Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Bertengkar
“Mama!!”
Rania, gadis kecil itu tersenyum lebar saat melihat ibunya datang. Ia berlari kecil menghampiri Jesika yang berdiri di depan gerbang sekolah.
“Maaf ya, Mama telat jemput?” tanya Jesika sambil membungkuk dan meraih putrinya ke pelukannya.
“Ndak telat sama sekali,” jawab Rania sambil menggeleng lucu.
“Pulang sekarang?” tanya Jesika sambil tersenyum.
“Mampir dulu boleh Ndak ke toko es klim?”
“Boleh banget!” kata Jesika dengan semangat, lalu menggandeng tangan Rania menuju mobil.
Setelah memastikan Rania duduk dengan aman dan mengenakan sabuk pengamannya, Jesika masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mobil.
“Mama tahu Ndak, tadi ada mulid balu. Dia bilang Rania cadel,” ucap Rania tiba-tiba.
“Katanya Rania Ndak bisa ngomong ‘L’,” lanjutnya dengan ekspresi kesal.
Jesika tertawa kecil mendengarnya. “Kamu kan emang belum bisa ngomong ‘R’, Sayang.”
“Ish, Mama jangan bilang gitu! Rania bisa ngomong ‘L’, kok!” bantah Rania sambil manyun.
Jesika tersenyum, lalu mengusap kepala putrinya dengan lembut.
“Nanti kalau kamu udah gede pasti bisa, kok. Semua anak berkembang dengan cara yang berbeda-beda.”
Rania terdiam sejenak lalu berkata, “Tapi Mama, Rania juga kasihan lihat dia. Katanya dia Ndak ada temen.”
“Oh ya? Kenapa Rania nggak temenan aja sama dia?” tanya Jesika lembut.
“Nanti lah, Ma. Besok-besok Rania temenin… tapi kalau dia ejek Rania cadel lagi, Rania Ndak mau.”
Jesika tersenyum mendengar logika polos anaknya. “Baik, itu pilihan Rania.”
Sementara itu, Aeris baru saja keluar dari ruang kelasnya. Ia berjalan ke taman kecil di depan sekolah dan duduk di bawah pohon besar sambil mendesah bosan.
Tempat itu memang bukan tempat penitipan anak, jadi tidak ada kegiatan tambahan setelah jam sekolah selesai. Anak-anak hanya bisa menunggu jemputan.
“Adek, sini dulu. Mama belum jemput ya?” tanya Bu Hilda, salah satu guru TK.
“Belum, Bu Guru. Aeris tunggu sini aja. Mama bentar lagi jemput kok,” jawab Aeris sambil tersenyum sopan.
Bu Hilda mengangguk, lalu masuk kembali ke kantor guru.
Aeris menatap ke arah pagar sekolah sambil memeluk tas kecilnya.
“Lama banget sih... Karatan aku nunggu di sini,” gumamnya pelan, padahal sebenarnya dia baru 2 menit duduk.
Ia menengadah ke langit yang mulai mendung.
“Duh, mana mau hujan lagi,” ujarnya cemas.
Di saat yang sama, sebuah mobil melintas di depan TK itu. Leon, kebetulan sedang dalam perjalanan pulang dari meeting-nya. Dia melirik ke arah kiri dan matanya menyipit saat melihat sosok kecil yang duduk di bawah pohon.
“Kayak... Aeris?” gumamnya dengan alis berkerut.
Leon langsung menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia keluar cepat-cepat masuk ke TK itu, dan begitu wajah anak itu terlihat jelas, matanya melebar.
“Aeris!” panggilnya setengah teriak.
Bocah itu menoleh dan langsung tersenyum lega.
“Om Leon!!”
“Hei, Boy... kamu TK di sini?”
“Heem... Apa Mama belum beritahu Om?”
“Ya, Om nggak dikasih tahu Mamamu.”
“Udah berapa hari kamu TK di sini?”
“Baru hari ini masuk pertama, Om,” kata Aeris sambil memainkan tali tasnya.
“Sekarang Om udah di sini... boleh nggak kalau Aeris numpang pulang? Mama lama banget,” katanya lagi dengan wajah memelas.
“Dengan senang hati,” jawab Leon sambil tersenyum.
“Nanti Om telepon Mamamu ya.”
“Hum, siap!” Aeris menjawab ceria.
Sementara itu, di tempat lain, Alina menghela napas panjang saat hujan turun begitu lebat. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, wajahnya tampak cemas.
“Ck... aku harus gimana?” gumamnya khawatir.
Ia mondar-mandir gelisah. Ingin menelepon Leon, tapi ragu—takut mengganggu pekerjaan pria itu.
Drttt!!
Ponselnya bergetar. Ia buru-buru melihat layar. Kebetulan sekali nama Leon tertera di sana.
Dengan cepat ia mengangkatnya dan masuk ke dalam ruangan agar suara lebih jelas.
“Leon? Kenapa?” tanya Alina cepat.
“Mama!!”
Suara Aeris yang memanggil kencang dari seberang membuat Alina terkejut.
“Aeris? Kamu ngapain sama Om Leon?”
