Seorang mafia kelas kakap, Maxwell Powell nyaris terbunuh karena penghianatan kolega sekaligus sahabatnya. Namun taqdir mempertemukannya dengan seorang muslimah bercadar penuh kharisma, Ayesha, yang tak sengaja menolongnya. Mereka kemudian dipersatukan oleh Allah dalam sebuah ikatan pernikahan gantung karena Ayesha tak ingin gegabah menerima lamaran Maxwell terhadapnya. Kehidupan seorang muallaf dengan latar belakang kehidupan gelap seorang mafia mengharuskan sang gadis muslimah yang nyaris sempurna ini harus menguji dulu seberapa mungkin mereka kelak bisa membangun rumah tangga Islami yang seutuhnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurliah Ummu Tasqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16. Permintaan
“Apa maksudmu Ali my brother?”
“Aku menyesal pada diri sendiri, mengapa dulu terlalu lama menunggu moment ketika aku diajari bersyahadat dan berislam oleh keluarga yang penuh cinta ini. Aku memutuskan masuk islam setelah setahun mempertimbangkannya karena melihat kebaikan Islam dari keluarga ini. Namun aku iri pada tuan Maxwell. Anda baru dua minggu tapi anda sudah sanggup memutuskan dengan cepat. Sungguh aku berdoa anda termasuk ke dalam golongan sur’atul istijabah yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an, yaitu orang-orang yang bersegera pada perintah Allah. Semoga Allah menguatkan anda dalam jalan ini dan meneguhkan anda serta membimbing anda untuk menjadi panutan orang banyak. Aamiin”.
Maxwell tersenyum. Yang lain juga tersenyum mendengar ketulusan Ali dan turut mengaminkan. Hati Maxwell seolah diliputi oleh perasaan yang sangat haru dan bahagia yang tak dapat ia lukiskan. Yang jelas kebahagiaan yang membuncah-buncah dalam sanubarinya melebihi kenikmatan apapun yang pernah dialaminya seumur hidupnya. Ia kini semakin yakin dengan jalan yang kini dilaluinya.
Sementara Ayesha dan Bibi Leida hanya menyatukan kedua tangannya di dada sebagi tanda ucapan selamat atas keislaman Maxwell. Dalam hati Maxwell bertanya-tanya mengapa sepertinya para wanita muslim sangat menjaga jarak dengan lelaki yang tak dikenalnya, tapi dengan saudaranya tidak. Tapi pertanyaannya itu hanya disimpannya saja. Dia bertekad akan mencari jawabannya sendiri. Maxwell teringat dengan kata-kata Ayesha “ ….Saya mau kelak tuan menikahi saya karena kita memang pantas untuk duduk bersama dalam sebuah mahligai rumah tangga ….”
Ayesha aku akan buktikan pada dirimu, aku akan menjadi suami yang layak untukmu. Jika hari ini banyak sekali ilmu Islam yang tak ku ketahui bagaimana mungkin aku akan layak mendampingimu? Tunggulah saatnya bidadariku. Selintas hatinya berbisik, Maxwell tersenyum penuh arti. Di hatinya ada harapan yang membuncah disertai doa. Semoga Tuhannya mengabulkan keinginannya, pikirnya gembira. Ia kembali melirik Ayesha. Ayesha sedang menundukkan pandangannya.
“Ayesha, bolehkah kita berbicara berdua saja… maaf mungkin Bibi Leida bisa menemani…”, tatap Maxwell penuh harap sambil melirik yang lainnya.
Ayesha terkejut dan memandang kakek serta kakaknya. Mereka mengangguk. Seakan paham dengan situasi, tanpa dikomando, sir Vladimir, Ahmed dan Ali bergegas ke teras depan meninggalkan Maxwell, Ayesha dan Bibi Leida yang masih berdiri di mushollah.
Maxwell kemudian duduk, karena ia merasakan bekas luka di kakinya mulai berdenyut. Ayesha dan bibi serentak ikut duduk juga.
“Ayesha, bolehkah aku meminta sesuatu?”
“Ya?” Ayesha terkejut dan refleks mendongak ke arah Maxwell namun kemudian menunduk kembali. Ia mendengarkan dengan seksama.
Bibi Leida yang duduk di samping Ayesha hanya menahan nafasnya seolah-olah turut merasa tegang dengan suasana yang mendadak hening.
Maxwell menarik nafas panjang. Ia sudah memikirkan ini sejak tadi. Sebelum pergi ia ingin memantapkan perasaannya lebih dulu.
“Besok malam, aku akan kembali ke negeriku untuk menyelesaikan masalahku. Aku tidak tau apakah aku masih bisa kembali kemari dalam keadaan hidup. Karena seperti yang engkau ketahui, di sana ada banyak musuh yang menanti kematianku untuk sekedar menuntut balas atau juga merebut kekayaanku”.
Ayesha terkesiap. Entah kenapa hatinya tak menentu mendengarkan kata-kata Maxwell yang sebenarnya wajar saja.
