NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sudah dua minggu Jenaka melatih Lingga, ia memperhatikan berat badan Lingga sudah bertambah. Wajahnya mulai berdaging dan warna kulitnya tidak lagi pucat. Bahkan kulit Lingga terlihat sedikit gosong karena selama beberapa hari mereka berjemur di bawah matahari.

“Lihat apa kamu?” desak Lingga saat ia melahap semangkuk stroberi segar yang dicelup krim.

“Berat badanmu bertambah,” sahut Jenaka dengan nada puas.

“Bukankah seharusnya kau tidak tidak terkejut?” tanya Lingga sembari cemberut, namun tangannya tetap kembali mencelupkan sendok ke mangkuk dan menciduk sebutir stroberi. Gigi putihnya mengunyah buah itu, lalu lidahnya menjilat sari buah yang melumuri bibirnya. “Itu yang kau inginkan, bukan?” gerutunya kesal. “Membuatku gendut?”

Jenaka tersenyum tanpa menjawab, hanya memperhatikan Lingga menghabiskan stroberi. Pada saat Lingga selesai menghabiskan buahnya, Intan melenggang masuk ke ruang makan dengan membawa telepon, dan meletakkannya di meja di depan Lingga, laalu pergi.

Lingga diam saja menatap telepon. Jenaka menyembunyikan senyum lebarnya. “Hei itu ada telepon untukmu kenapa tidak kau jawab? tanya Jenaka.

"Aku pikir kau akan menyuruhku untuk memakannya."

Jenaka tertawa pelan, kemudian ia berdiri. Saat Lingga mengangkat gagang telepon dan menempelkannya di telinga, Lingga menyentuh ringan bahunya sambil berbisik, “Kutunggu di ruang olahraga."

Lingga membalas tatapan Jenaka dan mengangguk lalu terlibat percakapan dengan Dante yang melaporkan perkembangan perusahaannya.

Lamanya menunggu Lingga berbincang dengan Dante di telepon, membuat Jenaka mulai melakukan peregangan sendirian, hampir tiga puluh menit ia melakukan peregangan Lingga belum juga datang sehingga Ia memutuskan melakukan olahraga berat untuk menyalurkan sebagian energinya, lalu memposisikan tubuh di bangku untuk angkat beban.

Jenaka suka melakukan angkat beban. Tujuannya membentuk kekuatan, ia butuh otot yang kuat untuk menangani pasiennya. Dengan cermat Jenaka mengatur napas, berkonsentrasi pada gerakan yang ia lakukan, dan memulai latihan. Angkat, turunkan. Angkat, turunkan.

Jenaka telah merampungkan latihan untuk kaki, dan Lingga belum juga muncul, sehingga Jenaka kembali menyesuaikan sistem katrol dan beban agar sesuai dengan yang ia inginkan untuk lengannya. Sambil menggembungkan pipi, ia memulai lagi.

“Ternyata kau curang!” Bentakan itu mengejutkan Jenaka. Lingga yang telah selesai berbincang datang dengan wajah yang berkerut-kerut karena amarah.

“A-apa?” tanya Jenaka, terbata-bata.

Lingga menunjuk peralatan angkat beban. “Kau ternyata melakukan angkat beban,” teriak Lingga, begitu marah sehingga tubuhnya bergetar. “Dasar curang. Hari di saat kau mengajakku adu panco, kau tahu kau pasti menang. Sial, berapa banyak pria yang bisa mengalahkanmu?”

Pipi Jenaka memerah. “Hanya kamu,” sahutnya, tapi ternyata jawaban itu justru membuat Lingga semakin marah.

“Tidak bisa kupercaya!” Lingga masih berteriak, suaranya semakin keras. “Kau tahu bagaimana perasaanku kalau dikalahkan wanita dalam adu panco, tapi kau tetap mengajakku taruhan, dan kau curang!”

“Aku tidak curang, aku melakukan itu agar kau mau terapi,” ucap Jenaka terus terang sambil berusaha menahan diri untuk tidak tertawa, melihat wajah Lingga yang nampak menggemaskan ketika protes.

Lingga semakin kesal, ia mulai memukul-mukul lengan kursi roda dengan tinjunya. malangnya, dia memukul tombol kendali sehingga kursinya mulai melonjak ke depan dan ke belakang seperti kuda liar yang mencoba melarikan diri dari penunggang kuda yang tidak disukainya.

Jenaka tidak tahan lagi, ia tertawa hingga mengeluarkan air mata. "Makanya jangan marah-marah terus," ejek Jenaka, sembari memeluk perutnya sendiri, napasnya tersengal, dan setiap kali kemarahan Lingga menyembur lagi, Jenaka kembali terbahak-bahak.

“Berhenti tertawa!” Suara Lingga menggelegar, seolah memantul dari dinding. “Duduk! Kita lihat siapa yang menang kali ini.”

Jenaka begitu lemas hingga terpaksa menyeret tubuhnya ke meja pijat tempat Lingga sudah menopang siku dan menunggunya dengan wajah mengamuk. Masih sambil cekikikan, Jenaka menjatuhkan diri ke meja.

