Masalah yang menghampiri seorang Nur Anisa secara bertubi-tubi, membuatnya mengambil langkah yang salah saat seorang laki-laki menawarkan bantuan dengan meminta sebuah imbalan untuk menjadi teman tidurnya selama pria itu inginkan. Dan sebagai imbalannya, seluruh biaya hidup Anisa akan ditanggung oleh pria itu.
Hingga seiring berjalannya waktu, Anisa mulai semakin tersadar akan kesalahannya yang membuatnya terjerumus kedalam dosa besar selama bertahun-tahun. Apalagi rasa cinta yang tumbuh dihatinya untuk pria itu semakin kuat Anisa rasakan setiap harinya. Tetapi Anisa lebih memilih mundur saat ia merasa cintanya tak pernah terbalaskan dan hanya membuatnya tetap berada dalam kubangan penuh dosa disetiap hembusan nafasnya.
--------
"Aku merasa malu untuk bersujud pada-Mu. Aku pendosa, aku malu dengan diriku yang kotor ini. Apa aku masih pantas untuk mendapat pengampunan dari-Mu?"
~Nur Anisa~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon red_rubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Aslan," gumamku lirih saat aku membuka pintu dan mendapatinya sedang duduk di sofa sambil menatapku dengan tatapan tajamnya.
Perlahan kulangkahkan kaki ini untuk menghampirinya. Astaga ... kenapa mimiknya sungguh menyeramkan?
"A- As- Lan?" aku meneguk saliva dengan kasar. Kuremas paperbag berisi beberapa jilbab yang kubeli sebelum aku pulang tadi.
Tak ada sahutan darinya. Aslan masih menatapku dengan tajam dan itu malah membuatku semakin takut. Takut ia akan menghukumku.
"A- aku mau mandi dulu." Buru-buru aku meninggalkannya sendiri di ruang tamu.
Braak...
Kusandarkan punggung didaun pintu dan menenangkan diri dari ketakutan yang sedang aku rasakan saat ini.
"Ya Allah, apa aku bisa meminta Aslan untuk melepaskanku? Aku takut,"
Sekarang aku bisa merasakan sendiri jantungku yang sedang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku memejamkan mata sesaat untuk menenangkan hatiku yang mulai was-was. 'innama a'malu binniat', aku mengingat kalimat yang dikatakan oleh Aina tadi sore padaku.
"Semangat Anisa! Allah udah bukakan jalan untukku. Sekarang giliran aku yang harus berusaha keluar dari dosa besar ini," ucapku menyemangati diri sendiri.
Aku langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri agar bisa lebih cepat membicarakan hal yang berkaitan dengan hubungan terlarang ini dengan aslan.
****
Saat ini aku menjadi kikuk sendiri ditatap begitu intens oleh Aslan. Kini kami berdua sedang duduk berhadap-hadapan disofa ruang tamu.
"Kenapa lo baru pulang?" tanya Aslan dengan nada datarnya.
"Aku tadi mampir ketempat teman,"
"Teman?" Aslan menaikan sebelah alisnya.
"Iya,"
Aku mengangkat pandanganku yang sedari tadi hanya tertunduk. Memberanikan diri untuk menatap wajah tampannya yang saat ini terlihat menyelidik padaku.
"As?"
Aslan diam. Ia tak menyahut namun tetap menatapku.
"As! Ayo kita akhiri hubungan ini. Aku sudah lelah, As. Aku gak mau ngelakuin dosa ini lagi sama kamu. Aku ingin bertaubat dan menata hidup agar lebih baik lagi,"
"Apa selama ini hidup lo gak baik-baik aja?"
Aku menggeleng. "Hidup aku penuh dosa, As. Aku benar-benar merasa terbebani. Aku takut Allah akan ngelaknat aku. Aku takut menderita penyakit seeks,"
"Penyakit seeks?" Aslan menaikkan sebelah alisnya dan mencondongkan tubuh tegap itu ke depan dengan bertumpu pada kedua lututnya. "Lo pikir gue suka celup sana celup sini?"
Aku mengangguk takut. "Bukankah selama ini kamu terlalu banyak berganti wanita, As?"
"Ck." Aslan bangkit dari duduknya. "Ok kalau itu mau lo. Sekarang lo bebas dari gue." Aslan pergi meninggalkanku yang masih belum percaya dengan yang ia katakan.
Braak...
Aku terdiam, mencerna apa yang baru saja Aslan katakan padaku. Apa Aslan benar-benar melepaskanku? Haruskah aku merasa senang atau sedih? Senang karena bisa terlepas dari hubungan yang salah ini, dan sedih ketika aku harus merelakan cintaku begitu saja.
"Tempatkanlah kecintaan tertinggi Kakak, hanya pada Allah SWT". Lagi-lagi aku teringat dengan perkataan dari gadis berhijab itu. "Dan kalau memang dia jodoh Kakak, Allah akan jadikan dia imam buat Kakak,"
Bismillah. Aku memantapkan diri, semoga Allah selalu meridhoi niat baikku untuk berubah.
