Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
POV WAHYU.
Hampir satu jam lebih, Wahyu terbaring pingsan setelah kepalanya dihantam vas bunga dari kayu jati oleh Asyifa.
Pria berperawakan tinggi dan besar itu mencoba bangkit berdiri seraya memegangi kepalanya yang terluka dan berdarah. Langkahnya sempoyongan tatkala dia mencoba untuk berjalan. Pandangan matanya masih terasa berkunang-kunang sebab luka pada kepalanya cukup parah.
"Asyifa..., Asyifa! Dimana kau?!" teriaknya serak mencari sosok Asyifa disetiap ruangan yang ada di rumahnya.
Hatinya sangat jengkel dan marah tatkala sosok Asyifa tak ia temukan didalam rumahnya.
"Dasar sial! Dia pasti sudah kabur!" dengus Wahyu geram dalam hati seraya mengepalkan tinjunya menonjok dinding tembok rumahnya.
Tangannya pun bergerak cepat merogoh ponsel miliknya yang selalu standby dalam kantong celananya.
"Halo, Nikita." Suara seraknya terdengar menyapa Nikita lewat panggilan telpon yang baru saja tersambung dengan ponsel Nikita.
"Asyifa kabur. Dia hilang!" Wahyu memberitahu Nikita dengan nada bergetar.
"Apa?! Dasar tolol! Kenapa dia bisa kabur?!" suara Nikita terdengar melengking keras membentak Wahyu lewat telpon.
"Dia memukul kepalaku hingga pingsan. Aku harus ke dokter. Lukaku lumayan parah." Tutur Wahyu meringis menahan perih yang timbul akibat luka di kepalanya.
"Kau memang payah! Pokoknya aku tidak mau tahu, cari dia sampai ketemu!" hardik Nikita kesal.
Tut...
Wahyu terpaku sejenak saat panggilan telpon diputuskan begitu saja oleh Nikita.
"Dasar perempuan setan! Bukannya terimakasih, malah ngomel kayak Mak lampir." Dengus Wahyu gregetan seraya mencak-mencak menatap kotak pipih yang ada dalam genggamannya.
"Akh! Asyifa, lihat saja nanti. Aku akan mencari mu sampai ketemu. Kau harus membayar luka di kepalaku ini dengan tubuhmu!" gumam Wahyu kesal setengah mati seraya meraba bekas luka yang ada di kepalanya.
Perlahan, Wahyu pun berjalan keluar rumah dan langsung berangkat untuk mencari klinik terdekat.
Di rumah Nikita dan Randa.
Nikita tampak mondar mandir dengan perasaan gelisah diruang tengah. Raut wajah panik dan cemas terukir jelas diwajahnya. Nikita takut, Asyifa mendadak datang kerumahnya membawa serta Safina anaknya. Rencana jahatnya bisa gagal total, Randa pasti akan tahu jika Asyifa sebenarnya diculik Wahyu, bukan kabur bersama mantan pacarnya yang bernama Ken itu.
"Ada apa denganmu Niki? Kenapa kau mondar mandir kayak setrikaan?" Randa memandang heran pada Nikita yang langsung pucat pasi saat kepergok Randa yang baru saja datang entah darimana semenjak siang tadi.
Randa menaruh pantatnya kasar diatas sofa empuk di ruangan itu. Raut wajah lelah dan kusam terpapar diwajahnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus setelah beberapa hari dia tidak cukuran. Randa jadi malas merawat diri sejak Asyifa dan Safina menghilang.
Biasanya, Randa selalu rutin cukuran kumis dan jenggot agar tidak kelihatan terlalu tua dimata Asyifa yang umurnya jauh berbeda dengan Randa. Selisih umur 10 tahun cukup membuat Randa sering tidak percaya diri didepan Asyifa yang masih muda dan cantik.
"Darimana saja kamu mas?" Nikita malah balik bertanya mengabaikan pertanyaan Randa yang menurutnya tidak terlalu penting untuk ia jawab.
"Aku sibuk, kau tak perlu banyak tahu apa urusanku." Jawab Randa ketus mengelak dari pertanyaan Nikita yang selalu penuh nada curiga.
Nikita meradang mendengar jawaban Randa yang membuat darahnya jadi panas.
"Alah..., bilang saja kamu sibuk mencari istri muda mu itu." sindir Nikita tajam.
Perkataan Nikita telak menghantam perasaan Randa yang sedang kacau balau karna kehilangan Asyifa dan Safina anaknya. Apalagi setelah orang-orang suruhannya tadi menelpon memberi kabar, bahwa Ken menghajar anak buahnya itu hingga babak belur. Mereka juga memberitahu kalau Ken tidak terbukti membawa kabur Asyifa. Randa makin pusing tujuh keliling memikirkan Asyifa dan Safina yang menghilang entah kemana.
"Aku tidak punya tenaga untuk bertengkar denganmu hari ini Nikita." Ujar Randa dengan nada sarkas.
