Azalea gadis pendiam yang bekerja disebuah penerbitan buku. Hidupnya berubah ketika dia bertemu laki-laki bernama Ray.Pada satu malam yang tidak disengaja mereka terjebak dalam jalinan cinta yang lebih intim yang mengawali hubungan terlarang. Azalea terjebak diantara pilihan yang sulit,melanjutkan hubungan atau berpisah. tapi sanggupkah dia meninggalkan Ray, laki-laki pertama yang mengenalkannya pada dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risky Rafiyani Sembiring, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat cinta mulai terasa manis
" kenapa lea, kamu gak suka bunga? "tanya Ray sambil mengkerutkan dahi.
ia menatap lekat kearah gadis didepannya yang tampak ragu-ragu menerima bouquet mawar dari tanganya.
Azalea menggeleng cepat
" jadi kenapa? "
"Aku gak tahu aku suka atau tidak, karena belum ada yang pernah menghadiahkannya untukku" jawab Azalea pelan.
jawaban polos dari gadis itu cukup menggelikan untuk Ray, pria itu tertawa kecil sambil mengusap pelan kepala Azalea.
"Mulai sekarang kamu harus suka bunga, tapi bunga pemberianku saja. kalau ada laki-laki lain yang memberikannya kamu harus segera menginjak-injak nya. " ucap ray dengan nada bercanda
"siap pak" jawab Azalea cepat dengan sikap hormat
Ray kembali tertawa kecil diikuti raut wajah pura-pura marah.
"jangan memanggil ku pak, bapak atau apapun itu.. "
"jadi panggil apa? " tanya Azalea polos.
"sayang." jawab Ray cepat diikuti raut wajah cemberut Azalea.
"ihh, gak mauu.. "
Ray tak menanggapi lagi. Ia kini tampak sibuk membukakan pintu mobil untuk Azalea dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Setelah menutup pintu mobil Ray muncul dari balik pintu setir dan sekarang sudah duduk persis disamping Azalea.
Ray tiba-tiba mendekat tubuhnya kearah Azalea ,membuat gadis itu sedikit tersentak dan spontan menjauh. Ray tidak berniat melakukan apapun, hanya menggodanya sedikit.ia kembali duduk ditempatnya setelah memasang safety belt milik gadis itu.
"jangan cemas gitu, lea. aku gak mau ngapain-ngapain kamu, kok" ucap Ray diikuti tawa kecil yang terlihat mengesalkan.
Azalea tak menjawab, gadis itu hanya terlihat Menggerutu kesal.
"kita mau kemana? " tanya Ray masih fokus memundurkan mobil dan berusaha mengeluarkannya dari area parkir.
"terserah,dimana aja asal gak ramai, aku gak suka keramaian.. " jawab Azalea singkat dan terlihat masih sibuk dengan bouquet dipangkuannya.
"jadi, kemana dong? cafe depan toko buku lagi? " tanya Ray lagi terdengar pasrah,
cafe itu sudah mereka datangi setiap hari dan tentu saja tak membawa suasana baru di setiap kencan mereka.
"kenapa kamu bosan disitu? jadi dimana? dirumah kamu? " ucap Azalea asal dan berhasil membuat Ray menoleh cepat kearahnya.
Setelah kejadian didalam mobil ray beberapa pekan lalu hubungan mereka mulai membaik. Namun itu terasa seperti hubungan positif pada umumnya. Ray akan mengunjungi toko buku setiap hari dan mengajak Azalea makan dicafe depan yang tak terlalu ramai atau sekedar mengantarkan gadis itu pulang hingga ke gang rumahnya.Seperti itu rutinitas mereka setiap hari, meski tampak membosankan namun cinta mereka mulai terasa manis. Apakah benar cinta pertama rasanya seperti ini?
Kejadian malam itu berusaha untuk tidak dibahas oleh mereka. baik ray maupun Azalea mencoba untuk melupakannya,meski hal itu selalu terlintas jelas dipikiran mereka.Namun tiba-tiba saja gadis itu mengatakan ia ingin pergi ke rumah lagi? tentu saja itu sangat membingungkan Ray.
Azalea sedang berada diruang tamu yang tampak sedikit berantakan, banyak buku yang tampak berserakan dilantai,Buku-buku itu tampak masih sangat baru terlihat dari segel yang belum terbuka sedikitpun. Tak terhitung jumlah pastinya tetapi mungkin melebihi berpuluh-puluh item, terbukti dari dua kotak besar disamping sofa juga belum cukup menampung semuanya.
Azalea meraih sebuah buku dari bawah lantai dan memperhatikannya. Buku itu berisi tentang panduan MPASI, untuk apa Ray membeli buku dengan judul seperti itu.
