Hai, salam kenal! ini karyaku yang pertama semoga kalian suka. Terima kasih sudah berkenan membaca!
Bab 1. Pertemuan
Namaku Aiu N. Ya, Aiu N. Banyak orang tanya nama panjangku tapi hanya ku jawab seperti itu saja. Aku memang tidak tahu kepanjangan "N" itu sendiri. Mereka bilang aku aneh karena gak tahu kepanjangan namaku sendiri. Mau gimana lagi emang itu yang terjadi.
Aku tinggal di toko kue yang letaknya di sebelah panti asuhan. Aku dibesarkan di panti asuhan. Menurut cerita ibu kepala panti, aku dibawa ke sana saat umurku 5 tahun. Nenek yang membawaku meninggal setelah 1 hari tinggal di panti. Tidak banyak yang diceritakan kepadaku tentang siapa aku. Meski penasaran tapi ya sudahlah, mungkin suatu saat akan datang jawabannya.
Hari sudah pagi, adzan subuh sudah berkumandang. Bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Hari ini memang seperti biasa hanya saja aku harus bergerak cepat karena ini hari pertama datangnya bos baru. Gak mungkin kan terlambat di hari pertama bos baru datang. Apa kata si bos nanti?!!
Setelah salat subuh, aku turun ke bawah menuju toko kue. Melihat persiapan toko yang akan dibuka pukul 06.00 setiap harinya. Semenjak kerja semua kegiatan toko ku serahkan pada anak-anak di panti yang sudah lulus SMA. Aku hanya tinggal mengawasi saja. Setelah persiapan selesai, toko dibuka dan pembeli mulai berdatangan. Aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Dengan mengenakan blouse berwarna biru langit, celana panjang hitam, serta blazer hitam aku siap untuk pergi kerja. Rambut dikuncir kuda, make up tipis, dan tidak lupa sepatu kets serta ransel biru dongker kesayangan menyertaiku pagi itu. Setiap hari ke kantor dengan naik angkutan umum. Males aja naik kendaraan pribadi, bikin macet dan nambah polusi.
Hanya 5 menit perjalanan sampai dengan selamat di kantor. Seperti biasa satpam yang ramah menyapa.
"Pagi, mbak!" kata pak satpam.
"Pagi, pak!" jawabku.
Aku berlari menuju lift setelah melihat ada lift yang terbuka. Selamat. Orang-orang di lift menatap aneh ke arahku. Aku hanya diam. Ku tekan tombol 10. Seketika ku dengar bisik-bisik tetangga, "Oo...itu ya si orang aneh itu!" kata salah seorang wanita. Tak ku pedulikan dan tetap diam saja. Satu persatu orang-orang itu turun dari lift. Tinggal aku seorang diri. Ting. Bunyi lift dan pintu terbuka. Aku segera masuk ke dalam ruanganku.
Setelah duduk di kursiku, ku nyalakan komputer dan membaca setiap email yang masuk. Ku lihat ke ruangan bos, si bos belum datang. Akupun pergi ke aula untuk melihat persiapan pertemuan pagi ini. Pertemuan dimulai pukul 09.00, sekarang masih jam 07.15. Setelah mengecek semua persiapan, aku kembali ke ruangan. Ku lihat lagi ruangan si bos, belum datang. "Kembali ke ruangan dulu ah!"
Sambil mendengarkan lagu Ready steady go-nya Laruku, ku cek lagi jadwal si bos hari ini. Kalo ada yang kelupaan bisa amsyong.
