Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Enam Belas
'klek'
Suara pintu kamar terbuka, sontak membuat Ryan menoleh karena posisinya membelakangi pintu. Saat melihat siapa yang datang, Ryan merasa terselematkan.
"Loh, kamu kenapa?" tanya Ika yang baru datang ketika melihat Hana menangis. Ika berjalan mendekati Hana dan mengusap bahunya pelan.
Hana menggeleng "Aku tidak apa-apa." ucapnya. Ia tak mau membuat Ika kuatir.
"Kamu udah makan?" Tanya Ika mengalihkan topik mereka.
"Udah tadi."
"Ya udah, mumpung babynya bobo, kamu juga istirhat gih." Ika menepuk-nepuk bantal menyusun supaya Hana tidur dengan nyaman. Lalu Ika membantu Hana tiduran.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan kamu." ucap Hana dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat merasa berhutang budi dengan Ika. Ika sudah banyak membantunya selama di sini di tempat asing yang tidak ia sangka akan lari ke kota yang jauh dari pikiran asalnya.
"Kamu ini apaan sih. Sekarang istirahat aja!" seru Ika tulus.
Ryan yang duduk di sofa hanya bisa memandang interaksi kedua sahabat itu. Setelah memastikan Hana tertidur, Ika membawa Ryan keluar, ia menutup pintu dengan pelan agar tak menimbulkan suara. Lalu Ika membawa Ryan duduk di salah satu bangku yang ada di lorong rumah sakit itu. Ia ingin menanyakan kenapa Hana bisa sesedih itu.
"Kenapa dengan Hana?" tanya Ika saat mereka berdua sudah duduk di kursi yang agak jauh dari kamar Hana.
"Aku juga nggak tau kenapa sampai dia sesedih itu. Setelah aku memberikan nama depan untuk anaknya, lalu aku bilang kalau dia mau kasih nama marga dari ayah anaknya. Tidak lama Hana langsung menangis seperti menahan rasa sakit yang teramat. Aku bingung tadinya mau ngapain. Untung kamu datang." jelas Ryan panjang lebar. Tentu ia tidak ingin di salahkan membuat Hana sedih.
Mendengar penjelasan Ryan tadi, Ika mengehela nafasnya panjang. Wajar saja Hana akan bersedih karena ia hamil di luar nikah.
"Hana hamil di luar nikah!" ucapnya spontan
Ryan langsung menoleh setelah mendengar penuturan Ika, dari sorot matanya ia ingin penjelasan lebih lagi. Karena tidak mungkin gadis seperti Hana akan melakukan hal seperti itu.
Seakan mengerti akan tatapan Ryan, Ika melanjutkan lagi penjelasannya. Ia tau, mungkin ia lancang menceritakan permasalahan Hana tanpa ijinnya. Namun ia juga tidak ingin Ryan merasa bersalah tanpa tau masalah.
"Iya dia hamil di luar nikah, waktu itu Hana bekerja di kantor suaminya kemudian dia di minta untuk menikah oleh almarhum ayah suaminya. Awalnya Hana menolak karena ia belum mengenal seperti apa anak bosnya itu. Tapi, karena bosnya memaksa akhirnya Hana menyetujui. Tidak lama mereka menikah dan hanya selang beberapa jam ayah suaminya meninggal dunia. Akhirnya suami Hana mengambil keputusan untuk bercerai karena tak ada rasa di antara mereka berdua."
Ryan masih diam menyimak cerita yang di sampaikan Ika. Ia merasa iba dengan nasib Hana. Ika pun masih melanjutkan ceritanya bagaimana bisa terjadi sampai Hana hamil dan pergi dari Jakarta.
"Apa kau tau nama mantan suaminya?" tanya Ryan.
Ika menggeleng "Aku tidak tau. Hanya ia pernah bilang kalau mantan suaminya seorang CEO menggantikan ayahnya yang sudah meninggal."
Ryan memegang dagu nya berfikir dan sesekali nampak keningnya berkerut. Begitu pun dengan Ika juga nampak melamun.
"Oh ya siapa nama baby Hana yang kamu berikan?"
"Aksa."
"Cuma Aksa aja?"