“Ini tidak adil,” protes Jenaka sambil menyelipkan tangannya ke tangan Lingga. “Aku tidak siap. Tunggu dulu hingga aku berhenti tertawa," pintanya.

“Apakah adil ketika waktu itu kau mengajakku adu panco?” tanya Lingga dengan kemarahan mendidih.

"Itu pertandingan yang adil menurutku," bantah Jenaka.

“Apanya yang adil? Kau curang, dan aku ingin kita tanding ulang.”

“Oke, oke. Beri aku waktu sebentar.” Jenaka cepat-cepat meredam sisa tawa yang masih ingin keluar, ia melemaskan tangannya yang berada dalam genggaman Lingga. Ia mulai menegangkan otot. “Oke. Aku siap.”

“Pada hitungan ketiga,” kata Lingga. “Satu… dua..... tiga.”

Untunglah Jenaka sudah mempersiapkan diri menghadapi hitungan cepat Lingga. Ia mencondongkan tubuh saat mengerahkan tenaga, menyadari berat badan Lingga sudah bertambah dan beberapa hari mengikuti latihan angkat beban telah meningkatkan kekuatannya, ditambah dorongan kemarahan Lingga dan tawa yang melemahkan Jenaka, mungkin itu cukup bagi Lingga untuk memenangkan adu panco kali ini.

“Kau curang,” Jenaka ganti menuduh Lingga

“Enak saja, kau layak menerimanya.”

Napas mereka tersengal, pipi mereka menggembung, dan mereka menggerutu beberapa menit lamanya. Keringat mulai menetes di wajah mereka, jarak mereka sangat dekat, wajah hampir menempel, ketika tangan mereka yang saling mengunci makin kuat.

"Kita mulai lagi," ujar Jenaka tak menerima kekalahan.

Semburan tenaga Lingga pada awal adu panco lebih besar dari pada tenaganya, tapi tidak cukup besar untuk segera mengakhiri pertandingan itu. Sekarang tinggal masalah stamina, dan menurut Jenaka, stamina dirinya bisa bertahan lebih lama dari pada Lingga. Ia bisa saja membiarkan Lingga menang untuk membela egonya, tapi Jenaka tidak ingin mengelabui Lingga dengan cara seperti itu.

“Brengsek, seharusnya kau membiarkanku menang," gumam Lingga.

Jenaka menggembungkan pipi, menghirup oksigen yang ia butuhkan. “Jika ingin mengalahkanku, kau harus berusaha,” ucapnya dengan napas tersengal. “Aku tidak mau mengalah dengan siapa pun.”

“Tapi aku pasien!”

“Kau tukang mencari kesempatan! Putaran pertama tadi kau menang karena aku tertawa.”

"Ayo main lagi," ajak Lingga tak menerima kekalahannya.

"Siapa takut," Jenaka menerima tantangan Lingga dengan senang hati.

Lingga mengertakkan gigi dan menekan lebih kuat sementara Jenaka menunduk melawan tekanan tangan Lingga dengan mengerahkan segenap kekuatan. Lambat laun, Jenaka merasakan tangan Lingga mulai turun. Semburan tenaga yang selalu Jenaka rasakan setiap kali meraih kemenangan seakan menerjang pembuluh darahnya, dan disertai teriakan ia menjatuhkan tangan Lingga hingga rata di meja. "Yeee.... aku menang lagi," Jenaka bergeser mendekat ke arah Lingga dan menyender di tubuhnya.

Bunyi napas mereka yang tersengal memenuhi ruangan, detak jantung Jenaka berdentum di telinganya seperti derap kuda yang melonjak-lonjak. Jenaka masih terkulai lemas di tubuh Lingga, kepalanya bersandar di bahu Lingga, dan ia bisa merasakan detak jantung Lingga yang berdenyut kencang di sekujur tubuhnya.

Perlahan Jenaka menjauh dari Lingga, ia menjatuhkan tubuhnya ke meja. Seperti boneka rusak, Lingga juga terkulai lemas ke meja, menindih punggung Jenaka. Sejujurnya ini terasa nyaman hanya saja Jenaka tak ingin terlarut dalam suasana. "Lingga tubuhmu berat," protesnya.

Lingga bergeser dari tubuh Jenaka, ia menatap Jenaka dengan mata indahnya yang seakan masih memendam awan badai.

Jenaka menghela napas panjang sambil menatap Lingga lekat-lekat. “Kau tampan dan menggemaskan kalau marah,” ucap Jenaka.

Lingga tertegun, menatap Jenaka lama sekali sehingga waktu serasa mengambang.

Selanjutnya yang terdengar adalah tawa membahana sekuat tenaga ketika Lingga diam-diam menggelitik tubuh Jenaka.

“Hentikan! Hentikan!” pekik Jenaka sementara air mata geli mengalir di wajahnya.

“Hentikan! Hentikan!” Lingga membeo, ia tak melepaskan terkamannya Lingga dan terus menggelitiki rusuk Jenaka.

