"Kan ku kejar, akan ku cari kemanapun, dimanapun, di sudut Dunia sekalipun, akan ku dapatkan kamu, lagi. Tidak ada alasan lain, selain karna aku ingin hidup dengan mu, selamanya. " ~Riyan Adijaya
Berkisah tentang Riyan dan Vania, kisah cinta manis berujung pahit. Dimana, setelah satu tahun berkuliah di Jerman, Riyan mengalami kecelakaan mengakibatkan Amnesia Retrograde pada dirinya. Dan melupakan, Vania.
Setelah dua tahun kemudian, Riyan malah di paksa untuk menjadi guru pengganti di SMA MERAH PUTIH. SMA di mana Vania berada.
Akankah, kisah asam manis keduanya masih berlanjut? akankah mereka benar -benar bersanding di pelaminan, nanti? Ataukah, itu memang hanya masa lalu belaka?
yuk simak~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Waktunya Riy--eh Arka?!
***
Vania menarik napasnya panjang, dirinya yang gugup memaksa otak kecilnya untuk berfikir dan tetap tenang.
Ketakutan mulai merayapi dirinya, dimana Vania bisa melihat orang-orang itu membawa senjata tajam, bahkam beberapa tongkat kayu yang kelihatannya keras. Cukup di lihat saja, jangan sampai tongkat kayu itu melayang di kepala atau leher. Rasanya pasti uhhh
Setelah agak lama, napas Vania mulai kembali agak normal. Meski memang dia masih sangat takut saat ini.
Vania mulai mengintip dari balik pohon, matanya menyusuri tempat-tempat yang mungkin bisa di laluinya.
"Huppppppp!!! " tiba-tiba ada tangan yang menutup mulut Vania. Sontak, gadis itu meronta. Pertahanan pertama yang di lakukan, adalah menggigit tangan orang itu.
"Husstt!! Aww aww tangan gue! Harimau lu yah? Njirr, tangan gue sakit banget. Parah lu Van! " respon orang itu. Suaranya seperti cowok, Vania menoleh ke belakang. Tampak dia, Arka sudah mengibas-ngibaskan tangannya yang baru di gigit oleh Vania.
"Ha--"
Arka melotot, wajar. Itu semua salah Vania yang ingin berteriak. Sontak, Vania langsung mengecilkan suaranya.
"Arka? Kamu ngapain di sini? Kamu tawuran juga? " tanya Vania, setengah berbisik.
"Enggak lah. Gue emang biangnya telat, tapi gue bukan rajanya tawuran. Sorry, gak level. "
"Tarus, kamu ngapain di sini? "
"Gue tadi liat lo, dan langsung ikutin lo, gak taunya lo malah kejebak di sini, ya gue ikut lah. "
"Ooooooo gitu, " Vania mengangguk-anggukan kepalanya. "Btw, maaf ya. Karna aku kamu jadi ikut ke jebak. Tapi, gak salah ku juga sih. Suruh siapa kao ngikutin aku. " ucapak terima kasih yang setengah tulus itu, terucap dari bibir mungil gadis ini.
"Kok gue agak nyesel yah ngikutin lo. " Arka memasang wajah datarnya.
"Jadi, gimana caranya kita bisa keluar dari sini? "
"Santai, gue ada caranya. "
Arka menarik tangan Vania, Vania hanya bisa mengikuti jalan-jalan yang Arka lalui. Bahkan, Vania harus rela melalui jalan yang dekat dengan TPU. Hingga akhirnya mereka sampai di jalan raya.
Vania langsung mengernyitkan dahinya, saat dia sudah melihat seorang pria narsisme yang berdiri di dekat pintu mobil, tengah berkaca ria, sembari beberapa kali menyisir rambutnya dengan tiga jarinya.
"Eh binik gue, lo gak papa? Anak-anak culun yang tawuran itu ada ngapa-ngapain lu gak? " tanya pria itu. Vania kenal siapa dia.
"Sandy? " gumam Vania.
Sandy lalu berjalan mendekat ke arah Arka dan Vania.
"Iyah ini gue. Lo gak papa kan? Lo juga gak di sentuh Arka cunguk ini kan? " tanya Sandy memastikan. Dia memegang erat bahu Vania.
"Halah lu mah bacod aja San. Katanya aja pengen lindungin Vania. Nyatanya hylyh! " Sindir Arka. Arka yang paling tau dengan jelas bagaimana proses penyelamatan Vania ini berlangsung.
"Bukan gue bacod ka. Gue cuma kasihan aja sama anak-anak yang tawuran itu kalau berhadapan langsung sama gue. Jangankan gue pukul, liat muka gue yang ganteng ini aja mereka udah mundur teratur karna minder. " begitulah penjelasan manusia dengan berjuta alasan ini.
"Iya iya gua percaya, lu ganteng, lu keren, hebat, lu jago. Nah Van, masuk mobil bareng gue. Jangan di dengerin dia. Lu stress lama-lama ntar. Mending ke sekolah aja. " Arka menarik cepat tangan Vania masuk ke dalam mobil.
