Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.
Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya
Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.
Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membahas Masalah Perusahaan Venus
Darren dalam perjalanan menuju kampus. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena saat ini dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"...."
"Kerahkan beberapa orang-orangmu untuk mengikuti mobil kak Gilang dan kak Darka."
"...."
"Bajingan itu ingin mencelakai kedua kakakku itu."
"...."
"Iya."
"...."
"Pria yang bernama Bondan, cukup kau lumpuhkan saja. Setelah itu, bawa dia ke Marka DR'GUARD97."
"...."
"Cari tahu juga indentitas keluarganya."
"...."
Pip..
Setelah berbicara dengan salah satu tangan kanannya yang juga tangan kanannya ketujuh sahabat-sahabatnya, Darren mematikan panggilannya.
Darren menatap lurus ke depan sembari fokus menyetir. Dia seketika tersenyum menyeringai dengan pikiran tertuju pada Riyo dan orang yang bernama Bondan tersebut.
"Tidak akan semudah itu rencanamu berjalan lancar, Riyo! Tuhan telah menganugerahkan kepadaku kekuatan yang bisa membaca pikiran dan hatimu. Apa yang kau rencanakan akan langsung aku ketahui." Darren berucap di dalam hatinya.
***
Tak butuh waktu lama, Darren pun tiba di kampusnya. Bertepatan itu, ketujuh sahabat-sahabatnya pun juga datang.
Dug.. Dug..
Itulah bunyi pintu mobil Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya ditutup secara bersamaan.
"Kalian baru sampai juga?" tanya Darren.
Ketujuh sahabat-sahabatnya menjawab dengan anggukan kepalanya.
Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya pun pergi meninggalkan parkiran untuk menuju kelasnya.
***
Gilang dan Darka saat ini masih di jalan. Keduanya menggunakan mobil masing-masing. Mereka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Saat Gilang dan Darka fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan juga dari belakang sekita 30 pengendara motor dengan berpakaian hitam.
Para pengendara motor tersebut dengan kencang mengendarai motornya menuju kearah mobil yang dikendarai oleh Gilang dan Darka.
Sesampainya di dekat mobil Gilang dan Darka, para pengendara motor tersebut menggedor-gedor dan memukul-mukul keras kaca mobil Gilang dan Darka.
Sementara Gilang dan Darka seketika ketakutan di dalam mobil. Dan seketika ingatannya akan ucapan isi hati Darren yang mengatakan bahwa Riyo ingin mencelakainya.
Seketika tatapan mata Gilang dan Darka membelalakkan saat mengingat hal itu. Kemudian di mobil yang berbeda, Gilang dan Darka melihat ke luar jendela.
"Apa mereka orang-orang suruhannya Riyo?" itulah yang dikatakan oleh Gilang dan Darka di dalam hatinya.
Dug.. Dug..
Dug..
Kaca mobil Gilang dan Darka kembali dipukuli. Kali ini dipukul dengan sangat keras sehingga menimbulkan sedikit keretakan di kaca mobil tersebut. Namun begitu, kaca tersebut tidak akan langsung pecah. Dengan kata lain, kaca mobil tersebut tidak akan mudah pecah, walau retak.
Mobil Gilang dan Darka saat ini dalam keadaan berhenti. Para pengendara motor tersebut berhasil mencegatnya. Baik dari belakang maupun dari depan.
Dirtt.. Drtt..
Ponsel milik Gilang berdering menandakan panggilan masuk.
Mendengar dering ponselnya, Gilang langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Ketika ponselnya sudah di tangannya, Gilang melihat nama Darka di layar ponselnya.
"...."
"Ya, Darka. Kamu baik-baik saja kan?"
"...."
"Kamu tenang ya. Semuanya akan baik-baik saja."
"...."
"Aku tidak tahu. Kita lihat saja dulu. Ingat! Jangan keluar dari dalam mobil sesuai yang dikatakan oleh Darren."
"...."
Tutt..
Tutt..
Panggilan dimatikan oleh Darka.
Melihat dua mangsanya tidak juga membukakan pintu mobilnya, membuat sang tangan kanan dari orang yang memberikan perintah seketika marah.
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan senjata dari balik bajunya. Setelah itu, dia membuka pintu mobil Darka dengan cara mencongkelnya.
Melihat bos nya hendak merusak pintu mobil sang target. Dua pengendara motor yang menghadang mobil Gilang juga melakukan hal yang sama.
