Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 (21+)
Dimas menatap daging menggoda di telapak tangannya, rasanya seperti surga. Jari-jarinya tenggelam di antara pipi bokong yang kenyal itu, bikin dia pengen langsung merobek semua kain yang menghalangi kulit telanjang Anin. Tapi dia tahan diri, dia mau nikmatin setiap detik, setiap senti tubuh perempuan ini pelan-pelan.
Dengan gerakan perlahan, Dimas menarik celana pendek Anin ke bawah, sampai bokong putih mulusnya hampir telanjang bulat. Matanya langsung tertuju pada thong hitam tipis yang cuma nutupin sedikit banget; malah bikin semuanya kelihatan lebih jelas. Nggak ada lagi yang perlu dibayang-bayangin.
Sialan… cantik banget.
Anin berusaha mati-matian nahan erangan supaya nggak kelewat keras. Tapi susah banget. Sentuhan Dimas yang cuma sekedar belaian ringan aja udah bikin seluruh tubuhnya panas membara.
Plak!
Satu tamparan ringan mendarat di bokongnya. Seketika Anin merasa selangkangannya tambah basah.
“Ohh~” suara kecil lolos dari bibirnya saat bibir Dimas meninggalkan ciuman lembut di pipi bokongnya.
Bikin dia gila. Pengen banget bibir itu bertahan lebih lama, pengen lebih dalam, pengen lebih kasar.
Dimas nggak puas cuma ciuman doang. Dia mau kasih tanda kepemilikan di bokong seksi ini.
Dia membungkuk, mulutnya langsung menempel, menghisap kuat sampai kulit Anin memerah. Sesekali dia gigit kecil, lalu jilat pelan seolah menenangkan “luka” yang dia buat sendiri.
Anin menggigit punggung tangannya sendiri supaya nggak teriak. Tiap hisapan dan gigitan Dimas bikin dia yakin besok pasti penuh cupang. Dan anehnya, pikiran itu malah bikin dia semakin banjir.
Dimas dan Anin sama-sama napas ngos-ngosan. Tatapan mereka bertemu, penuh nafsu yang udah nggak bisa ditahan lagi.
Tanpa banyak kata, Dimas langsung angkat tubuh Anin, bawa ke kasur empuk di sudut kamar.
Anin mendarat pelan di atas kasur, rambut merahnya berantakan indah di sekitar wajahnya yang sudah merona. Dimas nggak tahan, langsung menindih dan cium bibirnya dalam-dalam.
Lidahnya memaksa masuk, langsung main kejar-kejaran sama lidah Anin yang sudah lapar. Ciuman mereka basah, berantakan, dan penuh suara kecil yang bikin suasana tambah panas.
Beberapa menit kemudian mereka terpisah, benang air liur masih nyambung di antara bibir mereka.
Dimas buru-buru buka kemeja dan celananya, tinggal boxer hitam doang. Badannya yang atletis dan otot-ototnya yang kencang bikin Anin cuma bisa melongo.
Dia cium Anin lagi, cepat tapi ganas, sambil mulutnya mulai turun ke leher, hisap kuat sampai pasti ninggalin tanda merah besar.
Anin cuma bisa memeluk kepala Dimas erat-erat, napasnya tersengal penuh desahan.
Di sela-sela ciuman, Dimas buka semua pakaian Anin. Sekarang mereka cuma pakai dalaman doang, tubuh panas mereka saling gesek, saling tempel, saling bikin gila.
Mulut Dimas nggak pernah diam. Dari leher, ke bahu, ke tulang selangka; tiap inci kulit dia cium, dia hisap, dia tandain.
Akhirnya sampai di dada Anin yang sudah naik-turun hebat. Dia cium belahan dadanya, jilat pelan, lalu tangannya langsung meremas payudara Anin dari luar bra. Putingnya sudah keras banget, ketara nunjuk ke atas bra tipisnya.
Dengan satu gerakan cepat, Dimas buka kaitan bra di belakang, buang bra itu entah ke mana.
Matanya langsung lapar ngeliatin pemandangan di depannya: Anin cuma pakai thong hitam, payudara besar putih mulus, puting merah merekah kayak buah ceri mateng nunggu dipetik.
Dimas langsung nyosor. Mulutnya ambil satu puting, hisap kuat sambil tangannya remas dan mainin yang satunya.
“Anhh~ Dimasss!” erangan Anin keras banget kali ini.
Anin melengkungkan punggungnya, dorong dada lebih dalam ke muka Dimas. Jari kakinya mengkerut keenakan tiap Dimas putar-putar lidahnya di putingnya, sambil jari di payudara sebelah cubit dan tarik pelan.
Tesk!
Dimas tiba-tiba masukin kedua puting sekaligus ke mulutnya, hisap sekuat-kuatnya sambil gigit ringan di areolanya. Rasa sakit kecil bercampur nikmat bikin Anin hampir jerit.
Dia udah yakin besok seluruh tubuhnya bakal penuh tanda merah dari Dimas, dan pikiran itu bikin thong-nya basah kuyup.
Plop!
Dimas lepasin payudara Anin dengan suara basah. Dia kasih beberapa jilat dan ciuman lembut di puting yang sudah bengkak merah, lalu mulai turun lagi.
Ciuman dan gigitan kecil dia tinggalkan di perut Anin, sampai akhirnya nyampe di pusar. Di sana dia berhenti lebih lama, lidahnya main-main di dalam pusar sambil tangannya mulai narik thong Anin pelan-pelan ke bawah…
Anin cuma bisa menggigit bibir bawahnya, napasnya udah nggak karuan, nunggu apa yang bakal Dimas lakuin selanjutnya di tempat yang udah banjir banjiran itu.
btw kenapa kolom komentarnya sepi yah