- Author pake dua kata subjek aku dan gue ya... itu semata ngikutin kata hatinya author yang aneh. -
Jujur aja gue gak tau orang macam apa yang bakal gantiin Pak Hadi. Sebenarnya ada rasa takut di hati, apa bakal cocok atau gak sama bos baru. Apa bakal dipecat ya kalo dia liat kelakuan aneh gue? Apa semua keanehan gue yang ditolerir sama Pak Hadi bakal berakhir? Jangan-jangan gue disuruh ngembaliin ruangan sekretaris kayak dulu lagi. Yap. Ruangan gue ini dah dirombak sedemikian rupa biar gue nyaman. Ruangan sekretaris yang udah mirip kamar kos-kosan. Meja kerja gue ganti sama meja minum teh ala jepang. Lantainya full karpet bulu. Dindingnya gue tempelin wallpaper gambar bunga sakura dan pemandangan musim semi di jepang. Gak lupa di meja gue pasang bingkai fotonya Hyde, vokalisnya Laruku yang ganteng. Gue juga bawa kasur lipet semacam futon gitu yang gue umpetin di lemari. Jaga-jaga kalo lembur dan males pulang jadi tidur di kantor. Serasa tu kantor gue yang punya, hahaha... Ada rak sepatu di depan ruangan. Isinya ada sendal bunny kesayangan gue, sepatu kets, flat shoes juga sepatu kerja berhak 5cm, dan sendal jepit.
Lagi asik ngelamun, tiba-tiba pintu diketuk. Tok..tok...tok... Ku lihat Pak Hadi berdiri di pintu ruangan.
"Maaf pak saya ngelamun, gak tau bapak udah datang." kataku.
"Sudah gak apa-apa. Kamu kasih tau semua karyawan untuk berkumpul di aula 5 menit lagi". ucap Pak Hadi dengan senyum.
Tepat pukul 08.00 semua karyawan sudah berkumpul di aula. Kemudian Pak Hadi masuk bersama dengan dua orang pria yang mukanya aje gile, ganteng bener. Jujur aja gue sampe bengong liatnya. Gue cepet-cepet sadar, kalo gak fokus apa kata bos baru bisa-bisa habis pertemuan gue dipecat.
Gak pake basa-basi, Pak Hadi langsung memperkenalkan pria yang bersamanya.
"Assalamualaikum, Selamat Pagi! Ini anak saya yang mulai hari ini akan memimpin perusahaan." ucap Pak Hadi sambil merangkul anaknya dan tak lupa tentunya dengan senyuman.
"Assalamualaikum, Selamat pagi! Saya Andreas Putra Winata dan ini asisten saya Alex Wiryawan. Mohon kerja samanya selama saya memimpin. Terima kasih." ucap Andre singkat.
Setelah itu, semua karyawan kembali ke ruangan. Akupun meminta OB untuk membereskan aula. Sekilas ku dengar para karyawan membicarakan bos baru.
"Wuiiih...ganteng banget Pak Andre, udah punya pacar belum ya?? Pengen gue gebet dah si bos". kata salah satu karyawan wanita.
"Iya bener, ganteng banget, ada lesung pipinya, senyumnya itu loh, bikin hati lumer." kata karyawan wanita lainnya.
"Ganteng sih ganteng, tapi dia tu killer tau. Senyumannya cuma kamuflase aja. Belum pernah kan lo kena semprot sama dia" ucap seorang karyawan pria yang berlalu pergi.
"Apa sih ganggu aja?!!" kata para wanita itu.
Seketika jantung gue deg-degan setelah mendengar ucapan pria tadi. Apa jadinya sama gue nanti. Ya Allah tolong hambamu ini. batinku. Dengan perasaan gelisah kembali ke ruangan bos. Pasalnya Pak Hadi minta gue langsung ke ruangan setelah membereskan aula. "Haduuuhh...Ya Allah bagaimana ini? Tolong hamba Ya Allah." ucapku.
Tiba di depan ruangan bos, gue gak langsung masuk. Komat-kamit kayak dukun baca mantra kalo pas lagi praktek. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya gue ketok juga pintu ruangan si bos.
"Masuk!" perintah Pak Hadi. "Aiu sini nak! akupun berjalan menghampiri Pak Hadi. Aku memperkenalkan diri, "Saya Aiu, mohon kerja sama dan bimbingannya, pak!" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan, tapi kepalaku masih menunduk. Malu. itu yang ku rasakan.