“Mama... tadi Om lewat di depan TK Aeris, terus ngeliat Aeris sendirian, jadi Om samperin deh,” jelasnya.
“Sekarang kamu di mana?”
“Apartemennya Om.”
“Om Leon mana?”
“Di dapur... lagi bikin makan siang,” jawab Aeris santai.
Alina menghembuskan napas lega. Setidaknya, itu berarti putranya dalam kondisi aman.
“Nanti kalau hujannya reda, Mama jemput ke sana, ya,”
"Okedeh,"
“Maaf ya, Sayang... Mama telat jemput dan kamu harus nunggu lama.”
Nadanya penuh sesal. Padahal ini hari pertama Aeris sekolah.
“Nggak apa-apa deh,”
“Baik-baik ya di sana. Jangan hambur-hamburin apartemen Om Leon.”
“Mama semangat kerjanya!” ujar Aeris sebelum sambungan ditutup.
Alina tersenyum tipis, kemudian kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya dengan hati sedikit lebih tenang.
“Mama... Rio mau nambah lagi serealnya!”
“Sebentar, Mama ambilkan ya,” jawab Widya sambil berdiri dari kursi.
Sementara itu, suaminya baru saja turun dari lantai atas. Tatapannya datar mengarah ke istri dan putra mereka.
“Papa! Sini makan,” seru Rio ceria.
Sang ayah berjalan mendekat, lalu mengusap kepala Rio lembut.
“Kamu lanjutin makan serealnya di kamar ya?”
“Kenapa?” tanya Rio heran.
“Papa mau ngomong sama Mama,” jawabnya dengan nada yang berbeda dari biasanya.
Widya menoleh bingung. Raut wajah suaminya tampak serius dan tidak enak.
“Bibi!!” teriaknya.
Seorang wanita paruh baya lekas menghampiri.
“Temani Rio makan sereal di kamarnya.”
“Baik, Tuan,” katanya patuh.
"Ayo, Den,"
Setelah Rio pergi, kini Yuda menghampiri istrinya, menatap tajam wanita itu.
“Kenapa, Mas?”
“Apa ini!?” bentaknya sembari memperlihatkan layar ponsel berisi foto Widya di sebuah restoran bersama seorang laki-laki.
Mata Widya langsung membola.
“A-aku... aku bisa jelasin, Mas,” katanya, cukup terkejut melihat dari mana suaminya dapat foto itu.
“Menjelaskan apa!? Nyatanya kamu masih ketemuan sama mantan pacar kamu!”
Widya menggeleng cepat.
“Itu tidak seperti yang Mas pikirkan. Aku dan dia nggak sengaja ketemu, dia duluan yang nyamperin aku,” jelasnya.
“Harusnya kamu menghindar! Bukan malah meladeni dia!”
“Mas... Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Lagian, apa salahnya kalau dia nyamperin aku? Kami cuma ngomongin soal kerjaan, bukan hal lain.”
“Tetap saja aku tidak suka! Dan lagi... seseorang telah melaporkanku kalau kamu berani menghina seorang wanita dan anaknya. Katanya kamu mengatai mereka jalang dan anak haram. Apa kamu nggak mikir dulu sebelum bicara, hah!?”
Widya menegakkan bahunya, wajahnya mulai memerah.
“Untuk masalah itu memang benar. Tapi... apa aku harus diam saja ketika putra kita dilempari batu!?”
“Mungkin anak itu memang salah, tapi bukan begitu caranya membalas! Kamu juga mengancam akan mencabut sumbangan dana sekolah kalau anak itu tidak dikeluarkan!”
“Aku cuma ingin memberi pelajaran. Supaya mereka tahu dampaknya kalau berani menyakiti Rio!” bentak Widya.
Yuda menggeleng pelan, lalu berkata dengan nada yang lebih tajam.
“Apa kamu juga lupa diri kalau kamu itu... lahir dari rahim seorang wanita malam!?”
Ucapan itu seketika menghantam dada Widya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ia tidak akan pernah lupa fakta menyakitkan itu. Tapi mendengarnya dari suaminya sendiri seperti menaburkan garam di luka yang masih terbuka.
“Kalau kamu ingin menghina orang, lihat dulu dirimu di cermin, Widya! Kamu bukan siapa-siapa tanpa statusku. Kamu bisa berdiri seperti ini karena nama keluarga yang kamu sandang sekarang. Jangan sombong!” kata Yuda tajam.
“Maaf kalau perkataanku menyinggungmu. Tapi aku hanya mengatakan fakta!” tambahnya.
Widya menatapnya dengan mata berkaca.
“Hanya karena itu kamu marah-marah dan melontarkan kata-kata jahat ke aku?” lirihnya.
Yuda membuka mulut, hendak menjawab, tapi Widya lebih dulu mengangkat tangan.
“Cukup! Jangan katakan apa-apa lagi!”
Wanita itu langsung berlari ke kamar, membanting pintu dengan kasar.
Sementara itu, Yuda berdiri terpaku di ruang makan. Ada sedikit rasa bersalah muncul dalam hatinya. Ia sadar, seharusnya tak berkata sejauh itu. Tapi... ia benar-benar tidak bisa menerima jika istrinya suka menghina orang, tak peduli apa pun alasannya.
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