Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pangeran itu melepaskan pergelangan tangannya perlahan, tetapi matanya masih terpaku pada wajah Selene. Dekat seperti ini, dia bisa melihat lebih jelas—bukan hanya kecantikan gadis itu, tetapi sesuatu yang lebih aneh lagi.
Rambut biru pekat yang berkilauan seperti safir di bawah cahaya bulan. Mata birunya—bukan sekadar biru biasa, tetapi biru laut yang dalam, seolah menyimpan misteri yang tak terjangkau.
Bukan hanya kecantikan yang membuatnya terpana. Ini… bukan warna rambut atau mata yang umum. Tidak ada seorang pun di negerinya yang memiliki warna seperti ini.
"Siapa kau?"
Suara pangeran itu terdengar lebih lembut, tetapi masih membawa ketegasan seorang bangsawan.
Selene menegakkan punggungnya. Dia sudah mengatasi keterkejutannya, dan sekarang pikirannya mulai bekerja lebih cepat. Pria ini mengenakan jubah biru tua dengan sulaman emas, pedang perunggu yang terlihat antik tergantung di pinggangnya. Bahan dan desain pakaiannya tidak berasal dari era yang Selene kenal.
Selene tidak menjawab.
Tanpa ekspresi, dia membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah menjauh. Gaun birunya yang panjang menyapu tanah yang lembap, tetapi dia tidak peduli.
Hattusili mengerutkan kening. "Tunggu," katanya, melangkah maju.
Selene tetap tidak berhenti.
Pangeran muda itu mempercepat langkahnya, mengikuti di belakangnya dengan penuh kebingungan.
"Aku bertanya, siapa kau?" suaranya terdengar lebih tegas. "Dari mana asalmu? Kenapa kau ada di sini sendirian?"
Tetap tidak ada jawaban.
merasa ada sesuatu yang janggal dengan gadis ini. Dia tidak seperti wanita bangsawan pada umumnya—yang biasanya akan terkejut, menangis, atau meminta perlindungan. Gadis ini tidak menunjukkan ketakutan sama sekali, seolah sudah terbiasa menghadapi hal-hal di luar nalar.
Matanya yang biru laut itu tetap menatap lurus ke depan, tidak menoleh sedikit pun padanya.
"Hei!" dia mencoba lagi, kini suaranya sedikit lebih mendesak.
Namun Selene tetap berjalan.
Keheningan itu justru semakin membuat dirinya penasaran.
Tidak ada yang bisa mengabaikan seorang pangeran begitu saja. Tapi gadis ini… bahkan tidak menganggap keberadaannya.
remaja muda mempercepat langkahnya hingga kini dia berjalan di sampingnya. "Setidaknya jawab satu pertanyaanku," desaknya.
Namun Selene tetap diam.
Hattusili mendengus. "Apa kau bisu?"
Kali ini, Selene berhenti.
Dengan perlahan, dia menoleh dan menatapnya.
Tatapan mata birunya begitu tajam, menusuk langsung ke dalam jiwanya.
dia terdiam.
Itu bukan tatapan seorang wanita biasa. Itu adalah tatapan seseorang yang telah melihat banyak hal—mungkin lebih banyak daripada yang bisa dibayangkan oleh seorang pangeran muda.
Kemudian, tanpa mengatakan sepatah kata pun, Selene kembali berbalik dan melangkah pergi.
Hattusili terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum kembali mengikutinya.
Hattusili tetap mengikutinya.
Langkah Selene tetap mantap, tetapi dalam pikirannya, kebingungan mulai mengendap. Dia tidak tahu tempat ini, tidak tahu harus ke mana. Semua yang terlihat hanyalah hutan dengan pepohonan tinggi menjulang dan udara malam yang dipenuhi aroma tanah basah.
Ke mana dia harus pergi?
Dia tidak ingin berbicara, tetapi diamnya justru membuat Hattusili semakin penasaran.
“Apakah kau tersesat?” suara pangeran itu kembali terdengar, kini lebih lembut, seperti sedang berbicara pada seorang anak kecil yang berkeliaran tanpa arah.
Selene tetap diam, tetapi langkahnya melambat.
Tersesat? Mungkin benar. Dia berada di tempat yang tidak dikenalnya, tanpa petunjuk apa pun. Tetapi dia menolak mengakui itu.
Hattusili memperhatikannya dengan saksama. “Jika kau tidak tahu ke mana harus pergi, setidaknya aku bisa membawamu ke tempat yang aman.”
"Tempat aman?."kata nya, berhenti.
Hattusili tertegun,dia menarik senyum nya dan berkata,"ya..aku akan membawa mu ke tempat aman Tapi-kau harus memberitahukan nama mu.."kata nya mendekati selena.
Sepasang mata hitam tapi juga seperti biru kehitaman, percaya diri,dan di mata nya ada ambisi.
"Nesharra..."kata nya,nama itu hanya nama Yunani nya yang dia gunakan.
"Nesharra...itu nama yang indah.."kata nya tertegun.
"Baiklah...aku akan membawa mu tempat paling aman.."dia menarik pergelangan tangannya dan mencoba membawa nya pergi,tetapi Selena atau Nesharra untuk saat ini hanya diam,"hm? Kenapa?."
"aku punya kebiasaan...jika aku ingin pergi kemanapun aku harus tahu ,aku kemana dan akan di bawa kemana."kata nya menatap mata pria itu.
!!
"benar juga...ke istana ku."
apa?
"istana?."lirih kecil
"iya...istana ku.Nesharra aku Hattusili... putra dari muwatali,aku pangeran dari hattasuli. Ikut bersama Kun,bukan yang paling aman?."kata nya
Pangeran itu menatapnya lama, lalu akhirnya mendesah dan menyilangkan tangan. “Baiklah. Kalau begitu, kau ikut denganku.”
"Aku tidak ingin pergi ke tempat aman yang kau sebutkan itu.."kata nya
dia melepaskan tangan nya dan berbalik,"Kenapa-?."kata nya, nadanya rendah tapi tegas.
"Aku tidak suka."jawab nya sembari pergi.
pangeran itu mengerutkan keningnya dan berjalan mendekati Nesharra dan menarik nya,"Seorang wanita berkeliaran di hutan,kau akan dalam Bahaya!! Memang nya kau mau!? Bagaimana jika kau menarik perhatian orang lain!? Ikut saja dengan ku! Bukannya itu lebih baik!?."
Nada dingin ,memaksa, tatapan yang seakan akan merayu.
dia pangeran ya..anak dari muwatali.
Het.
Hittie.
"aku akan ikut dengan mu,jika tempat ku terpisah dari istana.."
"apa?."menjawab dengan kebingungan.
"Jika kau seorang Pangeran...belikan atau siapkan aku sebuah rumah sederhana.."kata nya, kemudian dia melepaskan genggaman itu,"aku tidak ingin ke istana, cukup sediakan rumah kecil,di tempat asing ini,aku akan bergantung kepada siapapun yang bisa memberikan yang aku mau.."kata nya
Ah apa kata kata ku terdengar ambigu?
atau aneh,ya aku tidak peduli.
"Jika..aku memberikan apa yang kau mau-rumah sederhana, menyiapkan mu tempat tinggal,kau akan bergantung kepada ku?Hanya kepada ku?"kata nya menatap punggung Nesharra.
"hm?Tentu saja."kata nya berjalan sambil merapihkan gaun nya karna susah jalan
Astaga,bahkan gaun ini menyesuaikan tubuh ku, tapi -bergantung?itu Kalimat yang aneh, sebenarnya bukan bergantung.
Seperti -Apa ya?