"Oo...jadi namamu Aiu ya? Ditulis dengan huruf A, I, U. Sungguh unik. Seunik orangnya ya!" ucap Andre dengan senyum yang tak bisa diartikan.
Seketika aku menaikkan kepalaku hingga menatapnya. Ucapannya hanya ku balas dengan senyuman tipis. Apa sih ni orang, kenapa emang kalo gue unik. Tentunya cuma ngomong dalam hati ya. Kalo terang-terangan bisa-bisa disemprot gue, mending disemprot lah kalo dipecat, amsyong kan.
Melihat senyumanku yang seperti itu, Pak Hadi langsung bicara. "Kalian baik-baik ya! Ya udah papa pulang dulu ya, Dre! Papa mau liburn dulu sama mama." ucap Pak Hadi dengan gembira. "Kamu mau oleh-oleh apa iu?" tanya Pak Hadi.
"Terserah bapak aja. Apa yang bapak kasih aiu terima." jawabku.
"Kalo jodoh mau gak iu?" tanyanya.
"Kalo ada dan dia mau sama saya gak apa-apa pak." jawabku asal sambil tertawa lepas. Pak Hadi berlalu sambil tertawa. Entah mengapa tiba-tiba ruangan jadi berasa dingin. kenapa ya batinku. Akupun berinisiatif mengecek suhu AC. Suhunya normal pikirku. kok dingin ya? batinku.
"Kamu kenapa pegang-pegang remot AC? tanya Pak Andre ketus.
"Ga..gak..apa-apa pak." jawabku terbata.
"Saya permisi ke ruangan, pak." kataku pergi sambil berlari kecil menuju pintu dan menutupnya dengan hati-hati. Takut tersinggung lagi tu si bos baru.
Di dalam ruangan. "Lo kenapa Dre? kok ketus gitu? katanya mo kasih kesan baik? Kalo begini mah yang ada dia takut sama lo?" kata Alex. Kalo mereka cuma berdua, Andre minta Alex untuk bicara selayaknya teman. Andre hanya diam saja tidak membalas perkataan Alex. Jadi namanya Aiu. Hmmm.... Andre hanya tersenyum.
Segini dulu ya. mohon komen dan sarannya. Maaf kalo masih banyak typo. Terima kasih sudah membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Sanusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Pertemuan Tak Terduga
Pagi hari di rumah Aiu. Seperti biasa hari ini toko tetap buka seperti biasa. Pagi ini Aiu tak terlalu repot memasak di dapur. Saat bangun tidur tadi gadis berambut panjang itu mendapat pesan dari Andre.
To: Gadis kesayanganku
Hari ini kamu gak usah masak ya. Untuk sarapan buatkan sandwich. Hari ini ada temu klien di luar jadi bakalan makan siang dan malam di luar. Sandwichnya gak usah diantar. Nanti diambil sekalian berangkat kantor. Hati-hati di mall nanti ya! Have a nice day! ❤❤
Setelah membaca pesan itu Aiu tersenyum. Pasti Arin deh yang bilang kalo mau ngemall. Aiu membalas pesan itu.
To: Mas Andre
Siap bosqu!😉😉
Andre tak kalah senang saat menerima pesan itu karena baru kali ini Aiu memberikan emoticon pada pesannya. Ada kemajuan juga. Alon-alon asal klakon. Andre.
Pagi ini sangat santai. Aiu sedang asik meracik sandwich pesanan Andre di dapur. Gadis itu bersenandung riang. Arin yang baru datang meledeknya "Cieeee....yang lagi seneng, pagi-pagi udah nyanyi-nyanyi aja!" Wajah Aiu langsung merah merona, "Apaan sih?! Biasa aja kali!!!" jawab Aiu sambil memalingkan wajahnya karena malu ketahuan.