Namun ketika mereka hendak merusak pintu mobil Gilang dan Darka, tiba-tiba keluar sekitar 40 laki-laki memakai topeng yang sama menyergap 30 pengendara motor dan duanya saat ini hendak merusak pintu mobil Gilang dan Darka.
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Bruukk.. Bruukk..
Bruukk..
Sekitar 20 pengendara motor tewas seketika akibat tembakan yang diberikan oleh 40 laki-laki bertopeng itu.
Melihat 20 anak buahnya yang tiba-tiba terjatuh di lantai dengan luka tembak di kepala belakangnya membuat sang tangan kanan dan 9 anak buahnya terkejut sekaligus syok.
Kini tersisa 10 pengendara motor termasuk sang tangan kanannya dari sang pemberi perintah.
Detik kemudian, sang tangan kanan dan 9 anak buahnya melihat kearah dimana 40 laki-laki bertopeng yang sama melangkah menghampirinya.
"Ayo, pergi!" perintah dari sang tangan kanan.
Kesepuluh orang berpakaian hitam itu pun memutuskan pergi.
Namun belum sempat mereka melangkah, terdengar suara tembakan yang mengenai kepala kesembilan anak buahnya, sementara untuk sang tangan kanan bagian kedua paha belakangnya.
Dor.. Dor..
Dor..
Bruukk.. Bruukk..
Keempat puluh laki-laki bertopeng itu kemudian melangkahkan kakinya mendekati mobil Gilang dan Darka.
Setibanya di mobil keduanya, dua diantara membuka topengnya agar kedua korban bisa melihatnya.
Dug.. Dug..
Kedua pemuda tersebut memukul pelan kaca mobil Gilang dan Darka.
Dan pada akhirnya, Gilang dan Darka membuka kaca mobilnya.
"Tuan Gilang/Tuan Darka. Apa anda baik-baik saja?"
Kedua pemuda itu bertanya kepada Gilang dan Darka.
"Kalian tahu nama saya?" tanya Gilang dan Darka kepada pemuda yang berdiri diluar mobilnya.
"Saya Fito!"
"Saya Hansel."
Kedua pemuda itu menyebutkan namanya di depan Gilang dan Darka.
"Saya tangan kanannya Bos Darren." Fito dan Hansel kembali berucap.
Detik kemudian, terukir senyuman di bibir Gilang dan Darka. Dan detik itu juga, rasa lega menyelimuti diri keduanya.
"Ren. Terima kasih, Sayang!" Gilang dan Darka berucap di dalam hatinya.
Gilang dan Darka keluar dari dalam mobilnya. Keduanya kemudian melangkahkan kakinya mendekati seorang pria yang kini sudah dalam pegangan anak buahnya Fito dan Hansel.
"Siapa kau?!" tanya Darka.
"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Gilang.
Sementara pria itu tidak menjawabnya. Justru dia menatap tajam kearah Gilang dan Darka.
"Sekali pun kau tidak memberitahuku dan Darka, kita berdua sudah tahu. Pasti anak sialan itu kan yang menyuruhmu untuk mencelakai aku dan Darka!" bentak Gilang.
Deg..
Pria itu seketika terkejut ketika mendengar ucapan salah satu kakak dari pemuda yang dibenci oleh Bos nya.
"Dan kau pasti Bondan!" seru Darka.
Pria itu kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari salah satunya lagi yang mengetahui namanya.
Melihat reaksi dari pria di depannya membuat Gilang dan Darka tersenyum menyeringai.
Gilang dan Darka melihat kearah Fito dan Hansel. "Apa yang ingin kalian lakukan kepada bajingan itu?" tanya Gilang.
"Bos Darren memintaku untuk membawanya ke Markas DR'GUARD97," jawab Fito.
Gilang dan Darka langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ya, sudah! Kalau begitu kami mau melanjutkan perjalanan kami untuk ke kampus," ucap Darka.
Fito dan Hansel langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Gilang dan Darka pun pergi meninggalkan lokasi tersebut untuk menuju kampus.
***
"Apa rencana lo sekarang?" tanya Dylan dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
Kini Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di ruang Organisasi. Mereka tengah membahas masalah perusahaan Venus yang CEO nya bernama Wina.
"Seperti yang sudah aku bahas dengan kalian dan anggota keluarga kalian beberapa hari yang lalu," jawab Darren.
"Jadi nanti kita semua akan datang secara bersamaan ke tempat acara wanita itu?" tanya Rehan.