Aku bergegas ke kamar untuk mengepak pakaian dan buku-buku yang kumiliki. Aku akan meninggalkan tempat ini esok dan pindah ketempat baruku.
Pagi menjelang. Usai menunaikan shalat subuh aku berniat meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan atas dosaku dan Aslan.
"Selamat tinggal, Aslan. Semoga Allah mempertemukan kita disaat kita sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Dan aku akan memintamu pada Allah agar menjadi jodohku karena kamulah yang pertama bagiku,"
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang hampir tiga tahun menjadi saksi bisu perbuatan tercelaku dan Aslan.
Kujinjing tas usang yang berisi pakaian dan tas ransel berisi buku pelajaranku. Tas yang dulu kugunakan saat aku meninggalkan rumah dimana aku dibesarkan. Dan sekarang tiba saatnya aku meninggalkan tempat yang beberapa tahun ini menjadi tempatku bernaung.
****
Usai memindahkan barang-barang ke tempat tinggalku yang baru, aku langsung bergegas menuju kampus.
Hari ini aku akan mengawali kehidupanku yang baru dengan semangat yang baru.
"Assalamu'alaikum, Kan," sapaku pada sahabat yang selalu menemaniku. Aku terkikik geli melihat reaksinya saat melihatku.
"I- ini ... Nur Anisa; sahabat gue?" ucapnya dengan raut wajah bingung, sedangkan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lo pakai hijab?" tanyanya lagi masih tak percaya dengan penampilan baruku.
"Iya." Aku duduk disamping bangkunya. "Aku mau hijrah pelan-pelan. Mau jadi manusia yang lebih taat lagi sama Allah,"
"Astaga...!" seru Pinkan.
Pluuk. Aku menepuk pelan lengannya.
"Kok, malah astaga? Seharusnya itu 'alhamdulillah temanku kembali kejalan yang benar'," sungutku.
Pinkan hanya nyengir mendengar gerutuanku. "Iya deh, iya. Alhamdulillah, sahabat aku udah mulai hijrah. Semoga lo selalu istiqamah,"
"Aamiin,"
Hari ini tak hanya penampilanku yang berbeda, aku juga merasakan ada yang berbeda dari perasaanku. Aku merasa lega, bebanku yang kurasa selama ini seakan hilang entah kemana.
Jam mata kuliah pertama sekaligus terakhir kini telah usai. Seperti biasa aku dan Pinkan menuju kantin untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.
Nasi soto; makanan kesukaanku yang selalu kupesan bila sedang benar-benar merasa lapar.
"Gak bosan, lo pesan makanan itu mulu? Kayak gak ada menu lainnya aja. Gue aja bosan lihat lo makan yang itu-itu aja,"
"Ya namanya udah jadi makanan kesukaan, Kan," sahutku santai.
"Dooor...." Rexi datang dengan cara ingin mengagetkanku dan Pinkan. Namun sayang itu hanya berlaku untuk Pinkan, tidak denganku.
"Rexi! Lo mau gue end dari dunia ini?" Pinkan memelototkan matanya.
"Hehehe ... sengaja," kemudian perhatian Rexi teralihkan padaku. "Gue pikir di kelas tadi lo itu murid baru, Nis. Ternyata gadis berhijab ini adalah seorang Nur Anisa. Lo tambah cantik kalau pakai hijab gini," Rexi memberikan senyuman manisnya padaku. "Jadi makin love love aja gue sama lo,"
"Ck." Aku merotasikan kedua bola mataku. Aku diam tak mau menanggapinya lebih lanjut lagi. Entah kenapa beberapa Minggu ini Rexi seakan gencar mendekatiku. Apa hanya perasaanku saja ya?
"Aku duluan, ya?" pamitku pada Pinkan dan Rexi.
"Loh! Lo mau kemana?" tanya Pinkan.
"Mau kerja." tanpa memperdulikan pertanyaan kedua orang itu lagi, aku bergegas ke ruko milik Mbak Aini.
Deg,
Langkahku yang tergesa sedikit melambat saat ada selasar kampus. Didepan sana, Aslan dan kedua sahabatnya sedang berjalan berbanding arah denganku.
Ternyata hati ini masih merasakan getaran cinta padanya. Langkahku seakan semakin melambat saat jarakku dan Aslan semakin terkikis.
Hatiku merasa perih saat ia hanya menatapku sekilas, seakan tak mengenaliku dan ia melewatiku begitu saja. Ingin rasanya aku berbalik dan menyerukan namanya, namun harus kutahan.
Ya Allah, apakah ini termaksud ujian darimu seperti yang dikatakan Aina padaku? Bahwa jalan hijrah seseorang itu akan selalu mendapat ujian. Kuatkan aku ya Allah. Jadikan aku orang yang selalu istiqamah berada dijalanmu.
Tak kusangka, pertemuan itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Karena pada hari-hari berikutnya aku tak pernah lagi mendapati keberadaan Aslan di kampus hingga aku menyelesaikan study-ku di universitas ini.
POV Anisa end
Bersambung