"Kok tumben kakak gak masak untuk Kak Andre?" tanya Arin penasaran karena tak terlihat kegiatan yang ribet seperti biasanya. "Ini permintaan kakak kamu! Mas Andre cuma minta dibuatkan sandwich untuk sarapan. Nanti tolong kamu kasihkan Alex ya kalau dia datang. Ini juga kan karena kamu yang bilang ke Mas Andre kan kalo kita mau ngemall?" tanya Aiu diakhir pernyataannya.
Arin hanya tertawa ringan. "Arin kan harus ijin sama Kak Andre kalo mau kemana-mana. Papa kan masih liburan." jawabnya. "Iya...iya...!!!" jawab Aiu.
Setelah menata dengan cantik sandwichnya Aiu bergegas untuk mandi. Untuk hari ini Aiu memakai pakaian casual. Kaus lengan panjang warna pink dengan motif bunga-bunga Aster di bagian depan, celana jeans basic menjadi andalannya. Seperti biasa rambut model ponytail memang ciri khasnya. Riasan wajah tipis dan sapuan lipgloss di bibir menambah cantik penampilannya hari ini.
Tanpa disadarinya Arin telah memotretnya dan mengirimkannya pada Andre. Andre yang menerima pesan Arin, hanya bisa menahan rasa saja. Sudah dua hari tidak bertemu Aiu, hanya bisa berkirim pesan, sudah berapa banyak rasa rindu yang dipendamnya. Andre memang sengaja tak bicara melalui telepon. Ia ingin hasil istikharah ini murni keyakinan mereka. Ia juga takut jika menelepon makin tak kuasa menahan rasa rindunya dan malah akan menjerumuskan dalam pikiran yang nggak-nggak.
Tuh kan kamu tuh gemesin banget tau! Cantik! Duh...jadi pengen ngurung dia aja kan! Gak boleh ada orang lain yang liat. Andre.
Saat Aiu mandi tadi, Alex datang. Arin menyerahkan bekal untuk Andre. Dia juga menyerahkan bekal buatannya untuk Alex. "Yang kotak merah untuk Kak Andre! Yang biru untuk kamu! Itu aku yang buat! Semoga kamu suka!" ucap Arin malu-malu. "Makasih ya cantik! Aku pergi dulu ya! Kamu hati-hati ya kalo ada apa-apa kasih tau aku dan Andre!" ucap Alex sambil tersenyum senang. Arin hanya mengangguk. Wajahnya masih memerah karena malu.
Saat Alex masuk mobil, Andre heran dengan Alex yang senyum-senyum aja. "Napa lo senyum-senyum?" tanya Andre. "Emangnya lo doang yang boleh seneng, gue juga mau!" jawab Alex dengan semangat. "Nih bekal buat lo! Kalo yang ini punya gue dari calon bini!" ucap Alex dengan pedenya. "Calon bini??!! Kepedean lo!!!" balas Andre. "Lah lo lupa kalo adek lo dah gue pinang! Tinggal tunggu dia lulus aja, calon kakak ipar!" balas Alex dengan penekanan di akhir. "Iya...iya...! gue keduluan!" balas Andre ketus. Alex hanya tertawa.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Aiu dan Arin sudah berada di bank untuk transaksi. Arin menunggu di kursi tunggu sedangkan Aiu berada di teller untuk setor tunai. Setelah selesai mereka langsung ke mall yang tidak jauh dari bank. Mereka hanya berjalan kaki saja untuk kesana.
Karena masih belum jam 11.00 mereka memutuskan untuk ke toko buku dulu sambil menunggu jam makan siang. Ketika berada di toko buku Aiu seperti kehilangan kontrol. Gadis itu segera mengambil tas untuk menaruh buku yang akan dibelinya. Gadis itu juga lupa dengan Arin yang menemaninya. Arin yang sudah paham Aiu hanya tersenyum saja. Kak Andre kalo kakak liat Kak Aiu sekarang pasti bakalan gemes dan kesel karena dicuekin. Arin tersenyum kecil memikirkan hal itu.
