"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Langit kota berwarna jingga lembut ketika Pak Rama pulang dari luar. Langkahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang berat. Di ruang tengah, Citra sedang melipat pakaian di atas sofa. Ia menoleh ketika Rama masuk.
“Sudah pulang, Pak?” sapanya pelan.
Rama mengangguk sambil meletakkan map hitam di meja. “Citra,” panggilnya, nada suaranya agak berbeda dari biasanya. “Saya sudah temukan Rava.”
Gerakan tangan Citra berhenti. Napasnya seperti tertahan. “Rava?” ulangnya hampir berbisik.
“Iya. Dia tinggal di pinggiran kota, sama ibunya. Saya datang ke sana sendiri.” Rama menarik napas dalam-dalam. “Dia bilang mau minta maaf. Kamu mau ketemu sama dia?”
Citra diam lama. Ujung jarinya menggenggam kain yang belum selesai dilipat. “Kenapa Bapak cerita ini ke saya?”
“Karena kamu berhak tahu,” jawab Rama lembut. “Dan karena saya mau tanya—kamu mau ketemu dia?”
Citra menatap lantai, suaranya bergetar. “Saya… enggak tahu, Pak. Saya pikir semua sudah selesai.”
Rama duduk di kursi seberang. “Kadang yang sudah selesai di mulut, belum selesai di hati.”
Kalimat itu menggantung di udara. Sinar senja masuk dari jendela, membuat bayangan lembut di wajah Citra. Ia menunduk, lalu berbisik, “Kalau saya ketemu dia… tidak akan merubah apapun, selain dendam dan rasa marah.”
Rama menatapnya lama. “Kamu bilang mau selesai kan masa lalumu.”
Citra tak menjawab. Hanya menatap kosong ke arah jendela yang mulai gelap.
****
Sementara itu, di sisi lain kota, Rava berdiri di depan pagar rumah Pak Haris. Malam mulai turun, udara hangat berembus dari sawah di belakang perkampungan. Lampu teras rumah itu menyala kuning lembut, membuat dada Rava sesak oleh nostalgia.
Tangannya dingin, telapak berkeringat. “Ya Allah, bantu aku minta maaf,” gumamnya pelan.
Baru beberapa langkah ia dekati pagar, suara perempuan terdengar dari belakang. “Rava! Kamu ngapain di sini?”
Rava menoleh cepat — Cantika berdiri di ujung gang, wajahnya panik.
“Cantika…” Rava menunduk. “Aku mau ketemu Pak Haris. Mau minta maaf.”
“Gila kamu!” seru Cantika, menahan lengannya. “Minta maaf? Sekarang bukan waktu yang tepat, Rava! Kenapa kamu muncul? Orang-orang pasti bertanya macam-macam, dan akhirnya apa? Mereka pasti akan bertanya kenapa kau kabur. Kau mau bilang sudah menghamili ku!?”
Rava menarik napas berat. “Aku cuma mau minta maaf. Itu aja. Gimana pun aku salah.”
"Enggak! Aku nggak akan biarin kamu berbuat bodoh begini."
"Hal terbodoh yang aku lakukan adalah tidur dengan mu, Tika! Karena ini aku gagal nikahin Citra!"
Belum sempat Cantika membalas, dua ibu-ibu tetangga melintas di depan rumah sambil membawa ember.
“Lho, itu bukan Rava? Yang dulu kabur dari akad nikah?” bisik salah satunya.
“Iya, bener! Sekarang nongol lagi di rumah Pak Haris. Mau apa lagi coba?”
“Bukannya dulu ninggalin Citra di pelaminan. Halah, enggak tahu malu!”
Rava menegakkan badan, mencoba menahan diri. “Saya ke sini bukan buat ribut, Bu. Saya cuma mau minta maaf.”
Salah satu ibu tertawa sinis. “Minta maaf? Udah bikin malu satu kampung, sekarang mau minta maaf? Percuma! Citra udah bahagia sama suaminya yang tajir melintir. Kamu mending pulang!”
"Hemm, betul! Enggak guna juga."
Cantika menarik Rava pelan. “Udah, Va. Dengar aja mereka. Jangan buat heboh.”
Tapi Rava menatap pagar itu dengan mata yang memerah. “Aku enggak bisa pulang sebelum aku bicara.”