Diapun melepas kancing atas baju kemejanya memberi ruang agar separuh dadanya terbuka. Dinginnya AC di rumah itu tak menghilangkan rasa gerah yang sedari tadi hinggap ditubuhnya.
Walau sudah berumur 35 tahun, pesona Randa masih menggetarkan hati Nikita. Perempuan malang yang sudah jarang sekali disentuh suaminya itu jadi berhasrat melihat suaminya yang setengah bertelanjang dada.
Rasa cemburu yang sempat hadir sejenak saat mengingat Asyifa, perlahan sirna berganti gelora dalam dada Nikita. Dia pun mendekati suaminya yang tengah duduk di sofa dan ikut duduk disampingnya.
"Mas mau ku pijitin?" suara Nikita mendadak berubah lembut dan merapatkan duduknya pada tubuh Randa.
Randa memandang Nikita dengan dahi berkerut. Tangannya terangkat naik menepis tangan Nikita yang berniat menyentuh bahunya. Randa paham apa yang Nikita inginkan padanya saat ini. Jujur, Randa sedang tidak berminat untuk itu.
"Tidak usah, aku ngantuk, aku mau tidur saja." Tolak Randa tanpa mempedulikan perubahan drastis diwajah Nikita akibat penolakannya.
Randa bergegas bangkit dari duduknya bermaksud menghindar dari Nikita.
"Sampai kapan kau akan terus mengabaikanku, mas?!" teriak Nikita tiba-tiba jadi emosi.
Randa terpaku di tempatnya berdiri. Dia pun berbalik memandang Nikita dengan perasaan jengkel.
"Mengertilah Niki, aku sangat lelah! Aku butuh ketenangan. Please, jangan kasih aku masalah hari ini. Aku capek!" pinta Randa mencoba mengontrol emosinya yang jadi naik turun melihat sikap Nikita yang selalu posesif dan memancing emosinya.
Nikita mendengus marah, kedua matanya melotot mendengar perkataan Randa yang tak mau memahami perasaannya sedikitpun. Dia hanya butuh sedikit perhatian dan kasih sayang dari suaminya, kenapa itu begitu sulit? Harta yang ia miliki tidak cukup membuat Randa untuk terus bertahan disisinya. Hati dan pikiran suaminya telah dirampas oleh Asyifa.
"Pergi! Pergi kau sana! Terus cari istri muda dan anakmu itu sampai kau mati!" sumpah serapah dari mulut Nikita meluncur deras tanpa hambatan.
Usai bicara, Nikita langsung berlari menuju kamar membawa kelukaan hatinya dengan membanting pintu kamar sekeras tenaganya.
Blam!
Randa tertegun menyaksikan pintu kamar yang tertutup rapat. Ucapan Nikita yang mengusir serta menyumpahinya membuat perasaan Randa makin terpukul hebat. Kehilangan Asyifa dan Safina sudah cukup membuat separuh nyawanya sirna. Haruskah ia kehilangan Nikita juga? Hidupnya pasti makin hancur?
Hati Randa makin gundah gulana. Kebimbangan terpampang diraut wajahnya saat ia ingin mengetuk pintu kamar. Gerakan tangannya untuk mengetuk pintu, ia urungkan kembali. Randa berbalik menyambar kunci mobil yang sempat ia taruh diatas meja dekat sofa. Langkah kakinya terayun gontai keluar rumah.
Brum...
Deru suara mobil Randa yang terdengar melaju meninggalkan pelataran rumah, membuat Nikita melompat bangun dari atas ranjang kamarnya. Air matanya bergulir deras mengintip kepergian Randa dari balik gorden jendela kamarnya.
"Lihat saja mas, aku akan membuat hidupmu hancur! Kau telah mengingkari semua janjimu padaku. Kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan Asyifa dan anakmu Safina!" tekadnya untuk memisahkan Randa dengan Asyifa dan anaknya Safina makin terpatri dalam hati Nikita.
Nikita merogoh ponsel yang ada dalam saku roknya. Dia pun mengetik sebuah kalimat di layar ponsel dan mengirimkannya pada nomor Wahyu.
"Temukan Asyifa! Setelah itu bawa dia dan anaknya pergi jauh! Aku tak butuh anak itu lagi! Aku ingin Randa kehilangan istri dan anaknya selamanya."
Ting!
Wahyu terpaku membaca chat dari Nikita yang barusan masuk kedalam ponselnya. Senyuman jahat terukir tipis di bibirnya.
"Tentu saja aku akan melakukannya Niki. Perempuan itu dan anaknya akan kutemukan demi kepentinganku sendiri. Bukan demi kau ataupun Randa!" Wahyu menyeringai dingin seraya menaruh ponselnya ke dalam kantong celananya tanpa berniat membalas pesan yang dikirim Nikita padanya.
.
.
.
BERSAMBUNG