Belum setengah jam Aiu berada di toko buku tapi buku yang ada di tasnya sudah begitu banyak. Aiu mengoleksi komik berseri juga serial cantik. Tak hanya itu dia juga mengoleksi novel dan tak lupa membeli buku cetita untuk anak-anak di panti.
Setelah puas berbelanja buku, Aiu menuju ke kasir untuk membayar. Dia mengeluarkan kartu membernya dan memberikannya kepada petugas kasir. Aiu membayar belanjaannya kurang lebih 1 juta rupiah. Dia mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar. Aiu memang paling royal untuk urusan buku dan makan.
"Mbak, tolong kirim ke tempat biasa ya!" pinta Aiu pada petugas kasir. Karena sering berbelanja buku di toko tersebut, beberapa karyawan sudah hapal dengan kebiasaan Aiu. Memang di toko itu juga disediakan layanan delivery. Gak mungkin juga jalan-jalan di mall bawa buku segitu banyaknya. "Baik mbak! Atas nama Aiu dikirimkan ke Toko Kue Mutiara kan?" jawab petugas itu. Aiu mengangguk dengan senyum manisnya. "Terima kasij mbak!" jawab Aiu. "Sama-sama!" balas petugas kasir.
Keluar dari toko buku mereka menuju salah satu restoran Jepang yang ada di mall itu. "Rin, kakak mau makan ramen, kita ke restoran Jepang ya?!!" ajak Aiu pada Arin sesaat setelah membayar buku. Arin mengangguk tanda mengiyakan.
Setelah berada di dalam restoran, mereka mencari tempat duduk. Mereka memutuskan untuk duduk di pojokan dengan sofa. Pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. "Kamu mau makan apa Rin? Pesen aja kakak yang bayar! Terakhir kita makan kamu yang bayar. Jadi sekarang gantian ya!" ucap Aiu pada Arin. "Kamu gak usah takut, kakakmu gaji kakak dobel soalnya, jadi aman! Hahaha...!!!" lanjut Aiu sambil bercanda.
"Saya mau sushi roll 1 sama ocha hangat ya!" Arin.
"Kok tumben makannya dikit?" tanya Aiu.
"Biasa kak kalo dah mau dateng bulan mood makan aku jadi turun!" jelas Arin.
"Ooo...kirain...kamu takut kakak gak bisa bayar! hahahaha....!" seloroh Aiu.
"Gak lah kak! Aku percaya sama kakak. Kakak kan sekretaris Presdir!" balas Arin.
Aiu tersenyum malu mendengar omongan Arin.
"Saya mau ramen denga topping beef 1, terus tempura komplit, sama ocha hangat 1. Terus mbak nanti tolong delivery kan 5 bento spesial ke Toko Kue Mutiara ya! Ini alamatnya!" sambil menyerahkan kartu nama.
"Baik mbak! Untuk bentonya akan segera dikirimkan! Mbaknya tunggu sebentar ya pesanan segera dihidangkan!" ucap pelayan.
"Terima kasih!" jawab Aiu.
"Sama-sama!" jawab pelayan kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Saat menunggu pesanan datang tiba-tiba saja seorang laki-laki duduk di bangku mereka. Arin dan Aiu terkejut dengan kehadiran laki-laki itu. Terutama Aiu, setelah sekian lama tidak bertemu, gadis itu terkejut dengan penampilan laki-laki itu. Meski berubah Aiu masih mengenalinya.
"Ka...Kak Le...on!" ucap Aiu terbata karena masih terkejut.
"Kenapa Aiu? Kaget ya?!! Kakak sudah berubah sekarang?" tanya Leon terus terang.
Aiu tak menjawab ia hanya menganggukkan kepala saja.
