Rara Artania, seorang remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah ke atas. Hidup hanya berdua dengan sang ibu yang bekerja serabutan.
Rara itulah sahabatnya memanggilnya gadis tangguh yang rela bekerja keras membantu sang ibu untuk menyambung hidup mereka.
Rara rela menukar waktu remaja untuk bekerja dan bekerja demi ia bisa melanjutkan sekolah kependidikan yang tinggi, agar ia dapat merubah nasib mereka untuk masa depannya menjadi lebih baik lagi, hingga suatu saat ia bertemu om-om tanpa sengaja membuat beberapa kesalahan, hingga mereka membuat negosiasi untuk saling menguntungkan membuat nikah kontrak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Gugup
"Maaf om saya tak sengaja, saya sedang buru-buru," ucap Rara lagi segera pergi meninggalkan laki-laki paruh baya itu.
Dia seperti Nia, apa dia anak Nia batinnya menatap punggung wanita yang selama ini ia cari.
****
Di cafe Rara sedang sibuk dengan tugasnya mengantar makan ke meja-meja di mana orang memesan makannya.
Rayhan segera menghampiri Rara yang berjalan menuju dapur.
"Ra, siapa laki-laki kemarin?" tanya Rayhan penasaran.
"Oh itu, dia om ku. Maaf atas sikapnya kemarin ya, dia itu tak ingin aku pacaran sebelum lulus sekolah, dia ingin melihat aku menjadi orang sukses dan membuat ibu bahagia," bohong Rara.
"Gitu ya, oya gimana dengan perasaanku apa kamu menerimaku menjadi pacar kamu," tanya Rayhan.
Rara masih diam tak menjawab pertanyaan Rayhan ia ingat ucapan Alex tadi pagi jika ia tak boleh dekat dengan laki-laki lain selama kontrak ini berjalan.
Lebih baik aku menolaknya, ini semua cuma satu tahun jika memang Rayhan mencintaiku pasti dia akan setia menunggu batin Rara.
"Maaf ya, aku masih ingin fokus sekolah dulu, kalau habis lulus sekolah aku mau jadi pacar kamu," jawab Rara dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Oh gitu ya. Ya sudah lihat nanti saja, semoga cintaku tak pindah ke orang lain," ucap datar Rayhan pergi begitu saja.
Hari ini sudah menunjukan pukul sembilan malam semua karyawan cafe bersiap-siap untuk tutup dan pulang.
Rara segera mengendarai motor maticnya menuju apartemen Alex.
Melihat rumah masih gelap dan terkunci Rara segera menghubungi Alex namun nomernya tak aktif. Rara akhirnya menyandarkan tubuhnya di depan pintu rumah Alex karena ia kelelahan bekerja ia pun terlelap tidur dengan menyadarkan kepalanya dilututnya yang duduk dengan memenggangi kakinya yang kedinginan akibat angin malam.
Sedangkan di tempat lain Alex sedang menikmati masa berduanya memadu cinta bersama Nadia, setelah larut malam ia segera mengantar Nadia di apartemennya.
Alex segera pulang saat ia mengemudi melihat pergelangan jam tangannya sudah menunjukan pukul dua belas malam.
Alex segera memasukkan mobilnya di garasi kemudian ia melihat sekilas wanita sedang duduk dengan menyatukkan kakinya dengan tubuhnya.
Alex segera mematikan mesin mobilnya ia melupakkan sesuatu jika ia tak sendiri lagi dirumahnya.
Alex segera membuka pintu rumahnya, lalu menatap wajah wanita kecil di depannya dengan wajah yang pucat wajah dengan bibir yang biru menahan rasa dinginnya malam tanpa jaket pada tubuhnya, ia merasa bersalah dengan membiarkannya tidur diluar.
Alex segera membopong tubuh Rara ke kamarnya menidurkan di atas ranjang dengan pelan agar ia tak terbangunkan, Alex segera menyelimuti gadis kecil itu.
Kamu sungguh cantik sekali tapi sayangnya hatiku sudah ada yang mengisinya, maafkan aku melibatkan dirimu masuk ke dalam kehidupanku yang rumit ini batin Alex menatap wajah Rara.
****
Rara yang mendengar suara adzan subuh itu segera mengusap matanya dengan kedua tangannya mencari kesadaran.
