Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Setelah insiden di mansion tadi, Rhaella kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke apartemennya, setelah sampai di basemen apartemen Rhaella berjalan menuju lift untuk mengantarkannya pada lantai kamar miliknya. Setelah masuk Rhaella langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, setelah rutinitas membersihkan diri selesai Rhaella kembali menghela nafas dan membaringkan badannya karena merasa lelah.
"Udah jam 10 aja, perut gue juga laper" gumamnya karena melihat jam dinding apartemen, lantas dia bangun dan berjalan menuju dapur dan mengecek apa yang bisa dia makan malam ini, dan ternyata hanya ada sebutir telur.
"Cuma sisa 1 telur doang coba ada mie pasti lebih enak " gumamnya memikirkan makanan yang tidak ada "ck, kenapa gue malah sebut makanan yang nggak ada, gue lupa terus belanja buat stok kulkas, besoklah gue belanja kalau nggak lupa lagi " lanjutnya terkekeh kecil sendiri dengan ucapannya.
"Gue makan ini aja dulu deh di bikin ceplok aja kali yah yang enak" katanya sambil mengambil sebutir telur kemudian berjalan menuju dapur dan mengolahnya.
" An"ir... gue kan tadi nggak masak nasi" ucapnya sendiri memukul keningnya.
" Ya udahlah makan telur aja mau gimana lagi laper banget gue" gumamnya lagi kemudian menggoreng telurnya untuk makan malamnya sebelum ke arena balap.
Setelah rutinitas makan selesai, Rhaella Kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi lalu ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan tak lupa masker untuk menutupi wajahnya. Setelah berada di basement apartemen Rhaella langsung menuju arena balapan di adakan dengan kecepatan tinggi.
Sampai di arena balap dia langsung di datangi oleh si penelepon tadi yang bernama Clive.
"Weeeesss baru Dateng queen gue" sapa Clive pada Rhaella namun tidak di gubris.
" Gimana nih udah siap lo?" Tanyanya pada Rhaella.
Rhaella hanya berdehem dan di angguki oleh Clive.
"Lawan Lo kali ini si ketua dari geng motor Desmond, Lo tahu kan tentang geng motor itu?" Tanya Clive pada Rhaella.
"Geng itu geng motor yang paling di takuti dan kejam di kota ini, kalau Lo bisa menang si gue akui Lo emang hebat banget meskipun sekarang Lo udah emang hebat, tapi ketua geng motor Desmond itu belum ada yang ngalahin kalau lo mau tahu " lanjutnya dan hanya di angguki oleh Rhaella.
"Jadi gimana masih mau lanjut ngga?" Tanyanya pada Rhaella dan di jawab dengan deheman saja oleh Rhaella "Hm".
"Okey, gue samperin lagi nanti Lo tunggu sini" Rhaella pun menganggukkan kepalanya.
"Apaan si lo heboh banget kaya si Memey aja?" Tanya salah satu dari mereka
"Bodo amat!! Eh eh ada lawan tuh. Jadi ikut kagak nih?" Tanyanya pada sahabatnya.
"Siapa?" Suara datar cowok yang paling tampan diantara mereka bertanya dengan wajah dan nada datarnya jangan lupakan tatapan mata elangnya.
"Tuh yang di sana yang pake masker duduk di atas motor warna hitam" tunjuknya pada seseorang yang tidak mereka ketahui yaitu Rhaella.
Mereka pun menoleh pada arah tunjuk temannya
" Lo jadi ikut kagak El kalau nggak mau biar gue aja yang maju biar gue kasih tahu mereka nanti?" Tanyanya lagi, cowok tersebut hanya menjawab dengan deheman.
"Hm apa? Hm iya jadi atau hm iya kagak?" Tanyanya pada sahabat temboknya sedangkan temannya yang lain hanya terkekeh melihat itu.
"Gue ikut " jawab cowok itu datar.
Ok kalau gitu gue kasih tahu dulu dia buat siap-siap, Lo juga siap-siap ke tempat " ucapnya dan berlalu dari tempat para sahabatnya.
Saat ini mereka para peserta sudah berada di garis start, dan seorang gadis cantik yang berpakaian cukup seksi tengah memegang sebuah bendera untuk menghitung. Balapan akan di mulai perempuan di tengah mereka itu pun mulai menghitung mundur.
"Tiga"
" Dua "
"Goo"
Teriaknya melempar bendera
tersebut dan di susul dengan dia motor melaju di sampingnya.
Balapan kali ini masih seimbang, namun suara sorakan dari para penonton mengarah pada pengendara cowok yang memang mereka kenali.
"El"
"El"
Ayo bos"
" Bos El pasti menang huuuuu"
" Ayo El "
" Ayo El lo pasti menang "
"Gabriel"
Teriakan sekumpulan teman dari pemuda tampan itu terus menggema, pendukung dari seorang Gabriel terdengar begitu heboh di arena balap. Yah, seorang Gabriel merupakan ketua geng motor yang terkenal akan kekuatan dan kehebatannya yang setara dengan perkumpulan mafia, karena memang dia adalah anak dari ketua mafia hanya saja banyak yang tidak tahu akan hal itu hanya para sahabatnya dan sebagai anggotanya.
