Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Profesor Mode On
Pagi itu Arvin berangkat ke kampus seperti hari-hari sebelumnya. Setelan kemeja semi formal, langkah terukur, pikirannya bersih dari hal-hal yang tidak perlu.
Sikapnya tenang seperti biasa, tanpa terlihat upaya apapun untuk terlihat istimewa.
Tidak ada perubahan raut wajah, tidak ada ekspresi bangga.
Juga tidak ada ekspresi, layaknya seseorang yang sedang dibicarakan di berbagai penjuru kampus.
Padahal namanya sedang beredar, dan masih menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan.
Sejak kabar pernikahannya baru-baru ini merebak, dunia maya pun masih sibuk memujanya: menuliskan kekaguman, mengungkit reputasi hingga wibawanya.
Orang-orang juga sibuk menebak, mengomentari, dan merangkai kisah pribadinya seolah itu milik publik. Namun, Arvin tetap berada di garis hidupnya sendiri, seolah tak peduli dengan suara-suara diluar sana.
Ia berjalan melewati lorong-lorong fakultas dengan sikap yang sama. Sapaan para rekan sejawat, staf, mahasiswa, ditanggapi seperlunya.
Di ruang kelas, tidak ada sedikit pun perubahan dalam caranya mengajar, seolah hari ini memang tidak membawa tuntutan apapun selain kewajiban akademik.
Ia berdiri di depan layar proyektor yang menyala—tenang, berwibawa, dan seperti biasa membuat beberapa pasang mata selalu menatap lebih lama.
Suaranya datar dan rapi, menyampaikan kalimat demi kalimat yang tersusun logis terkait pembahasan tentang materi perkuliahan.
Biasanya, deretan mahasiswi yang duduk di barisan tengah, sibuk mencatat lalu tetap menatap fokus ke depan penuh minat.
Tapi kali ini sedikit berbeda.
Di sela-sela pembelajaran, seorang mahasiswi mendekat ke arah teman di sampingnya.
Suaranya diturunkan pelan. "Sumpah... masih nggak mau percaya kalau beliau beneran nikah."
Temannya itu turut mendekat. "Iya, kok terkesan mendadak ya?"
"Jangan-jangan dipaksa. Istrinya kan bukan orang biasa." Keduanya sudah seperti orang yang bergosip di salah tempat.
Seseorang lagi ikut nimbrung dari arah belakang. "Tapi video mereka bikin gue baper, loh. Beliau juga nggak keliatan terpaksa—"
Ketiganya langsung menahan senyum kaku, ketika Arvin menoleh ke arah kelas.
Spontan kepala para mahasiswi itu tertunduk, sambil menggerakan pena di tangan dengan cepat, pura-pura mencatat poin penting.
"Perhatikan bagian ini," kata Arvin, nada bicaranya tetap stabil.
Ia melanjutkan, entah tidak sadar ada mahasiswi yang sempat bergosip, atau hanya berpura-pura tidak tahu.
Semua pasang mata fokus kembali menatap ke depan. Layar menampilkan data-data numerik, yang memerlukan penjabaran logika.
Arvin menjelaskan slide demi slide—pelan, tenang, sambil sesekali mengajak mahasiswanya berdiskusi.
Ia akan melempar pertanyaan di sela pemaparan materi, mendapat tanggapan, lalu membahasnya bersama.
Hingga sepuluh menit sebelum kelas berakhir, layar berpindah menampilkan slide data terakhir.
"Ini adalah contoh kuesioner mentah yang dirancang sebuah perusahaan, untuk mengukur tingkat stres karyawan," kata Arvin.
Ia membenarkan sedikit ujung kacamatanya, sebelum melanjutkan. "Dalam psikometrika, kita tidak hanya akan membaca sebuah pertanyaan, tetapi 'membedah' kualitas setiap item."
Pandangannya menyapu ke arah ruang kelas, semua pasang mata masih memperhatikan seperti anak yang patuh.