"Van? Kamu gak papa? Ada yang sakit? Butuh ke Klinik? " Suara perempuan itu yang duduk di sebelah bangku supir menyapa hangat Vania. Vania kenal dengan gadis itu.
"Kamu Dish? Ikut juga? " sahut Vania heran.
"Iyaa aku nih. Gak bisa biarin Sandy bawa mobil sendiri. Kamu kan tau stressnya manusia itu gimana? "
"Iyah juga. Gua juga heran, gimana jalannya gua bisa temenan sama tuh bocah. " tambah Arka. Arka duduk di sebelah Vania di bangku belakang.
***
"Maaf Tuan muda, saya memang mengantarkan Nona Vania ke sekolah. Tapi tidak sampai gerbangnya. Di tengah jalan mobil kami mogok. Dan Nona bilang akan melanjutkan perjalanan nya jalan kaki saja. Dia akan memotong jalannya, melalui sebuah gang kecil."
Gang kecil? Satu-satunya gang sempit dan kecil di dekat SMA Merah Putih adalah Gang Encot?!!!
Seketika gambaran ingatan orang-orang tawuran hinggap di otak Riyan. Bahkan Riyan ingat, dia pernah ikut tawuran juga, sepertinya.
Entah kenapa, mengingat itu hati Riyan tidak tenang. Dia mengambil kunci mobilnya. Berlari cepat menaiki mobilnya.
Riyan segera menjalankan mobilnya. Dia mengabaikan rasa sakit yang kian memuncak di kepalanya. Bukan sekadar rasa sakit, ada rasa khawatir juga di hatinya. Di saat itu Riyan hanya mengingat wajah mungil Vania.
Bruakhhh!!!!
Karena terlalu memaksakan dirinya, Riyan malah menabrak tembok gerbang rumahnya sendiri. Kecelakaan yang tidak begitu parah. Namun menghasilkan luka yang lumayan dalam di beberapa bagian tubuh Riyan.
Semua pelayan berlarian mencari bantuan.
***
Vania dengan wajah melamunnya, baru saja memasuki kelas unnormal itu. Meskipun sudah sampai di sekolah dengan selamat. Vania tidak tau, hatinya merasa tidak tenang. Ada yang aneh. Rasanya Vania ingin selalu menangis saja.
"Nah, kan tadi lo yang duduk bareng Vania di mobil. Nah sekarang gue dong, gantian. " celetuk Sandy, ingin duduk di sebelah Vania.
Bukkk!!!
Disha dengan enteng memukul bahu bidang Sandy dengan buku paket yant tebal itu. Uh, rasanya tuh
Vania sama sekali tidak menanggapinya. Dia hanya melamun, tapi tak tau apa yang di lamunkannya.
"Enak aja kamu mau duduk di sebelah Vania. Gak bisa! Meskipun Vania gak pinter-pinter amat. Soal PR dia selalu siap. Jadi semeja dengan Vania adalah jalan terbaik untuk menyalin tugas. " Begitulah keterangan pelaku nyontekers tanpa ada kata yang di sensor sedikitpun. Vania heran, bagaimana ada jenis manusia tak tau malu seperti Disha ini. Dan masalah selanjutnya, kenapa Vania bisa berteman dengannya.
"Nah, hari ini aku damai sama Disha. Yang dia bilang bener. Van, minta Pe-Er Fisika dong. " sambung Shina enteng. Dia keluar dari kerumunan gosipnya, dan langsung nimbrung dengan orang-orang ini.
"Gak bisa gitu dong. Kan aku duluan yang minta. Van, bagi ke aku dulu PR Fisikanya!"
"Berisik! Nah ini kalian bagi dua. "
Arka kembali duduk ke kursinya. Dia mengingat wajah Vania yang sedikit khawatir saat dia duduk tadi.
Apa Vania kaget? Takut? Yah jelaslah! Siapa yang gak takut dan gemetar kalau terjebak dalam kerumunan orang tawuran gitu. Tapi, masalahnya adalah apakah dia trauma?
Batin Arka. Dia mulai menerka-nerka kemungkinan yang terjadi.
"Lo suka sama Vania, Ka? " tiba-tiba Sandy bertanya seperti itu. Seasaat setelah dia meletakkan tasnya.
Arka tersentak halus. Dia agak terkejut dengan pertanyaan Sandy ini.
"Gak lah. Gua anggap Vania sahabat gua sendiri, makanya gua lindungin dia. Karna dia saha--"
Entah kenapa, ada rasa yang aneh saat Arka mengatakan 'sahabat' ini.
***
Sebenarnya yang suka sama Vania siapa sih Thor? Riyan, sandy, apa Arkha?
Berhubung authornya serakah. Buat aja semua suka Vania wkwk 😆😂😂
Dan aku masih kepo apa maksud Rayden tadi soal kecelakaan ortunya Vania?? 🤔🤔