Sedangkan di sisi sang lawan yaitu Rhaella tidak ada yang menyoraki namanya sama sekali, bukan karena tidak punya teman atau pendukung, tapi karena dia tidak ingin ada orang lain yang tahu siapa dia, dia hanya sering di sebut queen racing saat berada di arena, tidak banyak yang tahu wajah dan nama aslinya, mungkin hanya beberapa saja.
Di arena balap, kini ke dua pembalap yang di juluki king dan queen racing itu masih berusaha merebut posisi untuk menjadi pemenangnya. Keduanya sama-sama seimbang namun Gabriel masih memimpin dengan jarak sangat tipis dengan Rhaella dan saat akan mencapai garis finis. Gabriel yang menjadi pemenangnya namun mereka semua tetap tercengang karena posisi mereka berdua hanya selisih sedikit saja, jika saja Rhaella sedikit lebih cepat, maka bisa jadi pemenangnya adalah Rhaella atau queen.
"Brumm"
"Brumm"
"Brumm"
Kedua motor itu berhenti melewati di garis finis dengan Gabriel yang sampai lebih dulu, sorakan penonton semakin heboh karena untuk pertama kalinya lawan seorang king hampir berhasil mengalahkannya dengan selisih jarak yang begitu tipis.
"Wah wah gila lawan lo hebat juga ya El, gue aja masih belum bisa kaya posisi tuh orang, baru kali ini ada yang bisa nandingin skill balap lo dia hampir aja jadi pemenangnya El" ucap Hans sahabat Gabriel salah satu inti Desmond.
" Iya hebat juga dia, jarak kalian tadi tipis banget El gue jadi penasaran sama lawan lo itu, soalnya tadi ngga ada suara sorakan pendukung yang nyorakin nama dia " ucap Rufus salah satu inti dari Desmond juga dan diangguki oleh yang lainnya.
Sedangkan Gabriel sendiri hanya diam sambil memperhatikan lawannya tadi. Dia juga tidak menyangka lawannya itu bisa menandingi skill balap yang dia punya. El berniat untuk turun dari motornya untuk menghampiri lawannya dan berjabat tangan, tapi belum sempat dia turun dari motornya dia melihat lawannya sudah pergi melajukan kembali motornya, dia urung turun dan langsung memakai kembali helmnya.
" Balik ke markas" ucapnya
memberi instruksi kepada anggotanya lalu melajukan motornya di ikuti oleh yang lain di belakangnya.
...
Sedangkan saat ini Rhaella baru saja sampai di kamar apartemennya, setelah dari arena balap tadi dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu menuju dapur untuk kembali makan, dia tadi sempat mampir di sebuah warung makan yang masih buka untuk membeli makanan karena merasakan lapar.
Setelah acara makannya dia kembali masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan kemudian berjalan menuju kasur empuknya untuk tidur. Tanpa memperdulikan luka di wajahnya bahkan dia tidak ada niat untuk sekedar melihat apalagi mengobati. Dia sudah terlalu sering mendapatkan luka seperti itu rasanya sudah seperti rutinitas rutin, jadi tidak ada lagi rasa sakit itu, begitu pun untuk mengobatinya tidak pernah dia lakukan. Dia membiarkan saja luka seperti itu sampai sembuh dengan sendirinya.
Dari dulu dia sering membentengi diri untuk menjadi kuat, jangan menjadi lemah.
Seiring berjalannya waktu dia benar-benar menjadi kuat, sampai rasa sakit itu seperti tidak ada hanya ada keterbiasaan untuk hal yang menyakitkan.
Rhaella Delyth, seorang gadis yang lahirnya hanya untuk merasakan sakit, mendapatkan siksaan dan caci maki dari satu-satunya orang yang ia sebut keluarga. Namun hal itu tidak membuat dia membenci akan takdir hidupnya. Di saat orang lain merasakan sakit dan memilih untuk mati dia justru ingin tetap hidup lebih lama. Dia ingin tahu kebahagiaan apa yang akan dia dapatkan nantinya sehingga dia di lahirkan di dunia ini.
Kata orang sebelum kita di lahirkan di dunia bahkan jauh sebelum itu roh kita sebelum menjadi janin sudah di perlihatkan akan perjalanan hidupnya. Entah kebahagiaan seperti apa yang di perlihatkan padanya sehingga membuatnya berkata sanggup untuk tetap di lahirkan.
Kebahagiaan seperti apa yang membuatnya harus merasakan terlebih dahulu berbagai rasa sakit.
Dia benar-benar penasaran akan kebahagiaan yang menantinya.
Apakah itu benar adanya.