"Tugas untuk kalian... pastikan kuesioner ini memiliki keseimbangan, agar tidak terjadi bias jawaban. Berperan lah sebagai Expert Judgment. Analisis tiap itemnya menggunakan kacamata psikometrika."
Beberapa kepala mengangguk paham, yang lain mulai menggaruk-garuk tengkuk dengan wajah sedikit mengerut—ekspresi normal setiap kali mendapat tugas 'analisis' dari sang profesor.
"Silahkan dikerjakan secara berkelompok, nanti akan kita diskusikan pada pertemuan berikutnya." Arvin melanjutkan.
Kelas selesai. Arvin meninggalkan ruangan dengan wajah dan langkah tetap stabil seperti biasa.
Sesekali ia menanggapi sapaan hormat, dari mahasiswa yang berpapasan di lorong.
Hingga suara bariton terdengar dari arah belakang. "Arvin!"
Si pemilik nama itu, lantas menahan langkah dan menoleh. Seorang rekan sejawat dari jarak beberapa meter, melambai singkat sambil berjalan menghampirinya.
Tangan laki-laki sebayanya itu menepuk pundaknya akrab, ketika posisi berdiri mereka sudah sejajar.
Ferdy—teman seangkatannya dulu sekaligus rekan sejawatnya, langsung menyeletuk ringan.
"Ya ampun, penganten baru, yang namanya lagi jadi topik hangat di kampus. Auranya, jadi tambah beda ya sekarang."
Arvin tak langsung menanggapi. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya, ataupun reaksi bangga.
Ia lebih memilih pembahasan lain. "Baru habis ada kelas juga?" tanyanya.
Laki-laki berwajah oriental itu, mengiyakan. "Biasa, ngajar psikologi dasar, buat anak-anak tingkat pertama."
Keduanya lanjut mengobrol sambil berjalan, mengarah pada tujuan yang sama. Namun, Ferdy rupanya masih belum puas mengorek tentang temannya itu.
"Beneran deh, Vin. Aku aja masih nggak nyangka, loh... " kata Ferdy di sela perjalanan mereka. Sudut bibirnya terangkat nakal.
"Aku kira profesor termuda dan paling ganteng se universitas ini nikahnya sama jurnal, eh... sama perempuan juga ternyata," guraunya, disusul tawa kecil khas teman lama yang sudah terlalu akrab.
"Aku juga manusia biasa, Fer." Arvin menyahut.
Suara dan ekspresinya tetap tenang, terlalu kontras dengan reaksi temannya.
Ferdy langsung menghentikan tawa.
"Iya, tapi diem-diem bae. Di tengah jadwal padat, tiba-tiba aja nikah... sama Tamara Hadinata, lagi. Si pebisnis cantik yang populer itu kan? Kapan coba pdkt-nya?" tanyanya.
Nada bicaranya lebih ringan. Namun, sarat akan rasa penasaran.
Arvin hanya tersenyum tipis, seolah tak berminat membuka banyak suara.
Seperti biasa, Ferdy sudah menduga hal itu, ia pasti akan selalu kesulitan mengorek sisi pribadi temannya itu.
Arvin hanya akan banyak bicara ketika membahas seputar kampus dan akademik, tidak lebih, dan Ferdy ujung-ujungnya hanya menutup obrolan dengan sisa rasa penasaran sekaligus kagum.
"Tapi aku turut bahagia, Vin. Akhirnya, ada yang bikin seorang Arvin jatuh cinta selain buku dan jurnal," ujar Ferdy, kembali tertawa ringan.
"Iya. Terima kasih," ucap Arvin, dengan bibir melengkung samar.
...
Sementara itu di sisi lain kota.
Suasana ruang rapat sebuah gedung perkantoran siang itu, mendadak tegang begitu seseorang memukul meja dengan kedua telapak tangan bersamaan.
Deru mesin pendingin udara terdengar lebih jelas, saat beberapa kepala menunduk diam.
Tak ada seorang pun yang berani menatap sang pemegang kendali rapat, yang baru saja meledakkan amarah.
Di ujung meja, seorang perempuan berdiri dengan bahu tegak—setelan formal berkelas, rambut panjang jatuh sepinggang, wajahnya tegas.
