapur, menuangkan air hangat ke dalam sebuah cangkir. Mungkin untuk dirinya sendiri, atau mungkin untuk Eyang. Radya tidak peduli.
Melihatnya, gelombang rasa jijik dari mimpinya kembali menghantamnya dengan kekuatan penuh. Setiap napas yang perempuan itu ambil terasa seperti mencemari udara yang ia hirup.
Raras berbalik, mungkin mendengar suara langkahnya. Wajahnya menunjukkan sedikit keterkejutan, yang kemudian berubah menjadi ekspresi tenang seperti biasa.
“Mas Radya? Tumben pulang malam-malam beg…”
Radya tidak membiarkannya selesai. Dengan mata menyala-nyala oleh amarah yang tak bisa ia jelaskan, ia melangkah maju, jarinya menunjuk lurus ke wajah istrinya.
“Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu, perempuan munafik! Aku tahu apa yang kamu lakukan! Aku tahu semua rencanamu!”
Raras membeku, cangkir hangat di tangannya sedikit bergetar. Kebingungan murni terpancar di matanya.
“Rencana? Rencana apa, Mas? Aku nggak mengerti…”
“Jangan pura-pura bodoh!” bentak Radya, suaranya menggema di rumah yang sunyi. Ia sudah terlalu dekat sekarang, menjulang di atas Raras dengan aura mengancam.
“Kau pikir aku tidak tahu kalau kau…”