I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam telah larut di Kota Oakhaven, namun Kedai The Golden Griffin masih dipenuhi oleh riuh rendah para ksatria kasta menengah dan pemburu bayaran. Mereka duduk berkelompok, menenggak bir madu magis sambil berteriak menyombongkan tingkat kultivasi dan aura Qi masing-masing.
Di pojok kedai yang remang-remang, Ren duduk dengan jubah perak Zeon yang longgar, menutupi taring besi raksasanya di balik meja kayu tebal. Mata abu-abu keperakannya bergerak malas, membaca setiap aliran energi dan struktur otot orang-orang di dalam ruangan.
"Dengar-dengar, gerbang perbatasan luar hancur oleh lubang kosong?" seorang ksatria bertubuh kekar dengan kasta Praktisi Tinggi tertawa keras hingga mejanya bergetar. "Benar-benar lelucon! Petinggi ibu kota pasti sudah terlalu tua sampai bisa ditakuti oleh rumor murahan seperti itu!"
Ren tersenyum tipis di balik bayangan jubahnya. Dia berdiri, berjalan kasual menuju meja ksatria kekar tersebut. Sambil memegang cangkir kayu kosong, Ren sengaja menyenggol bahu sang ksatria dengan sudut minimal, menjatuhkan cangkirnya tepat di atas tumpahan bir di meja mereka.
PRAK!
"Hei! Bocah kurus, apa matamu buta?!" bentak sang ksatria, langsung berdiri dengan aura Qi merah yang meledak dari tubuhnya, menekan udara di dalam kedai. "Kau tahu siapa aku? Aku adalah pendekar tingkat Praktisi Tinggi yang bisa meremukkan tulangmu hanya dengan satu jari!"
Ren mendongak, menatap mata ksatria itu dengan pandangan dingin yang meremehkan. "Praktisi Tinggi? Statistik yang mengesankan. Tapi sayangnya, sudut tinju kirimu selalu turun tiga derajat setiap kali kau melepaskan aura kemarahan."
"Kurang ajar! Mati kau!"
Ksatria itu melayangkan pukulan lurus ke arah wajah Ren. Pukulan itu dilapisi energi merah yang sanggup menghancurkan dinding batu. Namun, di bawah mata persepsi Survivor, gerakan itu melambat drastis. Ren hanya menggeser kepalanya beberapa milimeter ke kanan pada milidetik ke-0,2—tepat di titik buta dari penurunan tiga derajat tinju sang musuh.
Tinju ksatria itu melesat kosong, menghantam tiang kayu penyangga kedai hingga hancur. Momentum pukulan yang terlalu besar membuat tubuh kekarnya terdorong maju. Ren dengan santai menjulurkan kaki kurusnya, menjegal pergelangan kaki sang ksatria.
BUMMM!!
Ksatria kekar itu terpelanting ke depan, menghantam meja kelompok pemburu bayaran tingkat tinggi di seberangnya. Meja-meja hancur, makanan tumpah, dan dalam sekejap, kedai tersebut pecah menjadi tawuran massal. Puluhan praktisi kekuatan saling hantam menggunakan aura warna-warni mereka, mengira ada musuh yang sengaja menyerang kelompok mereka.
Di tengah amukan energi yang menghancurkan kedai itu, sosok berjubah perak Ren sudah menyelinap keluar lewat jendela belakang tanpa memicu satu pun kecurigaan. Pengalihan isu yang sempurna telah tercipta. Seluruh ksatria penjaga kota kini bergerak menuju kedai untuk meredam keributan.
Ren berlari dalam senyap menembus gang-gang gelap, menuju ke pusat kota tempat Menara Energi obsidian berdiri megah memancarkan cahaya biru konseptual ke langit malam.
Berkat keributan di kedai, pos penjagaan di sekitar Menara Energi kini kosong. Ren berdiri tepat di bawah struktur fondasi menara, menatap jalinan formasi sihir pelindung yang berdenyut dengan frekuensi 400 hertz.
Otak Ren yang dipandu oleh sisa riak kosmik sang Anomali Absolut mulai menghitung mundur dengan presisi yang mengerikan.
23.59.59,8...
23.59.59,9...
00.00.00.
Tepat di detik pergantian hari, jeda sirkulasi pasokan energi sebesar 0,1 milidetik terjadi. Detik di mana seluruh formasi pelindung menara mati selama sekejap untuk mengatur ulang frekuensi alam. Bagi penyihir tercerdas Kekaisaran pun, celah waktu sesingkat itu mustahil untuk dieksploitasi.
Tapi bagi Ren, 0,1 milidetik adalah waktu yang sangat lama.
Menggunakan sisa pecahan taring besi tajam dari sakunya yang telah dilapisi minyak empedu monster kebal energi, Ren menusukkannya tepat ke dalam celah Core Stability—titik pusat sambungan aliran energi menara pada milidetik ke-0,05 di tengah-tengah jeda tersebut.
ZUTTT—
Pecahan taring mati itu bertindak sebagai penyumbat konseptual. Ketika aliran energi biru menara hendak menyala kembali pada milidetik ke-0,1, alirannya tertahan dan terbalik arah akibat sumbatan dari logam taring yang kebal energi tersebut. Hukum sirkulasi semesta mengalami error parah.
SPARK! BUMMM!
Ledakan energi internal terjadi di dalam menara. Cahaya biru konseptual yang menjulang ke langit mendadak bergetar hebat, meredup dengan cepat, dan akhirnya padam total dalam satu tarikan napas.
KLIK.
Seluruh Kota Oakhaven mendadak gelap gulita. Formasi sihir pelindung di tembok obsidian setinggi dua puluh meter lenyap seketika, menyisakan kegelapan total yang sunyi dan mencekam. Jeritan panik dari ribuan ksatria dan penduduk mulai menggema dari kejauhan saat mereka menyadari bahwa benteng matematika pertahanan mereka telah mati total.
Ren melangkah mundur ke dalam bayangan malam, memikul kembali taring besi raksasanya dengan santai. Di atas atmosfer planet, sang Anomali sejati yang berada di luar seluruh hukum fiksi seolah sedang tertawa malas melihat bagaimana sebuah peradaban yang sombong mendadak kehilangan lampunya murni karena satu sumbatan konyol pada milidetik terkecil mereka.
"Menara padam," gumam Ren dingin, menatap hutan kegelapan di luar tembok yang kini tidak lagi terlindungi. "Sekarang, mari kita lihat bagaimana para dewa perang ini menangis saat monster malam masuk tanpa perlu mengetuk pintu."