Tentu saja Azalea mengetahui dari mana asal buku-buku ini semua. semua buku ini dibeli ray beberapa bulan yang lalu di toko buku tempat ia bekerja. Tetapi Azalea tak menyangka bahwa buku yang dibelinya akan sebanyak itu. pria itu juga mengatakan bahwa ia membeli semua buku saat itu untuk disumbangkan tetapi mengapa semua buku ini masih ada disini.
Lamunan Azalea terhenti ketika Ray muncul tiba-tiba dari belakangnya sambil membawa secangkir cokelat panas. Ray meraih buku ditangan Azalea dengan lembut lalu
melemparkannya sembarang kebalik sofa.
"katanya buku-buku ini akan disumbang... "
Azalea baru saja akan memprotes ketika tiba-tiba telunjuk Ray menutupi bibirnya.
"shsstt"
Azalea tak berbicara lagi ketika Ray menuntunnya untuk duduk keatas sofa.
Ray ikut duduk disamping Azalea dan sekarang tampak merangkul bahunya dengan lembut.
Meski berusaha mengalihkan pembicaraan namun gadis disebelah nya masih menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
"katanya buku-buku itu akan disumbangkan, kok bukunya masih ada disini? " tanya Azalea dengan nada curiga
"iya, aku belum sempat ke tempat badan amal,lea" jawab Ray lembut, namun gadis dalam rangkulannya tampak belum juga puas dengan jawaban asal-asalannya.
"Kan bisa dikirim melalui pos atau ekspedisi. " ujar Azalea lagi
Ray menghela napas panjang. Pria itu sekarang menyerah menghadapi sikap keras kepala gadis didepannya itu. Apakah benar dalam usia ini para remaja sedang dalam fase kontradiktif yang sulit dikendalikan.
Ray menatap pasrah kearah Azalea.
"iya, lea, Aku jujur sama kamu. Buku-buku itu aku beli ditoko buku hanya sebagai alasan untuk bisa bertemu dengan kamu. "jawab ray kali ini terdengar jujur
senyum tipis terukir di wajah cantik Azalea, ada perasaan hangat yang menyentuh hatinya. namun kata-kata selanjutnya yang diucapkan gadis itu berhasil membuat ray terlihat kesal
" kenapa menghamburkan-hamburkan uang, untuk hal seperti itu? "
Ray menghela napas, Ia tak berniat berdebat dengan gadis remaja itu. tentu saja ia bisa memenangkan debat itu dengan mudah, namun hal itu juga tidak akan membuat gadis itu senang. jadi untuk apa?
"iya, Azalea.. aku yang salah."
Meski belum puas dengan jawaban Pria itu, Azalea tak lagi melanjutkan kata-katanya. Azalea kini bersandar di pundak Ray dan mengikuti pria itu untuk menonton televisi didepan mereka.
Lama mereka berdiam, Entah fokus dengan acara televisi didepan sana atau sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Ray menoleh kearah Azalea.
"leaa.. " panggil Ray pelan
"hmm " jawab gadis itu tanpa balik menoleh Ray.
"Kamu mau jadi apa, kenapa gak kuliah? "tanya Ray dan berhasil mencuri perhatian Azalea.
Gadis itu terkesiap.pertanyaan tiba-tiba Ray mengusik pikirannya. Ia memang sudah menamatkan sekolah menengah tahun lalu namun terpaksa harus menganggur karena terkendala oleh biaya.Tapi bagaimana caranya mengatakan hal itu kepada Ray. Azalea hanya terdiam, terlalu malu untuk menjawab pertanyaan pria itu.
"Apa kamu terkendala biaya, lea? "
sekali lagi pria itu seperti bisa membaca pikiran Azalea. Namun pertanyaan itu membuat gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam diikuti wajahnya yang mulai merah menahan malu.
"jangan pikirkan apa pun lea, biarkan aku membiayai kuliah mu.. " ucap Ray lagi dengan kata-kata yang terdengar hati-hati. takut jika kata-katanya akan menyinggung perasaan gadis itu.
Azalea tdak menjawab dan masih menundukkan kepalanya. sulit untuk memahami perasaan gadis itu.
Ray memegang dagu Azalea dan menuntun wajahnya untuk menatap kearahnya. kini mereka sudah saling menatap satu sama lain.
"tatap aku, lea. Jangan merasa malu seperti itu. Aku bukan siapa-siapa lagi sekarang kan? Jadi tolong jangan menolak permintaanku..Aku gak bermaksud apa-apa, semua aku lakukan karena aku sayang sama kamu" ucap Ray dengan nada yang terdengar sangat lembut.
Matanya gadis didepannya mulai berkaca-kaca, sedetik kemudian tangis gadis itu kembali pecah.
Ray dengan cepat menarik tubuh Azalea kedalam dekapannya. ia memeluk gadis itu dengan erat,tidak ada yang lebih diinginkannya selain terus melindungi gadis itu.
"jangan menolakku lea, lanjutkan lah kuliah.. "