Sorot matanya memandang tajam, layar proyektor di depan menampilkan angka-angka laporan yang jauh dari kesan memuaskan.
"Apa-apaan ini?" katanya pelan, masih terkontrol.
"Produk White Series Cantika sudah 48 jam rilis di pasaran, tapi kenapa engagement kita masih stagnan di angka itu-itu saja?" suaranya mulai bernada tegas.
Belum ada yang bersuara, seperti masih menimbang-nimbang, memikirkan jawaban yang memungkinkan.
Tangannya kembali memukul meja, cukup keras, membuat semua orang refleks mengangkat bahu singkat.
Sorot matanya memandang para staf itu satu per satu. "Ini masih jauh dibawah target, loh! Tapi langkah kalian apa?" gertaknya.
Seorang staf perempuan muda, mengangkat wajah. "Maaf Bu Amanda. Kami sudah gencar menerapkan strategi promosi di berbagai platform, sesuai konsep awal kita."
"Ya terus hasilnya apa? Belum ada perubahan sama sekali, kan?" potong perempuan bernama Amanda itu, cepat.
Seorang staf laki-laki yang duduk di tengah-tengah, ikut bicara.
"Begini, Bu. Harusnya strategi promosi kita tetap berjalan baik, karena tidak ada kendala apapun. Hanya saja, ada temuan lain dari tim kami bahwa... "
Kalimatnya terhenti sesaat seolah berhati-hati menyampaikan sesuatu yang akan terdengar sensitif di telinga bosnya itu.
" ...berita pernikahan CEO Lunara masih mendominasi pemberitaan sejak kemarin, sehingga konten promosi pada platform utama kita sebagian tenggelam begitu saja dari algoritma."
Amanda memutar bola mata. "Itu kan hanya berita pernikahan biasa? Mereka bukan keluarga presiden yang kalau ada apa-apa, bikin gempar satu negeri dan menenggelamkan isu lain!" sungutnya.
Seseorang menjawab, "Masalahnya, sebagian besar netizen masih menaruh perhatian penuh terhadap pemberitaan itu, Bu. Apalagi terhadap sosok suami Ibu Tamara."
Seorang rekan di sampingnya menambahkan, "Dan ini sekaligus menjadi momentum bagi tim promosi mereka untuk mengambil peluang."
"Bahkan nama brand Lunara saat ini terus naik, karena banyak orang yang akhirnya penasaran dengan produk mereka." Yang lain ikut bersuara.
Amanda menjatuhkan diri di atas kursi. Bukan gerakan elegan, tapi gerakan dari hati dan pikiran yang sedang gelisah.
"Kalau sudah tahu permasalahannya, kalian mikir dong! Cari solusi!" titahnya. Suaranya bercampur kesal dan emosi yang nyaris tak terkendali.
"Baik, Bu." Semua orang serempak menjawab.
Amanda menyandarkan punggung, merapikan sedikit rambutnya, lalu menarik napas panjang karena menahan kesal.
Ia sudah jauh-jauh hari menantikan produk andalannya, yang seharusnya menjadi bintang di media saat ini.
Kini justru ada kenyataan lain menghantamnya. Bukan hanya berbagi panggung dan perhatian publik, melainkan sesuatu yang sejak dulu terlalu sulit untuk diakui: kalah populer.
Ia mengenal sosok itu, sejak lama.
Sebagai orang yang menggeluti dunia bisnis yang sama, ia cukup mengukur kepopuleran Tamara, yang selama ini memang menjadi rival abadinya.
Jarinya mengetuk-ngetuk pelan meja. "Tamara... lagi-lagi perempuan itu... " desisnya, nyaris berbisik.
Sorot matanya tajam, penuh arogansi yang menolak untuk dikalahkan.
Alisnya terangkat satu. Dia pikir aku akan diam aja?
BERSAMBUNG...
Kira-kira Amanda mau ngapain nih?
Terus, seperti apa ya sebenarnya hubungan dua orang perempuan ini?
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