"Kakak lagi apa disini?" tanya Aiu, bukan bertanya kabar ia malah bertanya seperti itu. Entah mengapa Aiu tidak begitu senang dengan pertemuan itu. Ada perasaan tak nyaman saat ini. Perubahan pada diri Leon juga hal yang membuatnya tidak begitu senang. Leon yang ada di hadapannya sekarang berbeda dengan Kak Leon yang dikenalnya selama ini. Itu juga salah satu yang membuatnya tidak nyaman.
"Tadi habis ketemu klien disini! Pas keluar ruangan kakak lihat kamu disini ya jadi kakak samperin!" jawab Leon.
"Kenalin kak ini temen Aiu, namanya Arin!" Aiu memperkenalkan Arin pada Leon.
"Arin ya!? Kalo gak salah nama kamu Arini Putri Winata ya?! Anak kedua dari Pak Hadi Winata dari Winata Grup, bukan?!" tanya Leon.
Arin yang saat itu sedang menerima telepon jadi terperangah. Arin sedang ditelpon oleh Andre. Kebetulan mereka di restoran yang sama. Andre juga mendengar ucapan Leon. "Rin, kamu jangan matiin teleponnya ya biarkan aja tersmbung sambung itu cowok pergi!" perintah Andre.
Kemudian Arin berpura-pura pamitan pada orang yang meneleponnya dan segera mematikan layar hape tanpa mematikan panggilannya.
"Maaf ya! Tadi lagi telepon!" jawab Arin.
"Iya... saya anak Pak Hadi Winata! Kakak salah satu rekan kerja papa ya?" tanya Arin penasaran.
"Untuk saat ini belum, tapi mungkin suatu saat nanti! Salam ya untuk Pak Hadi juga Pak Andre ya!" kata Leon.
"Iya...nanti disampaikan!" jawab Arin.
Pandangan Leon beralih pada Aiu. Aiu hanya menunduk saja sejak tadi.
"O ya Aiu, karena kita udah ketemu gimana kalo saya yang traktir?" Leon menawarkan pada Aiu.
"Gak usah kak! Hari ini Aiu dah janji mau traktir Arin jadi biar Aiu bayar sendiri! Makasih kak!" jawab Aiu.
"Okelah...tapi lain kali mau kan kalo kakak traktir makan malam berdua?" Leon memberikan penawaran lagi.
"Maaf kak! Mungkin untuk tawaran itu pun gak bisa! Aiu gak mau kalo cuma berdua aja! Kalo rame-rame sama anak-anak panti boleh!" balas Aiu
"Aiu...Aiu...kamu bener-bener munafik ya! Sok suci kamu! Laki-laki datang ke rumahmu kamu terima begitu saja masa makan malam sama saya kamu tolak!" ucap Leon dengan nada dingin dan datar.
Aiu benar-benar terkejut dengan perkataan Leon. Dia tidak menyangka kalau Kak Leonnya akan mengatakan hal itu. Darimana Kak Leon tahu? Lagijuga selama ini Mas Andre ke rumah selalu ada Alex, gak cuma mereka berdua. Bu Sarah juga tahu, ucap Aiu dalam hati. Aiu yang dikatakan munafik tidak terima begitu saja. Ekspresi gadis itu berubah seketika. Sebenarnya dia sudah menduga arah pembicaraan itu. Sebenarnya dia enggan mengatakan hal ini di depan Arin, tapi tidak ada pilihan lagi. Dia sudah kadung kesal dan marah.
Dengan ekspresi dingin dan datar, Aiu berkata, "Jika ujung dari pertemuan ini hanya membahas soal yang lalu, Aiu akan tegaskan saat ini juga! Baik dulu atau sekarang Kak Leon tetaplah Kak Leon. Seorang kakak buat Aiu. Perasaan Aiu tidak akan berubah baik saat dulu, sekarang ataupun nanti kepada Kak Leon!" ucap Aiu to the point.