Seumur hidup Jenaka tidak pernah digelitiki, jadi ia tidak pernah tahu apa rasanya. Ia begitu terkesima dengan sensasi geli tak tertahankan dari jemari Lingga di rusuknya, ia bahkan tidak sempat waspada atas sentuhan Lingga.

Jenaka menjerit hingga kepalanya seolah akan putus, sambil berguling minta ampun untuk meloloskan diri dari jemari Lingga yang menyiksanya, ketika satu suara mengusik mereka.

“Lingga!” Ia terkejut melihat kakaknya terbaring di lantai, dan mendengar Jenaka menjerit, Mentari langsung berasumsi bahwa terjadi kecelakaan mengerikan dan langsung menghambur memeluk kakaknya, tangannya yang ketakutan memeluk Lingga dengan erat dan menghadapkan sang kakak ke arahnya.

Meski Mentari tidak seharusnya di rumah Lingga pada jam segini, Jenaka bersyukur atas gangguan wanita itu, karena bisa menghentikan kusilan Lingga. Jenaka berguling menjauh dari Lingga lalu duduk.

“Tari! Tidak terjadi apa-apa,” ucap Lingga dengan suara keras dan tenang. “Kami hanya bermain-main. Aku tidak terluka."

Mentari berangsur tenang, wajahnya yang pucat pasi lambat laun mulai berwarna lagi. Lingga melepaskan pelukan adiknya, lalu meraih selimut yang biasa menutupi kakinya. Sambil menyelimuti tubuh, dia mendesak dengan suara kasar, “Sedang apa kau di sini? Kau tahu seharusnya kau tidak datang pada jam aku berlatih.”

Mentari tampak seolah Lingga baru menamparnya. Wanita itu menjauh dan memandang Lingga terkejut. Dia menggigit bibir. Dia tahu alasan Lingga berbicara kasar. Kakaknya sudah terbiasa kalau Jenaka melihat kakinyanya, dan di depan Jenaka kakaknya bisa duduk nyaman meski hanya mengenakan celana pendek atau celana olahraga, tapi pria itu masih sensitif kalau tubuhnya dilihat orang lain, terutama Mentari.

"Kupikir seharusnya saat ini kalian menjalani sesi terapi, bukan sesi bermain.” Mentari melampiaskan kekesalannya dengan suara setajam Lingga lalu berdiri. “Aku minta maaf karena mengganggu. Aku menengok kakak karena alasan tertentu, tapi sudahlah lupakan." ia keluar tanpa menghiraukan panggilan Lingga yang menunjukkan penyesalan.

“Brengsek!” umpat Lingga pelan. “Sekarang adiku marah kepadaku."

Jenaka tertawa pelan. “Ternyata dia memang adikmu, ya? Sama-sama galak.”

Lingga menatap Jenaka dengan tatapan tajam. “Tidak usah meledek, Nona. Sekarang aku tahu kelemahanmu. Kau tidak tahan digelitiki seperti bayi.”

Dengan hati-hati Jenaka menjauh dari jangkauan tangan Lingga. “Kalau kau menggelitikku lagi, aku akan masuk kamarmu diam-diam saat kau tidur dan mengguyurmu dengan air dingin.”

“Lakukan saja kalau kau berani.” Lingga mendengus sambil menatap Jenaka dengan marah. “Aku ingin tanding ulang dua minggu lagi.”

“Kau tidak jera menerima kekalahan, ya?” tanya Jenaka dengan riang sambil berdiri.

“Jangan coba-coba curang,” ucap Lingga tegas.

Jenaka tersenyum, ia sempat bermaksud ingin mengangkat Lingga dengan tangannya sendiri, namun Lingga menolak “Panggil Budi untuk membantumu.”

Budi sopir, tukang, dan mungkin juga pengawal Lingga. Pria itu pendek dan langsing, tubuhnya sekeras batu, dan wajahnya yang berkulit hitam rusak karena codet yang membuat pipi kirinya berkerut, meski menyeramkan Budi sangat setia kepada Lingga.

Jenaka memanggil Budi kemudian bersama-sama membopongnya tubuh Lingga ke kursi roda.

“Budi, aku butuh satu lagi alat seperti di kolam renang dipasang di sini,” Lingga memberikan instruksi. “Kita bisa memasang palang di langit-langit, sepanjang ini,” ucap Lingga sambil menunjuk panjang ruangan. “Dengan memasang sistem katrol yang bisa berayun ke segala arah aku bisa mengangkat tubuhku naik-turun sesuka hati.”

Budi mengamati langit-langit dan pikirannya langsung memahami keinginan Lingga. “Tidak masalah,” ucapnya. “Akan aku kerjakan besok?”

“ Kerjakan sekarang dan besok sudah siap."

“Kau mandor yang kejam,” ucap Jenaka sembari mulai mendorong kursi roda Lingga, hari ini adu panco sudah sangat menguras tenanga sehingga sesi latihan di cukupkan.

“Aku belajar darimu,” gumam Lingga. Komentar Lingga membuat pinggangnya mendapatkan cubitan dari Jenaka, namun justru tertawa. “Satu hal lagi,” lanjut Lingga. “Aku belum pernah bosan sejak kau datang memasuki kehidupanku.”

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!