"Hm." Darren berdehem bersamaan anggukkan kepalanya.
Darren kemudian menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Setibanya kalian disana. Buatlah seolah-olah kehadiran kalian atas undangan wanita itu. Dengan kata lain, kalian tidak perlu mengatakan apapun. Cukup kalian dengarkan saja apa yang akan dikatakan dan dilakukan oleh wanita itu nanti. Aku yakin bahwa dia akan melakukan sesuatu padaku dengan mempermalukanku di depan semua tamu undangan," ucap Darren.
Mendengar ucapan, jawaban sekaligus penjelasan dari Darren membuat ketujuh sahabat-sahabatnya itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Jadi setelah dia selesai mengeluarkan semua kata-katanya untuk menyerangku. Dengan kata lain, dia beranggapan bahwa dia telah menang, maka barulah kalian dan anggota keluarga kalian yang bertindak. Aku hanya akan berperan sebagai orang lemah disana." Darren berucap sembari tersenyum.
Ketujuh sahabatnya yang melihat senyuman Darren juga ikut tersenyum. Mereka mengerti dari arti senyuman tersebut.
"Dengan begitu, kamu akan membalas orang-orang yang sudah menghina kamu, merendahkan kamu dan mempermalukan kamu di depan semua tamu undangan, terutama orang-orang yang tidak mengetahui siapa kamu yang berstatus sebagai CEO perusahaan Accenture yang terkenal dengan kesuksesannya," ucap Darel.
"Yup! Kamu benar, Rel! Aku akan membuang mereka semua. Aku sudah tidak sudi menjalin hubungan dengan mereka lagi," sahut Darren.
"Kami juga!" seru sahabat-sahabatnya kompak.
Ketika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah membahas masalah CEO perusahaan Venus, tiba-tiba ponsel milik Darren berdering menandakan panggilan masuk.
Darren langsung mengambil ponselnya yang kebetulan berada di depan matanya. Dia melihat nama 'Fito' di layar ponselnya.
Darren kemudian menjawab panggilan dari Fito.
"Hallo, Fito."
"...."
Darren seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar jawaban dari Fito.
"Terus apa yang terjadi?"
"...."
"Ach, syukurlah. Jaga bajingan itu. Kalau perlu ikat dia agar tidak bisa berbuat apa-apa."
"...."
Pip..
Darren langsung mematikan panggilannya setelah mendapatkan jawaban dari Fito.
"Apa yang dikatakan Fito, Ren?" tanya Willy.
"Dia mengatakan bahwa dia bersama Hansel dan beberapa anggota DR'GUARD97 berhasil melumpuhkan orang-orang yang hendak mencelakai Gilang dan Darka."
Deg..
Willy seketika terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darren. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Apa yang terjadi?" tanya Axel.
Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari Axel. Justru dia menatap kearah ketujuh sahabat-sahabatnya itu secara bergantian.
"Ini masalah Riyo."
"Apa lagi yang dilakukan oleh bajingan itu? Apa dia belum puas nyakitin kamu dengan mengatakan bahwa kamu penyebab kematian bibi Belva dan Oma Vidya di depan Paman Erland dan keempat kakak tertua kamu hingga mereka membenci kamu?" tanya Qenan.
Jerry menatap lekat wajah sahabat kelincinya itu. Dia mencurigai sesuatu tentang apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu mengenai kedua kakak kesayangannya.
"Apa Riyo sebagai dalang dari orang-orang yang ingin mencelakai kak Gilang dan kak Darka?" tanya Jerry.
Qenan serta yang lainnya melihat kearah Jerry. Setelah itu, mereka melihat kearah Darren.
"Ren!"
"Iya."
Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren.
"Lo tahu dari mana kalau Riyo....?" pertanyaan dari Willy seketika terpotong.
"Ada seseorang yang memberitahu. Tapi aku tidak tahu siapa," jawab Darren bohong.
"Terus bagaimana keadaan kak Gilang dan kak Darka sekarang?" tanya Axel.
"Mereka baik-baik saja."
"Ach, syukurlah!" mereka semua menjawab bersamaan.
Setelah membahas tentang perusahaan Venus dan tentang Gilang dan Darka. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya pun kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing dalam menyusun data-data mahasiswa dan mahasiswi baru.
penasaran kelanjutannya
semangat
up lagi ya
kasian Darren
semangat trus kak