"Iya. Tadinya aku pikir biar saja Hana yang akan memberikan nama belakang Aksa dengan nama marga ayah Aksa." Ryan terdiam memcerna situasi tadi "Ah, kini aku paham kenapa Hana tadi sedih. Sungguh aku tidak tau dan aku sangat menyesal." Ujar Ryan dengan sirat wajah yang memang benar-benar menyesal.
"Aku rasa dia tidak menyalahkan mu. Mungkin ia hanya sedang terbawa susana saja."
Setelah mengbrol lama dengan Ika, Ryan pamit pulang karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ryan menitipkan salam dan maaf pada Hana. Dan ia juga berjanji akan menjenguk Hana lagi sebelum Hana di ijinkan pulang.
Sepanjang jalan Ryan masih teringat cerita Ika tentang Hana. Ia sangat kasian dengan nasib Hana.
.
.
.
Hari ini, Rico dan Tomy serta sekretarisnya pergi meninjau lokasi tambang batu bara yang telah menjadi proyek kerja sama mereka. Dengan menggunakan mobil khusus mereka meninggalkan kediaman Tomy. Dengan perjalan dua jam lebih, akhirnya mereka tiba di lokasi. Di sana sudah mulai pengerjaan. Tomy menjelaskan pada Rico tentang pertambangan batu bara dan cara kerjanya.
"Jadi di sini nanti akan di bangun gedung perusahaan tempat para kariawan bekerja, di sana akan di bangun mess, dan juga nanti akan di bangun rumah sakit khusus perusahaan. Akan tetapi sebagai bentuk rasa kemanusiaan jadi rumah sakit di sini juga bisa di gunakan oleh masyarakat di sekitar sini." Ucap Tomy sembari memperlihatkan peta lokasi pada Rico.
Rico mendengarkan secara seksama penjelasan Tomy. Ini pertama kalinya ia bergabung dalam perusahaan yang bergerak di bidang batu bara. Jadi ia masih belajar dengan mendengarkan penjelasan-penjelasan Tomy yang sudah berpengalaman. Tomy juga memiliki perusahaan batu bara lain dan juga minyak. Tomy mengajak Rico berkeliling, sementara sang sekretaris masih sibuk dengan laptopnya membuat laporan untuk bahan analisa nanti.
Untuk peninjauan hari ini berakhir di sore hari. Mereka akhirnya sampai di kediaman Tomy. Tidak mudah untuk masuk ke lokasi perusahaan. Selain jauh, jalan yang mereka lewati masih merupakan tanah kuning yang belum di aspal.
Suzil lebih sering terkejut dan jantungan mendadak karena jalan yang mereka lalui berkelok dan licin. Untungnya ia tidak mengalami mabuk perjalanan.
Setelah sampai, Rico dan Suzil pamit masuk kamar untuk membersihkan diri dan juga beristirahat.
Pukul tujuh malam mereka sudah berkumpul di ruang makan, karena malam ini malam terakhir Rico dan Suzil di Palangkaraya. Besok mereka harus sudah kembali ke Jakarta. Rico sudah mempercayakan semuanya pada Tomy.
Makan malam berjalan dengan hangat, Tomy sekeluarga tipe keluarga yang welcome. Di suguhi makanan khas Kalimantan membuat Rico dan juga Suzil mengkerutkan keningnya melihat menu yang menurut mereka asing meski terbuat dari ayam dan juga ikan serta daging. Namun daging bukanlah daging sapi yang sering mereka berdua jumpai di restoran maupun menu makanan di rumah.
"Ini daging menjangan, Ric. Dimasak kuning seperti ini sangat enak." Ucap Tomy menjelaskan.
Meski sedikit ragu untuk memakannya, namun tak urung Rico ambil sehiris daging kecil. Ia campur dengan nasi. Rico mengunyah dengan pelan meresapi rasa daging dan juga bumbu khas.
"Enak. Teksturnya lembut. Bumbunya juga berasa." Rico memberikan pendapatnya tentang daging menjangan yang memang baru pertama kali untuknya makan.
"Di sini juga sudah sangat langka. Selain habitatnya yang hampir punah, mereka juga di lindungi habitatnya." Ujar Tomy menjelaskan.
"Ayo di makan," ajak Tomy pada Suzil. Obrolan pun berlanjut ke ruang tamu. Rico maupun Suzil menolak di ajak jalan-jalan menikmati kota Palangkaraya. Selain merasa capek, mereka juga harus berangkat pagi-pagi sekali ke Jakarta.
Bersambung
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....