"Kenapa saya bisa tidur disini? Sepertinya kemarin aku diluar menunggu om Alex, apa jangan-jangan om Alex yang memindahkanku, atau jangan-jangan dia sudah menodaiku," lirih Rara meraba seluruh tubuhnya.
Sepertinya bajuku masih utuh, tak ada rasa sakit berarti dia tak melakukan hal aneh-aneh batin Rara segera membersihkan diri untuk shalat subuh lalu belajar menyiapkan mata pelajaran hari ini.
Setelah melihat jam di dinding menunjukkan pukul lima ia segera menuju dapur untuk membuatkan sarapan sebelum berangkat sekolah.
Rara yang melihat tak ada stock sayuran di dalam kulkas ia membuatkan menu sarapan seadanya yaitu nasi goreng dengan taburan telur mata sapi dengan sosis goreng di atasnya, setelah meletakkan di atas meja dengan satu cangkir kopi hitam buat Alex dan satu gelas teh hangat buat dirinya sendiri.
Rara yang sudah dengan seragam sekolahnya segera naik ke lantai atas untuk membangunkan Alex.
"Om, bangun sudah siang ini. Ayo sarapan, Rara tunggu di bawa ya," teriak Rara.
"Ra masuk dong! Bantui aku," ucap Alex dengan memakai jas kerjanya.
Rara pun masuk kedalam kamar Alex sesuai permintaannya.
"Ada apa om?" tanya Rara mengamati setiap sudut kamar laki-laki di depannya dengan nuansa cat hitam putih dengan dua pigura disisi kanan kiri foto Alex dengan seorang wanita yang saling berpelukan denga mesranya.
"Bantuin aku pakai dasi dulu ya, aku pagi ini ada meeting pagi. Ambilkan disitu ya, sama jam tanganku yang senada ya," ucap Alex dengan memakai sepatunya.
Rara segera menuju lemari besar membuka satu persatu untuk mencari dasinya namun ia tak tahu tempatnya.
"Om disebelah mana dasi dan jam om?" tanya Rara.
"Di laci sebelah kanan, jam tangannya di laci sampingnya," ucap Alex dengan memakai parfum di jas kerjanya.
Rara membulatkan matanya melihat puluhan jam tangan yang tertata rapi dengan berbagai merk yang unlimetid edition, semua barangnya brand terkenal.
Rara segera membawa dasi dan jam tangan yang menurutnya senada, ia segera memberikan pada Alex.
"Om ini! Oya om jualan jam tangannya?" tanya Rara dengan menyilangkan ke dua tangannya didadanya.
Alex hanya menaikkan kedua alisnya.
"Itu jam tangan banyak banget seperti orang jualan diluwakan dipinggir jalan," ketus Rara.
"Diluwakan? Kata apa itu? Disini tak ada luwak, adanya diperkebunan kakek, buat kopi luwak," sahut Alex dengan memakai jam tangannya.
"Luwakkan itu orang yang jual barang bekas di pinggir jalan om, masak sich tak tahu."
Jadi dia samain aku dengan orang dipinggir jalan, dia itu apa tak tahu ya kalau aku lagi marah bisa membunuh orang, tapi aku suka dengan caranya yang ceplas ceplos apa adanya. Dia beda, semua orang takut terhadapku dan selalu berhati-hati saat bicara tapi dia apa adanya.
"Sini om! Saya bantui pakai dasi biar cepat, aku sudah lapar banget nanti keburu telat om," ketus Rara.
Rara medekatin Alex lalu mengambil dasi yang dipegang oleh Alex lalu menggalungkan dasi berwarna abu-abu itu pada kerah kemeja yang di kenakkan Alex.
"Om sedikit membungkuk dong, Rara ngak sampai ini," ucap Rara sambil berjijit mengimbanginya.
Astaga anak ini apa tak takut kalau nanti aku khilaf, kenapa dia cantik sekali. Ingat Alex kamu sudah punya Nadia dia lebih segalanya jangan sampai kamu jatuh cinta sama cewek ingusan ini dia tak ada apa-apanya dibandingkan Nadia guman Alex.
Rara hanya santai saja menatap Alex yang ada didepannya karena ia tak memiliki perasaan apa-apa.
"Sudah om, ayo sarapan dulu keburu dingin nasi gorengnya," ajak Rara.
Setelah kepergian Rara, Alex segera mengambil nafas dalam-dalam untuk mengontrol detak jatungnya yang bernafas tak beraturan agar tak ketahuan Rara jika dirinya gugup.
Bersambung...