"Perihal kakak bilang Aiu munafik karena menerima tamu laki-laki, asal kakak tau! Kami tidak pernah berduaan. Ada orang lain bersama kami. Apa yang menjadi prinsip Aiu baik dulu maupun sekarang gak pernah berubah! Yang berubah adalah kakak! Aiu senang kakak bisa sukses! Selamat kak! Jujur Aiu tidak suka perubahan kakak sekarang!" balas Aiu lagi.
Kemudian Aiu menarik tangan Arin pergi meninggalkan Leon yang masih mematung di tempat duduknya. Aiu mengajak Arin menemui pelayan untuk memberitahu kalau mereka mau pindah meja. Aiu meminta ruang privat yang masih kosong. Pelayan mengantarkan mereka ke ruangan. Aiu juga menambahkan beberapa menu lagi di pesanannya. Aiu ijin pada Arin untuk ke toilet.
Saat di ruangan Arin menghidupkan lagi layar hapenya. Panggilan masih tersambung. "Gimana kak? Udah denger semuanya kan?" tanya Arin. "Iya...kakak denger semuanya. Kurang ajar juga tu cowok! Aiu gimana Rin?" tanya Andre khawatir. "Kakak tenang aja Kak Aiu kalo dah ngeluarin unek-uneknya bakal cepet normal lagi kok! Paling ya bakalan lama disini karena harus nemenin Kak Aiu makan. Barusan dia nambah menu lagi!" Arin menjelaskan.
"Syukur Alhamdulillah kalo dia baik-baik aja! Kakak titip calon kakak ipar ya! Kliennya udah datang jadi kakak tutup dulu! Assalamualaikum!" pamit Andre. "Waalaikumsalam!" jawab Arin.
Tiba-tiba Aiu datang dan langsung bertanya,
"Kamu teleponan sama siapa?"
"Sama Kak Andre! Kak Andre tanya lagi dimana? Arin bilang lagi di restoran Jepang mau makan!" jawab Arin santai.
"Arin, maaf ya kamu jadi lihat kejadian kayak tadi. Jujur kakak jadi ngerasa gak enak sama kamu!" ucap Aiu sambil menundukkan kepala tanda menyesal.
"Gak papa kok kak! Kalo kakak emang gak nyaman ya bilang aja. Arin dukung kok tindakan kakak tadi. Kalo kakak masih bisa tenang begitu kalo Arin mungkin dah ngelempar sepatu kak!" jawab Arin.
Mereka berdua tertawa bersama membayangakn Arin yang melemparkan sepatunya.
Tak lama pesanan datang. Aiu selalu kalap makan jika sedang kesal. Aiu tipe makan banyak bukan makan cepat. Untuk menghilangkan rasa kesalnya dia mulai menyantap makanan di depannya. Meski banyak makan tubuhnya tetap langsing.
Di luar ruangan, Leon merutuki kebodohannya. Dia sedikit menyesal dengan ucapannya. Tapi bukan berarti dia akan menyerah tentang Aiu. Leon tidak mengerti kenapa baik dulu maupun sekarang Aiu tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaannya. Dulu saat menyatakan pertama kali Aiu tidak berpikir dan langsung menolak. Gadis itu mengatakan ada gadis lain yang lebih mengerti, memahami, mencintai dan menyayangi kakak dibanding Aiu. Sekarang bahkan belum sempat menyatakan kembali sudah ditolak lagi. Apa yang kurang dariku? pikurnya.
Babang Leon...gak semua cinta harus dimiliki. Semua ada jodohnya masing-masing. Perasaan gak bisa berbohong. Jujur adalah kebaikan meski harus dirasa pahit oleh orang lain. Author.
Thanks to all reader yang sudah mampir dan membaca ceritaku! 😊😍😘
Ikutin terus ya gaes!!! Mohon maaf author belum sempet nyambangin balik teman-teman ya!? Terima kasih untuk semua dukungannya! 🤗🤗🤗
nyesak banget bc crita ini kk😭
ok banget👌👌👍
terimakasih