“Ayesha, di mataku engkau adalah seorang wanita sempurna, seorang muslimah cantik yang taat yang pastinya inginkan seorang pendamping muslim yang juga sempurna iman dan ketaatannya pada Allah. Sementara aku, engkau tau sendiri, aku baru saja bangkit dan melangkah untuk belajar. Tidak ada yang bisa menjamin apakah aku di sana akan masih istiqamah dalam jalan ini dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Jujur saja, saat ini rasanya aku ingin merengek di hadapanmu untuk memintamu menjadi istriku saat ini juga dan kemudian membawamu menemaniku mengarungi hidup ini sekaligus membimbingku menjadi seorang muslim yang baik, terus mengiringi langkahku kemanapun aku pergi untuk membangun kehidupan rumah tangga yang lebih baik dan bermanfaat untuk orang banyak seperti yang didoakan Kakek”.
Ayesha terperangah. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Maxwell akan mengungkapkan ini dengan sangat gamblang. Ada yang mencair di sudut hatinya. Ayesha melemah.
“Namun itu tidak mungkin bukan?”, Maxwell menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum seperti menyindir dirinya sendiri.
“Jika aku menjadi dirimu, sangatlah riskan menerima seorang lelaki yang baru saja dikenal bahkan punya masa lalu yang bergelimang dosa. Bahkan hidup dan matiku lusa juga tidak tau, karena saat ini aku mempunyai banyak musuh. Sangat menyedihkan bukan, seandainya engkau menerimaku dan kemudian mungkin saja menjadi janda dalam usia yang sangat muda….”
Maxwell menelan ludahnya sendiri. Rasanya pahit. Ayesha tercekat.
“Namun, aku harus akui bahwa aku egois, aku ingin meminta padamu…”
Maxwell menatap Ayesha dengan nanar.
“Apa?.... Apa yang akan engkau minta padaku tuan Maxwell….”. Ayesha terbata. Hatinya terasa sakit.
Maxwell terdiam sesaat. Lidahnya kelu. Ia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
“Ayesh……, Ayesha… bersediakah engkau menungguku 6 bulan saja?”
Ayesha termangu. Buliran air matanya tertumpah tanpa bisa dicegah. Ia menatap Maxwell dan enggan mengalihkannya seperti biasa.
Maxwell terkesiap melihat reaksi Ayesha. Ia melihat air mata itu jatuh.
“Aku… aku…maaf kan aku..”
Maxwell menggigit bibirnya, tiba-tiba ia merasa takut telah menyakiti perasaan Ayesha dengan permintaannya. Dan entah mengapa dari sudut matanya juga meleleh air mata yang tak mampu ditahannya, seolah refleks tumpah karena terpengaruh air mata Ayesha. Maxwell memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin dilihat oleh Ayesha. Ia bukan lelaki kuat seperti sebelumnya. Ia kini sangat berbeda. Hatinya yang dulu keras seperti baja kini solah seperti remahan roti yang mudah meleleh jika terkena air.
Maxwell kembali berbicara. Bagaimanapun ia ingin mengungkapkan perasaannya sebelum terlambat. Pikirnya.
“Aku ingin…engkau menungguku dalam masa 6 bulan…aku memintamu untuk setia padaku tanpa memikirkan pria lain manapun selama masa itu…begitu juga dengan aku…dan jika selama masa itu aku masih hidup dan sudah belajar menjadi lebih baik dalam berislam, aku akan menemuimu untuk menikahimu… namun jika batas waktu itu telah lewat dan aku tidak datang padamu maka engkau bebas…. Aku…aku…tidak bisa memaksakanmu untuk terus menungguku. Mungkin memang kita tidak berjodoh. Dan anggap saja aku mungkin sudah tidak ada di bumi ini lagi”
Maxwell lega. Ia lega sudah mengungkapkan perasaannya. Ia hanya bisa berharap. Boleh kan?
Ayesha tergugu. Ia tidak siap dengan semuanya. Rasanya sulit menjawabnya saat ini padahal semua yang diucapkan Maxwell adalah hal wajar dan dia tidak perlu terkejut. Bukan kah ia juga sudah setuju sebelumnya dan bahkan ia sendiri yang mengatakan jika mereka berjodoh pasti akan bertemu kembali? Jika keduanya sudah memantaskan diri, amatlah mudah bagi Allah mempertemukan mereka kembali bukan? Ternyata mudah mengucapkan namun sangat sulit melaluinya. Oh tidak. Ia bahkan belum melaluinya. Bibi Leida tiba-tiba meraih tangannya dan mengusap-usapnya seolah ingin memberikan kekuatan. Wanita paruh baya itu paham bagaimana perasaan majikannya. Walau gadis itu menutupi perasaannya terhadap Maxwell dan dengan tegas mengatakan sebelumnya bahwa ia tidak mau terikat namun ia bisa melihat dari sorot mata dan bahasa tubuh bidadari itu bahwa ia sudah jatuh cinta pada pria asing di depannya ini. Sosok lelaki tampan mempesona apalagi dengan tampilan barunya setelah menjadi muallaf.
“Apakah engkau ingin melamarku saat ini Tuan Maxwell?” Entah dari mana keberanian itu datang pada Ayesha.
“Ya”, Maxwell tergagap.
“Maafkan aku tidak mempersiapkan diri membawakan sebuah cincin Nona”
Maxwell salah tingkah. Ia tidak sadar ternyata ia memang sedang melamar gadis di depannya.
“Bagaimana?”
Ia berharap cemas.
“Maafkan aku….”, sahut Ayesha menggantung.
Maxwell menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia sudah menduga…
/Pray//Pray//Pray/