Suara berdeham tiba-tiba terdengar dari dalam. Pintu rumah terbuka. Pak Haris muncul dengan sarung dan peci, wajahnya kaget melihat pemandangan di depan rumah.
“Rava?” suaranya berat dan tajam.
Rava menunduk dalam-dalam. “Assalamualaikum, Pak…”
“Untuk apa kamu datang ke sini?”
"Pak, ijinkan saya masuk. saya ingin bicara."
Pak Haris berjalan mendekat, langkahnya mantap. Ia perhatikan Cantika yang berdiri di samping Rava, lalu dua ibu-ibu tetangga. Tak elok memang jika bicara di depan pagar rumah. Ia mengangguk, "Masuklah!"
"terima kasih, Pak."
Rava masuk, sementara dua ibu-ibu tetap kepo di depan rumah. Cantika juga ikut masuk.
“Saya… mau minta maaf, Pak,” kata Rava setelah dia duduk di ruang tamu.
"siapa yang bertamu, Pak?" suara Bu Maya dari dalam terdengar, sebelum pak Haris sempat menjawab. Matanya langsung melebar saat melihat Rava duduk di ruang tamu.
"kamu!? Ngapain kamu kemari?" sentaknya.
"saya kemari mau minta maaf, Buk."
“Minta maaf? Setelah bikin anak saya malu di depan penghulu? Setelah bikin keluarga saya ditertawakan orang sekampung?!”
“Bude, tolong…” Cantika mencoba bicara, tapi Pak Haris menatapnya tajam. "Kamu ngapain di sini Cantika? Pulanglah."
"Buk tenangkan dirimu. Ibu kebelakang saja dan buat kan teh untuk tamu kita ini."
"Ibu enggak sudi, Pak. Usir saja anak ini!"
"buk!"
Pak Haris duduk, menatap Rava tanpa bicara. “Bicara sekarang.”
Rava menelan ludah. “Saya datang bukan buat minta diterima. Saya cuma mau minta maaf. Saya tahu saya udah mempermalukan keluarga Bapak, menghancurkan kepercayaan Citra, dan melukai banyak orang. Enggak ada alasan yang bisa membenarkan itu. Tapi saya nyesel, Pak. Benar-benar nyesel.”
Suara Rava bergetar. Ia menatap lantai, kedua tangannya mengepal. “Saya enggak minta dimaafkan sekarang. Cukup saya bisa bilang ini langsung di depan Bapak. Supaya saya bisa tenang.”
Pak Haris masih diam. Tapi jemarinya yang menggenggam lutut mulai mengendur. Di matanya, amarah perlahan berubah menjadi getir.
“Kalau saja kamu bicara seperti ini dulu…” ucapnya pelan. “Citra mungkin enggak harus lewat masa seberat itu.”
Rava menunduk makin dalam. “Saya tahu, Pak. Dan saya tanggung semua kesalahannya.”
Beberapa detik kemudian, Pak Haris berdiri. “Pergilah. Kami juga butuh ketenangan. Kamu datang minta maaf, tapi kami juga punya luka di hati kami. Biar kami sembuhkan dulu.”
Rava menatapnya dengan mata berkaca. “Saya sungguh minta maaf, Pak.”
"Pergi kamu!" usir Maya. "Kami enggak akan pernah memaafkanmu dan keluargamu!"
"Bude! Jangan keterlaluan begini..."
"Diam kamu Cantika! Bude enggak ngerti dengan cara mikirmu. Rava udah jelas-jelas mempermalukan keluarga kita. Bisa-bisanya kamu malah bela."
Rava melangkah keluar, tetangga-tetangga sudah bubar. Cantika menatapnya dengan wajah tegang. “Va... Apa kubilang, percuma.”
Rava menatap jalanan sunyi di depan rumah itu. “Yang terpenting aku udah minta maaf... Aku akan datang lagi buat minta maaf, Tika.”
Ia berjalan menjauh, sementara Pak Haris berdiri di teras, menatap punggung itu perlahan hilang di tikungan. Dalam hatinya, entah kenapa, ada sedikit rasa lega — seperti beban lama yang akhirnya bisa diletakkan di tanah.
Dan di tempat lain, di rumah kota yang hangat, Citra menatap keluar jendela, seolah bisa merasakan sesuatu berubah jauh di sana. Tanpa tahu bahwa di malam yang sama, seseorang baru saja menebus dosanya dengan keberanian yang terlambat.
meninggal Juni 2012
😭😭